Pengertian Ranah Penilaian Psikomotor
Ranah psikomotor merupakan ranah
yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah
seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah
yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis,
menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan
oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak
dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil
belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar
kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak
dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku).
Ranah psikomotor berhubungan dengan
hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang
melibatkan otot dan kekuatan fisik. Ranah psikomotor adalah ranah yang
berhubungan aktivitas fisik, misalnya; menulis, memukul, melompat dan lain
sebagainya.
Ada beberapa ahli yang menjelaskan
cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil
belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian
tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2)
sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada
peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa
waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya.
Sementara itu Leighbody (1968)
berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan
menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan
dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4)
kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang
diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.
Dari penjelasan di atas dapat
dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan
harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada
saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau
sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.
Penilaian psikomotorik dapat
dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan.
Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah
laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik
dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain,
observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau
psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik, kegiatan
diskusi peserta didik, partisipasi peserta didik dalam simulasi, dan penggunaan
alins ketika belajar.
Observasi dilakukan pada
saat proses kegiatan itu berlangsung. Pengamat terlebih dahulu harus menetapkan
kisi-kisi tingkah laku apa yang hendak diobservasinya, lalu dibuat
pedoman agar memudahkan dalam pengisian observasi. Pengisian hasil observasi
dalam pedoman yang dibuat sebenarnya bisa diisi secara bebas dalam bentuk
uraian mengenai tingkah laku yang tampak untuk
diobservasi, bisa pula dalam bentuk memberi tanda cek (√) pada kolom jawaban
hasil observasi.
Tes untuk mengukur ranah
psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance)
yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes tersebut dapat berupa
tes paper and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes
unjuk kerja.
·
Tes simulasi
Kegiatan
psikomotorik yang dilakukan melalui tes
ini, jika tidak ada alat
yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta
didik, sehingga peserta didik dapat dinilai tentang penguasaan
keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah
menggunakan suatu alat yang sebenarnya.
·
Tes unjuk kerja (work
sample)
Kegiatan
psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, dilakukan dengan
sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah
menguasai/terampil menggunakan alat tersebut. Misalnya dalam melakukan praktik
pengaturan lalu lintas lalu lintas di lapangan yang sebenarnya
Tes
simulasi dan tes unjuk kerja, semuanya dapat diperoleh dengan observasi
langsung ketika peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Lembar observasi
dapat menggunakan daftar cek (check-list) ataupun
skala penilaian (rating scale). Psikomotorik yang diukur
dapat menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang dari sangat
baik, baik, kurang, kurang, dan tidak baik.
Dengan kata lain, kegiatan
belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik di
aula/lapangan dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik
itu juga ada ranah kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit bila
dibandingkan dengan ranah psikomotor. Pengukuran hasil belajar ranah psikomotor
menggunakan tes unjuk kerja atau lembar tugas.
Dalam ranah psikomotorik yang
diukur meliputi (1) gerak refleks, (2) gerak dasar fundamen, (3) keterampilan
perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris,
diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, (4)
keterampilan fisik, (5) gerakan terampil, (6) komunikasi non diskusi (tanpa
bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.
Lembar
observasi
Beri Tanda
(√)
Nama
Siswa
|
Mengerjakan
Tugas (On-Task)
|
Tidak
Mengerjakan Tugas (Off-Task)
|
Catatan
Guru
|
Damar
|
|||
Ayu
|
|||
Dst…..
|
RUBRIK PENILAIAN PSIKOMOTOR
Tujuan
: Lembar Penilaian Aspek Psikomotor digunakan oleh guru untuk
mengakses (mendapatkan informasi tentang keterampilan siswa saat praktikum
berlangsung.
Petunjuk :
1. Amati komponen psikomotor yang
tampak selama praktikum.
2. Ambil posisi tidak jauh dari
kelompok/siswa yang diamati pada saat melakukan pengamatan.
3. Berilah tanda √ pada jalur
yang sesuai.
No
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Nama Siswa
|
||||||||||||||||||||||||||
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
F
|
G
|
H
|
I
|
J
|
K
|
L
|
M
|
N
|
O
|
P
|
Q
|
R
|
S
|
T
|
U
|
V
|
W
|
X
|
Y
|
Z
|
||||
1.
|
Menyiapkan alat dan bahan.
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2.
|
Cara merangkai alat
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
3.
|
Keterampilan membuat campuran
pendingin
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
4.
|
Meletakkan gelas kimia berisi
larutan ke dalam campuran pendingin
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
5.
|
Keterampilan mengukur suhu
dengan thermometer
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
Keterangan : Sangat baik (2), Baik
(1), Tidak Baik (0)
Jambi, ........................ 2019
Pengamat/Penilai
(............................................)
Jambi, ........................ 2019
Pengamat/Penilai
(............................................)
Rentang Penilaian
1. Menyiapkan
alat dan bahan
-
Sangat baik (Semua alat
bahan lengkap dipersiapkan dan tepat pada waktunya) = 2
-
Baik (Alat dan bahan kurang
lengkap dipersiapkan dan kurang tepat pada waktunya) = 1
-
Tidak baik (Alat dan bahan
tidak lengkap dipersiapkan dan kurang tepat pada waktunya) = 0
2. Cara
merangkai alat
-
Sangat baik (dapat merangkai
alat kesekuruhan) = 2
-
Baik (dapat
merangkai alat sebagian saja) = 1
-
Tidak baik (tidak dapat
merangkai alat) = 0
3. Keterampilan
membuat campuran pendingin
-
Sangat baik (dapat membuat
campuran pendingin kesekuruhan) = 2
-
Baik (dapat membuat campuran
pendingin sebagian saja) = 1
-
Tidak baik (tidak dapat
membuat campuran pendingin) = 0
4. Meletakkan
gelas kimia berisi larutan ke dalam campuran pendingin
-
Sangat baik (dapat
menyimpulkan hasil pembelajaran kesekuruhan ) = 2
-
Baik (dapat menyimpulkan
hasil pembelajaran sebagian saja ) = 1
-
Tidak baik (tidak dapat
menyimpulkan hasil pembelajaran) = 0
5. Keterampilan
mengukur suhu dengan termometer
-
Sangat baik (dapat mengukur
suhu, tanpa bertanya dengan teman/guru) = 2
-
Baik (dapat mengukur, dengan
bertanya dengan teman/guru) = 1
-
Tidak baik (tidak dapat
mengukur suhu) = 0
Penilaian akhir adalah :
nilai =skor yang diperoleh / 10 x
100
Pengertian
Ranah Penilaian Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang
berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti
perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap
seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan
kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada
peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Seperti: perhatiannnya terhadap mata
pelajaran pendidikan agama Islam, kedisiplinannya dalam mengikuti mata
pelajaran agama disekolah, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak
mengenai pelajaran agama Islam yang di terimanya, penghargaan atau rasa
hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam dan sebagainya.
menurut Fadillah
(211-212) dalam Kurikulum 2013 penilaian sikap dilakukan melalui observasi,
penilaian diri, penilaian teman sejawat, dan jurnal. Observasi merupakan teknik
penilaian yang dilakukan berkelanjutan baik dilakukan langsung maupun tidak
langsung. Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan meminta peserta
didik untuk menilai dirinya sendiri dalam hal kekurangan dan kelebihannya dalam
konteks pecapaian kompetensi. Penilaian antar teman hampir sama dengan
penilaian diri akan tetapi penilaian ini dilakukan oleh antar peserta didik
menilai peserta didik lain, sedangkan jurnal merupakan catatan dari guru
mengenai kejadian atau tingkah laku peserta didik.
Ranah afektif menjadi lebih rinci
lagi ke dalam lima jenjang, yaitu: (1) receiving (2) responding
(3) valuing (4) organization (5) characterization by evalue or
calue complex
Ada 5 tipe karakteristik afektif
yang penting berdasarkan tujuannya, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan
moral.
1)
Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak
suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan
menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima
informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran,
tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian
sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang
dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek,
situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap
terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting
untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran,
misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti
pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan
ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk
pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata
pelajaran menjadi lebih positif.
2)
Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir
melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus,
aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian.
Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan
adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat
adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang
memiliki intensitas tinggi.
Penilaian
minat dapat digunakan untuk:
·
mengetahui minat peserta
didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
·
mengetahui bakat dan
minat peserta didik yang sebenarnya,
·
pertimbangan
penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,
·
menggambarkan keadaan
langsung di lapangan/kelas.
3)
Konsep Diri
Menurut
Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan
dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada
dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang
tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau
negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu
mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep
diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan
mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir
yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi
sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.
Penilaian
konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian
diri adalah sebagai berikut:
·
Pendidik mampu
mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
·
Peserta didik mampu
merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
·
Pernyataan yang
dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
·
Memberikan motivasi
diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
·
Peserta didik lebih
aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
4)
Nilai
Nilai menurut
Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau
perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan
bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek
spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.
Target
nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti
sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya
intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan
nilai yang diacu.
Definisi
lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu
objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan
minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar
menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur
penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus
membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan
signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi
konstribusi positif terhadap masyarakat.
5)
Moral
Piaget dan
Kohlberg banyak membahas tentang per-kembangan moral anak. Namun Kohlberg
mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral.
Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal
terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya
seseorang bertindak.
Moral
berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau
perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang
lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis.
Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan
akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip,
nilai, dan keyakinan seseorang.
Ranah
afektif lain yang penting adalah:
·
Kejujuran: peserta
didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.
·
Integritas: peserta
didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
·
Adil: peserta didik
harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam
memperoleh pendidikan.
·
Kebebasan: peserta
didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang
bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang.
Tabel Kaitan antara
kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Afektif
Tingkat
|
Contoh
kegiatan pembelajaran
|
Penerimaan
(Receiving)
|
Arti :
Kepekaan (keinginan menerima/memperhatikan) terhadap fenomena/stimult
menunjukkan perhatian terkontrol dan terseleksi
Contoh
kegiatan belajar :
-sering
mendengarkan musik
– senang
membaca puisi
– senang
mengerjakan soal matematik
– ingin
menonton sesuatu
– senang
menyanyikan lagu
|
Responsi
(Responding)
|
Arti :
menunjukkan perhatian aktif melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena setuju,
ingin, puas meresponsi (mendengar)
Contoh
kegiatan belajar :
-
mentaati aturan
-
mengerjakan tugas
-
mengungkapkan perasaan
-
menanggapi pendapat
-
meminta maaf
atas kesalahan
-
mendamaikan orang yang bertengkar
-
menunjukkan empati
-
menulis puisi
-
melakukan renungan
-
melakukan
introspeksi
|
Acuan
Nilai
(
Valuing)
|
Arti :
Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai, termotivasi
berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti
Tingkatan
: menerima, lebih menyukai, dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai
Contoh
Kegiatan Belajar :
|
Organisasi
|
Arti :
mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam suatu sistem menentukan
saling hubungan antar nilai memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima
di mana-mana memantapkan suatu nilaimyang dominan dan diterima di mana2
Tingkatan
: konseptualisasi suatu nilai, organisasi suatu sistem nilai
Contoh
kegiatan belajar :
|
Contoh
Pengukuran Ranah Penilaian Afektif
Kompetensi siswa dalam ranah
afektif yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan minat siswa dalam
belajar. Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu:
a) laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket
anonim, b) pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa dan perlu
lembar pengamatan.
Ranah
afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah
afektif kemampuan yang diukur adalah:
Menerima (memperhatikan),
meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran, kerelaan,
mengarahkan perhatian
Merespon, meliputi
merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa puas
dalam merespon, mematuhi peraturan
Menghargai, meliputi menerima
suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai
Mengorganisasi, meliputi
mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, mengorganisasi sistem
suatu nilai
Karakteristik suatu nilai,
meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya. Contohnya mengamati
tingkah laku siswa selama mengikuti proses belajar mengajar berlangsung.
Skala yang sering digunakan
dalam instrumen (alat) penilaian afektif adalah Skala Thurstone, Skala Likert,
dan Skala Beda Semantik.
Menurut Arikunto
(2007:180-181) ada beberapa bentuk skala yang dapat digunakan untuk mengukur
sikap peserta didik yaitu.
1. Skala Likert,
dalam skala ini dibentuk dengan pernyataan yang ditunjukan dengan lima
tingkatan respons yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak berpendapat (TB),
tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS),
2. Skala pilihan ganda,
berisi soal yang berbentuk pilihan ganda yaitu suatu pernyataan yang diikuti
oleh sejumlah alternatif pendapat,
3.
Skala Thurstone, skala bentuk ini hampir mirip
dengan skala Likert tetapi isinya berupa instrumen yang jawabannya menunjukan
tingkatan,
4. Skala Guttman,
berupa tiga atau empat buah pernyataan yang masing- masing harus dijawab “ya”
atau “tidak”. Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan tingkatan yang
berurutan, sehingga bila responden setuju pernyataan nomor 2, diasumsikan setuju
nomor 1, selanjutnya jika responden setuju dengan pernyataan nomor 3 berarti
setuju pernyataan nomor 1 dan 2,
5.
Semantic differential, terdapat tiga dimensi yang akan
diukur dalam kategori baik-tidak baik, kuat-lemah, dan cepat-lambat atau
aktif-pasif,
Indikator yang Dapat
Dikembangkan
1.
Sikap Spiritual
No
|
Sikap
|
Indikator
|
1
|
Ketaatan
beribadah
|
· perilaku
patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya,
·
mau mengajak teman seagamanya untuk melakukan ibadah bersama,
·
mengikuti kegiatan keagamaan yang diselenggarakan sekolah,
·
melaksanakan ibadah sesuai ajaran agama, misalnya: sholat, puasa.
·
merayakan hari besar agama,
·
melaksanakan ibadah tepat
waktu.
|
2
|
Berperilaku
Syukur
|
· perilaku
menerima perbedaan karakteristik sebagai anugerah Tuhan,
·
selalu menerima penugasan dengan sikap terbuka,
·
bersyukur atas pemberian orang lain,
·
mengakui kebesaran Tuhan dalam menciptakan alam semesta,
·
menjaga kelestarian alam, tidak merusak tanaman,
tidak mengeluh,
·
selalu merasa gembira dalam segala hal,
·
tidak berkecil hati dengan keadaannya,
·
suka memberi atau menolong
sesama,
·
selalu berterima kasih bila
menerima pertolongan,
|
3
|
Berdoa
Sebelum dan Sesudah Melakukan Kegiatan
|
·
perilaku yang menunjukkan selalu berdoa sebelum atau sesudah
·
melakukan tugas atau pekerjaan,
·
berdoa sebelum makan,
·
berdoa ketika pelajaran selesai,
·
mengajak teman berdoa saat memulai kegiatan,
·
mengingatkan teman untuk
selalu berdoa,
|
4
|
Toleransi
dalam Beribadah
|
· tindakan
yang menghargai perbedaan dalam
beribadah,
·
menghormati teman yang berbeda agama,
·
berteman tanpa membedakan agama,
·
tidak mengganggu teman yang sedang beribadah,
·
menghormati hari besar keagamaan lain,
· tidak menjelekkan ajaran agama
lain.
|
2.
Sikap Sosial
No
|
Sikap
|
Indikator
|
1
|
Jujur
|
· tidak
mau berbohong atau tidak mencontek,
· mengerjakan sendiri
tugas yang diberikan guru, tanpa menjiplak tugas orang lain,
· mengerjakan soal
penilaian tanpa mencontek,
· mengatakan dengan
sesungguhnya apa yang terjadi atau yang dialaminya dalam kehidupan
sehari-hari,
· mau mengakui
kesalahan atau kekeliruan,
· mengembalikan barang
yang dipinjam atau ditemukan,
· mengemukakan pendapat sesuai
dengan apa yang diyakininya, walaupun
· berbeda dengan
pendapat teman,
· mengemukakan ketidaknyamanan belajar
yang dirasakannya di sekolah,
·
membuat laporan kegiatan kelas
secara terbuka (transparan),
|
2
|
Disiplin
|
· mengikuti peraturan
yang ada di sekolah,
· tertib dalam
melakspeserta didikan tugas,
· hadir di sekolah
tepat waktu,
· masuk kelas tepat waktu,
· memakai pakaian seragam
lengkap dan rapi,
· tertib mentaati peraturan
sekolah,
· melaksanakan piket
kebersihan kelas,
· mengumpulkan
tugas/pekerjaan rumah tepat waktu,
· mengerjakan
tugas/pekerjaan rumah dengan baik,
· membagi waktu belajar dan
bermain dengan baik,
· mengambil dan mengembalikan
peralatan belajar pada tempatnya,
· tidak pernah terlambat masuk
kelas.
|
3
|
Tanggungjawab
|
-
menyelesaikan tugas yang
diberikan ,
· mengakui kesalahan,
· melaksanakan tugas yang menjadi
kewajibannya di kelas seperti piket kebersihan,
· melaksanakan peraturan
sekolah dengan baik,
· mengerjakan
tugas/pekerjaan rumah sekolah dengan baik,
· mengumpulkan
tugas/pekerjaan rumah tepat waktu,
· mengakui kesalahan,
tidak melemparkan kesalahan kepada teman,
· berpartisipasi
dalam kegiatan sosial di sekolah,
· menunjukkan prakarsa untuk
mengatasi masalah dalam kelompok di kelas/sekolah,
·
membuat laporan setelah
selesai melakukan kegiatan.
|
4
|
Santun
|
· menghormati orang lain dan
menghormati cara bicara yang tepat,
· menghormati guru, pegawai sekolah,
penjaga kebun, dan orang yang lebih tua,
· berbicara atau bertutur
kata halus tidak kasar,
· berpakaian rapi dan pantas,
· dapat mengendalikan emosi
dalam menghadapi
masalah, tidak marah-marah
· mengucapkan salam ketika
bertemu guru, teman, dan orang-orang disekolah,
· menunjukkan wajah ramah, bersahabat,
dan tidak cemberut,
· mengucapkan terima kasih
apabila menerima bantuan dalam bentuk jasa atau barang dari orang lain.
|
5
|
Peduli
|
· ingin tahu dan ingin membantu
teman yang kesulitan dalam pembelajaran, perhatian kepada orang lain,
· berpartisipasi dalam
kegiatan sosial di sekolah, misal: mengumpulkan sumbangan untuk membantu yang
sakit atau kemalangan,
· meminjamkan alat kepada teman
yang tidak membawa/memiliki,
· menolong teman yang
mengalami kesulitan,
· menjaga keasrian, keindahan, dan
kebersihan lingkungan sekolah,
· melerai teman
yang berselisih (bertengkar),
· menjenguk
teman atau guru yang sakit,
· menunjukkan perhatian terhadap kebersihan
kelas dan lingkungan sekolah.
|
6
|
Percaya
Diri
|
· berani tampil
di depan kelas,
· berani
mengemukakan pendapat,
· berani mencoba
hal baru,
· mengemukakan pendapat
terhadap suatu topik atau masalah,
· mengajukan diri menjadi ketua
kelas atau pengurus kelas lainnya,
· mengajukan diri
untuk mengerjakan tugas atau soal di papan tulis,
· mencoba hal-hal baru
yang bermanfaat,
· mengungkapkan kritikan
membangun terhadap karya orang lain,
· memberikan argumen yang kuat
untuk mempertahankan pendapat.
|
LEMBAR PENILAIAN AFEKTIF
Tujuan : Lembar
Penilaian Aspek Afektif digunakan oleh guru untuk mengakses (mendapatkan
informasi tentang minat dan motivasi siswa saat proses pembelajaran
berlangsung.
Petunjuk : 1. Amati
komponen afektif yang tampak dalam proses pembelajaran.
2. Ambil posisi tidak jauh dari
kelompok/siswa yang diamati pada saat melakukan pengamatan.
3. Berilah tanda √ pada
jalur yang sesuai.
No
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Nama Siswa
|
||||||||||||||||||||||||||
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
F
|
G
|
H
|
I
|
J
|
K
|
L
|
M
|
N
|
O
|
P
|
Q
|
R
|
S
|
T
|
U
|
V
|
W
|
X
|
Y
|
Z
|
||||
1.
|
Memperhatikan penjelasan guru.
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2.
|
Mengikuti pembelajaran dengan
serius.
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
3.
|
Mengikuti diskusi kelompok
dengan sungguh-sungguh.
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
4.
|
Bekerjasama dalam kelompok.
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
5.
|
Menghargai pendapat teman lain
baik melalui lisan maupun tingkah laku.
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
6.
|
Mengungkapkan gagasan
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
7.
|
Menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh guru atau teman.
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
8.
|
Menjelaskan kembali
pembelajaran dengan konteks lain.
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
9.
|
Menyimpulkan hasil
pembelajaran.
|
0
|
|||||||||||||||||||||||||||
1
|
|||||||||||||||||||||||||||||
2
|
|||||||||||||||||||||||||||||
Jumlah
|
|||||||||||||||||||||||||||||
Keterangan : Sangat
baik (2), Baik (1), Tidak Baik (0)
Jambi, ........................ 2019
Pengamat/Penilai
(............................................)
NIP.
Jambi, ........................ 2019
Pengamat/Penilai
(............................................)
NIP.
Rentang Penilaian:
1. Memperhatikan
penjelasan guru
-
Sangat baik (memperhatikan
guru dengan serius, tidak bercanda dengan teman, dan antusias dalam
pembelajaran) = 2
-
Baik (memperhatikan penjelasan
guru, sesekali bercanda dengan teman) = 1
-
Tidak baik (tidak
memperhatikan penjelasan guru, sering bercanda dengan teman) = 0
2. Serius dalam
mengikuti pembelajaran
-
Sangat baik (antusias dalam
mengikuti pembelajaran, tidak bercanda selama pembelajaran) = 2
-
Baik (antusias dalam
mengikuti pembelajaran, sesekali bercanda dengan teman) = 1
-
Tidak baik (tidak mengikuti
pembelajaran dengan baik, sering bercanda dengan teman) = 0
3. Mengikuti
diskusi kelompok dengan sungguh-sungguh
-
Sangat baik (mengikuti
diskusi dalam kelompok dengan sungguh-sungguh) = 2
-
Baik (mengikuti diskusi
kelompok sesekali sesekali bercanda dengan teman) = 1
-
Tidak baik (tidak mengikuti
diskusi kelompok dengan sungguh-sungguh) = 0
4. Kerjasama
dalam diskusi
-
Sangat baik (melakukan
kerjasama bersama teman kelompok diskusi) = 2
-
Baik (melakukan kerjasama
bersama teman kelompok sesekali saja) = 1
-
Tidak baik (tidak melakukan
kerjasama dengan teman kelompok diskusi) = 0
5. Menghargai
pendapat teman lain baik melalui lisan maupun tingkah laku.
-
Sangat baik (menerima
pendapat teman, mengomentari dengan tingkah laku yang sopan) = 2
-
Baik (menerima pendapat
teman dengan tingkah laku yang kurang sopan) = 1
-
Tidak baik (tidak menghargai
pendapat teman dan hanya menyalahkan saja) = 0
6. Mengungkapkan
gagasan apabila mempunyai ide yang lebih baik dari yang sudah ada
-
Sangat baik (dapat
mengungkapkan gagasan yang baik dan sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan)
= 2
-
Baik (dapat mengungkapkan
gagasan yang kurang sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan) = 1
-
Tidak baik (tidak dapat
mengungkapkan gagasan sedikitpun) = 0
7. Menjawab
pertanyaan yang diajukan oleh guru atau teman
-
Sangat baik (menjawab
Pertanyaan yang diajukan guru atau teman dengan jawaban yang sesuai dengan yang
ditanyakan) = 2
-
Baik (menjawab pertanyaan
yang diajukan guru atau teman kurang tepat dari yang ditanyakan) = 1
-
Tidak baik (tidak menjawab
pertanyaan yang diajukan guru) atau teman = 0
8. Mampu menjelaskan
kembali pembelajaran yang sudah dilakukan dengan konteks lain.
-
Sangat baik (dapat
menjelaskan kembali pembelajaran yang sudah dilakukan dengan contoh lain yang
diajukan guru) = 2
-
Baik (dapat menjelaskan
kembali pembelajaran yang sudah dilakukan dengan contoh lain yang diajukan guru
tetapi kurang terstruktur) = 1
-
Tidak baik (tidak dapat
menjelaskan kembali pembelajaran yang sudah dilakukan dengan contoh lain yang
diajukan guru) = 0
9. Mampu
menyimpulkan hasil pembelajaran.
-
Sangat baik (dapat
menyimpulkan hasil pembelajaran kesekuruhan) = 2
-
Baik (dapat menyimpulkan
hasil pembelajaran sebagian saja) = 1
-
Tidak baik (tidak dapat
menyimpulkan hasil pembelajaran) = 0
Penilaian akhir adalah :
nilai = skor yang peroleh /18 x
100
Keterangan:
A :
81-100 Sangat Baik
B :
61-80 Baik
C :
41-60 Cukup
D :
≤ 40 Kurang
Dari uraian diatas :
saya ingin bertanya, bagaimana pendpat anda tentang kesesuain antara ketiga
aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron
ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ? bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang bedampak nilai siswa akan koson pada sub point tersebut ? bagaimana kebijakan guru akan hal ini.
sya akan mencoba menjawab pertanyaan dhani, bagaimana pendpat anda tentang kesesuain antara ketiga aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ?
BalasHapusmenurut saya Ketiga aspek atau domain ini memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Sebelum sampai kepada aspek psikomotorik, terlebih dulu anak akan mengalami tahap kognitif dan afektif. Pada tahap penerimaan, anak terlebih dulu perlu memiliki suatu perhatian untuk dapat menerima materi yang diberikan. Dengan adanya perhatian, maka akan mudah bagi anak untuk menerima pengetahuan tersebut dan seterusnya.
Dalam setiap aspek afektif, terbukti memiliki aspek kognitif didalamnya untuk saling mendukung. Setelah anak melalui tahap kognitif dan afektif, maka ia akan siap untuk melanjutkan kepada tahap psikomotorik berdasarkan apa yang sudah dipelajarinya di kedua tahap sebelumnya. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan untuk berperilaku). Hasil belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektifnya.
saya sependapat dengan kk rini, bahwasanya ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan. di mana sebelum ke psikomot mereka didahului oleh kognitif kemudian dia memberikan pendapatnya dengan menunjukka sikap mereka
Hapussaya sependapat dengan kk rini dan tri bahwasannya Dalam setiap aspek afektif, terbukti memiliki aspek kognitif didalamnya untuk saling mendukung. Setelah anak melalui tahap kognitif dan afektif, maka ia akan siap untuk melanjutkan kepada tahap psikomotorik berdasarkan apa yang sudah dipelajarinya di kedua tahap sebelumnya. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan untuk berperilaku)
Hapusketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan.
bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang bedampak nilai siswa akan koson pada sub point tersebut ? bagaimana kebijakan guru akan hal ini.
BalasHapusguru bisa memberi tugas tambahan yang dapat dilakukan oleh siswa di luar sekolah dengan cara divideokan, sehingga nantinya penilaian yang belum dapt dinilai sisekolah bisa dinilai melalui video tsb
sya akan mencoba menjawab pertanyaan dhani, bagaimana pendpat anda tentang kesesuain antara ketiga aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ?
BalasHapusKognitif, Afektif dan Psikomotorik
Andersen (1981) berpendapat bahwa karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir, berbuat, dan perasaan. Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif, tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor, dan tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Ketiga ranah tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dalam bidang pendidikan.
Dengan demikian, kemampuan yang dimiliki setiap orang itu berbeda. Dalam perbedaan itu, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Setiap orang memiliki kelebihan pada bidang yang menjadi kemampuannya dan memiliki kekurangan pada kemampuan yang dimiliki orang lain sebagai bidangnya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semua manusia memiliki kemampuan, hanya saja bagaimana setiap orang mengenal kemampuan yang dimilikinya serta bagaimana mengembangkan kemapuannya itu.
bagaimana pendpat anda tentang kesesuain antara ketiga aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ?
BalasHapusPendidikan sebagai sebuah proses belajar memang tidak cukup dengan sekedar mengejar masalah kecerdasannya saja. Berbagai potensi anak didik atau subyek belajar lainnya juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional agar berkembang secara optimal. Karena itulah aspek atau factor rasa atau emosi maupun ketrampilan fisik juga perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Sejalan dengan pengertian kognitif afektif psikomotorik tersebut, kita juga mengenal istilah cipta, rasa, dan karsa yang dicetuskan tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Konsep ini juga mengakomodasi berbagai potensi anak didik. Baik menyangkut aspek cipta yang berhubungan dengan otak dan kecerdasan, aspek rasa yang berkaitan dengan emosi dan perasaan, serta karsa atau keinginan maupun ketrampilan yang lebih bersifat fisik.
Konsep kognitif, afektif, dan psikomotorik dicetuskan oleh Benyamin Bloom pada tahun 1956. Karena itulah konsep tersebut juga dikenal dengan istilah Taksonomi Bloom.
Bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang berdampak nilai siswa akan kosong pada sub point tersebut ? bagaimana kebijakan guru akan hal ini.
BalasHapus.
Maka dari itu bagi guru yang sudah lama mengajar, pasti beliau sudah mengenal karakteristik siswa dan kondisi pembelajaran di kelas jadi menutup kemungkinan untuk kejadian yang saudara jabarkan. Lalu sikap afektif biasanya pasti di miliki oleh masing-masing siswa. Sehingga setidaknya muncul pada diri siswa. Atau bisa saja menggunakan jurnal harian agar tercatat seluruh kegiatan selama proses pembelajaran.
Bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang berdampak nilai siswa akan kosong pada sub point tersebut ? bagaimana kebijakan guru akan hal ini.
HapusSaya sependapat dengan saudari rifani,
Rubrik yg sudah kita susun, pasti memiliki bayangan keterampilan apa yang akan siswa miliki,
Dengan demikian tidak mungkin dalam 1 kelas n8lainya kosong, jikalau itu terjadi tentu ada maslah pada saat perumusan indikator atau dalam tahap pelaksanaanya, kita dapat melkukan evaluasi dan memperbaiki instrumen untuk yg akan datang.
Saya sependapat dengan bang sugeng tentu guru sudah memperhtikan karakteristik siswa dalam membuat sebuah penilian dan rubrik penilaian. Jika ada hal tersebut terjadi. Maka guru bisa memberikan tugas tanbahan kepada siswa itu. Dan itu tidak mgkin kosong dalam penilaian. Pasti ada nilai namun tidak semaksimal dengan yg di harapkan
BalasHapusbagaimana pendpat anda tentang kesesuain antara ketiga aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ?
BalasHapusKetiga aspek atau ranah kejiwaan itu erat sekali dan bahkan tidak mungkin dapat dilepaskan dari kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar. Benjamin S. Bloom dan kawan-kawannya itu berpendapat bahwa pengelompokkan tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu:
a) Ranah proses berfikir (cognitive domain)
b) Ranah nilai atau sikap (affective domain)
c) Ranah keterampilan (psychomotor domain)
Dalam konteks evaluasi hasil belajar, maka ketiga domain atau ranah itulah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar. Sasaran kegiatan evaluasi hasil belajar adalah:
1) Apakah peserta didik sudah dapat memahami semua bahan atau materi pelajaran yang telah diberikan pada mereka?
2) Apakah peserta didik sudah dapat menghayatinya?
3) Apakah materi pelajaran yang telah diberikan itu sudah dapat diamalkan secara kongkret dalam praktek atau dalam kehidupannya sehari-hari?
Ketiga ranah tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.
bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang bedampak nilai siswa akan koson pada sub point tersebut ?
BalasHapusmenurut saya itulah gunanya kita menyusun perencanaan pembelajaran. seperti membuat rpp. karena perencanaan yang bagus akan menghasilkan implementasi yang memuaskan dan dapat meminimalisir permasalahan yang anda maksud.
menanggapi permasalahan bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang bedampak nilai siswa akan kosong pada sub point tersebut ?
BalasHapusPada kondisi nyata di lapangan hal ini sering terjadi meskipun kita sudah memiliki RPP sebagai panduan dalam melaksanakan skenaario pembelajaran. maka salah satu cara untuk mengantisipasinya adalah dengan melakukan penilaian ulang jika materi ini merupakan salah satu materi esensial dalam pembelajaran.
bagaimana pendapat anda tentang kesesuaian antara ketiga aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ?
BalasHapusketerkaitan antara aspek penilaian kognitif, afektif dan psikomotor sangat erat dan tidak dapat dipisahkan, kenapa begitu ? karena saling berhubungan. seperti halnya penilaian jika tidak ada salah satunya maka akan kurang dan tidak ada penguat penilaian. jadi begini jika siswa telah diajarkan dan dinilai sisi kognitifnya maka akan muncul juga penilaian dari sisi afektif siswa sebagai pendukung dari sisi kognitif siswa, kemudian setelah kemampuan kognitif siswa sesuai dan mampu maka akan bisa juga dilakukan penilaian psikomotor siswa