Jumat, 08 Maret 2019

Materi V : Penilaian Otentik Untuk Psikomotor dan Afektif


Pengertian Ranah Penilaian Psikomotor
                Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku).
Ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan aktivitas fisik, misalnya; menulis, memukul, melompat dan lain sebagainya.
                Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya.
                Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.
                Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.
                Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi   atau pengamatan. Observasi  sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik, kegiatan diskusi peserta didik, partisipasi peserta didik dalam simulasi, dan penggunaan alins ketika belajar.
                Observasi  dilakukan pada saat proses kegiatan itu berlangsung. Pengamat terlebih dahulu harus menetapkan kisi-kisi  tingkah laku apa yang hendak diobservasinya, lalu dibuat pedoman agar memudahkan dalam pengisian observasi. Pengisian hasil observasi dalam pedoman yang dibuat sebenarnya bisa diisi secara bebas dalam bentuk uraian mengenai  tingkah laku   yang tampak  untuk diobservasi, bisa pula dalam bentuk memberi tanda cek (√) pada kolom jawaban hasil observasi.
                Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes tersebut   dapat berupa tes paper and  pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja.
·         Tes simulasi
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini,           jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta didik, sehingga  peserta didik dapat dinilai tentang penguasaan keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah  menggunakan suatu alat yang sebenarnya.
·         Tes unjuk kerja (work sample)
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, dilakukan dengan  sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai/terampil menggunakan alat tersebut. Misalnya dalam melakukan praktik pengaturan lalu lintas lalu lintas di lapangan yang sebenarnya
Tes simulasi dan tes unjuk kerja, semuanya dapat diperoleh dengan observasi langsung ketika peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Lembar observasi dapat menggunakan   daftar cek (check-list) ataupun  skala penilaian (rating scale).  Psikomotorik  yang diukur dapat menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang dari  sangat baik, baik, kurang, kurang, dan tidak baik.
                Dengan kata lain, kegiatan belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik di aula/lapangan dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu juga ada ranah kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit bila dibandingkan dengan ranah psikomotor. Pengukuran hasil belajar ranah psikomotor menggunakan tes unjuk kerja atau lembar tugas.
               
                Dalam ranah psikomotorik yang diukur meliputi (1) gerak refleks, (2) gerak dasar fundamen, (3) keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, (4) keterampilan fisik, (5) gerakan terampil, (6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.
Lembar observasi
Beri Tanda (√)
Nama Siswa
Mengerjakan Tugas (On-Task)
Tidak Mengerjakan Tugas (Off-Task)
Catatan Guru
Damar
Ayu
Dst…..


RUBRIK PENILAIAN PSIKOMOTOR
Tujuan                      : Lembar Penilaian Aspek Psikomotor digunakan oleh guru untuk mengakses (mendapatkan informasi tentang keterampilan siswa saat praktikum berlangsung.
Petunjuk                :
1. Amati komponen psikomotor yang tampak selama praktikum.
2. Ambil posisi tidak jauh dari kelompok/siswa yang diamati pada saat melakukan pengamatan.
3. Berilah tanda √ pada jalur yang sesuai.
No
Aspek yang dinilai
Skor
Nama Siswa

A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z
1.
Menyiapkan alat dan bahan.
0
1
2
2.
Cara merangkai alat
0
1
2
3.
Keterampilan membuat campuran pendingin
0
1
2
4.
Meletakkan gelas kimia berisi larutan ke dalam campuran pendingin
0
1
2
5.
Keterampilan mengukur suhu dengan thermometer
0
1
2
Keterangan :  Sangat baik (2), Baik (1),  Tidak Baik (0)
                                                                                                                     Jambi,  ........................ 2019
                                                                                                                     Pengamat/Penilai


                                                                                                          (............................................)
                                                                                                                   
Rentang Penilaian
1. Menyiapkan alat dan bahan
-          Sangat baik (Semua alat bahan lengkap dipersiapkan dan tepat pada waktunya) = 2
-          Baik (Alat dan bahan kurang lengkap dipersiapkan  dan kurang tepat pada waktunya) = 1
-          Tidak baik (Alat dan bahan tidak lengkap dipersiapkan dan kurang tepat pada waktunya) = 0
2. Cara merangkai alat
-          Sangat baik (dapat merangkai alat kesekuruhan) = 2
-           Baik (dapat merangkai alat sebagian saja) = 1
-          Tidak baik (tidak dapat merangkai alat) = 0
3. Keterampilan membuat campuran pendingin
-          Sangat baik (dapat membuat campuran pendingin kesekuruhan) = 2
-          Baik (dapat membuat campuran pendingin sebagian saja) = 1
-          Tidak baik (tidak dapat membuat campuran pendingin) = 0
4. Meletakkan gelas kimia berisi larutan ke dalam campuran pendingin
-          Sangat baik (dapat menyimpulkan hasil pembelajaran kesekuruhan ) = 2
-          Baik (dapat menyimpulkan hasil pembelajaran sebagian saja ) = 1
-          Tidak baik (tidak dapat menyimpulkan hasil pembelajaran) = 0
5. Keterampilan mengukur suhu dengan termometer
-          Sangat baik (dapat mengukur suhu, tanpa bertanya dengan teman/guru) = 2
-          Baik (dapat mengukur, dengan bertanya dengan teman/guru) = 1
-          Tidak baik (tidak dapat mengukur suhu) = 0
Penilaian akhir adalah :
nilai =skor yang diperoleh / 10 x 100  

Pengertian Ranah Penilaian Afektif
                Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Seperti: perhatiannnya terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam, kedisiplinannya dalam mengikuti mata pelajaran agama disekolah, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran agama Islam yang di terimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam dan sebagainya.
menurut Fadillah (211-212) dalam Kurikulum 2013 penilaian sikap dilakukan melalui observasi, penilaian diri, penilaian teman sejawat, dan jurnal. Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan berkelanjutan baik dilakukan langsung maupun tidak langsung. Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan meminta peserta didik untuk menilai dirinya sendiri dalam hal kekurangan dan kelebihannya dalam konteks pecapaian kompetensi. Penilaian antar teman hampir sama dengan penilaian diri akan tetapi penilaian ini dilakukan oleh antar peserta didik menilai peserta didik lain, sedangkan jurnal merupakan catatan dari guru mengenai kejadian atau tingkah laku peserta didik.
Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu: (1) receiving (2) responding (3) valuing (4) organization (5) characterization by evalue or calue complex
                Ada 5 tipe karakteristik afektif yang penting berdasarkan tujuannya, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.

1)      Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
2)      Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
Penilaian minat dapat digunakan untuk:
·         mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
·         mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
·         pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,
·         menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas.
3)      Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.
Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut:
·         Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
·         Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
·         Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
·         Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
·         Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
4)      Nilai
Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.
Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu.
Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.
5)      Moral
Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang per-kembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak.
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
Ranah afektif lain yang penting adalah:
·         Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.
·         Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
·         Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan.
·         Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang.
                Tabel  Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Afektif
Tingkat
Contoh kegiatan pembelajaran
Penerimaan (Receiving)
Arti : Kepekaan (keinginan menerima/memperhatikan) terhadap fenomena/stimult menunjukkan perhatian terkontrol dan terseleksi
Contoh kegiatan belajar :
-sering mendengarkan musik
– senang membaca puisi
– senang mengerjakan soal matematik
– ingin menonton sesuatu
– senang menyanyikan lagu
Responsi (Responding)
Arti : menunjukkan perhatian aktif melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena setuju, ingin, puas meresponsi (mendengar)
Contoh kegiatan belajar :
-          mentaati aturan
-           mengerjakan tugas
-            mengungkapkan perasaan
-           menanggapi pendapat
-            meminta maaf atas kesalahan
-             mendamaikan orang yang bertengkar
-           menunjukkan empati
-           menulis puisi
-          melakukan renungan
-          melakukan introspeksi
Acuan Nilai
( Valuing)
Arti : Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai, termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti
Tingkatan : menerima, lebih menyukai, dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai
Contoh Kegiatan Belajar :
  • mengapresiasi seni
  • menghargai peran
  • menunjukkan perhatian
  • menunjukkan alasan
  • mengoleksi kaset lagu, novel, atau barang antik
  • menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran HAM
  • menjelaskan alasan senang membaca novel

Organisasi
Arti : mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam suatu sistem menentukan saling hubungan antar nilai memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana memantapkan suatu nilaimyang dominan dan diterima di mana2
Tingkatan : konseptualisasi suatu nilai, organisasi suatu sistem nilai
Contoh kegiatan belajar :
  • rajin, tepat waktu
  • berdisiplin diri  mandiri dalam bekerja secara independen
  • objektif dalam memecahkan masalah
  • mempertahankan pola hidup sehat
  • menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan
  • menyarankan pemecahan masalah HAM
  • menilai kebiasaan konsumsi
  • mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar- teman
Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Afektif
                Kompetensi siswa dalam ranah afektif yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan minat siswa dalam belajar. Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu: a) laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket anonim, b) pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa dan perlu lembar pengamatan.
Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah:
                Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala,  kesadaran, kerelaan, mengarahkan perhatian
                Merespon,  meliputi merespon secara  diam-diam, bersedia merespon, merasa  puas  dalam merespon, mematuhi peraturan
                Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai
                Mengorganisasi, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, mengorganisasi sistem suatu nilai
                Karakteristik suatu nilai, meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya. Contohnya mengamati tingkah laku siswa selama mengikuti proses belajar mengajar berlangsung.
                Skala yang sering digunakan dalam instrumen (alat) penilaian afektif adalah Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik.
Menurut Arikunto (2007:180-181) ada beberapa bentuk skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap peserta didik yaitu.
1.    Skala Likert, dalam skala ini dibentuk dengan pernyataan yang ditunjukan dengan lima tingkatan respons yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak berpendapat (TB), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS),
2.    Skala pilihan ganda, berisi soal yang berbentuk pilihan ganda yaitu suatu pernyataan yang diikuti oleh sejumlah alternatif pendapat,
3.     Skala Thurstone, skala bentuk ini hampir mirip dengan skala Likert tetapi isinya berupa instrumen yang jawabannya menunjukan tingkatan,
4.     Skala Guttman, berupa tiga atau empat buah pernyataan yang masing- masing harus dijawab “ya” atau “tidak”. Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan tingkatan yang berurutan, sehingga bila responden setuju pernyataan nomor 2, diasumsikan setuju nomor 1, selanjutnya jika responden setuju dengan pernyataan nomor 3 berarti setuju pernyataan nomor 1 dan 2,
5.    Semantic differential, terdapat tiga dimensi yang akan diukur dalam kategori baik-tidak baik, kuat-lemah, dan cepat-lambat atau aktif-pasif,

  Indikator yang Dapat Dikembangkan
1.       Sikap Spiritual
No
Sikap
Indikator
1
Ketaatan beribadah
·    perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya,
·       mau mengajak teman seagamanya untuk melakukan ibadah bersama,
·     mengikuti kegiatan keagamaan yang diselenggarakan sekolah,
·     melaksanakan ibadah sesuai ajaran agama, misalnya: sholat, puasa.
·     merayakan hari besar agama,
·     melaksanakan ibadah tepat waktu.
2
Berperilaku Syukur
·    perilaku menerima perbedaan karakteristik sebagai anugerah Tuhan,
·      selalu menerima penugasan dengan sikap terbuka,
·      bersyukur atas pemberian orang lain,
·     mengakui kebesaran Tuhan dalam menciptakan alam semesta,
·      menjaga kelestarian alam, tidak merusak tanaman,
      tidak mengeluh,
·      selalu merasa gembira dalam segala hal,
·      tidak berkecil hati dengan keadaannya,
·      suka memberi atau menolong sesama,
·      selalu berterima kasih bila menerima pertolongan,
3
Berdoa Sebelum dan Sesudah Melakukan Kegiatan
·     perilaku yang menunjukkan selalu berdoa sebelum atau sesudah
·       melakukan tugas atau pekerjaan,
·       berdoa sebelum makan,
·       berdoa ketika pelajaran selesai,
·       mengajak teman berdoa saat memulai kegiatan,
·       mengingatkan teman untuk selalu berdoa,
4
Toleransi dalam Beribadah
·    tindakan yang menghargai perbedaan dalam        beribadah,
·       menghormati teman yang berbeda agama,
·       berteman tanpa membedakan agama,
·       tidak mengganggu teman yang sedang beribadah,
·       menghormati hari besar keagamaan lain,
·       tidak menjelekkan ajaran agama lain.

2.       Sikap Sosial
No
Sikap
Indikator
1
Jujur
·        tidak mau berbohong atau tidak mencontek,
·      mengerjakan sendiri tugas yang diberikan guru, tanpa menjiplak tugas orang lain,
·       mengerjakan soal penilaian tanpa mencontek,
·     mengatakan dengan sesungguhnya apa yang terjadi  atau yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari,
·       mau mengakui kesalahan atau kekeliruan,
·     mengembalikan barang yang dipinjam atau ditemukan,
·    mengemukakan pendapat sesuai dengan apa yang diyakininya, walaupun
·       berbeda dengan pendapat teman,
·   mengemukakan ketidaknyamanan belajar yang    dirasakannya di sekolah,
·    membuat laporan kegiatan kelas secara terbuka    (transparan),
2
Disiplin
·      mengikuti peraturan yang ada di sekolah,
·      tertib dalam melakspeserta didikan tugas,
·      hadir di sekolah tepat waktu,
·     masuk kelas tepat waktu,
·     memakai pakaian seragam lengkap dan rapi,
·     tertib mentaati peraturan sekolah,
·     melaksanakan piket kebersihan kelas,
·     mengumpulkan tugas/pekerjaan rumah tepat waktu,
·     mengerjakan tugas/pekerjaan rumah dengan baik,
·     membagi waktu belajar dan bermain dengan baik,
·    mengambil dan mengembalikan peralatan belajar      pada tempatnya,
·      tidak pernah terlambat masuk kelas.
3
Tanggungjawab
-    menyelesaikan tugas yang diberikan ,
·     mengakui kesalahan,
·    melaksanakan tugas yang menjadi kewajibannya di kelas seperti piket   kebersihan,
·     melaksanakan peraturan sekolah dengan baik,
·     mengerjakan tugas/pekerjaan rumah sekolah dengan baik,
·       mengumpulkan tugas/pekerjaan rumah tepat waktu,
·      mengakui kesalahan, tidak melemparkan kesalahan kepada teman,
·       berpartisipasi dalam kegiatan sosial di sekolah,
·    menunjukkan prakarsa untuk mengatasi masalah   dalam kelompok di kelas/sekolah,
·      membuat laporan setelah selesai melakukan kegiatan.
4
Santun
·    menghormati orang lain dan menghormati cara bicara yang tepat,
·   menghormati guru, pegawai sekolah, penjaga kebun, dan orang yang lebih tua,
·     berbicara atau bertutur kata halus tidak kasar,
·     berpakaian rapi dan pantas,
·     dapat mengendalikan emosi dalam menghadapi           masalah, tidak marah-marah
·     mengucapkan salam ketika bertemu guru, teman, dan orang-orang disekolah,
·   menunjukkan wajah ramah, bersahabat, dan tidak cemberut,
·      mengucapkan terima kasih apabila menerima bantuan dalam bentuk jasa atau barang dari orang lain.
5
Peduli
·    ingin tahu dan ingin membantu teman yang kesulitan dalam pembelajaran, perhatian kepada orang lain,
·     berpartisipasi dalam kegiatan sosial di sekolah, misal: mengumpulkan sumbangan untuk membantu yang sakit atau kemalangan,
·    meminjamkan alat kepada teman yang tidak       membawa/memiliki,
·      menolong teman yang mengalami kesulitan,
·   menjaga keasrian, keindahan, dan kebersihan     lingkungan sekolah,
·       melerai teman yang berselisih (bertengkar),
·       menjenguk teman atau guru yang sakit,
·      menunjukkan perhatian terhadap kebersihan kelas dan lingkungan sekolah.
6
Percaya Diri
·       berani tampil di depan kelas,
·       berani mengemukakan pendapat,
·       berani mencoba hal baru,
·     mengemukakan pendapat terhadap suatu topik atau masalah,
·    mengajukan diri menjadi ketua kelas atau pengurus kelas lainnya,
·      mengajukan diri untuk mengerjakan tugas atau soal di papan tulis,
·      mencoba hal-hal baru yang bermanfaat,
·     mengungkapkan kritikan membangun terhadap karya orang lain,
·  memberikan argumen yang kuat untuk       mempertahankan pendapat.

LEMBAR PENILAIAN AFEKTIF
Tujuan                                  : Lembar Penilaian Aspek Afektif digunakan oleh guru untuk mengakses (mendapatkan informasi tentang  minat dan motivasi siswa saat proses pembelajaran berlangsung.
Petunjuk                   : 1. Amati komponen afektif yang tampak dalam proses pembelajaran.
               2. Ambil posisi tidak jauh dari kelompok/siswa yang diamati pada saat melakukan pengamatan.
                        3. Berilah tanda √ pada jalur yang sesuai. 
No
Aspek yang dinilai
Skor
Nama Siswa
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z

1.       
Memperhatikan penjelasan guru.
0

1

2

2.       
Mengikuti pembelajaran dengan serius.
0

1

2

3.       
Mengikuti diskusi kelompok dengan sungguh-sungguh.
0

1

2

4.       
Bekerjasama dalam kelompok.
0

1

2

5.       
Menghargai pendapat teman lain baik melalui lisan maupun tingkah laku.
0

1

2

6.       
Mengungkapkan gagasan
0

1

2

7.       
Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru atau teman.
0

1

2

8.       
Menjelaskan kembali pembelajaran dengan konteks lain.
0

1

2

9.       
Menyimpulkan hasil pembelajaran.
0

1

2

Jumlah

Keterangan :  Sangat baik (2), Baik (1),  Tidak Baik (0)
                                                                                                                     Jambi,  ........................ 2019
                                                                                                                     Pengamat/Penilai



                                                                                                                   (............................................)
                                                                                                                     NIP.
Rentang Penilaian:
1. Memperhatikan penjelasan guru
-          Sangat baik (memperhatikan guru dengan serius, tidak bercanda dengan teman, dan antusias dalam pembelajaran) = 2
-          Baik (memperhatikan penjelasan guru, sesekali bercanda dengan teman) = 1
-          Tidak baik (tidak memperhatikan penjelasan guru, sering bercanda dengan teman) = 0
2. Serius dalam mengikuti pembelajaran
-          Sangat baik (antusias dalam mengikuti pembelajaran, tidak bercanda selama pembelajaran) = 2
-          Baik (antusias dalam mengikuti pembelajaran, sesekali bercanda dengan teman) = 1
-          Tidak baik (tidak mengikuti pembelajaran dengan baik, sering bercanda dengan teman) = 0
3. Mengikuti diskusi kelompok dengan sungguh-sungguh
-          Sangat baik (mengikuti diskusi dalam kelompok dengan sungguh-sungguh) = 2
-          Baik (mengikuti diskusi kelompok sesekali sesekali bercanda dengan teman) = 1
-          Tidak baik (tidak mengikuti diskusi kelompok dengan sungguh-sungguh) = 0
4. Kerjasama dalam diskusi
-          Sangat baik (melakukan kerjasama bersama teman kelompok diskusi) = 2
-          Baik (melakukan kerjasama bersama teman kelompok sesekali saja) = 1
-          Tidak baik (tidak melakukan kerjasama dengan teman kelompok diskusi) = 0
5. Menghargai pendapat teman lain baik melalui lisan maupun tingkah laku.
-          Sangat baik (menerima pendapat teman, mengomentari dengan tingkah laku yang sopan) = 2
-          Baik (menerima pendapat teman dengan tingkah laku yang kurang sopan)  = 1
-          Tidak baik (tidak menghargai pendapat teman dan hanya menyalahkan saja) = 0
6. Mengungkapkan gagasan apabila mempunyai ide yang lebih baik dari yang sudah ada
-          Sangat baik (dapat mengungkapkan gagasan yang baik dan sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan) = 2
-          Baik (dapat mengungkapkan gagasan yang kurang sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan) = 1
-          Tidak baik (tidak dapat mengungkapkan gagasan sedikitpun) = 0
7. Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru atau teman
-          Sangat baik (menjawab Pertanyaan yang diajukan guru atau teman dengan jawaban yang sesuai dengan yang ditanyakan) = 2
-          Baik (menjawab pertanyaan yang diajukan guru atau teman kurang tepat dari yang ditanyakan) = 1
-          Tidak baik (tidak menjawab pertanyaan yang diajukan guru) atau teman = 0
8. Mampu menjelaskan kembali pembelajaran yang sudah dilakukan dengan konteks lain.
-          Sangat baik (dapat menjelaskan kembali pembelajaran yang sudah dilakukan dengan contoh lain yang diajukan guru) = 2
-          Baik (dapat menjelaskan kembali pembelajaran yang sudah dilakukan dengan contoh lain yang diajukan guru tetapi kurang terstruktur) = 1
-          Tidak baik (tidak dapat menjelaskan kembali pembelajaran yang sudah dilakukan dengan contoh lain yang diajukan guru) = 0
9. Mampu menyimpulkan hasil pembelajaran.
-          Sangat baik (dapat menyimpulkan hasil pembelajaran kesekuruhan) = 2
-          Baik (dapat menyimpulkan hasil pembelajaran sebagian saja) = 1
-          Tidak baik (tidak dapat menyimpulkan hasil pembelajaran) = 0
Penilaian akhir adalah :
nilai = skor yang peroleh /18 x 100
Keterangan:
A               : 81-100     Sangat Baik
B                : 61-80       Baik
C                : 41-60       Cukup
D               : ≤ 40         Kurang

Dari uraian diatas : saya ingin bertanya, bagaimana pendpat anda tentang kesesuain antara ketiga aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ?   bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang bedampak nilai siswa akan koson pada sub point tersebut ? bagaimana kebijakan guru akan hal ini. 

13 komentar:

  1. sya akan mencoba menjawab pertanyaan dhani, bagaimana pendpat anda tentang kesesuain antara ketiga aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ?

    menurut saya Ketiga aspek atau domain ini memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Sebelum sampai kepada aspek psikomotorik, terlebih dulu anak akan mengalami tahap kognitif dan afektif. Pada tahap penerimaan, anak terlebih dulu perlu memiliki suatu perhatian untuk dapat menerima materi yang diberikan. Dengan adanya perhatian, maka akan mudah bagi anak untuk menerima pengetahuan tersebut dan seterusnya.

    Dalam setiap aspek afektif, terbukti memiliki aspek kognitif didalamnya untuk saling mendukung. Setelah anak melalui tahap kognitif dan afektif, maka ia akan siap untuk melanjutkan kepada tahap psikomotorik berdasarkan apa yang sudah dipelajarinya di kedua tahap sebelumnya. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan untuk berperilaku). Hasil belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektifnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan kk rini, bahwasanya ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan. di mana sebelum ke psikomot mereka didahului oleh kognitif kemudian dia memberikan pendapatnya dengan menunjukka sikap mereka

      Hapus
    2. saya sependapat dengan kk rini dan tri bahwasannya Dalam setiap aspek afektif, terbukti memiliki aspek kognitif didalamnya untuk saling mendukung. Setelah anak melalui tahap kognitif dan afektif, maka ia akan siap untuk melanjutkan kepada tahap psikomotorik berdasarkan apa yang sudah dipelajarinya di kedua tahap sebelumnya. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan untuk berperilaku)
      ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan.

      Hapus
  2. bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang bedampak nilai siswa akan koson pada sub point tersebut ? bagaimana kebijakan guru akan hal ini.
    guru bisa memberi tugas tambahan yang dapat dilakukan oleh siswa di luar sekolah dengan cara divideokan, sehingga nantinya penilaian yang belum dapt dinilai sisekolah bisa dinilai melalui video tsb

    BalasHapus
  3. sya akan mencoba menjawab pertanyaan dhani, bagaimana pendpat anda tentang kesesuain antara ketiga aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ?

    Kognitif, Afektif dan Psikomotorik
    Andersen (1981) berpendapat bahwa karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir, berbuat, dan perasaan. Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif, tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor, dan tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Ketiga ranah tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dalam bidang pendidikan.

    Dengan demikian, kemampuan yang dimiliki setiap orang itu berbeda. Dalam perbedaan itu, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Setiap orang memiliki kelebihan pada bidang yang menjadi kemampuannya dan memiliki kekurangan pada kemampuan yang dimiliki orang lain sebagai bidangnya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semua manusia memiliki kemampuan, hanya saja bagaimana setiap orang mengenal kemampuan yang dimilikinya serta bagaimana mengembangkan kemapuannya itu.

    BalasHapus
  4. bagaimana pendpat anda tentang kesesuain antara ketiga aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ?

    Pendidikan sebagai sebuah proses belajar memang tidak cukup dengan sekedar mengejar masalah kecerdasannya saja. Berbagai potensi anak didik atau subyek belajar lainnya juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional agar berkembang secara optimal. Karena itulah aspek atau factor rasa atau emosi maupun ketrampilan fisik juga perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
    Sejalan dengan pengertian kognitif afektif psikomotorik tersebut, kita juga mengenal istilah cipta, rasa, dan karsa yang dicetuskan tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Konsep ini juga mengakomodasi berbagai potensi anak didik. Baik menyangkut aspek cipta yang berhubungan dengan otak dan kecerdasan, aspek rasa yang berkaitan dengan emosi dan perasaan, serta karsa atau keinginan maupun ketrampilan yang lebih bersifat fisik.
    Konsep kognitif, afektif, dan psikomotorik dicetuskan oleh Benyamin Bloom pada tahun 1956. Karena itulah konsep tersebut juga dikenal dengan istilah Taksonomi Bloom.

    BalasHapus
  5. Bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang berdampak nilai siswa akan kosong pada sub point tersebut ? bagaimana kebijakan guru akan hal ini.
    .
    Maka dari itu bagi guru yang sudah lama mengajar, pasti beliau sudah mengenal karakteristik siswa dan kondisi pembelajaran di kelas jadi menutup kemungkinan untuk kejadian yang saudara jabarkan. Lalu sikap afektif biasanya pasti di miliki oleh masing-masing siswa. Sehingga setidaknya muncul pada diri siswa. Atau bisa saja menggunakan jurnal harian agar tercatat seluruh kegiatan selama proses pembelajaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang berdampak nilai siswa akan kosong pada sub point tersebut ? bagaimana kebijakan guru akan hal ini.
      Saya sependapat dengan saudari rifani,
      Rubrik yg sudah kita susun, pasti memiliki bayangan keterampilan apa yang akan siswa miliki,
      Dengan demikian tidak mungkin dalam 1 kelas n8lainya kosong, jikalau itu terjadi tentu ada maslah pada saat perumusan indikator atau dalam tahap pelaksanaanya, kita dapat melkukan evaluasi dan memperbaiki instrumen untuk yg akan datang.

      Hapus
  6. Saya sependapat dengan bang sugeng tentu guru sudah memperhtikan karakteristik siswa dalam membuat sebuah penilian dan rubrik penilaian. Jika ada hal tersebut terjadi. Maka guru bisa memberikan tugas tanbahan kepada siswa itu. Dan itu tidak mgkin kosong dalam penilaian. Pasti ada nilai namun tidak semaksimal dengan yg di harapkan

    BalasHapus
  7. bagaimana pendpat anda tentang kesesuain antara ketiga aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ?
    Ketiga aspek atau ranah kejiwaan itu erat sekali dan bahkan tidak mungkin dapat dilepaskan dari kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar. Benjamin S. Bloom dan kawan-kawannya itu berpendapat bahwa pengelompokkan tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu:

    a) Ranah proses berfikir (cognitive domain)

    b) Ranah nilai atau sikap (affective domain)

    c) Ranah keterampilan (psychomotor domain)

    Dalam konteks evaluasi hasil belajar, maka ketiga domain atau ranah itulah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar. Sasaran kegiatan evaluasi hasil belajar adalah:

    1) Apakah peserta didik sudah dapat memahami semua bahan atau materi pelajaran yang telah diberikan pada mereka?

    2) Apakah peserta didik sudah dapat menghayatinya?

    3) Apakah materi pelajaran yang telah diberikan itu sudah dapat diamalkan secara kongkret dalam praktek atau dalam kehidupannya sehari-hari?

    Ketiga ranah tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.

    BalasHapus
  8. bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang bedampak nilai siswa akan koson pada sub point tersebut ?
    menurut saya itulah gunanya kita menyusun perencanaan pembelajaran. seperti membuat rpp. karena perencanaan yang bagus akan menghasilkan implementasi yang memuaskan dan dapat meminimalisir permasalahan yang anda maksud.

    BalasHapus
  9. menanggapi permasalahan bagaimana kita melaksanakan penilaian jika pada aspek yang sudah kita susun rubriknya, ternyata pada saat proses pembelajaran ada yang tidak bisa dilakasanakan, yang bedampak nilai siswa akan kosong pada sub point tersebut ?
    Pada kondisi nyata di lapangan hal ini sering terjadi meskipun kita sudah memiliki RPP sebagai panduan dalam melaksanakan skenaario pembelajaran. maka salah satu cara untuk mengantisipasinya adalah dengan melakukan penilaian ulang jika materi ini merupakan salah satu materi esensial dalam pembelajaran.

    BalasHapus
  10. bagaimana pendapat anda tentang kesesuaian antara ketiga aspek penilaian, kognitif, afektif dan psikomotor yang tentunya harus sinkron ketiga nya. bagaimana keterkaitan ketiganya ?

    keterkaitan antara aspek penilaian kognitif, afektif dan psikomotor sangat erat dan tidak dapat dipisahkan, kenapa begitu ? karena saling berhubungan. seperti halnya penilaian jika tidak ada salah satunya maka akan kurang dan tidak ada penguat penilaian. jadi begini jika siswa telah diajarkan dan dinilai sisi kognitifnya maka akan muncul juga penilaian dari sisi afektif siswa sebagai pendukung dari sisi kognitif siswa, kemudian setelah kemampuan kognitif siswa sesuai dan mampu maka akan bisa juga dilakukan penilaian psikomotor siswa

    BalasHapus