Kamis, 13 Desember 2018

Materi 14 : inovasi sintak model 5E terhadap kemampuan berfikir kreatif


           

Learning cycle merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis yang pada mulanya terdiri atas tiga tahap, yaitu: eksplorasi (exploration), menjelaskan (explanation), dan memperluas (elaboration/extention), yang dikenal dengan learning cycle 3E.Pada proses selanjutnya, tiga tahap siklus tersebut mengalami perkembangan menjadi lima tahap, yaitu: pembangkitan minat/mengajak (engagement), eksplorasi/menyelidiki (exploration), menjelaskan (explanation), memperluas (elaboration/extention), dan evaluasi (evaluation), sehingga dikenal dengan learning cycle 5E.
Model pembelajaran learning cycle-5E adalah model pembelajaran yang terdiri atas fase-fase atau tahap-tahap kegiatan yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. Model pembelajaran learning cycle-5E merupakan salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan paradigma konstruktivisme. Pendekatan teori konstruktivistik pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih berpusat pada siswa (student centered). Dengan kata lain, pembelajaran menggunakan model pembelajaran learning cycle-5E “berpusat pada siswa dan guru berperan sebagai fasilitator” (Trianto, 2007, hlm. 22).
Model pembelajaran learning cycle-5E memiliki tujuan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkontruksi pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri dengan terlibat secara aktif mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir baik secara individu maupun kelompok, sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran. Berbeda dengan metode pengajaran tradisional yang mendominasikan instruksi langsung dalam menyampaikan informasi, siklus belajar 5E dengan pendekatan hands-on di mana siswa dapat mengeksplorasi konsep baru, mengevaluasi kembali pengalaman masa lalu mereka, dan mengasimilasi atau mengakomodasi pengalaman baru dan konsep ke dalam skema yang sudah ada (Hagerman, 2012).

Menurut Bybee (2006), fase-fase dalam model siklus belajar 5E adalah sebagai berikut:
1.      Engagement (Persiapan). Pada fase ini guru mengasses pengetahuan awal (prior knowledge) siswa dan membantu mereka untuk tertarik dengan konsep-konsep baru melalui penggunaan kegiatan singkat untuk memicu rasa ingin tahu. Kegiatan yang dilakukan harus menghubungkan antara pengalaman belajar sebelumnya dengan pengalaman belajar yang akan dilakukan, mengekspos konsepsi awal yang telah dimiliki siswa, dan mengorganisasikan pemikiran siswa untuk mencapai tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan.
2.      Exploration (eksplorasi). Pada fase exploration (eksplorasi) siswa mempunyai kesempatan melakukan kegiatan di mana konsep yang telah mereka miliki, miskonsepsi, proses belajar dan keterampilan-keterampilan diidentifikasi dan perubahan konsepsi difasilitasi. Siswa dapat menyelesaikan kegiatan laboratorium yang akan membantu mereka menggunakan pengetahuan awal untuk menghasilkan gagasan-gagasan baru, mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan dan kemungkingan-kemungkinan, dan mendesain dan melaksanakan penyelidikan.
3.      Explanation (penjelasan). Fase explanation (penjelasan) memfokuskan perhatian siswa pada suatu aspek tertentu dari pengalaman belajar mereka pada fase engagement (persiapan) dan exploration (eksplorasi) dan menyediakan kesempatan untuk mendemonstrasikan pemahaman konsep-konsep, keterampilan-keterampilan proses sains, atau tingkah laku tertentu. Fase ini juga menyediakan kesempatan kepada guru untuk secara langsung menyampaikan konsep-konsep, proses-proses, atau keterampilan- keterampilan. Siswa menjelaskan pemahaman mereka terhadap konseo-konsep. Penjelasan dari guru dapat membimbing mereka menuju pemahaman yang lebih mendalam, yang merupakan bagian terpenting dari fase ini.
4.      Elaboration (elaborasi). Pada fase elaboration (elaborasi) guru menantang dan memperluas pemahaman konseptual dan keterampilan-keterampilan siswa. Melalui pengalaman-pengalaman belajar yang baru siswa membangun pemahaman yang lebih dalam dan luas, memperoleh informasi-informasi, dan keterampilan-keterampilan. Siswa mengaplikasikan pemahaman mereka tentang konsep-konsep tertentu dengan melakukan kegiatan-kegiatan tambahan.
5.      Evaluation (evaluasi).Pada fase terakhir dari model siklus belajar 5E ini, yaitu fase evaluation (evaluasi), siswa berupaya mengasses pemahaman dan kemampuan mereka. Selain itu pada fase ini guru juga mempunyai kesempatan untuk mengevaluasi kemajuan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Menurut Fajaroh (2008), model pembelajaran learning cycle 5E memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:
1.      Merangsang kembali siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran yang telah mereka dapatkan sebelumnya.
2.      Memberikan motivasi kepeda siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran dan menambah rasa keingintahuan.
3.      Melatih siswa belajar menemukan konsep melalui kegiatan eksperimen.
4.      Melatih siswa untuk menyampaikan secara lisan konsep yang telah mereka pelajari.
5.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir, mencari, menemukan dan menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah dipelajari.
Learning cycle-5E melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi siswa untuk aktif membangun konsep-konsep sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial. Implementasi learning cycle-5E dalam pembelajaran sesuai pandangan konstruktivistik, yaitu:
1.      Siswa belajar aktif.
2.      Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir.
3.      Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman sendiri.
4.      Informasi dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa.
5.      Informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu.
Dengan demikian, proses belajar bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran akan lebih bermakna dan menjadikan skema dalam diri siswa menjadi pengetahuan fungsional yang setiap saat dapat diorganisasikan oleh siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.
Dilihat dari dimensi guru, implementasi model pembelajaran ini dapat memperluas wawasan dan meningkatkan kreativitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Sedangkan dilihat dari dimensi siswa, penerapan model pembelajaran learning cycle-5E memberikan kelebihan, sebagai berikut:
1.         Meningkatkan motivasi belajar karena siswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.
2.         Lebih berpeluang untuk menyampaikan pendapat dan gagasan.
3.         Dapat menumbuhkan kegiatan belajar.
4.         Pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Adapun kekuarangan penerapan model pembelajaran learning cycle-5E menurut Rahmawati (2008, hlm. 18-19), sebagai berikut:
1.      Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran.
2.      Menuntut kesungguhan dan kreatifitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.
            Agar kreativitas anak dapat terwujud dibutuhkan adanya dorongan dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik). Bagaimana meningkatkan kreativitas yang masih terpendam dalam diri siswa? Selanjutnya Munandar (dalam Mulyana & Sabandar, 2005) mengatakan bahwa ciri-ciri kemampuan yang berpikir kreatif yang berhungan dengan kognisi dapat dilihat dari kemampuan berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes, ketrampilam berpikir orisinal, ketrampilan elaborasi, dan ketrampilan menilai. Penjelasan dari ciri-ciri yang berkaitan dengan ketrampilan-ketrampilan tersebut diuraikan sebagai berikut.
1.      Ciri-ciri ketrampilan kelancaran:
a.       Mencetuskan banyak gagasan dalam pemecahan masalah
b.      Memberikan banyak jawaban dalam menjawab suatu pertanyaan
c.       Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal.
d.      Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada anak-anak lain.
2.      Ciri-ciri ketrampilan berpikir luwes (fleksibel):
a.       Menghasilkan gagasan penyelesaian masalah atau jawaban suatu Pertanyaan  bervariasi.
b.      Dapat melihat suatu msalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
c.       Menyajikan suatu konsep dengan cara yang berbeda-beda.
3.      Ciri-ciri keterampilan orisinal (keaslian):
a.       Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan
b.      Membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4.      Ciri-ciri ketrampilan Memperinci (elaborasi):
a.       Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
b.      Menambahkan atau memperici suatu gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut.
5.      Ciri-ciri ketrampilan Menilai (mengevaluasi):
a.       Dapat menemukan kebenaran suatu pertanyaan atau kebenaran suatu rencana penyelesaian masalah.
b.      Dapat mencetuskan gagasan penyelesaian suatu masalah dan dapat melaksanakannya dengan benar.
c.       Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.

Torrance (Filsaime, 2007) bahwaada empat karakteristik berpikir kreatif, sebagai sebuah proses yang melibatkan unsur-unsur orisinalitas, kelancaran, fleksibilitas dan elaborasi.  Keempat dari karakteristik berpikir kreatif tersebut didefinisikan sebagai:
1.      Orisinalitas
Kategori orisinalitas mengacu pada keunikan dari respon apapun yang diberikan. Orisinalitas yang ditunjukkan oleh sebuah respon yang tidak biasa, unik dan jarang terjadi. Berpikir tentang masa depan bisa juga memberikan stimulasi ide-ide orisinal. Jenis pertanyaan- pertanyaan yang digunakan untuk menguji kemampuan ini adalah tuntutan penggunaan-penggunaan yang menarik dari objek-objek umum. Misalnya: (1) desainlah sebuah computer impian masa depan. (2) pikirkan berapa banyaknya benda yang anda gunakan kabel untuknya.

2.      Elaborasi
Elaborasi diartikan sebagai kemampuan untuk menguraikan sebuah obyek tertentu. Elaborasi adalah jembatan yang harus dilewati oleh seseorang untuk mengkomunikasikan ide“ kreatif”-nya kepada masyarakat. Faktor inilah yang menentukan nilai dari ide apapun yang diberikan kepada orang lain di luar dirinya. Elaborasi ditunjukkan oleh sejumlah tambahan dan detail yang bisa dibuat untuk stimulus sederhana untuk membuatnya lebih kompleks. Tambahan-tambahan tersebut bisa dalam bentuk dekorasi, warna, bayangan atau desain. Contoh berpikir kreatif elaborasi matematik. Pada suatu hari Pak Dodi pergi ke pasar untuk membeli dua jenis semen di sebuah tokoh dengan harga Rp 440.000,- lengkapilah data tersebut sehingga tersusun suatu masalah sistem persamaan linear dua variabel!. Kemudian selesaikan masalah tadi. Contoh ini memberikan indikator bahwa siswa dapat melengkapi data untuk menyusun suatu masalah dan menyelesaikannya.
3.      Kelancaran
Kelancaran diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan segudang ide (Gilford, dalam Filsaime, 2007)). Ini merupakan salah satu indikator yang paling kuat dari berpikir kreatif, karena semakin banyak ide, maka semakin besar kemungkinan yang ada untuk memperoleh sebuah ide yang signifikan.
4.      Fleksibilitas
Karakteristik ini menggambarkan kemampuan seseorang individu untuk mengubah perangkat mentalnya ketika keadaan memerlukan untuk itu, atau kecenderungan untuk memandang sebuah masalah secara instan dari berbagai perspektif. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan mental, mengubah pendekatan untuk sebuah masalah. Tidak terjebak dengan mengasumsikan aturan-aturan atau kondisi-kondisi yang tidak bisa diterapkan pada sebuah masalah.

Dibawah ini merupakan inovasi sintak pembelajaran 5E terhadap kemampuan berfikir kreatif pada materi larutan penyangga.

Sintaks Model Pembelajaran 5E Konvensional
Inovasi Model Pembelajaran 5E
Dampak Berpikir Kreatif
Fase 1: Engagement
Fase 1: Engagement
Guru memusatkan perhatian siswa.
Guru membangkitkan minat, motivasi, dan keingintahuan siswa mengenai materi yang akan dipelajari.
Guru dapat mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya.
“apakah ada yang masih ingat mengenai materi minggu lalu tentang asam basa ?”
Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam (berpikir luwes)
Menggali pengetahuan dasar siswa tentang materi yang akan diajarkan dengan memberikan pertanyaan yang memotivasi siswa agar memiliki rasa ingin tahu yang tinggi serta mengajak siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan yang ada dalam pikiran mereka berdasarkan kehidupannya sehari-hari.
mereka ketahui tentang aplikasi dan konsep larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari ?
·       Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam (berpikir luwes)
Guru membangkitkan minat, motivasi, dan keingintahuan siswa mengenai materi yang akan dipelajari.
Guru menjelaskan fenomena yang dekat dengan siswa, sehingga siswa merasakan mamfaat mempelajari materi ini.
Guru menyampaikan informasi kepada peserta didik bahwa darah dalam tubuh kita termasuk larutan penyangga. Mengapa demikian?
Guru menayangkan video singkat tentang larutan penyangga.
Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam (berpikir luwes)
Memberikan jawaban yang lain dari pada yang lain. (berpikir orisinil)
Guru memfasilitasi siswa dalam menggali pengetahuan awal melalui pemberian pertanyaan atau masalah yang terkait dengan materi.
Fase 2: Eksploration
Fase 2: Inquiri
Guru membagikan LKPD, memberikan suatu permasalahan untuk dicari solusinya oleh siswa.
Membagi siswa untuk membentuk kelompok diskusi yang heterogen
Siswa membentuk kelompok untuk diskusi mengenai permasalahan yang diajukan oleh guru, mencari solusi/jawaban untuk permasalahan tersebut, melakukan praktikum, melakukan pengujian hipotesis, serta melakukan pengumpulan data/informasi.
Guru membagi LKPD kepada siswa. Serta memerintahkan siswa mencari berbagai sumber belajar, baik itu internet dan lain-lain.
Guru berperan sebagai fasilitator, memberikan bimbingan seperlunya kepada siswa.
siswa merumuskan masalah terkait fenomena atau permasalahan yang ada didalam LKPD dengan bimbingan oleh guru.
Siswa mampu merumuskan pokok-pokok permasalahan
a. Mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan
guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis atas permasalahan yang telah dibuat oleh mereka
Siswa mampu merumuskan pokok-pokok permasalahan
a. Mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan
guru membimbing siswa untuk belajar yaitu dengan melakukan percobaan sederhana  atau pembuktian atas hipotesis yang telah dibuat.
1. siswa mampu mengungkap fakta yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu masalah
a. Berusaha mengetahui informasi dengan baik
b. Mengingat kepentingan yang asli dan mendasar
2. siswa mampu mendeteksi bias berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda
a. Mencari alternative
b. Mencari penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan
Guru membimbing siswa dalam mengumpulkan data dan menghubungkan data yang diperoleh dengan literatur-literatur yang sudah didapatkan diawal pembelajaran.
1. Siswa mampu mengungkap fakta yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu masalah
a. Memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya
b. Mengingat kepentingan yang asli dan mendasar
2. Mampu mendeteksi bias berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda
a. Mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup untuk melakukan sesuatu
3. Mampu menentukan akibat dari suatu pernyataan yang diambil sebagai suatu keputusan
a. Memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan
b. Bersikap dan berpikir terbuka
Fase 3: Explanation
Fase 3: Explanation
Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menganalisis data/informasi yang dikumpulkan dari kegiatan pada fase sebelumnya.
Siswa melakukan diskusi dikelompoknya masing-masing untuk menganalisis data yang diperoleh dan mengintegrasikan nya dengan teori-teori yang ada. kemudian siswa menyampaikan hasil diskusinya didepan kelas disertai dengan tanya jawab dari kelompok lain atas materi yang dipaparkan tersebut.
Siswa mampu menentukan akibat dari suatu pernyataan yang diambil sebagai suatu keputusan
a. Memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan
b. Bersikap dan berpikir terbuka.
Siswa menjelaskan konsep, informasi, pengetahuan yang mereka peroleh dari kegiatan pada fase sebelumnya dengan kata-kata mereka sendiri.
Guru memberikan klarifikasi terhadap hasil diskusi siswa.
Guru mengarahkan siswa untuk menyimpilkan sendiri hasil dari diskusi. Meluruskan jika ada kekeliruan.
Guru memberikan klarifikasi terhadap hasil diskusi siswa.
Guru membantu siswa untuk menemukan kembali informasi yang hilang atau mengganti informasi yang salah dengan yang baru.
Fase 4: Elaboration
Fase 4: Elaboration
Siswa mengaplikasikan konsep, informasi, pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh pada fase sebelumnya.
Siswa mengaplikasikan konsep, informasi, pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh pada hasil dikusi
Siswa menerapkan pemahaman konsep mereka dengan melakukan kegiatan tambahan.
Siswa menerapkan pemahaman konsep mereka dengan melakukan kegiatan tambahan.
Fase 5: Evaluation
Fase 5: Evaluation
Guru melakukan umpan balik dengan memanggil kembali ide-ide, pengetahuan atau keterampilan siswa yang telah dipelajari. Umpan balik dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap topik yang telah mereka pelajari.
Guru melakukan umpan balik dengan menanya kembali konsep-konsep yang diperoleh dari diskusi. Memastikan siswa benar-benar paham akan materi yang didiskusikan
1. siswa mampu merumuskan pokok-pokok permasalahan
a. Mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan
2. Mampu memilih argumen logis, relevan dan akurat
a. Bersikap secara sistimatis dan teratur dengan bagian-bagian dari keseluruhan masalah
3. Mampu mendeteksi bias berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda
Mencari alternative
Guru melakukan evaluasi/penilaian hasil belajar.
·        
Guru mengevaluasi dengan memberikan soal latihan

Dari inovasi sintaks model diatas,  Apakah model ini sudah memunculkan kemampuan literasi dan apakah sudah berhubungan dengan kemampuan literasi big data, teknologi,dan kemanusiaan ? beerikan saran anda. Apakah inovasi sintaks model pembelajaran 5E ini sudah dapat untuk memunculkan dan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa? Apa pendapat dan saran kalian terhadap inovasi sintak model pembelajaran 5E yang sudah saya buat ?


15 komentar:

  1. saya akan menjawab pertanyaan dhani yakni Apakah model ini sudah memunculkan kemampuan literasi dan apakah sudah berhubungan dengan kemampuan literasi big data, teknologi,dan kemanusiaan ?

    menurut pendapat saya, literasi itu kan bagaimana siswa dapat berinteraksi dengan ke 3 aspek literasi secara maksimal. dalam pengalikasiannya siswa dituntut untuk dpat memunculkan impact terhadap lingkungan sekitar bahkan individu lainnya sehingga menimbulkan suatu perubahan ke arah lebih baik dari sebelumnya, dan menurut sya apa yang dhani modifikasi belum memunculkan itu secara maksimal. contohnya literasi teknologi, tidak tampak muncul pada kegiatan tiap fase yang dhani buat. jika ingin meningkatkan kemampuan berliterasi siswa maka ke3aspeknya perlu dimasukkan dalam setiap fasenya sehingga bukan hanya sekedar kata-kata literasi saja yang muncul tapi lebih kepada real dan impactnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau penilaian anda menyatakan belum maksimal, dibagian mana yang perlu ditambahkan ? berikan saran.

      Hapus
    2. Guru bisa membuat website untuk pembelajran atau classroom sehingga kapan pun mereka bisa berdiskusi. kemudian media belajar bisa mengguanakan 3D jadi siswa bisa melihat dari berbagai sudut pandang suatu model

      Hapus
    3. Saya setuju dengan pendapat saudari tri,
      Bisa menggunakan media belajar 3d atau bisa dengan hologram jika sudah ada, akan lebih bagus. Jadi bisa mengembangkan imajinasi siswa.

      Hapus
  2. Untuk melihat apakah ketiga literasi itu muncul maka bisa dilihat dari hasil dan dampaknya. Menurut saya disini literasi big data dan literasi teknologi dapat terlihat dikarenakan siswa mengubungkan larutan penyangga dengan sistem darah mereka dan siswa disini terlihat membaca atau mencari informasi dari berbagai sumber (literasi big data). Lalu literasi teknologi sendiri tidak serta merta selalu komponen 4D atau yang berbau teknologi canggih sprti robot namun yang penting teknologi itu dapat menjadi media belajar siswa yang dapat meningkatkan minat dan membuat siswa tergugah dalam belajar maka disini video pun sudah terkait adanya literasi teknologi. Namun disni literasi budaya yang tidak muncul dalam inovasi ini. Dan untuk melihat hasil dan dampak bisa kita lihat dari tingkah laku siswa dan pola fikir

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih saudari rifanny, saya membutuhkan saran anda untuk lebih baiknya sintaks ini, terutama pada bagian literasi teknologi. serta menambah khasanah ilmu pad bagian literasi big data literasi kemanusiaan

      Hapus
  3. sependapat dengan kak fanny, menurut saya inovasi yang bang dhani buat sudah bisa dikatakan memunculkan dari kemampuan literasi big data, teknologi, dan kemanusiaan. kemampuan literasi data bisa dilihat pada saat Guru menyampaikan informasi kepada peserta didik bahwa darah dalam tubuh kita termasuk larutan penyangga, memerintahkan siswa mencari berbagai sumber belajar, baik itu internet dan lain-lain. kemudian kemampuan literasi teknologi bisa dilihat pada saat Guru menayangkan video singkat tentang larutan penyangga. kemudian kemampuan literasi kemanusiaan/budaya bisa dilihat pada saat Guru memberikan klarifikasi terhadap hasil diskusi siswa dan Guru mengarahkan siswa untuk menyimpulkan sendiri hasil dari diskusi. Meluruskan jika ada kekeliruan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan fanny dan rini bahwa Apakah model ini sudah memunculkan kemampuan literasi dan apakah sudah berhubungan dengan kemampuan literasi big data, teknologi,dan kemanusiaan ? menurut saya literasi big data dan literasi teknologi dapat terlihat dikarenakan siswa menghubungkan larutan penyangga dengan sistem darah mereka dan siswa disini terlihat membaca atau mencari informasi dari berbagai sumber (literasi big data). kemudian kemampuan literasi teknologi bisa dilihat pada saat guru menayangkan video singkat tentang larutan penyangga. kemudian kemampuan literasi kemanusiaan/budaya bisa dilihat pada saat guru memberikan klarifikasi terhadap hasil diskusi siswa dan Guru mengarahkan siswa untuk menyimpulkan sendiri hasil dari diskusi.

      Hapus
  4. menurut saya dari inovasi sintaks yang Anda buat sudah tampak literasinya namun mungkin perlu penjelasan lebih lagi seperti pada tahap pertama elaborasi "Siswa mengaplikasikan konsep, informasi, pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh pada hasil dikusi" nah, disini 3 literasi tadi bisa tampak jelas jika memang Anda memberikan contoh siswa menggunakan apa dalam proses diskusinya nanti

    BalasHapus
  5. Menurut saya inovasi yang anda buat sudah bagus, karena telah sudah menempatkan inquiry sebagai pengganti Eksploration. Namun disini saya kurang setuju jika Eksploration diganti dengan inquiry karena menurut saya terlalu berat untuk pencapaian tujuan pembelajaran, pada tahap ini cukup Eksploration dan penguatan tentang mengkonstrak materi bisa diperkuat padak fase selanjudnya pada Explanation (penjelasan) dan fase elaborasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju yang disampaikan esa bahwa inovasi yang anda buat sudah bagus, karena sudah menempatkan inquiry sebagai pengganti Eksploration. Namun disini saya kurang setuju jika Eksploration diganti dengan inquiry karena menurut saya terlalu berat untuk pencapaian tujuan pembelajaran

      Hapus
    2. Saya tidak setuju dengan pendapat esa, karena saya setuju bahkan pada tahap eksorasi diganti inquiry, karena ditahap eksplorasi siswa bisa melakukan apapun smpai memperolwh pengtahuan baik itu literasi atau data atau praktikum, nah lebih baik dispesifikkan dengan langkah inquiry saja, tidak harus melakukan semua literasi baik itu nig data ataupun telnologi, ckup bs literasi humanis

      Hapus
  6. menurut saya inovasi sintaks yang dibuat sudah baik apabila diterapkan dalam proses pembelajaran, namun untuk memenuhi 3 tuntutan kemampuan literasi (big data, teknologi,dan kemanusiaan) belum terlalu terlihat khususnya pada literasi big data yang kita ketahui berhubungan dengan bidang lainya dalam kehidupan, sedangkan untuk literasi teknologi dan literasi kemanusiaan sudah cukup terlihat dari penggunaan LKPD dan diskusi siswa bersama kelompoknya

    BalasHapus
  7. Sedikit saran untuk bang dani. Secara keseluruhan inovasi yg kk buat sudah bagus. Namun disini jika kk ubah nama sintaknya menjadi inkuiri maka nama model nya bukan lagi 5E. Mungkin bisa dalam tahap Exploration di terapkan dengan pendekatam inkuiri di dalam tahap tahap ekploration nya itu. Karena intinya sama saja. Sama smaa mencari tahu dan ingin menemuman sesuatu dalam masalah yg harus di pecahkan dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus
  8. Saya sependapat dengan saudari rini yaitu inovasi yang bang dhani buat sudah bisa dikatakan memunculkan dari kemampuan literasi big data, teknologi, dan kemanusiaan. kemampuan literasi data bisa dilihat pada saat Guru menyampaikan informasi kepada peserta didik bahwa darah dalam tubuh kita termasuk larutan penyangga, memerintahkan siswa mencari berbagai sumber belajar, baik itu internet dan lain-lain. kemudian kemampuan literasi teknologi bisa dilihat pada saat Guru menayangkan video singkat tentang larutan penyangga. kemudian kemampuan literasi kemanusiaan/budaya bisa dilihat pada saat Guru memberikan klarifikasi terhadap hasil diskusi siswa dan Guru mengarahkan siswa untuk menyimpulkan sendiri hasil dari diskusi. Meluruskan jika ada kekeliruan

    BalasHapus