Kamis, 06 Desember 2018

materi 13 : inovasi Inovasi Sintak Model Pembelajaran PjBL dan Dampaknya Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif


           
Project Based Learning (PjBL) atau Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) merupakan tugas-tugas komplek, yang didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan yang menantang  atau permasalahan, yang melibatkan para siswa di dalam desain, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, atau aktivitas investigasi; memberi peluang para siswa untuk bekerja secara otonomi dengan periode waktu yang lama; dan akhirnya menghasilkan  produk-produk yang nyata atau  presentasi-presentasi. Pendapat serupa juga dinyatakan oleh Santyasa (2006), yang menyatakan bahwa PjBL adalah suatu pembelajaran yang berfokus pada konsep dan memfasilitasi siswa untuk berinvestigasi dan menentukan suatu pemecahan masalah yang dihadapi. PjBL dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan siswa dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. PjBL adalah pembelajaran dengan menggunakan proyek sebagai metode pembelajaran. Para siswa bekerja secara nyata, seolah-olah ada di dunia nyata yang dapat menghasilkan produk secara realistis (Mahanal, 2009).
            Santyasa (2006) juga menjelaskan bahwa di dalam PjBL proyek dilakukan secara kolaboratif dan inovatif yang berfokus pada pemecahan masalah yang berhubungan dengan kehidupan siswa atau masyarakat. Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa PjBL dalam pelaksanaannya menekankan pada pembelajaran yang kolaboratif. Pembelajaran kolaboratif dalam hal ini menunjukkan bahwa antar siswa dalam kelompok saling ketergantungan dalam menyelesaikan proyek dan antara siswa satu dengan siswa yang lain akan mencapai suatu tujuan jika dalam kelompok tersebut dapat mencapai tujuan bersama yang diharapkan (Slavin, 1995; Arends, 1998; Heinich et al., 2002 dalam Santyasa, 2006).
            Pembelajaran berbasis proyek membutuhkan suatu pendekatan pengajaran yang komperehensif di mana lingkungan belajar siswa perlu didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah autentik, termasuk pendalaman materi pada suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Biasanya pembelajaran berbasis proyek memerlukan beberapa tahapan dan beberapa durasi, tidak sekedar merupakan rangkaian pertemuan kelas, serta belajar kelompok kolaboratif. Proyek memfokuskan pada pengembangan produk atau unjuk kerja (performance), secara umum siswa melakukan kegiatan: mengorganisasi kegiatan belajar kelompok mereka, melakukan pengkajian atau penelitian, memecahkan masalah, dan mensintesis informasi (Corebima, 2009).
Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut.
a. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapatmemberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigas mendalamdan topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
b. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
c. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3)membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek,dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
d. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
Pengajar bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
e. Menguji Hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik,memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
f.  Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnyy ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran
ManfaatYang Dapat Diraih
            Banyak sekali manfaat yang dapat diraih melalui penerapan model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) ini, misalnya: (1) siswa menjadi pebelajar aktif; (2) pembelajaran menjadi lebih interaktif atau multiarah; (3) pembelajaran menjadi student centred); (4) guru berperan sebagai fasilitator; (5) mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa; (6) memberikan kesempatan siswa memanajemen sendiri kegiatan atau aktivitas penyelesaian tugas sehingga melatih mereka menjadi mandiri; (7) dapat memberikan pemahaman konsep atau pengetahuan secara lebih mendalam kepada siswa; dsb.                                                                                    

Penilaian Dalam Model Pembelajaran  Project Based Learning
            Karena pembelajaran berbasis proyek dapat memberikan hasil belajar dalam bentuk pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill atau psikomotor), dan sikap (attitude atau afektif), maka penilaiannyapun dilakukan untuk ketiga ranah ini. Bentuk penilaian dapat berupa tes atau nontes. Sebaiknya penilaian yang dilakukan untuk model pembelajaran berbasis proyek ini lebih mengutamakan aspek kemampuan siswa dalam mengelola aktivitas-aktivitas mereka dalam penyelesaian proyek yang dipilih dan dirancangnya, relevansi atau kesesuaian proyek dengan topik pembelajaran yang sedang dipelajari hingga keaslian (orisinalitas) proyek yang mereka garap.  

Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kurikulum 2013
            Dalam rasional perubahan kurikulum sebelumnya (KTSP/Kurikulum 2006) ke Kurikulum 2013 disebutkan bahwa perkembangan pengetahuan dan pedagogi dalam hal ini neurologi, psikologi, observation based (discovery) learning dan collaborative learningadalah salah satu alasan pentingnya perubahan kurikulum. Hal ini tentu berimplikasi pada model-model pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan mengajar di sekolah. Salah satu model pembelajaran yang dianjurkan untuk digunakan adalah model pembelajaran berbasis proyek (project based learning). Hal ini tentunya bukan tanpa alasan, karena mengingat karakteristik-karakteristik unggul dari model pembelajaran ini yang mampu mengakomodasi alasan tersebut di atas.
            Selain itu pembelajaran tentunya harus diubah dari kecenderungan lama (satu arah) agar menjadi lebih interaktif (multiarah). Melalui model pembelajaran ini, siswa juga akan dapat diharapkan menjadi aktif menyelidiki (belajar) dengan menyajikan dunia nyata (bukan abstrak) kepada mereka. Di dalam model pembelajaran ini, siswa akan bekerja secara tim (berkelompok) kooperatif dan mengubah pemikiran faktual semata menjadi pemikiran yang lebih kritis dan analitis.
            Model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru sehingga secara otomatis guru berarti juga menggunakan pendekatan saintifik (scientific approach) dalam pembelajarannya. Pendekatan saintifik adalah pendekatan pembelajaran di mana siswa memperoleh pengetahuan berdasarkan cara kerja ilmiah. Melalui pendekatan saintifik ini siswa akan diajak meniti jembatan emas sehingga ia tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan (knowledge) semata tetapi juga akan mendapatkan keterampilan dan sikap-sikap yang dibutuhkan dalam kehidupannya kelak. Saat belajar menggunakan model pembelajaran berbasis proyek ini, siswa dapat berlatih menalar secara induktif (inductive reasoning). Sebagai salah satu model pembelajaran dalam pendekatan saintifik, project based learning(model pembelajaran berbasis proyek) sangat sesuai dengan Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 Lampiran IV mengenai proses pembelajaran yang harus memuat 5M, yaitu: (1) mengamati; (2) menanya; (3) mengumpulkan informasi; (4) mengasosiasi; dan (5) mengkomunikasikan.

E. Paul Torrance dalam Davis (2012:359) mendeskripsikan kemampuan kreatif :
  1. Fluency adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak ide verbal non verbal dalam merespon masalah yang tidak memiliki satu jawaban benar.
  2. Fleksibelity adalah kemampuan untuk mengambil pendekatan berbeda untuk suatu masalah, memikirkan ide dalam kategori berbeda, atau melihat masalah dalam perspektif berbeda.
  3. Originality itu berarti keunikan, ketidaksamaan dalam pemikiran dan tindakan atau cara berpikir yang unik.
  4. Elaborasi adalah kemampuan untuk mengembangkan, memperhalus, menyempurnakan, dan bahkan menerapkan ide.
  5. Transformasi berarti kreativitas, merubah satu ide atau objek lain dengan melakukan modifikasi, mengkombinasi, atau dengan melihat makna baru, dampak, penerapan, atau adaptasi ke pengguna baru.
            Ciri-ciri kepribadian kreatif biasanya anak selalu ingin tahu, memilki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil resiko (tetapi dengan perhitungan) daripada anak-anak pada umumnya.  Munandar (1999: 36-37), bahwa peringkat dari 10 orang ciri-ciri pribadi yang kreatif yang diperoleh dari pakar psikologi (30 orang) sebagai berikut: imajinatif, mempunyai prakarsa, mempunyai minat luas, mandiri dalam berpikir, senang berpetualang, penuh energi, percaya diri, bersedia mengambil resiko, berani dalam pendirian dan keyakinan. Bila dibandingkan dengan peringkat ciri-ciri siswa yang paling diinginkan oleh guru sekolah dasar dan sekolah menengah (102 orang)  yakni: (1) penuh energi, (2) mempunyai prakarsa, (3) percaya diri, (4) sopan, (5) rajin, (6) melaksanakn pekerajaan pada waktunya, (7) sehat, (8) berani dalam berpendapat, (9) mempunyai ingatan baik, (10) ulet. Dari ciri-ciri ini tidak tampak banyak kesamaan antara ciri-ciri pribadi yang kreatif menurut pakar psikologi dengan ciri-ciri yang diinginkan oleh guru pada siswa.
            Agar kreativitas anak dapat terwujud dibutuhkan adanya dorongan dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik). Bagaimana meningkatkan kreativitas yang masih terpendam dalam diri siswa? Selanjutnya Munandar (dalam Mulyana & Sabandar, 2005) mengatakan bahwa ciri-ciri kemampuan yang berpikir kreatif yang berhungan dengan kognisi dapat dilihat dari kemampuan berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes, ketrampilam berpikir orisinal, ketrampilan elaborasi, dan ketrampilan menilai. Penjelasan dari ciri-ciri yang berkaitan dengan ketrampilan-ketrampilan tersebut diuraikan sebagai berikut.
1.      Ciri-ciri ketrampilan kelancaran:
a)      Mencetuskan banyak gagasan dalam pemecahan masalah
b)      Memberikan banyak jawaban dalam menjawab suatu pertanyaan
c)      Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal.
d)     Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada anak-anak lain.
2.      Ciri-ciri ketrampilan berpikir luwes (fleksibel):
a)      Menghasilkan gagasan penyelesaian masalah atau jawaban suatuPertanyaan  bervariasi.
b)      Dapat melihat suatu msalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
c)      Menyajikan suatu konsep dengan cara yang berbeda-beda.

3.      Ciri-ciri keterampilan orisinal (keaslian):
a)      Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan
b)      Membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4.      Ciri-ciri ketrampilan Memperinci (elaborasi):
a)      Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
b)      Menambahkan atau memperici suatu gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut.
5.      Ciri-ciri ketrampilan Menilai (mengevaluasi):
a)      Dapat menemukan kebenaran suatu pertanyaan atau kebenaran suatu rencana penyelesaian masalah.
b)      Dapat mencetuskan gagasan penyelesaian suatu masalah dan dapat melaksanakannya dengan benar.
c)      Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.

Torrance (Filsaime, 2007) bahwaada empat karakteristik berpikir kreatif, sebagai sebuah proses yang melibatkan unsur-unsur orisinalitas, kelancaran, fleksibilitas dan elaborasi.  Keempat dari karakteristik berpikir kreatif tersebut didefinisikan sebagai:
1.      Orisinalitas
Kategori orisinalitas mengacu pada keunikan dari respon apapun yang diberikan. Orisinalitas yang ditunjukkan oleh sebuah respon yang tidak biasa, unik dan jarang terjadi. Berpikir tentang masa depan bisa juga memberikan stimulasi ide-ide orisinal. Jenis pertanyaan- pertanyaan yang digunakan untuk menguji kemampuan ini adalah tuntutan penggunaan-penggunaan yang menarik dari objek-objek umum. Misalnya: (1) desainlah sebuah computer impian masa depan. (2) pikirkan berapa banyaknya benda yang anda gunakan kabel untuknya.
2.      Elaborasi
Elaborasi diartikan sebagai kemampuan untuk menguraikan sebuah obyek tertentu. Elaborasi adalah jembatan yang harus dilewati oleh seseorang untuk mengkomunikasikan ide“ kreatif”-nya kepada masyarakat. Faktor inilah yang menentukan nilai dari ide apapun yang diberikan kepada orang lain di luar dirinya. Elaborasi ditunjukkan oleh sejumlah tambahan dan detail yang bisa dibuat untuk stimulus sederhana untuk membuatnya lebih kompleks. Tambahan-tambahan tersebut bisa dalam bentuk dekorasi, warna, bayangan atau desain. Contoh berpikir kreatif elaborasi matematik. Pada suatu hari Pak Dodi pergi ke pasar untuk membeli dua jenis semen di sebuah tokoh dengan harga Rp 440.000,- lengkapilah data tersebut sehingga tersusun suatu masalah sistem persamaan linear dua variabel!. Kemudian selesaikan masalah tadi. Contoh ini memberikan indikator bahwa siswa dapat melengkapi data untuk menyusun suatu masalah dan menyelesaikannya.
3.      Kelancaran
Kelancaran diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan segudang ide (Gilford, dalam Filsaime, 2007)). Ini merupakan salah satu indikator yang paling kuat dari berpikir kreatif, karena semakin banyak ide, maka semakin besar kemungkinan yang ada untuk memperoleh sebuah ide yang signifikan.
4.      Fleksibilitas
Karakteristik ini menggambarkan kemampuan seseorang individu untuk mengubah perangkat mentalnya ketika keadaan memerlukan untuk itu, atau kecenderungan untuk memandang sebuah masalah secara instan dari berbagai perspektif. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan mental, mengubah pendekatan untuk sebuah masalah. Tidak terjebak dengan mengasumsikan aturan-aturan atau kondisi-kondisi yang tidak bisa diterapkan pada sebuah masalah. Dibawah ini disajikan inovasi suatu sintak pembelajaran, dimana materi yang diajarkan berupa larutan penyanggga.

Berikut merupakan inovasi sintaks model pembelajaran PjBL terhadap kemampuan berfikir kreatif pada materi larutan penyangga.
Model Konvensional (Model PJBL)
Inovasi sintaks Model Konvensional (Model PJBL)
Dampak berfikir kreatif
Menentukan Pertanyaan Mendasar
Menentukan pertanyaan mendasar.

Guru mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan proses pembelajaran
Guru memberikan pertanyaan kepada siswa tentang apayang mereka ketahui tentang aplikasi dan konsep larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari.


Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai


Guru memberikan stimulasi berupa penayangan video
Guru memberikan soal atau masalah yang berhubungan dengan pembelajaran
Guru menyampaikan informasi kepada peserta didik bahwa darah dalam tubuh kita termasuk larutan penyangga. Mengapa demikian?
 Kemudian guru menanyakan contohnya dalam kehidupan sehari-hari
Berpikir Lancar
   Peserta didik dapat memberikan lebih dari satu jawaban serta memberikan berbagai contoh larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari

Berpikir Luwes
·  Peserta didik mempu memunculkan pertanyaan yang bervariasi berdasarkan contoh-contoh yang diberikan


Mendesain Perencanaan Proyek
Mendesain Perencanaan Proyek

Guru meminta siswa duduk dalam kelompok yang telah dibagi sebelumnya
Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan meminta siswa merancag suatu proyek atau praktikum sederhana yang berhubungan dengan larutan penyangga serta menghungkannnya dengan teori-teori yang sudah dipelajari sampai serinci-rincinya tentang apa yang akan mereka kerjakan.
Berpikir Orisinal
·   Peserta didik mampu menemukan  ide pengembangan proyaknya

Guru mengarahkan siswa untuk membuat sebuah proyek yang dapat menyelesaikan permasalahan yang telah dikemukakan



Guru membimbing siswa dalam membuat langkah kerja sebuah proyek yang akan dilaksanakan


Menyusun Jadwal
Menyusun Jadwal

Guru meminta siswa untuk membuat timeline untuk menyelesaikan sebuah proyek
Guru membimbing siswa dalam menyusun jadwal dengan memperhatikan rincian kegiatan terhadap waktu pembelajaran serta menyusun alat dan bahan yang diperlukan serta menentukan target-target yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu
Berpikir terperinci
·   Peserta didik mampu menyusun jadwal secara sistematis

Guru meminta siswa membuat deadline menyelesaikan sebuah proyek


Guru meminta siswa untuk membuat penjelasan tentang pemilihan suatu cara penyelesaian sebuah proyek


Memonitor Peserta Didik dan Pengajuan Proyek
Memonitor Peserta Didik dan Pengajuan Proyek

Guru melakukan monitoring dan pengarahan berupa pertanyaan-pertanyaan kepada siswa dalam pelaksanaan sebuah proyek dan pengumpulan data
Memonitor kemajuan proyek yang dikerjakan oleh peserta didik dan mengecek sudah sampai mana pengerjaan nya dan apakah sudah memenuhi target yang sudah ditetapkan.
Berpikir Luwes
·   Peserta didik mampu menerapkan suatu konsep dari literatur yang diaplikasikan ke proyek dengan cara yang berbeda-beda. Misal melihat pengaruh dari perubahan volume

Berpikir Orisinal
·   Peserta didik mampu memikirkan masalah-masalah atau hal yang tak pernah terpikirkan orang lain

Berpikir terperinci
·   Peserta didik mampu melaksanakan proyek secara sistematis

Guru melakukan monitoring dan pengarahan berupa pertanyaan pertanyaan kepada siswa dalam menganalisis data
Menguji Hasil

Guru melakukan monitoring dan pengarahan berupa pertanyaan-pertanyaan kepada siswa dalam menyimpulkan pengetahuan yang diperoleh dari sebuah proyek yang dilakukan
Siswa menyajikan hasil pekerjaan nya dan melakukan demonstrasi didepan kelas tentang apa yang sudah mereka buat dan menghubungkan dengan teori-teori yang sudah mereka pelajari.
Berpikir terperinci
·   Peserta didik mampu melaporkan hasil proyek secara terperinci

Berpikir Lancar
·   Peserta didik dapat memberikan lebih dari satu jawaban dari yang guru tanyakan

Berpikir Orisinal
·   Peserta didik mampu menemukan kesimpulannya sendiri terkait larutan penyangga

Menguji Hasil
Masyarakat belajar

Guru meminta siswa untuk mempersentasekan proyek yang telah dipersiapkan
Guru memandu diskusi, mempersilakan kelompok lain untuk menilai dan mengevaluasi hasil kerja dari kelompok yang sudah menampilkan hasil kerjanya.

Berpikir Lancar
·   Peserta didik dapat memberikan lebih dari satu jawaban dari yang guru tanyakan

Berpikir Orisinal
·   Peserta didik mampu menemukan kesimpulannya sendiri terkait larutan penyangga
Berpikir Luwes
·   Peserta didik mampu mengemukakan pengalamannya selama proyek dengan beragam

Guru meminta siswa untuk membuktikan sebuah proyek yang telah dibuat berdasarkan teori yang ada


Guru menilai siswa sejak perencanaan, penjadwalan, hingga menyimpulkan pengetahuan yang diperoleh


Mengevaluasi Pengalaman
Mengevaluasi Pengalaman

Guru memberikan siswa refleksi hasil belajar dengan memberikan soal posttest
Guru melakukan evaluasi terhadap hasil kerja siswa dan merangkum serta meluruskan konsep-konsep yang salah.
Berpikir Luwes
·   Peserta didik mampu mengemukakan pengalamannya selama proyek dengan beragam

Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan dirumah berupa proyek pada pertemuan selanjutnya
Guru memberikan tugas kepada siswa.

Guru meminta siswa untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan sebuah proyek


 Dari inovasi dan penambahan syntak diatas, bagaimana pendapat anda tentang sintaks yang saya buat, apakah lebih baik dari sintak sebelumnya ? apakah sudah cocok untuk memunculkan berfikir kreatif ? saya menambahkan sintaks masyarakat belajar, apakah ini akan berpengaruh pada kemampuan berfikir kreatif ? berikan saran anda tentang sintaks ini.

13 komentar:

  1. sayaakan mencoba menjawab pertanyaan dhani yakni bagaimana pendapat anda tentang sintaks yang saya buat, apakah lebih baik dari sintak sebelumnya ?

    menurut saya sintaks yang dhani buat sudah cukup baik,dimodifikasi berdasarkan indikator kemampuan berpikir kreatif siswa, tapi untuk lebih baik atau tidaknya dibandingkan model CTL dan PBL pada bahasan sebelumnya tentu perlu dilakukan kajian lebih mendalam dan perlu dilakukan uji coba mengingat tiap model pembelajaran punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan itu tentu perlu peran guru untuk menutupi tiap kekurangan model tsb. namun disini saya ingin menyarankan sebaiknya pada tahap mengevaluasi pengalaman yang menrangkum sebaiknya bukan dari guru melainkan dari siswa itu sendiri, namun guru jika ada miskonsepsi dari siswa perlu diluruskan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan rini bahwa memang seharusnya ditahap evaluasi " Guru melakukan evaluasi terhadap hasil kerja siswa dan merangkum serta meluruskan konsep-konsep yang salah", bukan lagi guru yang merangkum pembelajaran, namun siswa itu sendiri, karena sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan zaman sekarang bahwa pembelajaran berorientasi pada siswa, sehingga tugas guru cukup dengan meluruskan atau memberikan penguatan saja

      Hapus
    2. saya setuju dengan pendapat kakak-kakak sekalian, bahwa untuk k13 siswa yang harus lebih aktif dibandingkan gurunya. sehingga guru berfungsi memonitoring, dan guru meluruskan bagian-bagian yang miskonsepsi

      Hapus
    3. Saya setuju dengan pendapat teman2 di atas , bahwa siswa di untut untuk lebih aktif dan juga lebih mengembangkan pemikiran nya menjadi lebih krisi dan juga kreatif dalam memecahkan suatu masalah dimana semua dilakukakn oleh siswa, guru hanya meluruskan jika terjadi miskonsepsi.

      Hapus
    4. saya juga sependapat dengan teman-teman bahwa pendidikan zaman sekarang lebih menitikberatkan keaktifan siswa (student centre)

      Hapus
    5. saya setuju dengan pendapat teman-teman bahwa siswa di tuntut untuk lebih aktif dan juga lebih mengembangkan pemikiran nya menjadi lebih krisi dan juga kreatif dalam memecahkan suatu masalah dimana semua dilakukakn oleh siswa, guru hanya meluruskan jika terjadi miskonsepsi.

      Hapus
  2. Menurut saya inovasi yang anda buat sudah menimbulkan berfikir kreatif karena pada dasarnya sintaks dasar PJBL sudah menimbulkan berfikir kreatif karena meminta siswa memikirkan proyek dalam memecahkan permasalahan. Dan untuk kemunculkan sintaks masyarakat belajar sendiri bisa dikatakan berpengaruh terhadap memunculkan berfikir kreatif karena dalam menilai dan mengevaluasi kelompok lain siswa akan berfikir secara luwes untuk menilainya dan memiliki pemikiran yang beragam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sependapat dengan kk fanny. Bahwa sintak masyarakat belajar ini bisa memunculkan kemampuan kreatif. Karena dlam sintak ini siswa belajar dgn mendiskusikan dan saling bertukar ide dengan sesama teman.

      Hapus
    2. saya sependapat dengan rifany dan dian bahwa inovasi yang di buat sudah menimbulkan berfikir kreatif karena pada dasarnya sintaks dasar PJBL sudah menimbulkan berfikir kreatif karena meminta siswa memikirkan proyek dalam memecahkan permasalahan. saran saya, buat dua kali pertemuan untuk lebih efektifnya pembalajaran menggunakan model PJBL.

      Hapus
  3. Saya sependapat dengan Kak Rini, saya hanya menambahkan "berikan saran anda tentang sintaks ini", menurut saya yang perlu diperjelas hanya penjelasan yangdilakukan siswa pada tahap tertentu seperti "Guru melakukan evaluasi terhadap hasil kerja siswa dan merangkum serta meluruskan konsep-konsep yang salah", indikatornya berpikir luwes. Disini apah siswa membuat kesimpulan yang dipandu guru atau bagaimana.

    BalasHapus
  4. menurut saya, inovasi sintaks yang Anda buat sudah bagus dan sesuai dengan indikator berpikir kreatif. dimana dalam Pembelajaran berbasis proyek ini lebih
    memberikan pengalaman kepada siswa dalam menyusun perancangan proyek, menyusun bahan/alat dan jadwal yang akan dilaksanakan dan bagaimana siswa dapat menggambarkan proyek yang dihasilkan dalam berbagai bentuk yang berbeda seperti grafik, laporan atau video dari sini terlihat bahwa siswa memiliki keterampilan berpikir kreatif.

    BalasHapus
  5. Menuru saya sudah berpengaruh penerapan model pjbl dengan kemampuan berpikir kreatif siswa karna definisi berpikir kreatif itu sendiri adalah kecerdasan yang berkembang dalam diri individu, dalam bentuk sikap, kebiasaan, dan tindakan dalam melahirkan sesuatu yang baru dan orisinal untuk memecahkan masalah. sedangkan pada model pjbl itu sendiri siswa dituntut unutk berinvestigasi dan menentukan suatu pemecahan masalah yang dihadapi. dan jika dilihat dari inovasi yang dibuat pada tahap inovasi yang dibuat "mendesain perencanaan proyek" Guru mengarahkan siswa untuk merancang membuat sebuah proyek dan bekerjasama dalam menyelesaikan permasalahan yang telah dikemukakan, nah disini sudah terlihat dampak berpikir kreatif nya yaitu Siswa menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar) dan Siswa menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam (berpikir luwes)

    BalasHapus
  6. menurut saya inovasi sintak pjbl yang dibuat sudah cocok untuk memunculkan kemampuan berpikir kreatif karena disini guru banyak membimbing dan mengarahkan serta meminta siswa dalam melakukan kegiatan proyeknya. selain itu pada sintak juga terdapat langkah Memonitor kemajuan proyek yang dikerjakan oleh peserta didik dan mengecek sudah sampai mana pengerjaan nya dan apakah sudah memenuhi target yang sudah ditetapkan disini siswa akan terpancing untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatifnya dalam mengisi LKPD tersebut dengan berdiskusi dengan kelompoknya.

    BalasHapus