Project Based Learning (PjBL) atau Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) merupakan tugas-tugas komplek, yang didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan yang menantang atau permasalahan, yang melibatkan para siswa di dalam desain, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, atau aktivitas investigasi; memberi peluang para siswa untuk bekerja secara otonomi dengan periode waktu yang lama; dan akhirnya menghasilkan produk-produk yang nyata atau presentasi-presentasi. Pendapat serupa juga dinyatakan oleh Santyasa (2006), yang menyatakan bahwa PjBL adalah suatu pembelajaran yang berfokus pada konsep dan memfasilitasi siswa untuk berinvestigasi dan menentukan suatu pemecahan masalah yang dihadapi. PjBL dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan siswa dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. PjBL adalah pembelajaran dengan menggunakan proyek sebagai metode pembelajaran. Para siswa bekerja secara nyata, seolah-olah ada di dunia nyata yang dapat menghasilkan produk secara realistis (Mahanal, 2009).
Santyasa
(2006) juga menjelaskan bahwa di dalam PjBL proyek dilakukan secara kolaboratif
dan inovatif yang berfokus pada pemecahan masalah yang berhubungan dengan
kehidupan siswa atau masyarakat. Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan
bahwa PjBL dalam pelaksanaannya menekankan pada pembelajaran yang kolaboratif.
Pembelajaran kolaboratif dalam hal ini menunjukkan bahwa antar siswa dalam
kelompok saling ketergantungan dalam menyelesaikan proyek dan antara siswa satu
dengan siswa yang lain akan mencapai suatu tujuan jika dalam kelompok tersebut
dapat mencapai tujuan bersama yang diharapkan (Slavin, 1995; Arends, 1998;
Heinich et al., 2002 dalam Santyasa, 2006).
Pembelajaran
berbasis proyek membutuhkan suatu pendekatan pengajaran yang komperehensif di mana
lingkungan belajar siswa perlu didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan
terhadap masalah-masalah autentik, termasuk pendalaman materi pada suatu topik
mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Biasanya pembelajaran
berbasis proyek memerlukan beberapa tahapan dan beberapa durasi, tidak sekedar
merupakan rangkaian pertemuan kelas, serta belajar kelompok kolaboratif. Proyek
memfokuskan pada pengembangan produk atau unjuk kerja (performance),
secara umum siswa melakukan kegiatan: mengorganisasi kegiatan belajar kelompok
mereka, melakukan pengkajian atau penelitian, memecahkan masalah, dan
mensintesis informasi (Corebima, 2009).
Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek
sebagai berikut.
a. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With
the Essential Question)
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial,
yaitu pertanyaan yang dapatmemberi penugasan peserta didik dalam melakukan
suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan
dimulai dengan sebuah investigas mendalamdan topik yang diangkat relevan untuk
para peserta didik.
b. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a
Plan for the Project)
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara
pengajar dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa
“memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main,
pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial,
dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui
alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
c. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif
menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini
antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat
deadline penyelesaian proyek, (3)membawa peserta didik agar merencanakan cara
yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak
berhubungan dengan proyek,dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan
(alasan) tentang pemilihan suatu cara.
d. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor
the Students and the Progress of the Project)
Pengajar bertanggung jawab untuk melakukan
monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek.
Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap
proses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas
peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang
dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
e. Menguji Hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam
mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-
masing peserta didik,memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah
dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran
berikutnya.
f. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate
the Experience)
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan
peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah
dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok.
Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan
pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik
mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses
pembelajaran, sehingga pada akhirnyy ditemukan suatu temuan baru (new
inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama
pembelajaran
ManfaatYang Dapat Diraih
Banyak sekali manfaat yang
dapat diraih melalui penerapan model pembelajaran berbasis proyek (Project
Based Learning) ini, misalnya: (1) siswa menjadi pebelajar aktif; (2)
pembelajaran menjadi lebih interaktif atau multiarah; (3) pembelajaran menjadi
student centred); (4) guru berperan sebagai fasilitator; (5) mengembangkan
kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa; (6) memberikan kesempatan siswa
memanajemen sendiri kegiatan atau aktivitas penyelesaian tugas sehingga melatih
mereka menjadi mandiri; (7) dapat memberikan pemahaman konsep atau pengetahuan
secara lebih mendalam kepada siswa; dsb.
Penilaian
Dalam Model Pembelajaran Project Based Learning
Karena
pembelajaran berbasis proyek dapat memberikan hasil belajar dalam bentuk
pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill atau psikomotor), dan sikap
(attitude atau afektif), maka penilaiannyapun dilakukan untuk ketiga ranah ini.
Bentuk penilaian dapat berupa tes atau nontes. Sebaiknya penilaian yang dilakukan
untuk model pembelajaran berbasis proyek ini lebih mengutamakan aspek kemampuan
siswa dalam mengelola aktivitas-aktivitas mereka dalam penyelesaian proyek yang
dipilih dan dirancangnya, relevansi atau kesesuaian proyek dengan topik
pembelajaran yang sedang dipelajari hingga keaslian (orisinalitas) proyek yang
mereka garap.
Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kurikulum 2013
Dalam rasional perubahan
kurikulum sebelumnya (KTSP/Kurikulum 2006) ke Kurikulum 2013 disebutkan bahwa perkembangan pengetahuan dan pedagogi dalam hal
ini neurologi, psikologi, observation based (discovery) learning dan collaborative
learningadalah salah satu alasan pentingnya perubahan kurikulum. Hal ini
tentu berimplikasi pada model-model pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan
mengajar di sekolah. Salah satu model pembelajaran yang dianjurkan untuk
digunakan adalah model pembelajaran berbasis proyek (project based learning).
Hal ini tentunya bukan tanpa alasan, karena mengingat
karakteristik-karakteristik unggul dari model pembelajaran ini yang mampu
mengakomodasi alasan tersebut di atas.
Selain
itu pembelajaran tentunya harus diubah dari kecenderungan lama (satu arah) agar
menjadi lebih interaktif (multiarah). Melalui model pembelajaran ini, siswa
juga akan dapat diharapkan menjadi aktif menyelidiki (belajar) dengan
menyajikan dunia nyata (bukan abstrak) kepada mereka. Di dalam model pembelajaran
ini, siswa akan bekerja secara tim (berkelompok) kooperatif dan mengubah
pemikiran faktual semata menjadi pemikiran yang lebih kritis dan analitis.
Model
pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) merupakan salah
satu model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru sehingga secara otomatis
guru berarti juga menggunakan pendekatan saintifik (scientific approach)
dalam pembelajarannya. Pendekatan saintifik adalah pendekatan pembelajaran di
mana siswa memperoleh pengetahuan berdasarkan cara kerja ilmiah. Melalui
pendekatan saintifik ini siswa akan diajak meniti jembatan emas sehingga ia
tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan (knowledge) semata tetapi juga
akan mendapatkan keterampilan dan sikap-sikap yang dibutuhkan dalam
kehidupannya kelak. Saat belajar menggunakan model pembelajaran berbasis proyek
ini, siswa dapat berlatih menalar secara induktif (inductive reasoning).
Sebagai salah satu model pembelajaran dalam pendekatan saintifik, project
based learning(model pembelajaran berbasis proyek) sangat sesuai dengan
Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 Lampiran IV mengenai proses pembelajaran yang harus memuat 5M, yaitu: (1) mengamati; (2) menanya; (3)
mengumpulkan informasi; (4) mengasosiasi; dan (5) mengkomunikasikan.
E. Paul Torrance dalam Davis (2012:359)
mendeskripsikan kemampuan kreatif :
- Fluency adalah kemampuan untuk
menghasilkan banyak ide verbal non verbal dalam merespon masalah yang
tidak memiliki satu jawaban benar.
- Fleksibelity adalah kemampuan
untuk mengambil pendekatan berbeda untuk suatu masalah, memikirkan ide
dalam kategori berbeda, atau melihat masalah dalam perspektif berbeda.
- Originality itu berarti
keunikan, ketidaksamaan dalam pemikiran dan tindakan atau cara berpikir
yang unik.
- Elaborasi adalah kemampuan
untuk mengembangkan, memperhalus, menyempurnakan, dan bahkan menerapkan
ide.
- Transformasi berarti kreativitas, merubah satu ide atau objek lain dengan melakukan modifikasi, mengkombinasi, atau dengan melihat makna baru, dampak, penerapan, atau adaptasi ke pengguna baru.
Ciri-ciri
kepribadian kreatif biasanya anak selalu ingin tahu, memilki minat yang luas,
dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif
biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani
mengambil resiko (tetapi dengan perhitungan) daripada anak-anak pada
umumnya. Munandar (1999: 36-37), bahwa peringkat dari 10 orang ciri-ciri
pribadi yang kreatif yang diperoleh dari pakar psikologi (30 orang) sebagai
berikut: imajinatif, mempunyai prakarsa, mempunyai minat luas, mandiri dalam
berpikir, senang berpetualang, penuh energi, percaya diri, bersedia mengambil
resiko, berani dalam pendirian dan keyakinan. Bila dibandingkan dengan
peringkat ciri-ciri siswa yang paling diinginkan oleh guru sekolah dasar dan
sekolah menengah (102 orang) yakni: (1) penuh energi, (2) mempunyai
prakarsa, (3) percaya diri, (4) sopan, (5) rajin, (6) melaksanakn pekerajaan
pada waktunya, (7) sehat, (8) berani dalam berpendapat, (9) mempunyai ingatan
baik, (10) ulet. Dari ciri-ciri ini tidak tampak banyak kesamaan antara
ciri-ciri pribadi yang kreatif menurut pakar psikologi dengan ciri-ciri yang
diinginkan oleh guru pada siswa.
Agar
kreativitas anak dapat terwujud dibutuhkan adanya dorongan dalam diri individu
(motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik).
Bagaimana meningkatkan kreativitas yang masih terpendam dalam diri siswa?
Selanjutnya Munandar (dalam Mulyana & Sabandar, 2005) mengatakan bahwa
ciri-ciri kemampuan yang berpikir kreatif yang berhungan dengan kognisi dapat
dilihat dari kemampuan berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes, ketrampilam
berpikir orisinal, ketrampilan elaborasi, dan ketrampilan menilai. Penjelasan
dari ciri-ciri yang berkaitan dengan ketrampilan-ketrampilan tersebut diuraikan
sebagai berikut.
1. Ciri-ciri ketrampilan kelancaran:
a) Mencetuskan banyak gagasan dalam
pemecahan masalah
b) Memberikan banyak jawaban dalam
menjawab suatu pertanyaan
c) Memberikan banyak cara atau saran
untuk melakukan berbagai hal.
d) Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih
banyak daripada anak-anak lain.
2. Ciri-ciri ketrampilan berpikir luwes
(fleksibel):
a) Menghasilkan gagasan penyelesaian
masalah atau jawaban suatuPertanyaan bervariasi.
b) Dapat melihat suatu msalah dari sudut
pandang yang berbeda-beda.
c) Menyajikan suatu konsep dengan cara
yang berbeda-beda.
3. Ciri-ciri keterampilan orisinal
(keaslian):
a) Memberikan gagasan yang baru dalam
menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam
menjawab suatu pertanyaan
b) Membuat kombinasi-kombinasi yang
tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4. Ciri-ciri ketrampilan Memperinci
(elaborasi):
a) Mengembangkan atau memperkaya gagasan
orang lain.
b) Menambahkan atau memperici suatu
gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut.
5. Ciri-ciri ketrampilan Menilai
(mengevaluasi):
a) Dapat menemukan kebenaran suatu
pertanyaan atau kebenaran suatu rencana penyelesaian masalah.
b) Dapat mencetuskan gagasan
penyelesaian suatu masalah dan dapat melaksanakannya dengan benar.
c) Mempunyai alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.
Torrance (Filsaime, 2007) bahwaada empat karakteristik berpikir kreatif,
sebagai sebuah proses yang melibatkan unsur-unsur orisinalitas, kelancaran,
fleksibilitas dan elaborasi. Keempat dari karakteristik berpikir kreatif
tersebut didefinisikan sebagai:
1. Orisinalitas
Kategori orisinalitas mengacu pada keunikan dari respon apapun yang
diberikan. Orisinalitas yang ditunjukkan oleh sebuah respon yang tidak biasa,
unik dan jarang terjadi. Berpikir tentang masa depan bisa juga memberikan
stimulasi ide-ide orisinal. Jenis pertanyaan- pertanyaan yang digunakan untuk
menguji kemampuan ini adalah tuntutan penggunaan-penggunaan yang menarik dari
objek-objek umum. Misalnya: (1) desainlah sebuah computer impian masa depan.
(2) pikirkan berapa banyaknya benda yang anda gunakan kabel untuknya.
2. Elaborasi
Elaborasi diartikan sebagai kemampuan untuk menguraikan sebuah obyek
tertentu. Elaborasi adalah jembatan yang harus dilewati oleh seseorang untuk
mengkomunikasikan ide“ kreatif”-nya kepada masyarakat. Faktor inilah yang
menentukan nilai dari ide apapun yang diberikan kepada orang lain di luar
dirinya. Elaborasi ditunjukkan oleh sejumlah tambahan dan detail yang bisa
dibuat untuk stimulus sederhana untuk membuatnya lebih kompleks. Tambahan-tambahan
tersebut bisa dalam bentuk dekorasi, warna, bayangan atau desain. Contoh
berpikir kreatif elaborasi matematik. Pada suatu hari Pak Dodi pergi ke pasar
untuk membeli dua jenis semen di sebuah tokoh dengan harga Rp 440.000,-
lengkapilah data tersebut sehingga tersusun suatu masalah sistem persamaan
linear dua variabel!. Kemudian selesaikan masalah tadi. Contoh ini memberikan
indikator bahwa siswa dapat melengkapi data untuk menyusun suatu masalah dan
menyelesaikannya.
3. Kelancaran
Kelancaran diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan segudang ide
(Gilford, dalam Filsaime, 2007)). Ini merupakan salah satu indikator yang
paling kuat dari berpikir kreatif, karena semakin banyak ide, maka semakin
besar kemungkinan yang ada untuk memperoleh sebuah ide yang signifikan.
4. Fleksibilitas
Karakteristik ini menggambarkan kemampuan seseorang individu untuk mengubah
perangkat mentalnya ketika keadaan memerlukan untuk itu, atau kecenderungan
untuk memandang sebuah masalah secara instan dari berbagai perspektif.
Fleksibilitas adalah kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan mental,
mengubah pendekatan untuk sebuah masalah. Tidak terjebak dengan mengasumsikan
aturan-aturan atau kondisi-kondisi yang tidak bisa diterapkan pada sebuah
masalah. Dibawah ini disajikan inovasi suatu sintak pembelajaran, dimana materi
yang diajarkan berupa larutan penyanggga.
Berikut merupakan
inovasi sintaks model pembelajaran PjBL terhadap kemampuan berfikir kreatif
pada materi larutan penyangga.
Model Konvensional (Model PJBL)
|
Inovasi sintaks Model Konvensional (Model PJBL)
|
Dampak
berfikir kreatif
|
Menentukan Pertanyaan Mendasar
|
Menentukan pertanyaan mendasar.
|
|
Guru mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan proses
pembelajaran
|
Guru
memberikan pertanyaan kepada siswa tentang apayang mereka ketahui tentang
aplikasi dan konsep larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari.
|
|
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
|
||
Guru memberikan stimulasi berupa penayangan video
Guru memberikan soal atau masalah yang berhubungan dengan
pembelajaran
|
Guru menyampaikan informasi kepada peserta didik bahwa
darah dalam tubuh kita termasuk larutan penyangga. Mengapa demikian?
Kemudian guru menanyakan contohnya dalam
kehidupan sehari-hari
|
Berpikir Lancar
Peserta
didik dapat memberikan lebih dari satu jawaban serta memberikan berbagai
contoh larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari
Berpikir Luwes
· Peserta
didik mempu memunculkan pertanyaan yang bervariasi berdasarkan contoh-contoh
yang diberikan
|
Mendesain Perencanaan Proyek
|
Mendesain Perencanaan Proyek
|
|
Guru
meminta siswa duduk dalam kelompok yang telah dibagi sebelumnya
|
Guru
membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan meminta siswa merancag suatu
proyek atau praktikum sederhana yang berhubungan dengan larutan penyangga
serta menghungkannnya dengan teori-teori yang sudah dipelajari sampai
serinci-rincinya tentang apa yang akan mereka kerjakan.
|
Berpikir Orisinal
·
Peserta didik mampu menemukan ide pengembangan proyaknya
|
Guru
mengarahkan siswa untuk membuat sebuah proyek yang dapat menyelesaikan
permasalahan yang telah dikemukakan
|
||
Guru
membimbing siswa dalam membuat langkah kerja sebuah proyek yang akan
dilaksanakan
|
||
Menyusun Jadwal
|
Menyusun Jadwal
|
|
Guru
meminta siswa untuk membuat timeline untuk menyelesaikan
sebuah proyek
|
Guru
membimbing siswa dalam menyusun jadwal dengan memperhatikan rincian kegiatan
terhadap waktu pembelajaran serta menyusun alat dan bahan yang diperlukan
serta menentukan target-target yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu
|
Berpikir terperinci
· Peserta
didik mampu menyusun
jadwal secara sistematis
|
Guru meminta siswa
membuat deadline menyelesaikan sebuah proyek
|
||
Guru
meminta siswa untuk membuat penjelasan tentang pemilihan suatu cara
penyelesaian sebuah proyek
|
||
Memonitor Peserta
Didik dan Pengajuan Proyek
|
Memonitor Peserta Didik dan
Pengajuan Proyek
|
|
Guru
melakukan monitoring dan pengarahan berupa pertanyaan-pertanyaan kepada siswa
dalam pelaksanaan sebuah proyek dan pengumpulan data
|
Memonitor
kemajuan proyek yang dikerjakan oleh peserta didik dan mengecek sudah sampai
mana pengerjaan nya dan apakah sudah memenuhi target yang sudah ditetapkan.
|
Berpikir
Luwes
·
Peserta didik mampu menerapkan suatu konsep dari literatur yang diaplikasikan
ke proyek dengan cara yang berbeda-beda. Misal melihat pengaruh dari
perubahan volume
Berpikir
Orisinal
·
Peserta didik mampu memikirkan masalah-masalah atau hal yang tak pernah
terpikirkan orang lain
Berpikir terperinci
· Peserta
didik mampu melaksanakan
proyek secara sistematis
|
Guru
melakukan monitoring dan pengarahan berupa pertanyaan pertanyaan kepada siswa
dalam menganalisis data
|
Menguji Hasil
|
|
Guru melakukan monitoring dan
pengarahan berupa pertanyaan-pertanyaan kepada siswa dalam menyimpulkan
pengetahuan yang diperoleh dari sebuah proyek yang dilakukan
|
Siswa
menyajikan hasil pekerjaan nya dan melakukan demonstrasi didepan kelas
tentang apa yang sudah mereka buat dan menghubungkan dengan teori-teori yang
sudah mereka pelajari.
|
Berpikir terperinci
· Peserta
didik mampu melaporkan hasil proyek
secara terperinci
Berpikir Lancar
· Peserta didik dapat memberikan lebih
dari satu jawaban dari yang guru tanyakan
Berpikir Orisinal
·
Peserta didik mampu menemukan kesimpulannya sendiri terkait larutan penyangga
|
Menguji Hasil
|
Masyarakat belajar
|
|
Guru
meminta siswa untuk mempersentasekan proyek yang telah dipersiapkan
|
Guru
memandu diskusi, mempersilakan kelompok lain untuk menilai dan mengevaluasi
hasil kerja dari kelompok yang sudah menampilkan hasil kerjanya.
|
Berpikir
Lancar
· Peserta didik dapat memberikan lebih
dari satu jawaban dari yang guru tanyakan
Berpikir
Orisinal
·
Peserta didik mampu menemukan kesimpulannya sendiri terkait larutan penyangga
Berpikir
Luwes
·
Peserta didik mampu mengemukakan pengalamannya selama proyek dengan beragam
|
Guru
meminta siswa untuk membuktikan sebuah proyek yang telah dibuat berdasarkan
teori yang ada
|
||
Guru
menilai siswa sejak perencanaan, penjadwalan, hingga menyimpulkan pengetahuan
yang diperoleh
|
||
Mengevaluasi
Pengalaman
|
Mengevaluasi Pengalaman
|
|
Guru
memberikan siswa refleksi hasil belajar dengan memberikan soal posttest
|
Guru
melakukan evaluasi terhadap hasil kerja siswa dan merangkum serta meluruskan
konsep-konsep yang salah.
|
Berpikir
Luwes
·
Peserta didik mampu mengemukakan pengalamannya selama proyek dengan beragam
|
Guru
memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan dirumah berupa proyek pada pertemuan
selanjutnya
|
Guru
memberikan tugas kepada siswa.
|
|
Guru
meminta siswa untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama
menyelesaikan sebuah proyek
|
Dari inovasi dan penambahan syntak diatas,
bagaimana pendapat anda tentang sintaks yang saya buat, apakah lebih baik dari
sintak sebelumnya ? apakah sudah cocok untuk memunculkan berfikir kreatif ?
saya menambahkan sintaks masyarakat belajar, apakah ini akan berpengaruh pada
kemampuan berfikir kreatif ? berikan saran anda tentang sintaks ini.

sayaakan mencoba menjawab pertanyaan dhani yakni bagaimana pendapat anda tentang sintaks yang saya buat, apakah lebih baik dari sintak sebelumnya ?
BalasHapusmenurut saya sintaks yang dhani buat sudah cukup baik,dimodifikasi berdasarkan indikator kemampuan berpikir kreatif siswa, tapi untuk lebih baik atau tidaknya dibandingkan model CTL dan PBL pada bahasan sebelumnya tentu perlu dilakukan kajian lebih mendalam dan perlu dilakukan uji coba mengingat tiap model pembelajaran punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan itu tentu perlu peran guru untuk menutupi tiap kekurangan model tsb. namun disini saya ingin menyarankan sebaiknya pada tahap mengevaluasi pengalaman yang menrangkum sebaiknya bukan dari guru melainkan dari siswa itu sendiri, namun guru jika ada miskonsepsi dari siswa perlu diluruskan.
Saya setuju dengan rini bahwa memang seharusnya ditahap evaluasi " Guru melakukan evaluasi terhadap hasil kerja siswa dan merangkum serta meluruskan konsep-konsep yang salah", bukan lagi guru yang merangkum pembelajaran, namun siswa itu sendiri, karena sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan zaman sekarang bahwa pembelajaran berorientasi pada siswa, sehingga tugas guru cukup dengan meluruskan atau memberikan penguatan saja
Hapussaya setuju dengan pendapat kakak-kakak sekalian, bahwa untuk k13 siswa yang harus lebih aktif dibandingkan gurunya. sehingga guru berfungsi memonitoring, dan guru meluruskan bagian-bagian yang miskonsepsi
HapusSaya setuju dengan pendapat teman2 di atas , bahwa siswa di untut untuk lebih aktif dan juga lebih mengembangkan pemikiran nya menjadi lebih krisi dan juga kreatif dalam memecahkan suatu masalah dimana semua dilakukakn oleh siswa, guru hanya meluruskan jika terjadi miskonsepsi.
Hapussaya juga sependapat dengan teman-teman bahwa pendidikan zaman sekarang lebih menitikberatkan keaktifan siswa (student centre)
Hapussaya setuju dengan pendapat teman-teman bahwa siswa di tuntut untuk lebih aktif dan juga lebih mengembangkan pemikiran nya menjadi lebih krisi dan juga kreatif dalam memecahkan suatu masalah dimana semua dilakukakn oleh siswa, guru hanya meluruskan jika terjadi miskonsepsi.
HapusMenurut saya inovasi yang anda buat sudah menimbulkan berfikir kreatif karena pada dasarnya sintaks dasar PJBL sudah menimbulkan berfikir kreatif karena meminta siswa memikirkan proyek dalam memecahkan permasalahan. Dan untuk kemunculkan sintaks masyarakat belajar sendiri bisa dikatakan berpengaruh terhadap memunculkan berfikir kreatif karena dalam menilai dan mengevaluasi kelompok lain siswa akan berfikir secara luwes untuk menilainya dan memiliki pemikiran yang beragam.
BalasHapusSependapat dengan kk fanny. Bahwa sintak masyarakat belajar ini bisa memunculkan kemampuan kreatif. Karena dlam sintak ini siswa belajar dgn mendiskusikan dan saling bertukar ide dengan sesama teman.
Hapussaya sependapat dengan rifany dan dian bahwa inovasi yang di buat sudah menimbulkan berfikir kreatif karena pada dasarnya sintaks dasar PJBL sudah menimbulkan berfikir kreatif karena meminta siswa memikirkan proyek dalam memecahkan permasalahan. saran saya, buat dua kali pertemuan untuk lebih efektifnya pembalajaran menggunakan model PJBL.
HapusSaya sependapat dengan Kak Rini, saya hanya menambahkan "berikan saran anda tentang sintaks ini", menurut saya yang perlu diperjelas hanya penjelasan yangdilakukan siswa pada tahap tertentu seperti "Guru melakukan evaluasi terhadap hasil kerja siswa dan merangkum serta meluruskan konsep-konsep yang salah", indikatornya berpikir luwes. Disini apah siswa membuat kesimpulan yang dipandu guru atau bagaimana.
BalasHapusmenurut saya, inovasi sintaks yang Anda buat sudah bagus dan sesuai dengan indikator berpikir kreatif. dimana dalam Pembelajaran berbasis proyek ini lebih
BalasHapusmemberikan pengalaman kepada siswa dalam menyusun perancangan proyek, menyusun bahan/alat dan jadwal yang akan dilaksanakan dan bagaimana siswa dapat menggambarkan proyek yang dihasilkan dalam berbagai bentuk yang berbeda seperti grafik, laporan atau video dari sini terlihat bahwa siswa memiliki keterampilan berpikir kreatif.
Menuru saya sudah berpengaruh penerapan model pjbl dengan kemampuan berpikir kreatif siswa karna definisi berpikir kreatif itu sendiri adalah kecerdasan yang berkembang dalam diri individu, dalam bentuk sikap, kebiasaan, dan tindakan dalam melahirkan sesuatu yang baru dan orisinal untuk memecahkan masalah. sedangkan pada model pjbl itu sendiri siswa dituntut unutk berinvestigasi dan menentukan suatu pemecahan masalah yang dihadapi. dan jika dilihat dari inovasi yang dibuat pada tahap inovasi yang dibuat "mendesain perencanaan proyek" Guru mengarahkan siswa untuk merancang membuat sebuah proyek dan bekerjasama dalam menyelesaikan permasalahan yang telah dikemukakan, nah disini sudah terlihat dampak berpikir kreatif nya yaitu Siswa menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar) dan Siswa menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam (berpikir luwes)
BalasHapusmenurut saya inovasi sintak pjbl yang dibuat sudah cocok untuk memunculkan kemampuan berpikir kreatif karena disini guru banyak membimbing dan mengarahkan serta meminta siswa dalam melakukan kegiatan proyeknya. selain itu pada sintak juga terdapat langkah Memonitor kemajuan proyek yang dikerjakan oleh peserta didik dan mengecek sudah sampai mana pengerjaan nya dan apakah sudah memenuhi target yang sudah ditetapkan disini siswa akan terpancing untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatifnya dalam mengisi LKPD tersebut dengan berdiskusi dengan kelompoknya.
BalasHapus