Kamis, 29 November 2018

materi 12 : inovasi sintaks model pembelajaran PBL dan dampaknya terhadap kemampuan berfikir kritis


Materi 12: Persentasi Inovasi Sintaks Model Pembelajaran PBL dan Dampaknya terhadap Kemampuan Berpikir Kritis

Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Menurut Djahiri (dalam Kunandar, 2007) dalam proses pembelajaran prinsip utamanya adalah adanya proses keterlibatan seluruh atau sebagian besar potensi diri siswa (fisik dan nonfisik) dan kebermaknaannya bagi diri dan kehidupannya saat ini dan dimasa yang akan datang (life skill).
    Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran, dimana dalam proses pembelajaran, siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran kimia sarat dengan konsep, dari konsep yang sederhana sampai konsep yang lebih kompleks dan abstrak, sehingga diperlukan pemahaman yang benar terhadap konsep dasar dalam kimia. Salah satu tujuan pembelajaran kimia di SMA adalah “siswa dapat memahami konsep-konsep kimia dan keterkaitannya serta penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi” 
Problem Based Learning (PBL) dalam bahasa Indonesia disebut Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Model PBL dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang dicetuskan oleh Jerome Bruner. Konsep tersebut adalah belajar penemuan atau discovery learning. Konsep tersebut memberikan dukungan teoritis terhadap pengembangan model PBL yang berorientasi pada kecakapan memproses informasi.
            Menurut Trianto (2009:93), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah: (1) adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, (2) berfokus pada keterkaitan antar disiplin, (3) penyelidikan autentik, (4) menghasilkan produk atau karya dan mempresentasikannya, dan (5) kerja sama.

Menurut Rusman (2010:232), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:
  1. Permasalahan menjadi starting point dalam belajar.
  2. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur. 
  3. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective). 
  4. Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar. 
  5. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama. 
  6. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial dalam problem based learning. 
  7. Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif. 
  8. Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. 
  9. Sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar. 
  10. Problem based learning melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.
Tahapan Berfikir Kritis
1.      Keterampilan Menganalisis
           Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen-komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut . Dalam keterampilan tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan atau merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci. Pertanyaan analisis, menghendaki agar pembaca mengindentifikasi langkah-langkah logis yang digunakan dalam proses berpikir hingga sampai pada sudut kesimpulan (Harjasujana, 1987).
           Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, diantaranya: menguraikan, membuat diagram, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, memerinci, dan sebagainya.
2.      Keterampilan Mensintesis
           Keterampilan mensintesis merupakan keterampilan yang berlawanan dengan keteramplian menganallsis. Keterampilan mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan yang baru. Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya. Pertanyaan sintesis ini memberi kesempatan untuk berpikir bebas terkontrol (Harjasujana, 1987).
3.      Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah
           Keterampilan ini merupakan keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk memahami bacaan dengan kritis sehinga setelah kegiatan membaca selesai siswa mampu menangkap beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga mampu mempola sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep-konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru (Walker, 2001).
4.      Keterampilan Menyimpulkan
           Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang baru yang lain (Salam, 1988: 68). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula baru yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran manusia itu sendiri, dapat menempuh dua cara, yaitu : deduksi dan induksi. Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.
5.      Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai
           Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan menggunakan standar tertentu (Harjasujana, 1987).
           Berdasarkan taksonomi belajar, menurut Bloom, keterampilan mengevaluasi merupakan tahap berpikir kognitif yang paling tinggi. Pada tahap ini siswa ituntut agar ia mampu mensinergikan aspek-aspek kognitif lainnya dalam menilai sebuah fakta atau konsep.
           Pengukuran indikator-indikator yang dikemukan oleh beberapa ahli di atas dapat dilakukan dengan menggunakan universal intellectual standars. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Paul (2000: 1) dan Scriven (2000: 1) yang menyatakan, bahwa pengukuran keterampilan berpikir kritis dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan: “Sejauh manakah siswa mampu menerapkan standar intelektual dalam kegiatan berpikirnya”. Universal inlellectual standars adalah standardisasi yang harus diaplikasikan dalam berpikir yang digunakan untuk mengecek kualitas pemikiran dalam merumuskan permasalahan, isu-isu, atau situasi-situasi tertentu.

karakteristik Berpikir Kritis 

Menurut Seifert dan Hoffnung (dalam Desmita, 2010:154), terdapat empat komponen berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
  1. Basic operations of reasoning. Untuk berpikir secara kritis, seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan langkah-langkah logis lainnya secara mental. 
  2. Domain-specific knowledge. Dalam menghadapi suatu problem, seseorang harus mengetahui tentang topik atau kontennya. Untuk memecahkan suatu konflik pribadi, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang person dan dengan siapa yang memiliki konflik tersebut. 
  3. Metakognitive knowledge. Pemikiran kritis yang efektif mengharuskan seseorang untuk memonitor ketika ia mencoba untuk benar-benar memahami suatu ide, menyadari kapan ia memerlukan informasi baru dan mereka-reka bagaimana ia dapat dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi tersebut. 
  4. Values, beliefs and dispositions. Berpikir secara kritis berarti melakukan penilaian secara fair dan objektif. Ini berarti ada semacam keyakinan diri bahwa pemikiran benar-benar mengarah pada solusi. Ini juga berarti ada semacam disposisi yang persisten dan reflektif ketika berpikir.
Sedangkan menurut Beyer (dalam Surya, 2011:137), terdapat delapan karakteristik dalam kemampuan berpikir kritis, yaitu:
  1. Watak (dispositions). Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis (tidak mudah percaya), sangat terbuka, menghargai kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik. 
  2. Kriteria (criteria). Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang. 
  3. Argumen (argument). Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Namun, secara umum argumen dapat diartikan sebagai alasan yang dapat dipakai untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen. 
  4. Pertimbangan atau pemikiran (reasoning). Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.
  5. Sudut pandang (point of view). Sudut pandang adalah cara memandang atau landasan yang digunakan untuk menafsirkan sesuatu dan yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang atau menafsirkan sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda. 
  6. Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria). Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan masalah, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengindentifikasikan asumsi atau perkiraan-perkiraan

Indikator Berpikir Kritis 

Menurut Ennis (dalam Maftukhin, 2013:24), terdapat lima kelompok indikator kemampuan berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
  1. Klarifikasi Dasar (Elementary Clarification). Klarifikasi dasar terbagi menjadi tiga indikator yaitu (1) mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan, (2) menganalisis argumen, dan (3) bertanya dan menjawab pertanyaan klarifikasi dan atau pertanyaan yang menantang. 
  2. Memberikan Alasan untuk Suatu Keputusan (The Basis for The Decision). Tahap ini terbagi menjadi dua indikator yaitu (1) mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber dan (2) mengobservasi dan mempertimbangkan hasil observasi. 
  3. Menyimpulkan (Inference). Tahap menyimpulkan terdiri dari tiga indikator (1) membuat deduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi, (2) membuat induksi dan mempertimbangkan hasil induksi, dan (3) membuat dan mempertimbangkan nilai keputusan. 
  4. Klarifikasi Lebih Lanjut (Advanced Clarification). Tahap ini terbagi menjadi dua indikator yaitu (1) mengidentifikasikan istilah dan mempertimbangkan definisi dan (2) mengacu pada asumsi yang tidak dinyatakan.
  5. Dugaan dan Keterpaduan (Supposition and Integration). Tahap ini terbagi menjadi dua indikator (1) mempertimbangkan dan memikirkan secara logis premis, alasan, asumsi, posisi, dan usulan lain yang tidak disetujui oleh mereka atau yang membuat mereka merasa ragu-ragu tanpa membuat ketidaksepakatan atau keraguan itu mengganggu pikiran mereka, dan (2) menggabungkan kemampuan kemampuan lain dan disposisi-disposisi dalam membuat dan mempertahankan sebuah keputusan.
Inovasi sintak pembelajaran

Model konvensional
(model PBL)
Inovasi model PBL
Kemampuan berfikir kritis
Fase 1
Orientasi Masalah

Fase 1
Memberikan orientasi tentang permasalahan dalam kehidupan sehari-hari kepada siswa
Guru menyampaikan informasi kepada peserta didik bahwa darah dalam tubuh kita termasuk larutan penyangga. Mengapa demikian?


Siswa mampu mengidentifikasi permasalahan dari sudut pandang yang berbeda dan memberikan pertanyaan yang kritis terkait permasalahan
Fase 2
Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Fase 2
-    Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok. Peserta didik diberikan materi ajar dan lembar LKPD oleh guru. Peserta didik mengamati materi ajar yang diberikan dan dipersilakan mencari berbagai literatur yang mendukung materi. Peserta didik mengamati video tentang larutan penyangga
-    Setelah mengamati video larutan penyangga akan timbul pertanyaan siswa. Seperti :
Bagaimana terbentuknya larutan penyangga?
Mengapa larutan penyangga pHnya relatif tidak berubah dengan penambahan sedikit asam atau basa?
Apa manfaat larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup?
Siswa mampu melihat berbagai masalah dari sudut pandang berbeda. Setelah melihat video yang ditayangkan diharapkan peserta didik mampu pengenalan, penilaian, dan  menyusun argumen pertanyaan yang muncul.

Fase 3
Membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok

Fase 3
Membantu investigasi dari permasalahan yang ditemukan secara mandiri dan kelompok berdasarkan video yang sudah ditampilkan dan dihubungkan dengan literatur yang mereka dapat.
-masyarakat belajar.
Guru meminta masing-masing kelompok atau individu untuk mempresentasikan kesimpulan dari tayangan video.
Siswa memapu menjelaskan permasalahan yang muncul dari fakta-fakta yang dilihat pada video terkait larutan penyangga dengan observasi dan mempertimbangkan laporan observasi seperti, melibatkan sedikit dugaan, melaporkan hasil observasi, merekan hasil observasi, menggunakan bukti-bukti yang benar, menggunakan teknologi dan mempertanggungjawabkan hasil observasi
Fase 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja

Fase 4
Mengembangkan dan mempresentasikan hasil pengamatan
diifase ini peserta didik diberi kesempatan untuk saling bertanya, menggapi,menyanggah pernyataan dari teman-temannya
Siswa dapat melaporkan hasil pengamatan berdasarkan argumennya sendiri baik secara mandiri maupun kelopok berdasarkan fakta dari hasil penyelidikan
Fase 5
Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah

Fase 5
Menganalisis serta meluruskan miskonsepsi yang muncul pada saat diskusi.
Guru mengevaluasi keseluruhan proses, melurusakn miskonsepsi serta memberikan tes guna mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang materi.
Siswa mampumengevaluasi pernyataan-pernyataan berdasarkan penguatan yang diberikan guruserta menarik kesimpulan-kesimpulanterkait pembelajaran larutan penyangga.
Memberikan tes akhir berupa tes essay
Diharapkan siswa yang tadinya tidak mengerti dan tidak memiliki gagasan kritis terhadap permasalahan dapat terasah.

Dari inovasi sintak diatas, pada bagian mana menurut anda yang paling paling bisa meningkatkan kemampuan berfikir kritis ? berikan saran untuk penambahan dan pengurangan dari inovasi sintak tersebut ? jika dibandingan dengan inovasi sintak pada CTL kemarin, lebih efektif mana jika dibandingkan dengan PBL ini ? 










13 komentar:

  1. menurut saya, inovasi sintaks yang bang dhani buat bagus namun lebih di spesifikkan lagi dalam merumuskn dan menghipotesiskan masalah sehingga terlihat perbedaan antara model PBL ini dengan model lain, dan dampak berpikir kritis siswa pun bisa dijabarkan lebih luas lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat rina, bahwa inovasi sintaks model yang dibuat oleh bang dhani sudah bagus namun di spesifikkan lagi dalam merumuskan dan menghipotesiskan masalah dan saran saya ditambahkan soal essay agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat ditingkatkan.

      Hapus
  2. saya akan menjawab pertanyaan dhani,bagian mana menurut anda yang paling paling bisa meningkatkan kemampuan berfikir kritis ?
    menurut saya fase penyelidikan dan presentasi hasil pengamatan yang dapat dimaksimalkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, disini sebaiknya dhani mencantumkan materi mendetail dalam sintaks sehingga dapat tergambar dengan baik kegiatan yang dilakukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tambahan kk rini, jika perlu ditambahkan LKPD yang dibuat menurut sintal PBL dan indikator berpikir kritis

      Hapus
    2. sependapat dengan teman-teman sedikit menambahkan pada fase ini juga guru hanya sebagai fasilitar dan memberikan siswa kebebasan dalam proses penyelidikan sehingga dapat menimbulkan dan meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya.

      Hapus
    3. Saya sependapat dengan teman teman. Dan saya ingin menjawab prtnyaan terakhir efektif mana kah antara CTL dngn PBL mnurut saya PBL lebih efektif dari pada CTL karena PBL disni dia belajar berbasis masalah yang juga bersifat contekstual dan siswa diminta untuk merumuskan masalah. Dan juga PBL disini jg belajarny dkat jg dgn kontekstual. Bisa di terapkan kooperatif juga dalam berdiskusi. Jadi mnrut saya lebih efektif pbl dari pada ctl. Krena dgn PBL kita sudah menjalankan pembelajaram berbasis ctl

      Hapus
    4. guru hanya sebagai fasilitar dan memberikan siswa kebebasan dalam proses penyelidikan sehingga dapat menimbulkan dan meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya.

      Hapus
  3. Sintaks yang bang dhani buat sudah bagus, tapi saya ingin menambahkan saran yaitu menambahkan tes essay di akhir setelah evaluasi agar selain dari sikap maka dari soal bisa lebih menegaskan berfikir kritisnya

    BalasHapus
  4. menurut saya fase penyelidikan dan presentasi hasil pengamatan yang dapat dimaksimalkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, akan lebih baik jika mencantumkan materi secara detail dalam setiap sintaks sehingga kegiatan yang dilakukan akan tergambar dengan jelas

    BalasHapus
  5. inovasi yang dibuat bg dhani sudah bagus, kalo menurut saya sintaks yang dapat menimbulkan berpikir kritis siswa bisa yaitu pada tahap orientasi masalah dan pada membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok.

    BalasHapus
  6. Menurut saya fase yabg dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis adalah di tahap membuat hipotesis dan menyimpulkan

    BalasHapus
  7. menurut saya fase penyelidikan dan presentasi hasil pengamatan yang dapat dimaksimalkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa,

    BalasHapus
  8. menurut pendapat saya pada bagian ini yang memberikan sumbangsih yang besar "Mengembangkan dan mempresentasikan hasil pengamatan
    diifase ini peserta didik diberi kesempatan untuk saling bertanya, menggapi,menyanggah pernyataan dari teman-temannya", disini siswa bisa mencurahkan segala yng ia ketahui.

    BalasHapus