Kamis, 22 November 2018

materi 11 : Inovasi Sintak Model Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual dan Dampaknya Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif


Inovasi Sintak Model Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual dan Dampaknya Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif

Model pembelajaran kontekstual merupakan model yang mengusahakan untuk membuat siswa aktif dalam menggali kemampuan diri siswa dengan mempelajari konsep-konsep sekaligus menerapkannya dan mengaitkannya dengan dunia nyata di sekitar lingkungan siswa. Sejalan dengan itu, Elaine B. Jhonson (dalam Rusman, 2012:187) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyususn pola-pola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut lagi, Elaine mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa berada.
Hal inilah yang mendasari bahwa model kontekstual (Contextual Teaching And Learning) baik untuk diterapkan oleh guru dalam pembelajaran. seperti yang kita ketahui, sejauh ini pembelajaran yang biasa guru lakukan masih bersifat konvensional, monoton, dan masih terpusat kepada guru saja. sehingga siswa tidak memperoleh pengalaman belajar yang bermakna, dan tidak diikut sertakan terlibat secara langsung dalam pemecahan masalah yang diberikan guru pada proses pembelajaran. dengan demikian, siswa sekolah dasar khususnya cenderung diam, terkadang terlihat mengantuk, kurang semangat dalam mengikuti pelajaran atau jenuh.
Model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching And Learning) pada intinya adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan nyata. artinya siswa dihadapkan pada suatu persoalan yang biasa dihadapi di lingkungan, sehingga pada masanya nanti siswa dapat mampu mengatasi persoalan-persoalan yang nyata yang dihadapi di lingkungannya. Oleh sebab itu, melalui pembelajaran kontekstual, pembelajaran bukan suatu transformasi pengetahuan yang diberikan guru kepada siswa dengan cara menghafal beberapa konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup (life skiil) dari apa yang dipelajarinya. Hal ini sangat erat kaitanya dengan tujuan pendidikan nasional yang ditetapkan pemerintah.

Sintaks Model Pembelajaran Kontekstual
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apapun, bidang studi apapun, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Model pembelajaran CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
Fase 1
Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai siswa serta manfaatnya dari proses pembelajaran serta pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari. Guru menggali pengetahuan awal siswa serta menganalisis miskonsepsi siswa (Konstruktivism).

Fase 2
Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil.Guru menyajikan model atau fenomena dan setiap kelompok diberi tugas untuk melakukan observasi. Melalui observasi yang dilakukan, siswa ditugaskan diminta untuk menyampaikan gagasan yang dimilikinya terkait dengan materi yang dipelajari dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru (Modelling).

Fase 3
Guru melakukan tanya jawab seputar tugas yang harus dilakukan oleh setiap kelompok siswa guna mencapai tujuan pembelajaran (Questioning).


Fase 4
Siswa melakukan observasi dan mencatat hasil observasinya dengan menggunakan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya. Siswa menganalisis hasil observasinya (Inquiry).

Fase 5
Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompok masing-masing. Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusinya dalam pleno kelas. Setiap kelompok menjawab pertanyaan yang diajukan kelompok lainnya (Learning Community).

Fase 6
Dengan bantuan guru, siswa menyimpulkan hasil observasinya. Simpulan tersebut merupakan pengetahuan atau keterampilan baru yang diperoleh dalam proses pembelajaran melalui penemuan.Guru melakukan penilaian autentik dan memberi tugas kepada siswa untuk meningkatkan pemahaman, memperluas dan memperdalam pengetahuan berkaitan dengan topik yang telah dipelajari. Siswa juga melakukan refleksi diri (Authentic assessment).

TUJUH KOMPONEN CTL
Ø  KONSTRUKTIVISME  (CONSTRUCTIVISM)
Dalam proses pembelajaran, siswa membangun (konstruktiv) sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar . Siswa menjadi pusat kegiatan (Students center), bukan guru.

Ø  MENEMUKAN (INQUIRY)
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat tetapi menemukan sendiri.
Siklus Inquiri:
¨      Observasi (Observation)
¨      Bertanya (Questionng)
¨      Mengajukan dugaan (Hiphotesis)
¨      Pengumpulan data (Data Gathering)
¨      Penyimpulan (Conclussion)

Ø  BERTANYA (QUESTIONING)
Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran CTL untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemmpuan berpikir siswa. Questioning dapat diterapkan : antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, anatra siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas

Ø  MASYARAKAT BELAJAR (LEARNING COMMUNITY)
Konsep ini menyarangkan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjsama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Diruang ini, di kelas ini, di sekitarsini, juga orang-orang yang ada di luar ana, semua adalah anggota masyarakat belajar

Ø  PEMODELAN (MODELING)
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Dalam pendekatan CTL, guru bukanlah satu-satunya model. Bisa dari siswa yang berpengalaman atau pernah memenangkan lomba tertentu atau bisa juga orang luar yang didatangkan.

Ø  REFLEKSI (REFLECTION)
Refeksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Diakhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi berupa :
¨      Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya pada hari itu
¨      Catatan atau jurnal di buku siswa
¨      Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu
¨      Diskusi
¨      Hasil karya

Ø  PENILAIAN SEBENARNYA (AUTHENTIC ASSASSMENT)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa :
¨      Proyek/kegiatan dan laporannya
¨      PR
¨      Kuis
¨      Karya siswa
¨      Presentasi atau penampilan siswa
¨      Demonstrasi
¨      Laporan
¨      Jurnal
¨      Hasil tes tulis
¨      Karya tulis

            Berpikir diasumsikan secara umum sebagai proses kognitif yaitu suatu aktivitas mental yang lebih menekankan penalaran untuk memperoleh pengetahuan, Presseinsen (Hartono, 2009). Ia juga mengemukakan bahwa proses berpikir terkait dengan jenis perilaku lain dan memerlukan keterlibatan aktif pemikir. Hal penting dari berpikir di samping pemikiran dapat pula berupa terbangunnya pengetahuan, penalaran, dan proses yang lebih tinggi seperti mempertimbangkan. Sedangkan dalam kaitannyadengan berpikir kreatif didefinisikan dengan cara pandang yang berbeda antara lain Jonhson (dalam Siswono, 2004: 2) mengatakan bahwa berpikir kreatif yang mengisyaratkan ketekunan, disiplin pribadi dan perhatian melibatkan aktifitas-aktifitas mental seperti mengajukan pertanyaan, mempertimbangkan informasi-informasi baru dan ide-ide yang tidak biasanya dengan suatu pikiran terbuka, membuat hubungan-hubungan, khususnya antara sesuatu yang serupa, mengaitkan satu dengan yang lainnya dengan bebas, menerapkan imajinasi pada setiap situasi yang membangkitkan ide baru dan berbeda, dan memperhatikan intuisi.
            Kemampuan kreatif secara umum dipahami sebagai kreativitas. Seringkali, individu yang dianggap kreatif adalah pemikir sintesis yang benar-benar baik yang membangun koneksi antara berbagai hal yang tidak disadari orang–orang lain secara spontan. Suatu sikap kreatif adalah sekurang-kurangnya sama pentingnya dengan keterampilan berpikir kreatif Schank (dalam Sternberg, 2007). Berkenaan dengan hal tersebut Sternberg mengemukakan bahwa dalam hal mengembangkan kemampuan berpikir kreatif ada beberapa strategi yang digunakan antara lain:
1.      Mendefinisikan kembali masalah
2.      Mempertanyakan dan menganalisis asumsi-asumsi
3.      Menjual ide-ide kreatif
4.      Membangkitkan ide-ide
5.      Mengenali dua sisi pengetahuan
6.      Mengidentifikasi dan mengatasi hambatan
7.      Mengambil resiko-resiko dengan bijak
8.      Menoleransi  ambiguitas (kemenduan)
9.      Membangun kecakapan diri
10.  Menemukan minat sejati
11.  Menunda kepuasan
12.  Membuat model kreativitas.

            Ciri-ciri kepribadian kreatif biasanya anak selalu ingin tahu, memilki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil resiko (tetapi dengan perhitungan) daripada anak-anak pada umumnya.  Munandar (1999: 36-37), bahwa peringkat dari 10 orang ciri-ciri pribadi yang kreatif yang diperoleh dari pakar psikologi (30 orang) sebagai berikut: imajinatif, mempunyai prakarsa, mempunyai minat luas, mandiri dalam berpikir, senang berpetualang, penuh energi, percaya diri, bersedia mengambil resiko, berani dalam pendirian dan keyakinan. Bila dibandingkan dengan peringkat ciri-ciri siswa yang paling diinginkan oleh guru sekolah dasar dan sekolah menengah (102 orang)  yakni: (1) penuh energi, (2) mempunyai prakarsa, (3) percaya diri, (4) sopan, (5) rajin, (6) melaksanakn pekerajaan pada waktunya, (7) sehat, (8) berani dalam berpendapat, (9) mempunyai ingatan baik, (10) ulet. Dari ciri-ciri ini tidak tampak banyak kesamaan antara ciri-ciri pribadi yang kreatif menurut pakar psikologi dengan ciri-ciri yang diinginkan oleh guru pada siswa.
            Agar kreativitas anak dapat terwujud dibutuhkan adanya dorongan dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik). Bagaimana meningkatkan kreativitas yang masih terpendam dalam diri siswa? Selanjutnya Munandar (dalam Mulyana & Sabandar, 2005) mengatakan bahwa ciri-ciri kemampuan yang berpikir kreatif yang berhungan dengan kognisi dapat dilihat dari kemampuan berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes, ketrampilam berpikir orisinal, ketrampilan elaborasi, dan ketrampilan menilai. Penjelasan dari ciri-ciri yang berkaitan dengan ketrampilan-ketrampilan tersebut diuraikan sebagai berikut.
1.      Ciri-ciri ketrampilan kelancaran:
a)      Mencetuskan banyak gagasan dalam pemecahan masalah
b)      Memberikan banyak jawaban dalam menjawab suatu pertanyaan
c)      Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal.
d)     Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada anak-anak lain.
2.      Ciri-ciri ketrampilan berpikir luwes (fleksibel):
a)      Menghasilkan gagasan penyelesaian masalah atau jawaban suatuPertanyaan  bervariasi.
b)      Dapat melihat suatu msalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
c)      Menyajikan suatu konsep dengan cara yang berbeda-beda.

3.      Ciri-ciri keterampilan orisinal (keaslian):
a)      Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan
b)      Membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4.      Ciri-ciri ketrampilan Memperinci (elaborasi):
a)      Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
b)      Menambahkan atau memperici suatu gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut.
5.      Ciri-ciri ketrampilan Menilai (mengevaluasi):
a)      Dapat menemukan kebenaran suatu pertanyaan atau kebenaran suatu rencana penyelesaian masalah.
b)      Dapat mencetuskan gagasan penyelesaian suatu masalah dan dapat melaksanakannya dengan benar.
c)      Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.

Torrance (Filsaime, 2007) bahwaada empat karakteristik berpikir kreatif, sebagai sebuah proses yang melibatkan unsur-unsur orisinalitas, kelancaran, fleksibilitas dan elaborasi.  Keempat dari karakteristik berpikir kreatif tersebut didefinisikan sebagai:
1.      Orisinalitas
Kategori orisinalitas mengacu pada keunikan dari respon apapun yang diberikan. Orisinalitas yang ditunjukkan oleh sebuah respon yang tidak biasa, unik dan jarang terjadi. Berpikir tentang masa depan bisa juga memberikan stimulasi ide-ide orisinal. Jenis pertanyaan- pertanyaan yang digunakan untuk menguji kemampuan ini adalah tuntutan penggunaan-penggunaan yang menarik dari objek-objek umum. Misalnya: (1) desainlah sebuah computer impian masa depan. (2) pikirkan berapa banyaknya benda yang anda gunakan kabel untuknya.
2.      Elaborasi
Elaborasi diartikan sebagai kemampuan untuk menguraikan sebuah obyek tertentu. Elaborasi adalah jembatan yang harus dilewati oleh seseorang untuk mengkomunikasikan ide“ kreatif”-nya kepada masyarakat. Faktor inilah yang menentukan nilai dari ide apapun yang diberikan kepada orang lain di luar dirinya. Elaborasi ditunjukkan oleh sejumlah tambahan dan detail yang bisa dibuat untuk stimulus sederhana untuk membuatnya lebih kompleks. Tambahan-tambahan tersebut bisa dalam bentuk dekorasi, warna, bayangan atau desain. Contoh berpikir kreatif elaborasi matematik. Pada suatu hari Pak Dodi pergi ke pasar untuk membeli dua jenis semen di sebuah tokoh dengan harga Rp 440.000,- lengkapilah data tersebut sehingga tersusun suatu masalah sistem persamaan linear dua variabel!. Kemudian selesaikan masalah tadi. Contoh ini memberikan indikator bahwa siswa dapat melengkapi data untuk menyusun suatu masalah dan menyelesaikannya.
3.      Kelancaran
Kelancaran diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan segudang ide (Gilford, dalam Filsaime, 2007)). Ini merupakan salah satu indikator yang paling kuat dari berpikir kreatif, karena semakin banyak ide, maka semakin besar kemungkinan yang ada untuk memperoleh sebuah ide yang signifikan.
4.      Fleksibilitas
Karakteristik ini menggambarkan kemampuan seseorang individu untuk mengubah perangkat mentalnya ketika keadaan memerlukan untuk itu, atau kecenderungan untuk memandang sebuah masalah secara instan dari berbagai perspektif. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan mental, mengubah pendekatan untuk sebuah masalah. Tidak terjebak dengan mengasumsikan aturan-aturan atau kondisi-kondisi yang tidak bisa diterapkan pada sebuah masalah. Dibawah ini disajikan inovasi suatu sintak pembelajaran, dimana materi yang diajarkan berupa larutan penyanggga.

No
Model Konvensional (Model Kontekstual)
No
Inovasi Sintaks Model Kontekstual
Dampak Berpikir Kreatif
1.
Konstruktivisme
1.
Konstruktivisme
Mengkondisikan siswa
Sebelum memulai pembelajaran hari ini, guru mengajak siswa berdoa sesuai keyakinan masing-masing.(Guru menanamkan karakter religius)
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dicapai
Guru menyampaikan pengetahuan prasyarat yang harus dimiliki
siswa dari pembelajaran yang lalu yaitu teori asam basa Arrhenius
dan Bronsted Lowry.

· Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
Mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya
 Guru menanya siswa tentang materi sebelumnya yaitu tentang teori asam basa, pengetahuan apa saja yang diketahuan siswa tentang materi tersebut
· -- Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
Menggali pengetahuan dasar siswa
 Guru menunjukkan 2 macam larutan yaitu larutan asam asetat dan
natrium asetat untuk membangkitkan motivasi rasa ingin tahu dan
menggali pengetahuan siswa(eksplorasi) dengan bertanya: Apa yang
kalian ketahui dari kedua larutan tersebut?
Dapat melihat suatu msalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan (keterampilan orisinal (keaslian))
2.
Pemodelan (Modelling)
2.
Pemodelan (Modelling)
Mengarahkan siswa untuk membentuk kelompok kecil
Membagi kelompok untuk melakukan praktikum
·        
· 
Mempersilahkan untuk bergabung bersama kelompoknya masing-masing




Melaksanakan praktikum
3.
Bertanya (Questioning)
3.
Menemukan (Inquiry)
Membimbing siswa melakukan tanya jawab
Guru memberikan pralab tentang cara menggunakan alat dan bahan
kimia dalam kegiatan praktikum yang akan dilaksanakan.
Siswa memperhatikan dengan seksama dan mendengarkan dengan
baik
penjelasan guru.
·     Memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci)
Mencetuskan banyak gagasan dalam pemecahan masalah
Guru membagikan LKS kepada siswa sebagai bahan panduan
melakukan praktikum kelompok
· 
Guru membimbing membimbing siswa dalam melakukan praktikum
dengan berjalan berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain
secara bergantian Guru memberikan waktu kepada tiap-tiap kelompok untuk
mendiskusikan hasil praktikum, menganalisis, dan menjawab
pertanyaan dalam LKS. Setiap kelompok bertanggung jawab
menyelesaikan tugasnya masing-masing tepat pada
waktunya.(Guru menanamkan disiplin waktu)
· 
·         Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
·         Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan

·        
·  
4.
Menemukan (Inquiry)
4.
Masyarakat Belajar(Learning Community)
Membimbing siswa mencari tahu sendiri materi pelajaran dari berbagai sumber
Guru meminta masing-masing kelompok untuk mempresentasikan
hasil praktikumnya di depan kelas(elaborasi).
Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
· Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
·      Memberikan jawaban yang lain dari pada yang lain.(berpikir orisinil).
·      Memperinci detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
5.
Masyarakat Belajar(Learning Community)
5.
Bertanya (Questioning)
Membantu siswa megatasi permasalahan yang diberikan
Memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain
· Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
Memberikan kesempatan tanya jawab seputar hasil diskusi
Guru meminta siswa dalam melakukan praktikum hendaknya
bekerja sama dengan baik, taat aturan/, teliti, kreatif,
komunikatif, dan
menjaga kebersihan
Menyajikan suatu konsep dengan cara yang berbeda-beda.
Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
·      Memberikan jawaban yang lain dari pada yang lain.(berpikir orisinil).
·      Memperinci detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukan
Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan





6.
Refleksi (Reflection)
6.
Refleksi (Reflection)
Memberikan penguatan
Guru memberikan konfirmasi tentang hasil praktikum yang benar.
Guru membimbing siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari dengan membuat rangkuman di bukunya masing-masing.
· 
Menambahkan atau memperici suatu gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut
Dapat mencetuskan gagasan penyelesaian suatu masalah dan dapat melaksanakannya dengan benar.
Membimbing siswa untuk membuat ringkasan
7.
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
7.
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
Membantu siswa menyimpulkan
Guru memberi tugas siswa untuk membuat laporan praktikum
tentang larutan penyangga.
· Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
·      Memperinci detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.
Memberikan tes akhir
Guru memberikan tes akhir untuk mengetahui sejauh mana
pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari
Menutup pertemuan dengan berdo’a dan mengucapkan salam

Dari uraian diatas, bagaimana inovasi sintak yang dibuat ? tolong berika masukan tentang dampak perubahan sintak model tersebut terhadap kemampuan berfikir kreatif ? dari pembelajaran diatas, pengelompokan siswa dalam praktikum apakah efektif ? dikhawatirkan akan ada siswa yang hanya berdiam diri dalam praktikum.











13 komentar:

  1. Menurut saya sintaks model yang anda lakukan cukup baik dimana berbasis praktikum, dan langkah-langkahnya juga sudah mencerminkan CTL. Sebaiknya pada saat nanti diterapkannya inovasi sintaks yang anda buat ini dibuat perkiraan waktu (alokasi waktu) disetiap sintaksnya agar tidak keteteran pada saat pelaksaannya karena praktikum membutuhkan waktu yang tidak singkat apalagi membahas asam kuat, asam lemah dan basa lemah, basa kuat belum lagi perlu disisipkan pengerjaan soal hitung-hitungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan rifany, jika untuk pratikum diperhitungkan alokasi waktunya. kemudian untuk menimbulkan ide kreatif siswa dalam pratikum kita juga mungkin bisa tidak memberikan prosedur kerja dari pratikum tsb, sehingga siswa mampu memikirkan jalannya pratikum yang akan menimbulkan ide-ide kreatif.

      Hapus
  2. baik saya akan menjawab pertanyaan dhani, pengelompokan siswa dalam praktikum apakah efektif ? dikhawatirkan akan ada siswa yang hanya berdiam diri dalam praktikum.

    menurut saya ide untuk mengelompokkan siswa untuk berpraktikum sangat bagus, dengan demikian siswa dituntut untuk dapat berpraktikum yang hasilnya nanti tiap kelompok akan berbeda beda. kekhawatiran akan siswa yang berdiam diri dapat disiasati dengan guru mengontrol kerja tiap anggota kelompok sehingga siswa akan terdorong untuk ikut terlibat dalam proses praktikum.
    menurut saya dengan dilakukannya praktikum, maka tiap kelompok akan memiliki hasil yang berbeda-beda namun konsep yang ditemukan akan sama, nah disinilah nantinya akan muncul kemampuann berpikir kreatif siswa yakni menyampaikan gagasan dari hasil praktikumnya yang didukung literatur yang relevan, konsep yang ditemukan orisinil (karena berdasarkan persepsi masing-masing).

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan kk rini, disini pengelompokkan juga disusun berdasarkan kebutuhan sehingga jumlah anggota kelompok tepat untuk praktikum dan tidak asa siswa yang hanya berdiam diri dalam praktikum

      Hapus
    2. sependapat juga dengan rini bahwa ide untuk mengelompokkan siswa dalam melakukan praktikum sangat bagus, dengan demikian siswa dituntut untuk dapat melakukan praktikum yang hasilnya nanti tiap kelompok akan berbeda beda. kekhawatiran akan siswa yang berdiam diri dapat disiasati dengan guru mengontrol kerja tiap anggota kelompok sehingga siswa akan terdorong untuk ikut terlibat dalam proses praktikum.

      Hapus
    3. saya sependapat dengan kak rini, tentang "dengan dilakukannya praktikum, maka tiap kelompok akan memiliki hasil yang berbeda-beda namun konsep yang ditemukan akan sama, nah disinilah nantinya akan muncul kemampuann berpikir kreatif siswa yakni menyampaikan gagasan dari hasil praktikumnya yang didukung literatur yang relevan, konsep yang ditemukan orisinil (karena berdasarkan persepsi masing-masing)".

      Hapus
    4. Saya akan menjawab permasalahan ketiga, apengelompokan siswa dalam praktikum apakah efektif ? dikhawatirkan akan ada siswa yang hanya berdiam diri dalam praktikum.
      Menurut saya pengelompokan akan lebih efektif dibandingkan masing2 individu yang melakukannya, akan lebih memakan waktu dan akan banyak yg kebingungan harus apa sehingga dapat mengganggu aktifitas temannya, jika dengan kelompok akan menjadi lebih efektif suatu pembeljaran apalagi jika kelompok tersebut terdiri dari siswa yang berkemampuan berpikir yang heterogen, sehingga masing2 siswa bisa saling mengingatkan dan memanage tugas masing2, atau juga dengan adanya kontrol guru sehingga akan menjadi lebih
      Kondusif siswa tidak diam dan terlibat dalam praktikum

      Hapus
    5. saran untuk mengelompokkan siswa dalam melakukan praktikum sangat bagus, dengan demikian siswa dituntut untuk dapat melakukan praktikum yang hasilnya nanti tiap kelompok akan berbeda beda. kekhawatiran akan siswa yang berdiam diri dapat disiasati dengan guru

      Hapus
    6. Saya sependapat dengan teman2 bahwa pngelompokkan dalam melakukan praktikum itu lebih efektif karena selain memudahkan dia jg mempersingkat wsktu agar proses pemblajran tidak molor dan berjalan sesuai rencana. Dri pada harus sendiri2. Dgn pengelompokkan ini lah diharapkan bahwa siswa mampu bekerja sama dn saling bertukarpendapat dan memikirkam ide pemecahan masalah

      Hapus
    7. saya setuju dengan pendapat teman-teman bahwa ide untuk mengelompokkan siswa dalam melakukan praktikum sangat bagus, dengan demikian siswa dituntut untuk dapat melakukan praktikum yang hasilnya nanti tiap kelompok akan berbeda beda. kekhawatiran akan siswa yang berdiam diri dapat disiasati dengan guru mengontrol kerja tiap anggota kelompok sehingga siswa akan terdorong untuk ikut terlibat dalam proses praktikum.

      Hapus
    8. Saya setuju dengan pendpat teman2 di atas
      baik saya akan menjawab pertanyaan dhani, pengelompokan siswa dalam praktikum apakah efektif ? dikhawatirkan akan ada siswa yang hanya berdiam diri dalam praktikum.

      menurut saya ide untuk mengelompokkan siswa untuk berpraktikum sangat bagus, dengan demikian siswa dituntut untuk dapat berpraktikum yang hasilnya nanti tiap kelompok akan berbeda beda. kekhawatiran akan siswa yang berdiam diri dapat disiasati dengan guru mengontrol kerja tiap anggota kelompok sehingga siswa akan terdorong untuk ikut terlibat dalam proses praktikum.

      Hapus
  3. menurut saya inovasi yang dibuat sudah baik dan dampak perubahan sintak model tersebut terhadap kemampuan berpikir kreatif yaitu sudah cukup signifikan karena dilihat dari tahap dan pemberian bimbingan yang diberikan oleh guru. selanjutnya saran yang dapat saya berikan yaitu perlu diperhatikan pertanyaan-pertanyaan stimulus untuk siswa untuk lebih mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa tersebut.

    BalasHapus
  4. jadi menurut saya dalam pengelompokkan sebaiknya secara berkelompok saja ketimbang individu. karna bukan hanya alokasi waktu saja yg berpengaruh, tetapi juga dengan berkelompkk siswa dapat dilatih untUk saling kerjasama dan berbagi pikiran sehingga muncul lagi gagasan" baru yang akan mendorong kegiatan belajar siswa

    BalasHapus