Inovasi Sintak Model Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual dan Dampaknya Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif
Model pembelajaran kontekstual merupakan model yang mengusahakan
untuk membuat siswa aktif dalam menggali kemampuan diri siswa dengan
mempelajari konsep-konsep sekaligus menerapkannya dan mengaitkannya dengan
dunia nyata di sekitar lingkungan siswa. Sejalan dengan itu, Elaine B. Jhonson
(dalam Rusman, 2012:187) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah
sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyususn pola-pola yang mewujudkan
makna. Lebih lanjut lagi, Elaine mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual
adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna
dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari
siswa berada.
Hal inilah yang
mendasari bahwa model kontekstual (Contextual Teaching And Learning)
baik untuk diterapkan oleh guru dalam pembelajaran. seperti yang kita ketahui,
sejauh ini pembelajaran yang biasa guru lakukan masih bersifat konvensional,
monoton, dan masih terpusat kepada guru saja. sehingga siswa tidak memperoleh
pengalaman belajar yang bermakna, dan tidak diikut sertakan terlibat secara
langsung dalam pemecahan masalah yang diberikan guru pada proses pembelajaran.
dengan demikian, siswa sekolah dasar khususnya cenderung diam, terkadang
terlihat mengantuk, kurang semangat dalam mengikuti pelajaran atau jenuh.
Model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching And Learning)
pada intinya adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan
kehidupan nyata. artinya siswa dihadapkan pada suatu persoalan yang biasa
dihadapi di lingkungan, sehingga pada masanya nanti siswa dapat mampu mengatasi
persoalan-persoalan yang nyata yang dihadapi di lingkungannya. Oleh sebab itu,
melalui pembelajaran kontekstual, pembelajaran bukan suatu transformasi
pengetahuan yang diberikan guru kepada siswa dengan cara menghafal beberapa
konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih
ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa
hidup (life skiil) dari apa yang dipelajarinya. Hal ini sangat erat kaitanya
dengan tujuan pendidikan nasional yang ditetapkan pemerintah.
Sintaks Model
Pembelajaran Kontekstual
CTL dapat
diterapkan dalam kurikulum apapun, bidang studi apapun, dan kelas yang
bagaimanapun keadaannya. Model pembelajaran CTL dalam kelas cukup mudah. Secara
garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai
berikut:
Fase 1
Guru menjelaskan
kompetensi yang harus dicapai siswa serta manfaatnya dari proses pembelajaran
serta pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari. Guru menggali
pengetahuan awal siswa serta menganalisis miskonsepsi siswa (Konstruktivism).
Fase 2
Siswa dibagi
dalam beberapa kelompok kecil.Guru menyajikan model atau fenomena dan setiap
kelompok diberi tugas untuk melakukan observasi. Melalui observasi yang
dilakukan, siswa ditugaskan diminta untuk menyampaikan gagasan yang dimilikinya
terkait dengan materi yang dipelajari dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang disampaikan guru (Modelling).
Fase 3
Guru melakukan
tanya jawab seputar tugas yang harus dilakukan oleh setiap kelompok siswa guna
mencapai tujuan pembelajaran (Questioning).
Fase 4
Siswa melakukan
observasi dan mencatat hasil observasinya dengan menggunakan alat observasi
yang telah mereka tentukan sebelumnya. Siswa menganalisis hasil observasinya
(Inquiry).
Fase 5
Siswa
mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompok masing-masing.
Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusinya dalam pleno kelas. Setiap
kelompok menjawab pertanyaan yang diajukan kelompok lainnya (Learning
Community).
Fase 6
Dengan bantuan
guru, siswa menyimpulkan hasil observasinya. Simpulan tersebut merupakan pengetahuan
atau keterampilan baru yang diperoleh dalam proses pembelajaran melalui
penemuan.Guru melakukan penilaian autentik dan memberi tugas kepada siswa untuk
meningkatkan pemahaman, memperluas dan memperdalam pengetahuan berkaitan dengan
topik yang telah dipelajari. Siswa juga melakukan refleksi diri (Authentic
assessment).
TUJUH
KOMPONEN CTL
Ø KONSTRUKTIVISME (CONSTRUCTIVISM)
Dalam proses
pembelajaran, siswa membangun (konstruktiv) sendiri pengetahuan mereka melalui
keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar . Siswa menjadi pusat
kegiatan (Students center), bukan guru.
Ø MENEMUKAN (INQUIRY)
Pengetahuan
dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat
tetapi menemukan sendiri.
Siklus
Inquiri:
¨ Observasi (Observation)
¨ Bertanya (Questionng)
¨ Mengajukan dugaan (Hiphotesis)
¨ Pengumpulan data (Data Gathering)
¨ Penyimpulan (Conclussion)
Ø BERTANYA (QUESTIONING)
Bertanya merupakan
strategi utama pembelajaran CTL untuk mendorong, membimbing, dan menilai
kemmpuan berpikir siswa. Questioning dapat diterapkan : antara siswa dengan
siswa, antara guru dengan siswa, anatra siswa dengan guru, antara siswa dengan
orang lain yang didatangkan ke kelas.
Ø MASYARAKAT BELAJAR (LEARNING COMMUNITY)
Konsep ini
menyarangkan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjsama dengan orang lain.
Hasil belajar diperoleh dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antara
yang tahu ke yang belum tahu. Diruang ini, di kelas ini, di sekitarsini, juga
orang-orang yang ada di luar ana, semua adalah anggota masyarakat belajar
Ø PEMODELAN (MODELING)
Dalam sebuah
pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa
ditiru. Dalam pendekatan CTL, guru bukanlah satu-satunya model. Bisa
dari siswa yang berpengalaman atau pernah memenangkan lomba tertentu atau bisa
juga orang luar yang didatangkan.
Ø REFLEKSI (REFLECTION)
Refeksi
adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang
tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Diakhir pembelajaran,
guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi berupa :
¨ Pernyataan langsung tentang apa-apa
yang diperolehnya pada hari itu
¨ Catatan atau jurnal di buku siswa
¨ Kesan dan saran siswa mengenai
pembelajaran hari itu
¨ Diskusi
¨ Hasil karya
Ø PENILAIAN SEBENARNYA (AUTHENTIC ASSASSMENT)
Assessment adalah
proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan
belajar siswa. Data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang
dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Hal-hal yang
bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa :
¨ Proyek/kegiatan dan laporannya
¨ PR
¨ Kuis
¨ Karya siswa
¨ Presentasi atau penampilan siswa
¨ Demonstrasi
¨ Laporan
¨ Jurnal
¨ Hasil tes tulis
¨ Karya tulis
Berpikir diasumsikan secara umum
sebagai proses kognitif yaitu suatu aktivitas mental yang lebih menekankan
penalaran untuk memperoleh pengetahuan, Presseinsen (Hartono, 2009). Ia juga
mengemukakan bahwa proses berpikir terkait dengan jenis perilaku lain dan
memerlukan keterlibatan aktif pemikir. Hal penting dari berpikir di samping
pemikiran dapat pula berupa terbangunnya pengetahuan, penalaran, dan proses
yang lebih tinggi seperti mempertimbangkan. Sedangkan dalam kaitannyadengan
berpikir kreatif didefinisikan dengan cara pandang yang berbeda antara lain
Jonhson (dalam Siswono, 2004: 2) mengatakan bahwa berpikir kreatif yang
mengisyaratkan ketekunan, disiplin pribadi dan perhatian melibatkan
aktifitas-aktifitas mental seperti mengajukan pertanyaan, mempertimbangkan
informasi-informasi baru dan ide-ide yang tidak biasanya dengan suatu pikiran
terbuka, membuat hubungan-hubungan, khususnya antara sesuatu yang serupa,
mengaitkan satu dengan yang lainnya dengan bebas, menerapkan imajinasi pada
setiap situasi yang membangkitkan ide baru dan berbeda, dan memperhatikan
intuisi.
Kemampuan kreatif secara umum
dipahami sebagai kreativitas. Seringkali, individu yang dianggap kreatif adalah pemikir
sintesis yang benar-benar baik yang membangun koneksi antara berbagai hal yang
tidak disadari orang–orang lain secara spontan. Suatu sikap kreatif adalah
sekurang-kurangnya sama pentingnya dengan keterampilan berpikir kreatif Schank
(dalam Sternberg, 2007). Berkenaan dengan hal tersebut Sternberg mengemukakan
bahwa dalam hal mengembangkan kemampuan berpikir kreatif ada beberapa strategi
yang digunakan antara lain:
1.
Mendefinisikan
kembali masalah
2.
Mempertanyakan
dan menganalisis asumsi-asumsi
3.
Menjual
ide-ide kreatif
4.
Membangkitkan
ide-ide
5.
Mengenali
dua sisi pengetahuan
6.
Mengidentifikasi
dan mengatasi hambatan
7.
Mengambil
resiko-resiko dengan bijak
8.
Menoleransi
ambiguitas (kemenduan)
9.
Membangun
kecakapan diri
10.
Menemukan
minat sejati
11.
Menunda
kepuasan
12.
Membuat
model kreativitas.
Ciri-ciri kepribadian kreatif
biasanya anak selalu ingin tahu, memilki minat yang luas, dan menyukai
kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup
mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil resiko
(tetapi dengan perhitungan) daripada anak-anak pada umumnya. Munandar
(1999: 36-37), bahwa peringkat dari 10 orang ciri-ciri pribadi yang kreatif
yang diperoleh dari pakar psikologi (30 orang) sebagai berikut: imajinatif,
mempunyai prakarsa, mempunyai minat luas, mandiri dalam berpikir, senang
berpetualang, penuh energi, percaya diri, bersedia mengambil resiko, berani
dalam pendirian dan keyakinan. Bila dibandingkan dengan peringkat ciri-ciri
siswa yang paling diinginkan oleh guru sekolah dasar dan sekolah menengah (102
orang) yakni: (1) penuh energi, (2) mempunyai prakarsa, (3) percaya diri,
(4) sopan, (5) rajin, (6) melaksanakn pekerajaan pada waktunya, (7) sehat, (8)
berani dalam berpendapat, (9) mempunyai ingatan baik, (10) ulet. Dari ciri-ciri
ini tidak tampak banyak kesamaan antara ciri-ciri pribadi yang kreatif menurut
pakar psikologi dengan ciri-ciri yang diinginkan oleh guru pada siswa.
Agar kreativitas anak dapat terwujud
dibutuhkan adanya dorongan dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun
dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik). Bagaimana meningkatkan
kreativitas yang masih terpendam dalam diri siswa? Selanjutnya Munandar (dalam
Mulyana & Sabandar, 2005) mengatakan bahwa ciri-ciri kemampuan yang
berpikir kreatif yang berhungan dengan kognisi dapat dilihat dari kemampuan
berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes, ketrampilam berpikir orisinal,
ketrampilan elaborasi, dan ketrampilan menilai. Penjelasan dari ciri-ciri yang
berkaitan dengan ketrampilan-ketrampilan tersebut diuraikan sebagai berikut.
1. Ciri-ciri
ketrampilan kelancaran:
a) Mencetuskan
banyak gagasan dalam pemecahan masalah
b) Memberikan
banyak jawaban dalam menjawab suatu pertanyaan
c) Memberikan
banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal.
d) Bekerja lebih cepat
dan melakukan lebih banyak daripada anak-anak lain.
2. Ciri-ciri
ketrampilan berpikir luwes (fleksibel):
a) Menghasilkan
gagasan penyelesaian masalah atau jawaban suatuPertanyaan bervariasi.
b) Dapat melihat
suatu msalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
c) Menyajikan suatu
konsep dengan cara yang berbeda-beda.
3. Ciri-ciri
keterampilan orisinal (keaslian):
a) Memberikan
gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang
sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan
b) Membuat kombinasi-kombinasi
yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4. Ciri-ciri
ketrampilan Memperinci (elaborasi):
a) Mengembangkan
atau memperkaya gagasan orang lain.
b) Menambahkan atau
memperici suatu gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut.
5. Ciri-ciri
ketrampilan Menilai (mengevaluasi):
a) Dapat menemukan
kebenaran suatu pertanyaan atau kebenaran suatu rencana penyelesaian masalah.
b) Dapat
mencetuskan gagasan penyelesaian suatu masalah dan dapat melaksanakannya dengan
benar.
c) Mempunyai alasan
yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.
Torrance
(Filsaime, 2007) bahwaada empat karakteristik berpikir kreatif, sebagai sebuah
proses yang melibatkan unsur-unsur orisinalitas, kelancaran, fleksibilitas dan
elaborasi. Keempat dari karakteristik berpikir kreatif tersebut
didefinisikan sebagai:
1. Orisinalitas
Kategori
orisinalitas mengacu pada keunikan dari respon apapun yang diberikan.
Orisinalitas yang ditunjukkan oleh sebuah respon yang tidak biasa, unik dan
jarang terjadi. Berpikir tentang masa depan bisa juga memberikan stimulasi
ide-ide orisinal. Jenis pertanyaan- pertanyaan yang digunakan untuk menguji
kemampuan ini adalah tuntutan penggunaan-penggunaan yang menarik dari
objek-objek umum. Misalnya: (1) desainlah sebuah computer impian masa depan.
(2) pikirkan berapa banyaknya benda yang anda gunakan kabel untuknya.
2. Elaborasi
Elaborasi
diartikan sebagai kemampuan untuk menguraikan sebuah obyek tertentu. Elaborasi
adalah jembatan yang harus dilewati oleh seseorang untuk mengkomunikasikan ide“
kreatif”-nya kepada masyarakat. Faktor inilah yang menentukan nilai dari ide
apapun yang diberikan kepada orang lain di luar dirinya. Elaborasi ditunjukkan
oleh sejumlah tambahan dan detail yang bisa dibuat untuk stimulus sederhana
untuk membuatnya lebih kompleks. Tambahan-tambahan tersebut bisa dalam bentuk
dekorasi, warna, bayangan atau desain. Contoh berpikir kreatif elaborasi
matematik. Pada suatu hari Pak Dodi pergi ke pasar untuk membeli dua jenis
semen di sebuah tokoh dengan harga Rp 440.000,- lengkapilah data tersebut
sehingga tersusun suatu masalah sistem persamaan linear dua variabel!. Kemudian
selesaikan masalah tadi. Contoh ini memberikan indikator bahwa siswa dapat
melengkapi data untuk menyusun suatu masalah dan menyelesaikannya.
3. Kelancaran
Kelancaran
diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan segudang ide (Gilford, dalam
Filsaime, 2007)). Ini merupakan salah satu indikator yang paling kuat dari
berpikir kreatif, karena semakin banyak ide, maka semakin besar kemungkinan
yang ada untuk memperoleh sebuah ide yang signifikan.
4. Fleksibilitas
Karakteristik
ini menggambarkan kemampuan seseorang individu untuk mengubah perangkat
mentalnya ketika keadaan memerlukan untuk itu, atau kecenderungan untuk
memandang sebuah masalah secara instan dari berbagai perspektif. Fleksibilitas
adalah kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan mental, mengubah
pendekatan untuk sebuah masalah. Tidak terjebak dengan mengasumsikan
aturan-aturan atau kondisi-kondisi yang tidak bisa diterapkan pada sebuah masalah.
Dibawah ini disajikan inovasi suatu sintak pembelajaran, dimana materi yang
diajarkan berupa larutan penyanggga.
No
|
Model Konvensional (Model Kontekstual)
|
No
|
Inovasi Sintaks Model Kontekstual
|
Dampak Berpikir Kreatif
|
1.
|
Konstruktivisme
|
1.
|
Konstruktivisme
|
|
Mengkondisikan siswa
|
Sebelum memulai pembelajaran hari ini, guru mengajak siswa berdoa sesuai
keyakinan masing-masing.(Guru menanamkan karakter religius)
|
|||
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dicapai
|
Guru menyampaikan pengetahuan prasyarat yang harus dimiliki
siswa dari pembelajaran yang lalu yaitu teori asam basa Arrhenius dan Bronsted Lowry. |
· Menghasilkan gagasan-gagasan
yang beragam(berpikir luwes)
|
||
Mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya
|
Guru menanya siswa tentang materi
sebelumnya yaitu tentang teori asam basa, pengetahuan apa saja yang
diketahuan siswa tentang materi tersebut
|
· -- Menghasilkan gagasan-gagasan
yang beragam(berpikir luwes)
|
||
Menggali pengetahuan dasar siswa
|
Guru menunjukkan 2 macam larutan yaitu
larutan asam asetat dan
natrium asetat untuk membangkitkan motivasi rasa ingin tahu dan menggali pengetahuan siswa(eksplorasi) dengan bertanya: Apa yang kalian ketahui dari kedua larutan tersebut? |
Dapat melihat suatu msalah dari sudut pandang yang
berbeda-beda.
Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan
masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu
pertanyaan (keterampilan orisinal (keaslian))
|
||
2.
|
Pemodelan (Modelling)
|
2.
|
Pemodelan (Modelling)
|
|
Mengarahkan siswa untuk membentuk kelompok kecil
|
Membagi kelompok untuk melakukan praktikum
|
·
·
|
||
Mempersilahkan untuk bergabung bersama kelompoknya masing-masing
|
||||
Melaksanakan praktikum
|
||||
3.
|
Bertanya (Questioning)
|
3.
|
Menemukan (Inquiry)
|
|
Membimbing siswa melakukan tanya jawab
|
Guru memberikan pralab tentang cara menggunakan alat dan bahan
kimia dalam kegiatan praktikum yang akan dilaksanakan. Siswa memperhatikan dengan seksama dan mendengarkan dengan baik penjelasan guru. |
· Memperluas
suatu gagasan (berpikir terperinci)
Mencetuskan
banyak gagasan dalam pemecahan masalah
|
||
Guru membagikan LKS kepada siswa sebagai bahan panduan
melakukan praktikum kelompok |
·
|
|||
Guru membimbing membimbing siswa dalam melakukan praktikum
dengan berjalan berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain secara bergantian Guru memberikan waktu kepada tiap-tiap kelompok untuk mendiskusikan hasil praktikum, menganalisis, dan menjawab pertanyaan dalam LKS. Setiap kelompok bertanggung jawab menyelesaikan tugasnya masing-masing tepat pada waktunya.(Guru menanamkan disiplin waktu) |
·
·
Menghasilkan gagasan-gagasan yang
beragam(berpikir luwes)
·
Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan
masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu
pertanyaan
·
·
|
|||
4.
|
Menemukan (Inquiry)
|
4.
|
Masyarakat Belajar(Learning
Community)
|
|
Membimbing siswa mencari tahu sendiri materi pelajaran dari berbagai
sumber
|
Guru meminta masing-masing kelompok untuk mempresentasikan
hasil praktikumnya di depan kelas(elaborasi). |
Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
· Menghasilkan gagasan-gagasan
yang beragam(berpikir luwes)
· Memberikan
jawaban yang lain dari pada yang lain.(berpikir orisinil).
· Memperinci
detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
|
||
5.
|
Masyarakat Belajar(Learning
Community)
|
5.
|
Bertanya (Questioning)
|
|
Membantu siswa megatasi permasalahan yang diberikan
|
Memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk menjawab
pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain
|
· Menghasilkan banyak
gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
|
||
Memberikan kesempatan tanya jawab seputar hasil diskusi
|
Guru meminta siswa dalam melakukan praktikum hendaknya
bekerja sama dengan baik, taat aturan/, teliti, kreatif, komunikatif, dan menjaga kebersihan |
Menyajikan
suatu konsep dengan cara yang berbeda-beda.
Menghasilkan banyak gagasan/jawaban
yang relevan (berpikir lancar)
Menghasilkan gagasan-gagasan yang
beragam(berpikir luwes)
· Memberikan
jawaban yang lain dari pada yang lain.(berpikir orisinil).
· Memperinci
detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
|
||
Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan berdasarkan pembelajaran yang
telah dilakukan
|
Memberikan
gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari
yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan
|
|||
6.
|
Refleksi (Reflection)
|
6.
|
Refleksi (Reflection)
|
|
Memberikan penguatan
|
Guru memberikan konfirmasi tentang hasil praktikum yang benar.
Guru membimbing siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari dengan membuat rangkuman di bukunya masing-masing. |
·
Menambahkan atau memperici suatu gagasan sehingga
meningkatkan kualitas gagasan tersebut
Dapat mencetuskan gagasan penyelesaian suatu masalah
dan dapat melaksanakannya dengan benar.
|
||
Membimbing siswa untuk membuat ringkasan
|
||||
7.
|
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic
Assessment)
|
7.
|
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic
Assessment)
|
|
Membantu siswa menyimpulkan
|
Guru memberi tugas siswa untuk membuat laporan praktikum
tentang larutan penyangga. |
· Menghasilkan banyak
gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
· Memperinci
detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan
untuk mencapai suatu keputusan.
|
||
Memberikan tes akhir
|
Guru memberikan tes akhir untuk mengetahui sejauh mana
pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari |
|||
Menutup pertemuan dengan berdo’a dan mengucapkan salam
|
Dari uraian diatas, bagaimana inovasi sintak yang
dibuat ? tolong berika masukan tentang dampak perubahan sintak model tersebut
terhadap kemampuan berfikir kreatif ? dari pembelajaran diatas, pengelompokan
siswa dalam praktikum apakah efektif ? dikhawatirkan akan ada siswa yang hanya
berdiam diri dalam praktikum.
Menurut saya sintaks model yang anda lakukan cukup baik dimana berbasis praktikum, dan langkah-langkahnya juga sudah mencerminkan CTL. Sebaiknya pada saat nanti diterapkannya inovasi sintaks yang anda buat ini dibuat perkiraan waktu (alokasi waktu) disetiap sintaksnya agar tidak keteteran pada saat pelaksaannya karena praktikum membutuhkan waktu yang tidak singkat apalagi membahas asam kuat, asam lemah dan basa lemah, basa kuat belum lagi perlu disisipkan pengerjaan soal hitung-hitungan.
BalasHapussaya sependapat dengan rifany, jika untuk pratikum diperhitungkan alokasi waktunya. kemudian untuk menimbulkan ide kreatif siswa dalam pratikum kita juga mungkin bisa tidak memberikan prosedur kerja dari pratikum tsb, sehingga siswa mampu memikirkan jalannya pratikum yang akan menimbulkan ide-ide kreatif.
Hapusbaik saya akan menjawab pertanyaan dhani, pengelompokan siswa dalam praktikum apakah efektif ? dikhawatirkan akan ada siswa yang hanya berdiam diri dalam praktikum.
BalasHapusmenurut saya ide untuk mengelompokkan siswa untuk berpraktikum sangat bagus, dengan demikian siswa dituntut untuk dapat berpraktikum yang hasilnya nanti tiap kelompok akan berbeda beda. kekhawatiran akan siswa yang berdiam diri dapat disiasati dengan guru mengontrol kerja tiap anggota kelompok sehingga siswa akan terdorong untuk ikut terlibat dalam proses praktikum.
menurut saya dengan dilakukannya praktikum, maka tiap kelompok akan memiliki hasil yang berbeda-beda namun konsep yang ditemukan akan sama, nah disinilah nantinya akan muncul kemampuann berpikir kreatif siswa yakni menyampaikan gagasan dari hasil praktikumnya yang didukung literatur yang relevan, konsep yang ditemukan orisinil (karena berdasarkan persepsi masing-masing).
saya setuju dengan kk rini, disini pengelompokkan juga disusun berdasarkan kebutuhan sehingga jumlah anggota kelompok tepat untuk praktikum dan tidak asa siswa yang hanya berdiam diri dalam praktikum
Hapussependapat juga dengan rini bahwa ide untuk mengelompokkan siswa dalam melakukan praktikum sangat bagus, dengan demikian siswa dituntut untuk dapat melakukan praktikum yang hasilnya nanti tiap kelompok akan berbeda beda. kekhawatiran akan siswa yang berdiam diri dapat disiasati dengan guru mengontrol kerja tiap anggota kelompok sehingga siswa akan terdorong untuk ikut terlibat dalam proses praktikum.
Hapussaya sependapat dengan kak rini, tentang "dengan dilakukannya praktikum, maka tiap kelompok akan memiliki hasil yang berbeda-beda namun konsep yang ditemukan akan sama, nah disinilah nantinya akan muncul kemampuann berpikir kreatif siswa yakni menyampaikan gagasan dari hasil praktikumnya yang didukung literatur yang relevan, konsep yang ditemukan orisinil (karena berdasarkan persepsi masing-masing)".
HapusSaya akan menjawab permasalahan ketiga, apengelompokan siswa dalam praktikum apakah efektif ? dikhawatirkan akan ada siswa yang hanya berdiam diri dalam praktikum.
HapusMenurut saya pengelompokan akan lebih efektif dibandingkan masing2 individu yang melakukannya, akan lebih memakan waktu dan akan banyak yg kebingungan harus apa sehingga dapat mengganggu aktifitas temannya, jika dengan kelompok akan menjadi lebih efektif suatu pembeljaran apalagi jika kelompok tersebut terdiri dari siswa yang berkemampuan berpikir yang heterogen, sehingga masing2 siswa bisa saling mengingatkan dan memanage tugas masing2, atau juga dengan adanya kontrol guru sehingga akan menjadi lebih
Kondusif siswa tidak diam dan terlibat dalam praktikum
saran untuk mengelompokkan siswa dalam melakukan praktikum sangat bagus, dengan demikian siswa dituntut untuk dapat melakukan praktikum yang hasilnya nanti tiap kelompok akan berbeda beda. kekhawatiran akan siswa yang berdiam diri dapat disiasati dengan guru
HapusSaya sependapat dengan teman2 bahwa pngelompokkan dalam melakukan praktikum itu lebih efektif karena selain memudahkan dia jg mempersingkat wsktu agar proses pemblajran tidak molor dan berjalan sesuai rencana. Dri pada harus sendiri2. Dgn pengelompokkan ini lah diharapkan bahwa siswa mampu bekerja sama dn saling bertukarpendapat dan memikirkam ide pemecahan masalah
Hapussaya setuju dengan pendapat teman-teman bahwa ide untuk mengelompokkan siswa dalam melakukan praktikum sangat bagus, dengan demikian siswa dituntut untuk dapat melakukan praktikum yang hasilnya nanti tiap kelompok akan berbeda beda. kekhawatiran akan siswa yang berdiam diri dapat disiasati dengan guru mengontrol kerja tiap anggota kelompok sehingga siswa akan terdorong untuk ikut terlibat dalam proses praktikum.
HapusSaya setuju dengan pendpat teman2 di atas
Hapusbaik saya akan menjawab pertanyaan dhani, pengelompokan siswa dalam praktikum apakah efektif ? dikhawatirkan akan ada siswa yang hanya berdiam diri dalam praktikum.
menurut saya ide untuk mengelompokkan siswa untuk berpraktikum sangat bagus, dengan demikian siswa dituntut untuk dapat berpraktikum yang hasilnya nanti tiap kelompok akan berbeda beda. kekhawatiran akan siswa yang berdiam diri dapat disiasati dengan guru mengontrol kerja tiap anggota kelompok sehingga siswa akan terdorong untuk ikut terlibat dalam proses praktikum.
menurut saya inovasi yang dibuat sudah baik dan dampak perubahan sintak model tersebut terhadap kemampuan berpikir kreatif yaitu sudah cukup signifikan karena dilihat dari tahap dan pemberian bimbingan yang diberikan oleh guru. selanjutnya saran yang dapat saya berikan yaitu perlu diperhatikan pertanyaan-pertanyaan stimulus untuk siswa untuk lebih mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa tersebut.
BalasHapusjadi menurut saya dalam pengelompokkan sebaiknya secara berkelompok saja ketimbang individu. karna bukan hanya alokasi waktu saja yg berpengaruh, tetapi juga dengan berkelompkk siswa dapat dilatih untUk saling kerjasama dan berbagi pikiran sehingga muncul lagi gagasan" baru yang akan mendorong kegiatan belajar siswa
BalasHapus