Kamis, 22 November 2018

materi 11 : Inovasi Sintak Model Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual dan Dampaknya Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif


Inovasi Sintak Model Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual dan Dampaknya Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif

Model pembelajaran kontekstual merupakan model yang mengusahakan untuk membuat siswa aktif dalam menggali kemampuan diri siswa dengan mempelajari konsep-konsep sekaligus menerapkannya dan mengaitkannya dengan dunia nyata di sekitar lingkungan siswa. Sejalan dengan itu, Elaine B. Jhonson (dalam Rusman, 2012:187) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyususn pola-pola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut lagi, Elaine mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa berada.
Hal inilah yang mendasari bahwa model kontekstual (Contextual Teaching And Learning) baik untuk diterapkan oleh guru dalam pembelajaran. seperti yang kita ketahui, sejauh ini pembelajaran yang biasa guru lakukan masih bersifat konvensional, monoton, dan masih terpusat kepada guru saja. sehingga siswa tidak memperoleh pengalaman belajar yang bermakna, dan tidak diikut sertakan terlibat secara langsung dalam pemecahan masalah yang diberikan guru pada proses pembelajaran. dengan demikian, siswa sekolah dasar khususnya cenderung diam, terkadang terlihat mengantuk, kurang semangat dalam mengikuti pelajaran atau jenuh.
Model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching And Learning) pada intinya adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan nyata. artinya siswa dihadapkan pada suatu persoalan yang biasa dihadapi di lingkungan, sehingga pada masanya nanti siswa dapat mampu mengatasi persoalan-persoalan yang nyata yang dihadapi di lingkungannya. Oleh sebab itu, melalui pembelajaran kontekstual, pembelajaran bukan suatu transformasi pengetahuan yang diberikan guru kepada siswa dengan cara menghafal beberapa konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup (life skiil) dari apa yang dipelajarinya. Hal ini sangat erat kaitanya dengan tujuan pendidikan nasional yang ditetapkan pemerintah.

Sintaks Model Pembelajaran Kontekstual
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apapun, bidang studi apapun, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Model pembelajaran CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
Fase 1
Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai siswa serta manfaatnya dari proses pembelajaran serta pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari. Guru menggali pengetahuan awal siswa serta menganalisis miskonsepsi siswa (Konstruktivism).

Fase 2
Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil.Guru menyajikan model atau fenomena dan setiap kelompok diberi tugas untuk melakukan observasi. Melalui observasi yang dilakukan, siswa ditugaskan diminta untuk menyampaikan gagasan yang dimilikinya terkait dengan materi yang dipelajari dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru (Modelling).

Fase 3
Guru melakukan tanya jawab seputar tugas yang harus dilakukan oleh setiap kelompok siswa guna mencapai tujuan pembelajaran (Questioning).


Fase 4
Siswa melakukan observasi dan mencatat hasil observasinya dengan menggunakan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya. Siswa menganalisis hasil observasinya (Inquiry).

Fase 5
Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompok masing-masing. Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusinya dalam pleno kelas. Setiap kelompok menjawab pertanyaan yang diajukan kelompok lainnya (Learning Community).

Fase 6
Dengan bantuan guru, siswa menyimpulkan hasil observasinya. Simpulan tersebut merupakan pengetahuan atau keterampilan baru yang diperoleh dalam proses pembelajaran melalui penemuan.Guru melakukan penilaian autentik dan memberi tugas kepada siswa untuk meningkatkan pemahaman, memperluas dan memperdalam pengetahuan berkaitan dengan topik yang telah dipelajari. Siswa juga melakukan refleksi diri (Authentic assessment).

TUJUH KOMPONEN CTL
Ø  KONSTRUKTIVISME  (CONSTRUCTIVISM)
Dalam proses pembelajaran, siswa membangun (konstruktiv) sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar . Siswa menjadi pusat kegiatan (Students center), bukan guru.

Ø  MENEMUKAN (INQUIRY)
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat tetapi menemukan sendiri.
Siklus Inquiri:
¨      Observasi (Observation)
¨      Bertanya (Questionng)
¨      Mengajukan dugaan (Hiphotesis)
¨      Pengumpulan data (Data Gathering)
¨      Penyimpulan (Conclussion)

Ø  BERTANYA (QUESTIONING)
Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran CTL untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemmpuan berpikir siswa. Questioning dapat diterapkan : antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, anatra siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas

Ø  MASYARAKAT BELAJAR (LEARNING COMMUNITY)
Konsep ini menyarangkan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjsama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Diruang ini, di kelas ini, di sekitarsini, juga orang-orang yang ada di luar ana, semua adalah anggota masyarakat belajar

Ø  PEMODELAN (MODELING)
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Dalam pendekatan CTL, guru bukanlah satu-satunya model. Bisa dari siswa yang berpengalaman atau pernah memenangkan lomba tertentu atau bisa juga orang luar yang didatangkan.

Ø  REFLEKSI (REFLECTION)
Refeksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Diakhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi berupa :
¨      Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya pada hari itu
¨      Catatan atau jurnal di buku siswa
¨      Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu
¨      Diskusi
¨      Hasil karya

Ø  PENILAIAN SEBENARNYA (AUTHENTIC ASSASSMENT)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa :
¨      Proyek/kegiatan dan laporannya
¨      PR
¨      Kuis
¨      Karya siswa
¨      Presentasi atau penampilan siswa
¨      Demonstrasi
¨      Laporan
¨      Jurnal
¨      Hasil tes tulis
¨      Karya tulis

            Berpikir diasumsikan secara umum sebagai proses kognitif yaitu suatu aktivitas mental yang lebih menekankan penalaran untuk memperoleh pengetahuan, Presseinsen (Hartono, 2009). Ia juga mengemukakan bahwa proses berpikir terkait dengan jenis perilaku lain dan memerlukan keterlibatan aktif pemikir. Hal penting dari berpikir di samping pemikiran dapat pula berupa terbangunnya pengetahuan, penalaran, dan proses yang lebih tinggi seperti mempertimbangkan. Sedangkan dalam kaitannyadengan berpikir kreatif didefinisikan dengan cara pandang yang berbeda antara lain Jonhson (dalam Siswono, 2004: 2) mengatakan bahwa berpikir kreatif yang mengisyaratkan ketekunan, disiplin pribadi dan perhatian melibatkan aktifitas-aktifitas mental seperti mengajukan pertanyaan, mempertimbangkan informasi-informasi baru dan ide-ide yang tidak biasanya dengan suatu pikiran terbuka, membuat hubungan-hubungan, khususnya antara sesuatu yang serupa, mengaitkan satu dengan yang lainnya dengan bebas, menerapkan imajinasi pada setiap situasi yang membangkitkan ide baru dan berbeda, dan memperhatikan intuisi.
            Kemampuan kreatif secara umum dipahami sebagai kreativitas. Seringkali, individu yang dianggap kreatif adalah pemikir sintesis yang benar-benar baik yang membangun koneksi antara berbagai hal yang tidak disadari orang–orang lain secara spontan. Suatu sikap kreatif adalah sekurang-kurangnya sama pentingnya dengan keterampilan berpikir kreatif Schank (dalam Sternberg, 2007). Berkenaan dengan hal tersebut Sternberg mengemukakan bahwa dalam hal mengembangkan kemampuan berpikir kreatif ada beberapa strategi yang digunakan antara lain:
1.      Mendefinisikan kembali masalah
2.      Mempertanyakan dan menganalisis asumsi-asumsi
3.      Menjual ide-ide kreatif
4.      Membangkitkan ide-ide
5.      Mengenali dua sisi pengetahuan
6.      Mengidentifikasi dan mengatasi hambatan
7.      Mengambil resiko-resiko dengan bijak
8.      Menoleransi  ambiguitas (kemenduan)
9.      Membangun kecakapan diri
10.  Menemukan minat sejati
11.  Menunda kepuasan
12.  Membuat model kreativitas.

            Ciri-ciri kepribadian kreatif biasanya anak selalu ingin tahu, memilki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil resiko (tetapi dengan perhitungan) daripada anak-anak pada umumnya.  Munandar (1999: 36-37), bahwa peringkat dari 10 orang ciri-ciri pribadi yang kreatif yang diperoleh dari pakar psikologi (30 orang) sebagai berikut: imajinatif, mempunyai prakarsa, mempunyai minat luas, mandiri dalam berpikir, senang berpetualang, penuh energi, percaya diri, bersedia mengambil resiko, berani dalam pendirian dan keyakinan. Bila dibandingkan dengan peringkat ciri-ciri siswa yang paling diinginkan oleh guru sekolah dasar dan sekolah menengah (102 orang)  yakni: (1) penuh energi, (2) mempunyai prakarsa, (3) percaya diri, (4) sopan, (5) rajin, (6) melaksanakn pekerajaan pada waktunya, (7) sehat, (8) berani dalam berpendapat, (9) mempunyai ingatan baik, (10) ulet. Dari ciri-ciri ini tidak tampak banyak kesamaan antara ciri-ciri pribadi yang kreatif menurut pakar psikologi dengan ciri-ciri yang diinginkan oleh guru pada siswa.
            Agar kreativitas anak dapat terwujud dibutuhkan adanya dorongan dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik). Bagaimana meningkatkan kreativitas yang masih terpendam dalam diri siswa? Selanjutnya Munandar (dalam Mulyana & Sabandar, 2005) mengatakan bahwa ciri-ciri kemampuan yang berpikir kreatif yang berhungan dengan kognisi dapat dilihat dari kemampuan berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes, ketrampilam berpikir orisinal, ketrampilan elaborasi, dan ketrampilan menilai. Penjelasan dari ciri-ciri yang berkaitan dengan ketrampilan-ketrampilan tersebut diuraikan sebagai berikut.
1.      Ciri-ciri ketrampilan kelancaran:
a)      Mencetuskan banyak gagasan dalam pemecahan masalah
b)      Memberikan banyak jawaban dalam menjawab suatu pertanyaan
c)      Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal.
d)     Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada anak-anak lain.
2.      Ciri-ciri ketrampilan berpikir luwes (fleksibel):
a)      Menghasilkan gagasan penyelesaian masalah atau jawaban suatuPertanyaan  bervariasi.
b)      Dapat melihat suatu msalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
c)      Menyajikan suatu konsep dengan cara yang berbeda-beda.

3.      Ciri-ciri keterampilan orisinal (keaslian):
a)      Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan
b)      Membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4.      Ciri-ciri ketrampilan Memperinci (elaborasi):
a)      Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
b)      Menambahkan atau memperici suatu gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut.
5.      Ciri-ciri ketrampilan Menilai (mengevaluasi):
a)      Dapat menemukan kebenaran suatu pertanyaan atau kebenaran suatu rencana penyelesaian masalah.
b)      Dapat mencetuskan gagasan penyelesaian suatu masalah dan dapat melaksanakannya dengan benar.
c)      Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.

Torrance (Filsaime, 2007) bahwaada empat karakteristik berpikir kreatif, sebagai sebuah proses yang melibatkan unsur-unsur orisinalitas, kelancaran, fleksibilitas dan elaborasi.  Keempat dari karakteristik berpikir kreatif tersebut didefinisikan sebagai:
1.      Orisinalitas
Kategori orisinalitas mengacu pada keunikan dari respon apapun yang diberikan. Orisinalitas yang ditunjukkan oleh sebuah respon yang tidak biasa, unik dan jarang terjadi. Berpikir tentang masa depan bisa juga memberikan stimulasi ide-ide orisinal. Jenis pertanyaan- pertanyaan yang digunakan untuk menguji kemampuan ini adalah tuntutan penggunaan-penggunaan yang menarik dari objek-objek umum. Misalnya: (1) desainlah sebuah computer impian masa depan. (2) pikirkan berapa banyaknya benda yang anda gunakan kabel untuknya.
2.      Elaborasi
Elaborasi diartikan sebagai kemampuan untuk menguraikan sebuah obyek tertentu. Elaborasi adalah jembatan yang harus dilewati oleh seseorang untuk mengkomunikasikan ide“ kreatif”-nya kepada masyarakat. Faktor inilah yang menentukan nilai dari ide apapun yang diberikan kepada orang lain di luar dirinya. Elaborasi ditunjukkan oleh sejumlah tambahan dan detail yang bisa dibuat untuk stimulus sederhana untuk membuatnya lebih kompleks. Tambahan-tambahan tersebut bisa dalam bentuk dekorasi, warna, bayangan atau desain. Contoh berpikir kreatif elaborasi matematik. Pada suatu hari Pak Dodi pergi ke pasar untuk membeli dua jenis semen di sebuah tokoh dengan harga Rp 440.000,- lengkapilah data tersebut sehingga tersusun suatu masalah sistem persamaan linear dua variabel!. Kemudian selesaikan masalah tadi. Contoh ini memberikan indikator bahwa siswa dapat melengkapi data untuk menyusun suatu masalah dan menyelesaikannya.
3.      Kelancaran
Kelancaran diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan segudang ide (Gilford, dalam Filsaime, 2007)). Ini merupakan salah satu indikator yang paling kuat dari berpikir kreatif, karena semakin banyak ide, maka semakin besar kemungkinan yang ada untuk memperoleh sebuah ide yang signifikan.
4.      Fleksibilitas
Karakteristik ini menggambarkan kemampuan seseorang individu untuk mengubah perangkat mentalnya ketika keadaan memerlukan untuk itu, atau kecenderungan untuk memandang sebuah masalah secara instan dari berbagai perspektif. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan mental, mengubah pendekatan untuk sebuah masalah. Tidak terjebak dengan mengasumsikan aturan-aturan atau kondisi-kondisi yang tidak bisa diterapkan pada sebuah masalah. Dibawah ini disajikan inovasi suatu sintak pembelajaran, dimana materi yang diajarkan berupa larutan penyanggga.

No
Model Konvensional (Model Kontekstual)
No
Inovasi Sintaks Model Kontekstual
Dampak Berpikir Kreatif
1.
Konstruktivisme
1.
Konstruktivisme
Mengkondisikan siswa
Sebelum memulai pembelajaran hari ini, guru mengajak siswa berdoa sesuai keyakinan masing-masing.(Guru menanamkan karakter religius)
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dicapai
Guru menyampaikan pengetahuan prasyarat yang harus dimiliki
siswa dari pembelajaran yang lalu yaitu teori asam basa Arrhenius
dan Bronsted Lowry.

· Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
Mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya
 Guru menanya siswa tentang materi sebelumnya yaitu tentang teori asam basa, pengetahuan apa saja yang diketahuan siswa tentang materi tersebut
· -- Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
Menggali pengetahuan dasar siswa
 Guru menunjukkan 2 macam larutan yaitu larutan asam asetat dan
natrium asetat untuk membangkitkan motivasi rasa ingin tahu dan
menggali pengetahuan siswa(eksplorasi) dengan bertanya: Apa yang
kalian ketahui dari kedua larutan tersebut?
Dapat melihat suatu msalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan (keterampilan orisinal (keaslian))
2.
Pemodelan (Modelling)
2.
Pemodelan (Modelling)
Mengarahkan siswa untuk membentuk kelompok kecil
Membagi kelompok untuk melakukan praktikum
·        
· 
Mempersilahkan untuk bergabung bersama kelompoknya masing-masing




Melaksanakan praktikum
3.
Bertanya (Questioning)
3.
Menemukan (Inquiry)
Membimbing siswa melakukan tanya jawab
Guru memberikan pralab tentang cara menggunakan alat dan bahan
kimia dalam kegiatan praktikum yang akan dilaksanakan.
Siswa memperhatikan dengan seksama dan mendengarkan dengan
baik
penjelasan guru.
·     Memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci)
Mencetuskan banyak gagasan dalam pemecahan masalah
Guru membagikan LKS kepada siswa sebagai bahan panduan
melakukan praktikum kelompok
· 
Guru membimbing membimbing siswa dalam melakukan praktikum
dengan berjalan berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain
secara bergantian Guru memberikan waktu kepada tiap-tiap kelompok untuk
mendiskusikan hasil praktikum, menganalisis, dan menjawab
pertanyaan dalam LKS. Setiap kelompok bertanggung jawab
menyelesaikan tugasnya masing-masing tepat pada
waktunya.(Guru menanamkan disiplin waktu)
· 
·         Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
·         Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan

·        
·  
4.
Menemukan (Inquiry)
4.
Masyarakat Belajar(Learning Community)
Membimbing siswa mencari tahu sendiri materi pelajaran dari berbagai sumber
Guru meminta masing-masing kelompok untuk mempresentasikan
hasil praktikumnya di depan kelas(elaborasi).
Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
· Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
·      Memberikan jawaban yang lain dari pada yang lain.(berpikir orisinil).
·      Memperinci detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
5.
Masyarakat Belajar(Learning Community)
5.
Bertanya (Questioning)
Membantu siswa megatasi permasalahan yang diberikan
Memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain
· Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
Memberikan kesempatan tanya jawab seputar hasil diskusi
Guru meminta siswa dalam melakukan praktikum hendaknya
bekerja sama dengan baik, taat aturan/, teliti, kreatif,
komunikatif, dan
menjaga kebersihan
Menyajikan suatu konsep dengan cara yang berbeda-beda.
Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
·      Memberikan jawaban yang lain dari pada yang lain.(berpikir orisinil).
·      Memperinci detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukan
Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan





6.
Refleksi (Reflection)
6.
Refleksi (Reflection)
Memberikan penguatan
Guru memberikan konfirmasi tentang hasil praktikum yang benar.
Guru membimbing siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari dengan membuat rangkuman di bukunya masing-masing.
· 
Menambahkan atau memperici suatu gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut
Dapat mencetuskan gagasan penyelesaian suatu masalah dan dapat melaksanakannya dengan benar.
Membimbing siswa untuk membuat ringkasan
7.
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
7.
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
Membantu siswa menyimpulkan
Guru memberi tugas siswa untuk membuat laporan praktikum
tentang larutan penyangga.
· Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
·      Memperinci detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.
Memberikan tes akhir
Guru memberikan tes akhir untuk mengetahui sejauh mana
pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari
Menutup pertemuan dengan berdo’a dan mengucapkan salam

Dari uraian diatas, bagaimana inovasi sintak yang dibuat ? tolong berika masukan tentang dampak perubahan sintak model tersebut terhadap kemampuan berfikir kreatif ? dari pembelajaran diatas, pengelompokan siswa dalam praktikum apakah efektif ? dikhawatirkan akan ada siswa yang hanya berdiam diri dalam praktikum.











Kamis, 15 November 2018

materi 10 : Aplikasi IoT dalam pembelajaran (video pembelajaran)

Aplikasi Trend Internet of Things (IoT) untuk Pembelajaran Kimia
Dunia pendidikan selalu berkembang seiring dengan berkembangnya dunia. Begitu juga dengan sarana dan prasarana pendidikan semakin memadai dan semakin lengkap. Jika dulu sekolah-sekolah menggunakan sarana yang seadanya, sekarang sudah semakin lengkap. Sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan maksimal. Demikian juga media yang dipakai dalam proses belajar mengajar semakin kompleks.
Perkembangan teknologi pada akhirnya juga merambah kepada dunia pendidikan. Banyak sekolah yang sekarang memakai teknologi ini untuk memperlancar pembelajaran di sekolah. Teknologi dalam pembelajaran bisa menjadi sarana pembelajaran, metode/media dan sebagai sumber belajar bagi peserta didik. Sebagai sarana teknologi merupakan alat untuk memperlancar pembelajaran. Sebagai metode/media teknologi sebagai inovator agar pembelajaran menjadi lebih menarik. Sedangkan sebagai sumber belajar tekonologi sebagai salah satu penyedia informasi bagi peserta didik. Dengan menghubungkannya dengan internet, maka media pembelajaran yang sudah kita buat akan bisa dinikmati oleh semua pelajar dari segala penjuru dunia. pada materi kuliah kali ini saya membuat berupa video pembelajaran kimia. video dibawah ini merupakan demonstrasi reaksi antara asam cuka (CH3COOH) dengan soda kue (NaHCO3). anda bisa melihatnya disini atau video dibawah ini 

bagaimana pendapat anda tentang media diatas ? sudah jelaskah materi dan pesan yang disampaikan ? apa perbaikan yang perlu penulis tambahkan demi lebih baiknya video diatas ?



Kamis, 08 November 2018

materi 9 : Internet of Things (IoT) dalam pembelajaran


            Perkembangan teknologi semakin pesat dari waktu ke waktu. Dulu, mungkin kita hanya bisa berimajinasi atau menonton film-film fiksi sains soal teknologi canggih. Kini, berbagai peralatan/mesin sudah dilengkapi dengan kecanggihan teknologi yang bisa memudahkan pekerjaan kita sehari-hari. Mulai dari mobil pintar (smart car) yang bisa jalan sendiri ke berbagai tujuan tanpa pengemudi manusia, hingga mesin pintar semacam Alexa yang bisa bersuara mengingatkan Anda untuk melakukan ini-itu sesuai jadwal. Seluruh teknologi terbaru ini adalah bagian dari Internet of Things.
            Internet of Things (IoT), sebuah istilah yang belakangan ini mulai ramai ditemui namun masih banyak yang belum mengerti arti dari istilah ini. Sebetulnya hingga saat ini belum ada definisi standar mengenai Internet of Things, namun secara singkat Internet of Things bisa dibilang adalah di mana benda-benda di sekitar kita dapat berkomunikasi antara satu sama lain melalui sebuah jaringan seperti internet. Ide awal Internet of Things pertama kali dimunculkan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999 di salah satu presentasinya. Kini banyak perusahaan besar mulai mendalami Internet of Things sebut saja Intel, Microsoft, Oracle, dan banyak lainnya.
            Banyak yang memprediksi bahwa Internet of Things adalah “the next big thing” di dunia teknologi informasi, hal ini karena Internet of Things menawarkan banyak potensi yang bisa digali. Contoh sederhana implementasi dari Internet of Things misalnya adalah kulkas yang dapat memberitahukan kepada pemiliknya via SMS atau email tentang makanan dan minuman apa saja yang sudah habis dan harus distok lagi.Bagi pengembang, kini banyak perusahaan yang menyediakan berbagai macam program untuk membantu pengembang dalam mengembangkan produk berbasis Internet of Things. Salah satu yang menyediakan program ini adalah Intel dengan IoT Developer Program mereka.
            Internet of Things atau di singkat  IoT, merupakan sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Adapun kemampuannya seperti berbagi data, remote control, dan sebagainya, termasuk juga benda-benda di dunia nyata. Contohnya bahan pangan, elektronik, koleksi, peralatan apa saja, termasuk benda hidup yang semuanya tersambung ke jaringan lokal dan global melalui sensor yang tertanam dan selalu aktif. Adapun tujuan dari adanya Internet of Things adalah agar memudahkan manusia dalam melakukan sesuatu, mempersingkat waktu, dan meringankan beban manusia dengan bantuan teknologi dan koneksi internet. Dengan mengikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat inilah diharapkan Interet of Things dapat berkembang dengan baik untuk kemaslahatan manusia.
            Cara Kerja Internet of Things yaitu dengan memanfaatkan sebuah argumentasi pemrograman yang tiap-tiap perintah argumennya menghasilkan sebuah interaksi antara sesama mesin yang terhubung secara otomatis tanpa campur tangan manusia dan dalam jarak berapa pun. Internet menjadi penghubung di antara kedua interaksi mesin tersebut, sementara manusia hanya bertugas sebagai pengatur dan pengawas secara langsung bekerjanya alat tersebut. Tantangan terbesar dalam mewujudkan Internet of Things ialah dengan menyusun jaringan komunikasinya sendiri, dimana jaringan tersebut sangatlah kompleks dan memerlukan sistem keamanan yang ketat.
            Ada beberapa unsur pembentuk IoT yang mendasar termasuk kecerdasan buatan, konektivitas, sensor, keterlibatan aktif serta pemakaian perangkat berukuran kecil. Berikut, kami akan menjelaskan masing-masing unsur pemberntuk tersebut dengan singkat:
-          Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) − IoT membuat hampir semua mesin yang ada menjadi “Smart”. Ini berarti IoT bisa meningkatkan segala aspek kehidupan kita dengan pengembangan teknologi yang didasarkan pada AI. Jadi, pengembangan teknologi yang ada dilakukan dengan pengumpulan data, algoritma kecerdasan buatan, dan jaringan yang tersedia. Sebenarnya ya contohnya bisa jadi mesin yang tergolong sederhana semacam meningkatkan/mengembangkan lemari es/kulkas Anda sehingga bisa mendeteksi jika stok susu dan sereal favorit Anda sudah hampir habis, bahkan bisa juga membuat pesanan ke supermarket secara otomatis jika stok mau habis. Penerapan kecerdasan buatan ini memang sangatlah menarik.
-          Konektivitas − Dalam IoT, ada kemungkinan untuk membuat/membuka jaringan baru, dan jaringan khusus IoT. Jadi, jaringan ini tak lagi terikat hanya dengan penyedia utamanya saja. Jaringannya tidak harus berskala besar dan mahal, bisa tersedia pada skala yang jauh lebih kecil dan lebih murah. IoT bisa menciptakan jaringan kecil tersebut di antara perangkat sistem.
-          Sensor − Sensor ini merupakan pembeda yang membuat IoT unik dibanding mesin canggih lainnya. Sensor ini mampu mendefinisikan instrumen, yang mengubah IoT dari jaringan standar dan cenderung pasif dalam perangkat, hingga menjadi suatu sistem aktif yang sanggup diintegrasikan ke dunia nyata sehari-hari kita.
-          Keterlibatan Aktif (Active Engagement) − Engangement yang sering diterapkan teknologi umumnya yang termasuk pasif. IoT ini mengenalkan paradigma yang baru bagi konten aktif, produk, maupun keterlibatan layanan.
-          Perangkat Berukuran Kecil − Perangkat, seperti yang diperkirakan para pakar teknologi, memang menjadi semakin kecil, makin murah, dan lebih kuat dari masa ke masa. IoT memanfaatkan perangkat-perangkat kecil yang dibuat khusus ini agar menghasilkan ketepatan, skalabilitas, dan fleksibilitas yang baik.

            Implementasi IoT dalam bidang pendidikan sudah banyak dilakukan oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Salah satunya contohnya Universitas Negeri Semarang yang menerapkan kode batang atau barcode di dalam Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) untuk dapat mengidentifikasi pemiliknya dengan cepat. Contoh lainnya penerapan kode RFID (Radio Frequensi Identifity) yang ditempelkan sepatu pelari yang akan mengikuti lomba untuk mendeteksi pelari di garis finis. Transfer data RFID menggunakan gelombang radio, sehingga memudahkan penggunanya untuk mengetahui jumlah maupun keberadaan pelari tersebut. Dengan Internet ini, belajar menjadi lebih dinamis dengan cara mengintegrasikan metode tradisional dengan metode baru (IoT). Selain itu, dampak pembelajaran dengan IoT ini juga dinilai mampu menjadikan pelajaran di kelas serta diskusi antar siswa lebih hidup. Bahkan dengan IoT siswa juga akan mampu mengeksplorasi metode-metode belajar lainnya. Sebagai contoh, siswa dapat belajar dirumah dengan melihat video, terlibat dalam proyek kemudian mendiskusikan hasil belajar di luar kelas tersebut saat kembali ke sekolah.
            Selain itu, teknologi modern dan IoT tidak terbatas hanya pada bagaimana siswa belajar tapi juga dapat meningkatkan keamanan IoT sendiri serta akses yang lebih luas untuk mendapatkan informasi. Selain itu juga dapat melacak sumber daya utama. Pengaruh IoT ini juga memiliki efek lebih jauh lagi bagi para pelajar. Dalam pendidikan tinggi misalnya universitas, sebagai mahasiswa mungkin saat ini telah bosan dengan menggunakan buku, kebanyakan dari mereka lebih suka dengan teknologi seperti smartphone, tablet, laptop dan gadjet lainnya. Dengan IoT ini akses informasi yang mudah di akses dari mana pun dan kapan pun, akan membuat pelajar mampu mempelajari segala sesuatu yang baru. Bahkan akan mendorong para pelajar untuk mempelajari lebih lanjut lagi.
            Selain itu, IoT juga memberikan pekerjaan yang lebih efisien bagi para pengajar dan pelajar. Contohnya adalah, para pengajar mampu mengoptimalkan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh pelajar. Dengan menggunakan cloud, para pengajar juga mampu melihat hasil serta statistik masing-masing pelajar dengan informasi yang lebih cepat dengan cara mengumpulkan data hasil belajar. Selain itu, IoT juga mampu mengurangi biaya operasional sekolah, salah satu contoh sekolah yang sukses mengurangi biaya adalah Sekolah di New Richmonde, Tipp City, Ohio, Amerika Serikat. Dalam laporan, mereka mampu mengurangi sekitar USD128,000 setiap tahunnya dengan menggunakan sistem pembelajaran berbasis web-terpusat untuk mengontrol semua peralatan mekanik di sekolah.
Berikut merupakan beberapa Manfaat Penggunaan Internet dalam Bidang Pendidikan
-          Berbagi hasil penelitian dilakukan di belahan dunia berbeda, sehingga hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang lain.
-          Konsultasi dengan pakar, seorang mahasiswa di pulau kalimantan dapat mengkonsultasikan tugasnya dengan dosen yang berada di pulau jawa dengan memanfaatkan fasilitas internet.
-          Perpustakaan online, memungkinkan seorang pelajar atau mahasiswa dapat mengakses ke sumber-sumber ilmu pengetahuan dengan cara mudah tanpa terbatas jarak dan waktu.
-          Diskusi online adalah diskusi yang dilakukan di internet.
-          Dapat mengakses informasi- informasi hasil penelitian orang lain.
-          Akses ke sumber pengetahuan dapat dilakukan dengan lebih mudah.
-          Akses ke para ahli menjadi lebih mudah karena tidak dibatasi oleh jarak dan waktu.
-          Materi-materi pelajaran disampaikan interaktif dan menarik.
-          Melalui belajar jarak jauh, kendala biaya dan waktu yang mungkin tidak dapat dihindari dengan pendidikan biasa dapat diatasi dengan mengikuti kelas online.

Dari uraian diatas ada beberapa masalah yang penulis utarakan, bagaimana tanggapan anda tentang pemanfaatan  IoT dalam pembelajaran yang kedepannya akan semakin banyak dikembangkan tentunya akan memberikan dampak positif dan negatif ? tantangan guru abad 21 salah satunya diharuskan menguasai IT dan mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran, kendati demikian jangankan pembelajaran berbasis IT, dengan metode konvensional pun masih belum terlaksana dengan baik, bagaimana tanggapan anda tentang fenomena ini ? akankah dengan menerapkan pembelaajaran berbasis IoT ini mampu memperbaiki hasil belajar ?


Kamis, 01 November 2018

materi 8 : Semantic Network Pada Materi Kimia (Ikatan Kimia)


            Semantik dari bahasa yunani,: semantikos, memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Dengan kata lain, Semantik adalah pembelajaran tentang makna. Semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain: sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh komunitas pada konteks tertentu. Semantik Linguistik adalah studi tentang makna yang digunakan untuk memahami ekspresi manusia melalui bahasa. Bentuk lain dari semantik mencakup semantik bahasa pemrograman, logika formal, dan semiotika.
            Kata semantik itu sendiri menunjukkan berbagai ide - dari populer yang sangat teknis. Hal ini sering digunakan dalam bahasa sehari-hari untuk menandakan suatu masalah pemahaman yang datang ke pemilihan kata atau konotasi. Masalah pemahaman ini telah menjadi subyek dari banyak pertanyaan formal, selama jangka waktu yang panjang, terutama dalam bidang semantik formal. Dalam linguistik, itu adalah studi tentang interpretasi tanda-tanda atau simbol yang digunakan dalam agen atau masyarakat dalam keadaan tertentu dan konteks. Dalam pandangan ini, suara, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan proxemics memiliki semantik konten (bermakna), dan masing-masing terdiri dari beberapa cabang studi. Dalam bahasa tertulis, hal-hal seperti struktur ayat dan tanda baca menanggung konten semantik, bentuk lain dari bahasa menanggung konten semantik lainnya.
            Jaringan semantik merupakan salah satu yang dipelajari dalam materi Artificial Inteligence (Kecerdasan Buatan). Jaringan semantik merupakan pengetahuan secara grafis yang menunjukkan hubungan antar berbagai objek. Dalam jaringan semantik terdapat gambaran pengetahuan grafis yang menunjukkan hubungan antar berbagai objek, terdiri dari lingkaran-lingkaran yang dihubungkan dengan anak panah yang menunjukkan objek dan informasi tentang objek-objek tersebut. Sebagai contoh gambar berikut merupakan salah satu gambaran terhadap pengetahuan yang menggunakan jaringan semantik sebagai salah satu alat pengenalnya.
Jaringan semantik merupakan penggambaran grafis dari pengetahuan yang melibatkan hubungan antara obyek-obyek.
Obyek direpesentasikan sebagai simpul (node) pada suatu grafik berbentuk lingkaran dan hubungan antara obyek-obyek dan faktor deskriptif dinyatakan oleh garis penghubung (link) atau garis lengkung (arch) berlabel.
Obyek dapat berupa jenis fisik, seperti:   buku,mobil, meja, atau bahkan orang; erupakan pikiran, seperti: hukum Ohm; suatu peristiwa/ kejadian, seperti: piknik atau suatu pemilihan; atau tindakan, seperti: membuat rumah atau menulis buku.
Atribut obyek, seperti: ukuran, warna, kelas,             umur, asal-usul, atau karakteristik lainnya bisa digunakan sebagai node. Dalam hal ini,   informasi rinci tentang sesuatu obyek bisa ditampilka dengan baik.
             Tujuan pembuatan jaringan semantik adalah untuk merepresentasikan organisasi dari ide-ide dalam materi pembelajaran agar dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran.  Dengan mengajak siswa menganalisis struktur ide-ide yang dipelajari, berarti membantu kita untuk menganalisis struktur pengetahuannya, yang akan membantunya untuk memadukan ide baru dengan ide yang sudah ada.  Sebagai hasilnya, pengetahuan yang diperoleh lebih utuh dan dapat digunakan dengan lebih akurat. Salah satu contoh semantic yang dibuat oleh penulis pada materi ikatan kimia



Dari bahasan diatas, bagaimana pendapat saudara tentang materi kimia yang yang dihubungkan dengan nilai agama ? berikan masukan saudara tentang semantik diatas. Dengan belajar aneka sumber, apakah menjamin tidak akan ada miss konsepsi pada peserta didik ?