Jumat, 22 Maret 2019

Materi VII : Penyusunan Rubrik Penilaian Kreatif (Berpikir Kreatif)


            Kurikulum 2013 menuntut siswa untuk berperan aktif dan keratif dalam proses belajar mengajar di kelas. Kemampuan kreatif merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki siswa. Berpikir, memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu yang baru merupakan kegiatan yang kompleks dan berhubungan erat satu dengan yang lainnya. Suatu masalah tidak dapat dipecahkan tanpa berpikir dan banyak masalah memerlukan pemecahan baru melalui keterampilan kreatif. Kreatif adalah berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki (Listiyarti, 2012: 6).
            Penilaian dalam kurikulum 2013 menggunakan prinsip penilaian berkelanjutan dan komprehensif supaya dapat mendukung upaya memandirikan siswa dalam belajar dan bekerja sama. Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan berbagai jenis data yang dapat memberikan informasi atau gambaran tentang perkembangan belajar siswa. Dalam proses pembelajaran, tidak semua bentuk penilaian dapat cocok dengan kompetensi yang akan dicapai. Akan tetapi sebisa mungkin bentuk penilaian yang digunakan dapat mencakup tiga ranah kompetensi, yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dengan begitu penilaian yang dilakukan tidak hanya tepat tetapi juga lebih komprehensif. Penilaian proyek adalah salah satu jenis penilaian yang komprehensif yang mencakup ketiga ranah tersebut. Teknik penilaian proyek akan memberikan sebuah gambaran kemampuan menyeluruh secara kontekstual mengenai kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan konsep pada materi tertentu (Bahri , 2000).
            Pendapat lainnya mendefiniskan kreatif adalah memiliki kemampuan untuk menciptakan dan bersifat daya cipta, pekerjaan yang menghendaki kecerdasan dan imaginasi (Depdikbud, 1997: 760). Torrance (dalam Busyairi, 2015: 593) menjelaskan bahwa keterampilan kreatif merupakan sebuah keterampilan untuk memikirkan banyak kemungkinan, menggunakan cara yang bervariasi, menggunakan sudut pandang yang berbeda, memikirkan sesuatu yang baru serta untuk membimbing kita dalam menghasilkan dan memilih alternatif. Torrance dalam Leung (1997:82) menjelaskan karakteristik keterampilan kreatif yang dimiliki seseorang dapat dilihat dari kefasihan (fluency), fleksibilitas dan keaslian (originality). Kefasihan, yaitu banyaknya ide-ide yang dibuat dalam merespon sebuah perintah. Fleksibilitas ditunjukkan pada perubahan-perubahan pendekatan ketika merespon perintah, dan kebaruan ditunjukkan pada keaslian ide yang dibuat dalam merespon perintah. Pendapat sendada dikemukakan Silver, dkk (1996: 78) bahwa seseorang dikatakan memiliki keterampilan kreatif filihat dari 
1) kefasihan mengacu pada banyaknya masalah yang diajukan, 
2) fleksibilitas mengacu kategori-kategori masalah yang dibuat, dan 
3) keaslian melihat bagaimana perbedaan respon-respon dalam sekumpulan respon. 

Harsanto (2005:45) menyatakan bahwa ciri orang yang memiliki keterampilan kreatif meliputi: 
1) Membedakan antara fakta, non fakta dan opini; 
2) Membedakan antara kesimpulan definitif dan sementara; 
3) Menguji tingkat kepercayaan;
4) Membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan
5) Berpikir kritis atas materi yang dibacanya; (6) Membuat keputusan;
6) Mengidentifikasi sebab dan akibat; 
7) Mempertimbangkan wawasan lain; 
8) Menguji pertanyaan yang dimilikinya.

            Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan kreatif dapat mengabaikan hubungan yang sudah ada, dan menciptakan hubunganhubungan yang baru. Pengertian ini menunjukan bahwa keterampilan kreatif merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan suatu kombinasi yang belum dikenal sebelumnya. Keterampilan kreatif dapat juga dipandang sebagai
suatu proses yang digunakan ketika seorang individu mendatangkan atau memunculkan suatu ide baru. Ide baru tersebut merupakan gabungan ide- ide sebelumnya yang belum pernah diwujudkan atau masih dalam pemikiran. Keterampilan kreatif ini ditandai adanya ide dan cara baru yang dimunculkan sebagai hasil dari proses berpikir tersebut. Untuk menguatkan keterampilan kreatif diperlukan sebuah ide di dalam bentuk yang memungkinkan pengalamanpengalaman pribadidan reaksi- reaksi tersendiri atau lainya memperkuat keterampilan tersebut.

Munandar (2004: 90) mengemukakan alasan mengapa kreativitas pada diri peserta didik perlu dikembangkan. Pertama, dengan berkreasi maka orang dapat mewujudkan dirinya (Self Actualization). Kedua, pengembangan kreativitas khususnya dalam pendidikan formal masih belum memadai. Ketiga, bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat tetapi juga memberikan kepuasan tersendiri. Keempat, kreativitaslah yang memungkinkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Unsur kreatif diperlukan dalam menyelesaikan masalah. Semakin kreatif seseorang, semakin banyak alternatif penyelesaiannya. Keterampilan kreatif membantu siswa dalam menyesuaikan diri dengan perubahan. Para ahli percaya bahwa perubahan berjalan cepat. Oleh karena itu, membantu siswa mengembangkan keterampilan kreatif yang dapat menuntun mereka menyesuaikan diri dengan kondisi hidupnya akan sangat berguna bagi kehidupannya.

Usaha-usaha Orang Tua dan Guru Mengembangkan Kreativitas
Dalam mengembangkan kreativitas ini guru sangat diharapkan peran yang aktif untuk memberikan pemahaman pada remaja yang menjadi peserta didiknya. Usaha-usaha guru adalah:
  • Membantu anak/peserta didik untuk memahami latar belakang mereka, pengalaman mereka dan kebiasaan perilaku. Pada cara ini diizinkan masing-masing pribadi untuk mengembangkan potensi dirinya.
  • Guru dan orang tua dapat menciptakan suasana untuk mendorong pemikiran kreatif dengan menghilangkan halangan luar dari kreativitas. Sensitifitas pada problem ditingkatkan, metode untuk membahas membebaskan imajinasi dapat dikembangkan dan sarana sistematis untuk mengevaluasi ide-ide dapat diajarkan pula.
  • Anak/peserta didik diberi kesempatan untuk mempraktekkan pemikiran kreatif dalam suasana yang terkendali dan terkontrol.
  • Cara-cara mengembangkan imajinasi anak/peserta didik dengan memberikan masalah-masalah yang dapat meningkatkan inteligensi remaja untuk membuahkan ide-ide yang baik, kriteria yang berbeda pada keunikan dan kegunaan.
  • Guru dan orang tua harus memberikan cara instruksi yang semantik didalam menerapkan imajinasi yang dapat menghasilkan pengembangan potensi yang ada pada diri remaja.

Kemampuan memberikan penilaian atau evaluasi terhadap suatu obyek atau situasi juga mencerminkan kreativitas, jika dalam penilaiannya seseorang mampu melihat obyek, situasi, atau masalahnya dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Ciri-ciri berpikir kreatif (aptitude) (Munandar, 2008) seperti terlihat pada tabel berikut:
Pengertian
Perilaku
Berpikir Lancar (Fluency)
1. Mencetuskan banyak gagasan,
jawaban, penyelesaian masalah
atau jawaban.
2. Memberikan banyak cara atau
saran untuk melakukan berbagai
hal.
3. Selalu memikirkan lebih dari satu
jawaban.
a. Mengajukan banyak pertanyaan.
b. Menjawab dengan sejumlah
jawaban jika ada.
c. Mempunyai banyak gagasan
mengenai suatu masalah.
d. Lancar mengungkapkan
gagasangagasannya.
e. Bekerja lebih cepat dan melakukan
lebih banyak dari orang lain.
f. Dapat dengan cepat melihat
kesalahan dan kelemahan dari
suatu objek atau situasi.
Berpikir Luwes (Flexibility)
1. Menghasilkan gagasan, jawaban,
atau pertanyaan yang bervariasi.
2. Dapat melihat suatu masalah dari
sudut pandang yang berbeda.
3. Mencari banyak alternatif atau arah
yang berbeda.
4. Mampu mengubah cara pendekatan
atau pemikiran.
a. Memberikan bermacam-macam
penafsiran terhadap suatu gambar,
cerita atau masalah.
b. Menerapkan suatu konsep atau asas
dengan cara yang berbeda-beda.
c. Jika diberikan suatu masalah
biasanya memikirkan bermacam
macam cara untuk menyelesaikan.
Berpikir Orisinil (Originality)
1. Mampu melahirkan ungkapan yang
baru dan unik.
2. Memikirkan cara-cara yang tak
lazim untuk mengungkapkan diri.
3. Mampu membuat kombinasi
kombinasi yang tak lazim dari
bagian-bagian atau unsur-unsur.
a. Memikirkan masalah-masalah atau
hal yang tidak terpikirkan orang
lain.
b. Mempertanyakan cara-cara yang
lama dan berusaha memikirkan
cara-cara yang baru.
c. Memilih cara berpikir lain daripada
yang lain.
Berpikir Elaboratif (Elaboration)
1. Mampu memperkaya dan
mengembangkan suatu gagasan
atau produk.
2. Menambah atau merinci detail
detail dari suatu objek, gagasan
atau situasi sehingga menjadi lebih
menarik.
a. Mencari arti yang lebih mendalam
terhadap jawaban atau pemecahan
masalah dengan melakukan
langkah-langkah yang terperinci.
b. Mengembangkan atau memperkaya
gagasan orang lain.
c. Menambah garis-garis, warna
warna, dan detail-detail terhadap
gambarnya sendiri atau gambar
orang lain.
Berpikir Evaluatif (Evaluation)
1. Menentukan kebenaran suatu
pertanyaan atau kebenaran suatu
penyelesaian masalah.
2. Mampu mengambil keputusan
terhadap situasi terbuka.
3. Tidak hanya mencetuskan gagasan
tetapi juga melaksanakannya.
a. Memberi pertimbangan atas dasar
sudut pandang sendiri.
b. Mencetuskan pandangan sendiri
mengenai suatu hal.
c. Mempunyai alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
d. Menentukan pendapat dan bertahan
terhadapnya.

Proses Berpikir Kreatif
Siswono & Kurniawati dalam Iswanti (2016:633) menyatakan bahwa berpikir merupakan proses yang dinamis yang dapat dilukiskan menurut proses atau jalannya. Rusyna (2014:118) menjelaskan bahwa teori proses kreatif terdiri dari empat tahap yaitu: (1) kejenuhan (saturation), (2) inkubasi (incubation), (3) inspirasi (inspiration), dan (4) verifikasi (verification). Menurut De Porter dan Mike Hernacki dalam Uno (2014:164) ada lima proses kreatif yang diungkapkannya, yaitu:
1.      Persiapan, mendefinisikan masalah, tujuan atau tantangan.
2.      Inkubasi, mencerna fakta-fakta dan mengolahnya dalam pikiran.
3.      Iluminasi, mendesak ke permukaan, gagasan-gagasan bermunculan.
4.      Verifikasi, memastikan bahwa solusi itu benar-benar memecahkan masalah.
5.      Aplikasi, mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti solusi tersebut.


Komponen-komponen berpikir kreatif dapat ditemukan berdasarkan pendapat para ahli. Menurut Santrock (2007) kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir dalam cara-cara yang baru dan tidak biasa serta menghasilkan pemecahan masalah yang unik. Stenberg (2012) dan Runco (2007) juga sepakat bahwa kreativitas adalah proses memproduksi sesuatu yang orisinil dan bernilai.  Lebih lanjut Pehkonen & Helsinki (1997) menyatakan bahwa berpikir kreatif adalah suatu kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen yang didasarkan pada intuisi tetapi masih dalam kesadaran. Silver (1997) juga menjelaskan bahwa komponen berpikir kreatif mencakup kefasihan (fluency), fleksibilitas (flexibility) dan kebaruan (novelty). Hubungan komponen tersebut dengan pengajuan dan pemecahan  masalah seperti pada tabel berikut:

 Hubungan pemecahan dan pengajuan masalah dengan komponen kreativitas (Silver, 1997)
Pemecahan Masalah
Komponen
Kreativitas
Pengajuan Masalah
Siswa menyelesaikan masalah dengan bermacam-macam interpretasi, metode penyelesaian atau jawaban masalah.
Kefasihan
Siswa membuat banyak masalah yang dapat dipecahkan.
Siswa memberikan masalah yang diajukan.
Siswa memecahkan masalah dalam satu cara, kemudian dengan menggunakan cara lain. Siswa mendiskusikan berbagai metode penyelesaian.
Fleksibilitas
Siswa mengajukan masalah yang cara penyelesaian
berbeda-beda. Siswa menggunakan pendekatan
“what-if-not?” untuk mengajukan masalah.
Siswa memeriksa beberapa   metode penyelesaian atau jawaban, kemudian membuat lainnya yang berbeda.
Kebaruan
Siswa memeriksa beberapa masalah yang diajukan,
kemudian mengajukan suatu masalah yang berbeda.


INSTRUMEN LEMBAR OBSERVASI AFEKTIF BERPIKIR KREATIF SISWA
No.
Aspek Afektif Berpikir Kreatif
Skor
Skor
Skor
Skor
1
2
3
4
1.
Berani mengambil resiko


2.
Berani dan antusias dalam mengemukakan
pendapat serta menjawab pertanyaan dengan
memberi jawaban yang lebih banyak


3.
Rasa ingin tahu yang besar


4.
Menyukai tantangan dan pengalaman baru


5.
Tidak mudah putus asa




RUBRIK PENILAIAN AFEKTIF BERPIKIR KREATIF

No
Aspek
Skor
1.
Berani mengambil resiko
Tingkat ketercapaian :
4 : Sangat berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh
orang lain
3 : Cukup berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh
orang lain
2:Kurang berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh
orang lain
1: Sangat tidak berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh
orang lain
2.
Berani dan antusias dalam
mengemukakan pendapat serta
menjawab pertanyaan dengan
memberi jawaban yang lebih
banyak
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas
3: Cukup berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas
2: Kurang berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas
1: Sangat tidak berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas
3
Rasa ingin tahu yang besar
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran
3: Cukup berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran
2: Kurang berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran
1: Sangat tidak berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran
4.
Menyukai tantangan dan
pengalaman baru
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran
3: Cukup antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran
2: Kurang antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran
1: Sangat tidak antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran
5.
Tidak mudah putus asa
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat semangat dan tidak mudah putus asa dalam memecahkan masalah
3: Cukup Semangat dan tidak mudah putus asa dalam memecahkan masalah
2: Kurang semangat dan mudah putus asa dalam memecahkan masalah
1: Tidak semangat dan sangat mudah putus asa dalam memecahkan ma

Kriteria skoring Kemampuan Berpikir Kreatif

(Ennis dalam Nitko &Brookhart, 2007)

Skor
Kriteria
1
Jawaban tidak menyatakan point utama,jawaban yang diberikan
alasan yang relevan,tidak memberikan alasan yang mendukung
pernyataan,jawaban yang diberikan kurang sesuai dengan apa yang
dimaksudkan dalam soal
2
Jawaban menyatakan point utama tetapi tidak secara jels,memberikan
alasan yang mendukun tetapi di luar target,serta memberikan fakta
yang mendukung tetapi secara umum tidak lengkap dan tidak sesuai
dengan sumber yang terpercaya
3
Jawaban menyatakan point utama atau pernyataan secara jelas tetapi
anya sesuai dengan wacana,memberikan alasan yang relevan yang
mendukung dengan lebih baik atau alasan beragam.serta memberikan
beberapa fakta yang sesuai mendukung dan secara umum fakta-fakta
tersebut sesuai dan relevan
4
Jawaban menyatakan point utama atau pernyataan secara
jelas,antusias dan menarik,memberikan alsan relevan yang
mendukung dengan lebih baik atau alasan yang beragam,serta
memberikan beberapa fakta yang secara umum sesuai mendukung

Dari uraian diatas bisa dilihat rubrik penilaian yang berfokus pada aspek afektif. Menurut anda bagaimana kelayakan rubrik tersebut ? apakah rubrik ini mencakup apa yang diinginkan oleh kurikulum 2013 ? berikan pandangan anda tentang hal ini ? Selanjutnya, jika ada salah satu aspek dari berfikir kreatif tidak terpenuhi, apakah bisa dikatakan anak sudah berhasi ? berikan argumen dan alasan anda.



11 komentar:

  1. Dari uraian diatas bisa dilihat rubrik penilaian yang berfokus pada aspek afektif. Menurut anda bagaimana kelayakan rubrik tersebut ? apakah rubrik ini mencakup apa yang diinginkan oleh kurikulum 2013 ? berikan pandangan anda tentang hal ini ?
    .
    Menurut saya sebaiknya rubrik penilaian afektif anda dibuat dengan mengkaitkan sikap yang dilakukan siswa dengan materinya langsung, Misal pada materi larutan asam basa, pada aspek berpikir kreatif fleksibilitas. Permasalahannya misal "Suatu hari disiang yang sangat terik, ani merasa kehausan maka dihari itu dia meminum air soda coca cola dan saat itu juga perut ani terasa pedih dan sakit, di hari lainnya ani diberikan air zam-zam oleh tetangganya yang baru pulang haji namun ani tidak merasa pedih pada perutnya. Lantas mengapa demikian? (Nah ini mengarah kepada aspek berpikir luwe dimana siswa dapat memecahkan masalah melalui teori-teori yang mendukung). Maksut saya disni adalah sebaiknya anda mengatakan "siswa merasa tertantang dalam mencari teori dan konsep yang mendukung dalam menjawab permasalahan air coca cola yang terasa perih diperut dan air zam-zam yang tidak terasa perih diperut". Dan satu lagi dalam penilaian afektif pun anda perlu memasukan aspek berpikir kreatif seperti berpikir luwes, berpikir lancar, berpikir original, berpikir elaboratif tidak hanya rasa ingin tahu dsb.

    BalasHapus
  2. saya akan mencoba menjawab pertanyaan dhani, yakni jika ada salah satu aspek dari berfikir kreatif tidak terpenuhi, apakah bisa dikatakan anak sudah berhasil ? berikan argumen dan alasan anda.

    menurut saya jika hanya salah satu saja dari aspek kreativitas yang terpenuhi maka belum dikatakan siswa tersebut memiliki kreativitas yang tinggi, kreativitas memiliki dimensi aptitude dan non aptitude yakni kognitif dan afektif, siswa dikatakan memiliki pikiran kreatif jika memiliki aspek elaborasi, luwes,lancar,dan orisinil, siswa dikatakan bersikap kreatif jika memiliki sikap merasa tertantang, berani mengambil resiko dan imajinatif. menurut saya kesemua ini haruslah muncul jika ingin menilai kreativitas siswa ( aspek minimal 1 indikator dijabarkan).
    (dalam menilai sesuatu hasilnya tidak akan cukup kuat jika salah satu saja yang diteliti, termasuk kreativitas)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika ada salah satu aspek dari berfikir kreatif tidak terpenuhi, apakah bisa dikatakan anak sudah berhasi ? berikan argumen dan alasan anda.
      Menyambung pernyataan kak Rini, jika yg disampaikan abng dani jika salah satu aspek tidak terpenuhi, menurut saya bisa dikatakan berhasil hanya tidak maksimal, dengan tambahan bahwa salah satu aspek tidak tercapai,
      Pasti ada faktor yg mempengaruhi, ini yg menjadi acuan kita untuk pembelajarn slanjutnya agar lebih maksimal.

      Hapus
    2. sependapat dengan kak rini dan bang sugeng bahwa jika ditanyakan berhasil atau tidak nya bisa dilihat setelah pelaksanaan namun juga bisa kita lihat pada penyusunan rubrik nya nah jika salah satu aspek nya tidak terpenuhi sebenarnya sudah berhasil namun belum berhasil secara maksimal karna siswa dikatakan memiliki pikiran kreatif jika memiliki aspek elaborasi, luwes,lancar,dan orisinil, siswa dikatakan bersikap kreatif jika memiliki sikap merasa tertantang, berani mengambil resiko dan imajinatif. menurut saya kesemua ini haruslah muncul jika ingin menilai kreativitas siswa ( aspek minimal 1 indikator dijabarkan).

      Hapus
    3. saya sependapat dengan teman-teman jika salah satu aspek tidak terpenuhi, bisa dikatakan berhasil hanya saja tidak maksimal, dengan tambahan bahwa salah satu aspek tidak tercapai,
      pasti ada faktor yg mempengaruhi.

      Hapus
  3. Menurut saya siswa tidak bisa di katakan tidak berhasil. Hanya karna 1 aspek yg tidak muncul. Mungkin ada hal hal yang membuat 1 aspek siswa itu tidak muncul. Yaitu dari cara ukur guru yg terlalu monoton ke aspek lainnya sehingga 1 aspek itu tidak muncul.

    BalasHapus
  4. Menurut anda bagaimana kelayakan rubrik tersebut ? apakah rubrik ini mencakup apa yang diinginkan oleh kurikulum 2013 ? berikan pandangan anda tentang hal ini ?
    menurut saya disini bang dani harus mencantumkan KD materi dan indikator ketercaian dari kompetensi yang dibuat, karena jika langsung hal tersebut maka belum bisa dikatakan layak

    Selanjutnya, jika ada salah satu aspek dari berfikir kreatif tidak terpenuhi, apakah bisa dikatakan anak sudah berhasi ? berikan argumen dan alasan anda.
    berpikir kreatif memiliki 4 hingga 5 indkkator untuk melihat anak bs memenuhi hal tersebut maka anak harus memiliki 4 aspek karena aspek kelima yaitu terkait sensitivisme yang biasanya dihubungkan dengan waktu jawaban

    BalasHapus
  5. jika ada salah satu aspek dari berfikir kreatif tidak terpenuhi, apakah bisa dikatakan anak sudah berhasiL?

    Menurut saya tidak bisa dikatakan berhasil karena salah satu aspek tersebut tidak terpenuhi. penilaian berpikir kreatif atau kreativitas siswa akan berhasil jika semua poin akan terpenuhi karena indikator berpikir kreatif sudah ada, jika kehilangan salah satu indikatornya maka tidak dapat dikatakan siswa mampu berpkir kreatif

    BalasHapus
  6. jika ada salah satu aspek dari berfikir kreatif tidak terpenuhi, apakah bisa dikatakan anak sudah berhasi ? berikan argumen dan alasan anda.
    berpikir kreatif sendiri sesungguhnya berkisar pada persoalan menghasilkan sesuatu yang baru dari hasil berpikirnya. yang memiliki yaitu aspek elaborasi, luwes,lancar,dan orisinil. contohnya jika salah satu tidak terpenuhi. misalnya, aspek orisinil maka menurut saya tidak termasuk berpikir kreatif.

    BalasHapus
  7. jika ada salah satu aspek dari berfikir kreatif tidak terpenuhi, apakah bisa dikatakan anak sudah berhasil ?

    Menurut saya tidak dpt dikatan berhasil karena setiap aspek saling melengkapi dan juga jika salah satu tidak terpenuhi makan dapat dikatan tidk sempurna.

    Dari beberapa aspek itu lah pertama, dpt melihat kreasi yg mewujudkan dirinya dari kreativitaslah yang memungkinkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

    BalasHapus
  8. menagnggapi pertanyaan tentang rubrik penilaian diatas yang berfokus pada aspek afektif bagaimana kelayakan rubrik tersebut ? apakah rubrik ini mencakup apa yang diinginkan oleh kurikulum 2013 ? berikan pandangan anda tentang hal ini.
    menurut saya kelayakan suatu instrumen penialain itu harus ditentukan dengan serangkaian pengujian seperti ahli dan praktisi barulah bisa dikatak bahwa instrumen penialian tersebut dapat dikatakan layak untuk dapat menilaian kemampuan siswa. namun secara sekilas dari rubrik dan instrumen observasi yang telah dibuat sudah cukup mewakili dari indikator kemampuan berpikir kreatif siswa pada aspek afektif yang mana digolongkan pada non-aptitude yang diantaranya memilik indikator Berani mengambil resiko, Berani dan antusias dalam mengemukakan pendapat serta menjawab pertanyaan dengan memberi jawaban yang lebih banyak, Rasa ingin tahu yang besar, Menyukai tantangan dan pengalaman baru, Tidak mudah putus asa

    BalasHapus