Penilaian Keterampilan Proses Sains
dalam Pembelajaran Kimia
Pembelajaran
kimia sebagai bagian dari pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memiliki
peranan penting dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di
Indonesia. Mata pelajaran kimia merupakan salah satu mata pelajaran sains yang
diterima siswa di SMA. Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan
dikembangkan berdasarkan eksperimen yang mencari jawaban atas pertanyaan apa,
mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam, khususnya berkaitan dengan
komposisi, struktur dan sifat, transformasi, dinamika dan energetika zat. Oleh
karena itu pembelajaran kimia dituntut untuk mempelajari ini dan penerapannya
untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Ilmu kimia merupakan produk temuan
saintis dan proses.
Kurikulum 2013 yang diterapkan pada pendidikan
menghendaki adanya pendekatan ilmiah didalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah
yang dimaksud disini adalah pendekatan saintifik yaitu pembelajaran yang
terdiri dari kegiatan mengamati, merumuskan pertanyaan, mencoba/mengumpulkan data,
mengolah data, menarik kesimpulan, serta mengomunikasikan. Didalam
pendekatan saintifik ini ditekankan menggunakan ketrampilan proses sains.
Ketrampilan proses sains merupakan pendekatan dimana siswa dituntut untuk
menerapkan metode-metode ilmiah selama kegiatan pembelajaran.
Menurut Smith dan Welliver, pelaksanaan
penilaian keterampilan proses dapat dilakukan dalam beberapa bentuk,
diantaranya:
- Pretes
dan postes. Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains
siswa pada awal tahun sekolah. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan
kekuatan dan kelemahan dari masing-masing siswa dalam keterampilan yang
telah diidentifikasi. Pada akhir tahun sekolah, guru melaksanakan tes
kembali untuk mengetahui perkembangan skor siswa setelah mengikuti
pembelajaran sains.
- Diagnostik.
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa pada awal
tahun ajaran. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan pada bagian mana
siswa memerlukan bantuan dengan keterampilan proses. Kemudian guru
merencanakan pelajaran dan kegiatan laboratorium yang dirancang untuk
mengatasi kekurangan siswa.
- Penempatan
kelas. Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa sebagai
salah satu kriteria dalam penempatan kelas. Misalnya, criteria untuk
memasuki kelas akselerasi, kelas sains atau kelas unggulan.
- Pemilihan
kompetisis siswa. Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains
siswa sebagai kriteria utama dalam pemilihan siswa yang akan ikut dalam
lomba-lomba sains. Jika siswa memiliki skor tes tinggi, maka dia akan
dapat mengikuti lomba sains dengan baik.
- Bimbingan
karir. Biasanya para peneliti melakukan uji coba menggunakan penilaian
keterampilan proses sains untuk mengidentifikasi siswa yang memiliki
potensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dibina.
Penilaian keterampilan proses sains dilakukan dengan
menggunakan instrumen yang disesuaikan dengan materi dan tingkat
perkembangan siswa atau tingkatan kelas (Rezba, 1999). Oleh karena itu,
penyusunan instrumen penilaian harus direncanakan secara cermat sebelum
digunakan. Menurut Widodo (2009), penyusunan instrumen untuk penilaian
terhadap keterampilan proses siswa dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
- Mengidentifikasikan
jenis keterampilan proses sains yang akan dinilai.
- Merumuskan
indikator untuk setiap jenis keterampilan proses sains.
- Menentukan
dengan cara bagaimana keterampilan proses sains tersebut diukur (misalnya
apakah tes unjuk kerja, tes tulis, ataukah tes lisan).
- Membuat
kisi-kisi instrumen.
- Mengembangkan
instrumen pengukuran keterampilan proses sains berdasarkan kisi-kisi yang
dibuat. Pada saat ini perlu mempertimbangkan konteks dalam item tes
keterampilan proses sains dan tingkatan keterampilan proses sains (objek
tes)
- Melakukan
validasi instrumen.
- Melakukan
ujicoba terbatas untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas empiris.
- Perbaikan
butir-butir yang belum valid.
- Terapkan
sebagai instrumen penilaian keterampilan proses sains dalam pembelajaran
sains.
Pada langkah-langkah penyusunan instrument di atas,
pencarian validitas dan reabilitas empiris terutama dilakukan untuk penilaian
keterampilan proses sains yang beresiko tinggi. Penilaian yang beresiko tinggi
yang dimaksud adalah penilaian dalam penelitian, penilaian dalam skala besar
atau penilaian untuk tujuan tertentu.
Pengukuran terhadap keterampilan proses siswa, dapat
dilakukan dengan menggunakan instrumen tertulis. Pelaksanaan pengukuran dapat
dilakukan secara tes (paper and pencil test) dan bukan tes. Penilaian
melalui tes dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis (paper and pencil
test). Sedangkan penilaian melalui bukan tes dapat dilakukan dalam bentuk
observasi atau pengamatan. Menurut Bajah (2000), penilaian dalam keterampilan
proses agak sulit dilakukan melalui tes tertulis dibandingkan dengan teknik
observasi. Namun demikian, menggunakan kombinasi kedua teknik penilaian
tersebut dapat meningkatkan akurasi penilaian terhadap keterampilan proses
sains.
Komponen-komponen
keterampilan proses sains adalah sebagai berikut:
1.
Mengamati
Mengamati
adalah proses pengumpulan data tentang fenomena atau peristiwa dengan
menggunakan indranya. Untuk dapat menguasai keterampilan mengamati, siswa
harus menggunakan sebanyak mungkin indranya, yakni melihat,
mendengar, merasakan, mencium dan mencicipi.
2.
Mengelompokkan/Klasifikasi
Mengelompokkan
adalah suatu sistematika yang digunakan untuk menggolongkan sesuatu berdasarkan
syarat-syarat tertentu. Proses mengklasifikasikan tercakup beberapa kegiatan
seperti mencari kesamaan, mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri,
membandingkan, dan mencari dasar penggolongan.
3.
Menafsirkan
Menafsirkan
hasil pengamatan ialah menarik kesimpulan tentatif dari data yang dicatatnya.
Hasil-hasil pengamatan tidak akan berguna bila tidak ditafsirkan. Karena itu,
dari mengamati langsung, lalu mencatat setiap pengamatan secara terpisah,
kemudian menghubung-hubungkan hasil-hasil pengamatan itu. Selanjutnya siswa
mencoba menemukan pola dalam suatu seri pengamatan.
4.
Meramalkan
Meramalkan
adalah memperkirakan berdasarkan pada data hasil pengamatan yang reliabel
(Firman, 2000). Apabila siswa dapat menggunakan pola-pola hasil pengamatannya
untuk mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamatinya,
maka siswa tersebut telah mempunyai kemampuan proses meramalkan atau
memprediksi.
5.
Mengajukan pertanyaan
Keterampilan
proses mengajukan pertanyaan dapat diperoleh siswa dengan mengajukan pertanyaan
apa, mengapa, bagaimana, pertanyaan untuk meminta penjelasan atau pertanyaan
yang berlatar belakang hipotesis.
6.
Merumuskan hipotesis
Hipotesis
adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau
pengamatan tertentu.
7.
Merencanakan percobaan
Agar siswa
dapat memiliki keterampilan merencanakan percobaan maka siswa tersebut harus
dapat menentukan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan.
Selanjutnya, siswa harus dapat menentukan variabel-variabel, menentukan
variabel yang harus dibuat tetap, dan variabel mana yang berubah. Demikian pula
siswa perlu untuk menentukan apa yang akan diamati, diukur, atau ditulis,
menentukan cara dan langkah-langkah kerja. Selanjutnya siswa dapat pula
menentukan bagaimana mengolah hasil-hasil pengamatan.
8.
Menggunakan alat dan bahan
Untuk dapat
memiliki keterampilan menggunakan alat dan bahan, dengan sendirinya siswa harus
menggunakan secara langsung alat dan bahan agar dapat memperoleh pengalaman
langsung. Selain itu, siswa harus mengetahui mengapa dan bagaimana cara
menggunakan alat dan bahan.
9.
Menerapkan konsep
Keterampilan
menerapkan konsep dikuasai siswa apabila siswa dapat menggunakan konsep yang
telah dipelajarinya dalam situasi baru atau menerapkan konsep itu pada
pengalaman-pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
10.
Berkomunikasi
Keterampilan
ini meliputi keterampilan membaca grafik, tabel, atau diagram dari hasil
percobaan. Menggambarkan data empiris dengan grafik, tabel, atau diagram juga termasuk
berkomunikasi. Menurut Firman (2000), keterampilan berkomunikasi adalah
keterampilan menyampaikan gagasan atau hasil penemuannya kepada orang
lain.
Pada
langkah-langkah penyusunan instrument, pencarian validitas dan reabilitas
empiris terutama dilakukan untuk penilaian keterampilan proses sains yang
beresiko tinggi. Penilaian yang beresiko tinggi yang dimaksud adalah penilaian
dalam penelitian, penilaian dalam skala besar atau penilaian untuk tujuan tertentu.
Pengukuran
terhadap keterampilan proses siswa, dapat dilakukan dengan menggunakan
instrumen tertulis. Pelaksanaan pengukuran dapat dilakukan secara tes (paper
and pencil test) dan bukan tes. Penilaian melalui tes dapat dilakukan dalam
bentuk tes tertulis (paper and pencil test). Sedangkan penilaian melalui
bukan tes dapat dilakukan dalam bentuk observasi atau pengamatan. Menurut Bajah
(2000), penilaian dalam keterampilan proses agak sulit dilakukan melalui tes
tertulis dibandingkan dengan teknik observasi. Namun demikian, menggunakan
kombinasi kedua teknik penilaian tersebut dapat meningkatkan akurasi penilaian
terhadap keterampilan proses sains.
Penilaian
keterampilan proses melalui tes tertulis
Penilaian
secara tertulis terhadap keterampilan proses sains dapat dilakukan dalam bentuk
essai dan pilihan ganda . Pertanyaan yang disusun dalam bentuk pertanyaan
konvergen dan pertanyaan divergen. Penilaian dalam bentuk essai
memerlukan jawaban yang berupa pembahasan atau uraian kata-kata. Jawaban yang
dituliskan oleh siswa akan lebih bersifat subjektif, yang berarti menggambarkan
pemahaman yang lebih indiviualistik.
Sebuah
contoh konstruksi instrument penilaian secara tertulis dalam bentuk tes essai,
sebagai berikut:
Sebuah
percobaan dilakukan untuk mengetahui pengaruh air terhadap pertumbuhan tanaman
jagung. Setelah dilakukan pengukuran dalam selama tujuh hari, diperoleh data
sebagai berikut:
Hari Ke-
|
Tinggi
tanaman (cm)
|
|
Disiram
air setiap hari
|
Tidak
disiram air
|
|
1
|
5
|
5
|
2
|
7
|
6
|
3
|
8,5
|
6,5
|
4
|
11
|
6,9
|
5
|
12,8
|
7,2
|
6
|
14
|
7,3
|
7
|
15,9
|
7,3
|
Pertanyaan:
- Tuliskan
rumusan masalah pada percobaan di atas! (skor 2)
________________________________________________________
- Buatlah
kesimpulan berdasarkan data hasil percobaan di atas! (skor 2)
________________________________________________________
Pengukuran
keterampilan proses yang dilakukan melakui tes yang dikontruksi dalam bentuk
pertanyaan pilihan ganda, kemungkinan jawaban atas pertanyaan sudah disiapkan
dan biasanya terdiri atas empat atau lima pilihan. Penilaian yang diperoleh
dengan menggunakan pilihan jawaban dapat memberikan hasil yang lebih obyektif,
sebab jawaban atas masalah yang ada telah ditetapkan. Menurut
Arikunto (2009), penilaian dalam bentuk pilihan ganda, lebih representative
mewakili isi dan luas bahan atau materi. Selain itu, dalam proses pemeriksaan
dapat terhindar dari unsur-unsur subjektivitas. Namun demikian, penggunaan penilaian
model ini, cenderung mengungkapkan daya pengenalan kembali dan banyak memberi
peluang tebakan. Hasil yang diperoleh pun dapat berbeda dengan kondisi siswa
yang sesungguhnya.
Smith dan Welliver telah
mengembangkan instrumen penilaian untuk mengukur keterampilan proses sains bagi
siswa sekolah dasar dan sekolah menengah. Instrumen tes tertulis disusun dalam
bentuk pertanyaan pilihan ganda. Untuk menjawab soal ini, siswa terlibat dalam
pemecahan masalah dan mengharuskan menerapkan keterampilan proses yang tepat untuk
setiap pertanyaan.
Penilaian
keterampilan proses melalui bukan tes
Penilaian
melalui keterampilan proses sains melalui bukan tes dapat dilakukan dalam
bentuk observasi atau pengamatan. Pengamatan dalam penilaian ini dapat
dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Selama proses kegiatan
pembelajaran sains dilaksanakan, guru dapat melakukan penilaian dengan
mengamati perilaku siswa secara langsung dalam menunjukkan kemampuan
keterampilan proses sains yang dimiliki. Selain itu, hasil-hasil pekerjaan
tugas siswa atau produk hasil belajar siswa juga dapat diamati untuk menilai
keterampilan proses siswa secara integrative.
Menurut
Sumiati dan Asra (2008), Arikunto (2009) dan Widyatiningtyas (2010), penilaian
keterampilan proses dengan melalui bukan tes diperlukan lembar pengamatan yang
lebih rinci untuk menilai perilaku yang diharapkan. Lembar pengamatan ini dapat
berupa rubrik, daftar chek atau skala bertingkat. Menilai siswa dengan
menggunakan rubrik, dapat mendeterminasikan kemampuan siswa berdasarkan
kriteria-kriteria yang ditetapkan. Rubrik penilaian memuat kriteria esensial
terhadap tugas atau standar keterampilan proses sains serta level unjuk
kerja yang tepat terhadap setiap kriteria.
Sebuah
contoh rubrik penilaian untuk mengukur kegiatan percobaan laboratorium dapat
disajikan, sebagai berikut:
Tabel 1.
Rubrik Percobaan Laboratorium
Kriteria
|
Skor
|
|||
4
(sangat
baik)
|
3
(baik)
|
2
(cukup)
|
1
(kurang)
|
|
Tujuan
percobaan
|
Mengidentifikasi
tujuan dan cirri khusus
|
Mengidentifikasi
tujuan
|
Mengidentifikasi
sebagian tujuan
|
Salah
mengidentifikasi tujuan
|
Alat dan
Bahan
|
Melist
semua alat dan bahan
|
Melist
semua bahan
|
Melist
beberapa bahan
|
Salah
melist bahan
|
Hypotesis
|
Memprediksi
dengan benar fakta dan membuat hipotesis
|
Memprediksi
dengan benar fakta
|
Memprediksi
dengan beberapa fakta
|
Menebak-nebak
|
Prosedur
|
Melist
semua tahap dan detail-detail khusus
|
Melist
semua tahap
|
Membuat list
beberapa tahap
|
Salah
melist tahap
|
Hasil
|
Data
direkam, diorganisir, dan digrafiskan
|
Data
direkam, diorganisir
|
Data
direkam
|
Hasil
salah atau tidak betul
|
Simpulan
|
Tampak
memahami konsep dan membuat hipotesis baru untuk aplikasi pada situasi lain.
|
Tampak
memahami konsep yang telah dipelajari
|
Tampak
memahami beberapa konsep
|
Tidak ada
kesimpulan atau tampak miskonsepsi
|
Sebagaimana
pada contoh di atas, sebuah rubric memuat dua komponen, yaitu kriteria dan
level unjuk kerja (performance). Pada setiap rubrik terdiri atas minimal
dua criteria dan dua level unjuk kerja. Criteria biasanya ditempatkan pada
kolom paling kiri, sedangkan level unjuk kerja ditempatkan pada baris paling
atas dalam tabel rubrik. Untuk memudahkan dalam penggunaannya, level unjuk
kerja terdiri atas level kuantitatif berupa angka (1, 2, 3, dan 4) dan level
kualitatif.
Dalam rubrik
biasanya juga disertai dengan deskriptor. Dekriptor menyatakan harapan kondisi
siswa pada setiap level unjuk kerja untuk setiap criteria. Pada contoh rubrik,
dapat dilihat adanya perbedaan diskriptor antara tujuan kegiatan yang
dirumuskan dengan sangat baik dan tujuan kegiatan yang dirumuskan dengan baik.
Pada descriptor, siswa dapat melihat syarat unjuk kerja untuk mencapai sebuah
level kriteria. Bagi guru, descriptor dapat membantu guru untuk memberikan
penilaian secara konsisten pada hasil kerja siswa.
Dalam
implementasinya, penilaian melalui observasi dengan menggunakan rubrik
penilaian memiliki beberapa keunggulan. Ketika rubrik penilaian ini
dikomunikasikan kepada siswa di awal pembelajaran, ekspektasi terhadap
pencapaian level keterampilan proses dapat diidentifikasikan dan dipahami
secara baik oleh siswa. Observasi dapat menghasilkan penilaian yang konsisten
dan obyektif. Selain itu, hasil penilaian dapat menghasilkan umpan balik (feedback)
yang lebih baik. Hasil penilaian dapat menunjukkan level khusus performans
siswa selanjutnya yang harus dicapai oleh siswa. Dalam hal ini, guru dan siswa
dapat mengetahui secara pasti, area kebutuhan siswa yang perlu pengembangan.
Dengan
demikian, perihal rencana penilaian yang dilakukan untuk mengukur keterampilan
proses sains dapat dikomunikasikan secara pasti kepada siswa sebelum
pelaksanaan pembelajaran. Siswa sebagai subyek pembelajaran dapat menentukan
target yang harus dicapai selama proses pembelajaran berlangsung. Penilaian pun
dapat mencapai tujuan sebagaimana mestinya.
Waktu dan
Subjek Penilaian
Selain
perihal instrumen penilaian yang penting dirumuskan sebagai bagian terintegrasi
dari rencana penilaian pembelajaran, waktu dan subyek penilaian juga harus
direncanakan. Pelaksanaan penilaian keterampilan proses sains, dapat dilakukan
di awal pembelajaran sebagai pretes, di akhir pembelajaran sebagai postes, atau
selama pelaksanaan pembelajaran sebagai penilaian proses (on going
assessment).
Waktu
pelaksanaan penilaian ini bersifat relative, dan sangat ditentukan oleh aspek
keterampilan proses sains yang diukur dan tujuan penilaian itu sendiri. Jika
penilaian dimaksudkan untuk melihat kemajuan perkembangan keterampilan proses
sains yang dicapai siswa selama pembelajaran, maka penilaian dapat dilakukan
dengan cara pretes/postes. Sedangkan penilaian keterampilan proses yang
dimaksudkan untuk mengukur secara langsung detail-detail pencapaian keterampilan
proses sains, maka penilaian dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung
dengan menggunakan lembar observasi atau rubrik penilaian.
Perihal
subyek penilaian dalam keterampilan proses sains juga dapat disesuaikan dengan
tujuan penilaian dilakukan. Pelaksanaan penilaian keterampilan proses sains
dapat dilakukan dalam bentuk tiga arah yaitu penilaian guru, penilaian sebaya
dan penilaian diri. Keterampilan proses sains umumnya dilakukan penilaiannya
oleh guru pengampuh mata pelajaran. Dalam hal ini, penilaian merupakan bagian
dari proses pembelajaran yang harus dilaksanakan oleh guru. Namun, untuk tujuan
tertentu penilaian keterampilan proses sains dapat melibatkan siswa sebagai
subyek penilaian.
Penilaian
yang melibatkan siswa terhadap siswa lain dapat dilakukan dalam sebuah
kelompok. Selama proses belajar berlansung, siswa bekerja dalam kelompok untuk
sebuah percobaan. Keberadaan siswa dalam kelompok, tentu memiliki peran
tersendiri sehingga masing-masing memberikan konstribusi sebagai tim. Aktivitas
siswa selama bekerja dalam kelompok dan kontribusinya dalam mendukung hasil
kerja dapat dirasakan dan diamati secara persis oleh setiap anggota kelompok.
Dalam situasi ini, penilaian teman sebaya dapat digunakan sebagai data
pembanding yang dapat diekuilibrasikan dengan hasil pengamatan yang dilakukan
oleh guru. penilaian dengan melibatkan teman kelompok, dapat memberikan efek
positif dalam perkembangan sikap ilmiah siswa. Secara korelasional hal ini
diharapkan dapat meningkatkan peran siswa dalam kelompok sehingga berpengaruh
kepada perkembangan keterampilan proses sains siswa.
Sementara
itu, penilaian keterampilan proses sains yang melibatkan siswa dalam menilai
dirinya dapat digunakan untuk memberikan bahan refleksi langsung bagi siswa.
Dalam proses ini, siswa akan mengevaluasi kemampuan yang telah dicapainya, dan
secara sportif memberikan pengakuan terhadap diri sendiri. Proses ini memiliki
dampak psikologis yang diharapkan dapat memicu motivasi intrinsik siswa untuk
terus mengembangkan keterampilan proses sains yang telah dicapai. Namun
demikian, penilaian keterampilan proses sains yang melibatkan siswa hanya dapat
dilakukan secara sinergis dan optimal jika instrumen penilaian disiapkan dengan
kriteria yang jelas dan telah ditetapkan guru.
Permasalahannya :
1.pada penyusunan
rubrik penilaian keterampilan proses sains, bagaimana anda memperhatikan posisi
keempat komponen kurikulum, tentunya kita tahu bahwa penilaian merupakan bagian
dari evaluasi ?
2. keterampilan
proses sains erat kaitannya dengan evaluasi pada percobaan atau praktikum. Bagaimana
pandangan anda tentang sekolah atau siswa yang menggunakan lab virtual dalam
pembelajaran ? apakah akan terlihat kemampuan proses sains nya.
3. sebagai pendidik,
apa sumbangsih yang bisa anda berikan untuk meningkatkan keterampilan proses
sains siswa anda.
keterampilan proses sains erat kaitannya dengan evaluasi pada percobaan atau praktikum. Bagaimana pandangan anda tentang sekolah atau siswa yang menggunakan lab virtual dalam pembelajaran ? apakah akan terlihat kemampuan proses sains nya.
BalasHapus.
Menurut saya KPS bisa juga dilaksanakan apabila sekolah yang menggunakan lab virtual, lab virtual kan memiliki langkah kerja seolah-olah seperti lab sesungguhnya. Misal memasukkan larutan ke dalam tabung mengatur konsentrasi, dan cara kerja praktikum sebenarnya hanya saja di drag menggunakan kursos. Namun pada dasarnya KPS dapat dilaksanakan dan kemampuan KPS kan banyak tidak hanya berpacu pada eksperimen saja, ada mengumpulkan data, ada memprediksi. Saya rasa prinsip kerja eksperimen menguji data sama saja dengan lab virtual
sependapat dengan fanny KPS bisa juga dilaksanakan apabila sekolah yang menggunakan lab virtual, lab virtual kan memiliki langkah kerja seolah-olah seperti lab sesungguhnya. Misal memasukkan larutan ke dalam tabung mengatur konsentrasi, dan cara kerja praktikum sebenarnya hanya saja di drag menggunakan kursos. Namun pada dasarnya KPS dapat dilaksanakan dan kemampuan KPS kan banyak tidak hanya berpacu pada eksperimen saja, ada mengumpulkan data, ada memprediksi.
Hapussaya sependapat dengan teman-teman bahwa dengan menggunakan virtual lab yang terdapat di sekolah,lab virtual dengan memiliki langkah kerja seolah-olah seperti lab sesungguhnya. Misal memasukkan larutan ke dalam tabung mengatur konsentrasi, dan cara kerja praktikum sebenarnya hanya saja di drag menggunakan kursos. Namun pada dasarnya KPS dapat dilaksanakan dan kemampuan KPS kan banyak tidak hanya berpacu pada eksperimen saja, ada mengumpulkan data, ada memprediksi.
Hapus2. keterampilan proses sains erat kaitannya dengan evaluasi pada percobaan atau praktikum. Bagaimana pandangan anda tentang sekolah atau siswa yang menggunakan lab virtual dalam pembelajaran ? apakah akan terlihat kemampuan proses sains nya.
BalasHapusbisa, tapi esensi atau pengalaman mereka terkait kontak fisik dengan alat dan bahan yang digunakan
menurut saya bisa menggunakan lab virtual dengan syarat memang siswa sudah dikenalkan pada praktikum pada pembelaJaran yang ada
Hapus2. keterampilan proses sains erat kaitannya dengan evaluasi pada percobaan atau praktikum. Bagaimana pandangan anda tentang sekolah atau siswa yang menggunakan lab virtual dalam pembelajaran ?
Hapusmenurut saya bagus, karna virtual lab dapat dijadikan alternatif jika ketersedian bahan atau alat kurang di laboratorium.
apakah akan terlihat kemampuan proses sains nya?
beberapa aspek dapat tergambarkan atau terlihat, hanya sja untuk keterampilan ia melakukan langsung memasukkan bahan, menggunakan alat dan sebagainya belum terlihat.
Untuk guru, rencana penilaian yang dilakukan untuk mengukur keterampilan proses sains dapat dikomunikasikan secara pasti kepada siswa sebelum pelaksanaan pembelajaran. Siswa sebagai subyek pembelajaran dapat menentukan target yang harus dicapai selama proses pembelajaran berlangsung. Penilaian pun dapat mencapai tujuan sebagaimana mestinya.
BalasHapusVirtual lab bisa di gunakan untuk salah satu alternatif keterampilan proses sains erat kaitannya dengan evaluasi pada percobaan atau praktikum,, atau bisa jg dengan melakukan demonstrasi di kelas.
saya akan menjawab pertanyaan dhani, Bagaimana pandangan anda tentang sekolah atau siswa yang menggunakan lab virtual dalam pembelajaran ? apakah akan terlihat kemampuan proses sains nya.
BalasHapusmenurut saya,menilai KPS siswa bisa saja melalui virtual lab, namun mungkin indikator hasil penilaianya tidak semaksimal jika praktikum langsung di laboratorium. mungkin jika tetap ingin menggunakan virtual lab maka indikator penilaiannya disesuaikan dengan kapasitas virtual lab yang digunakan
saya setuju dengan pendapat rini, bisa saja menilai hasil pengamatan KPS memlaui virtual lab, artinya ada poin yang disesuaikan karna tidak ada poin siswa menggunakan alat bisa saja diganti menjadi siswa mampu memahami kegunaan alat dan bahan dalam percobaan virtual lab
Hapussependapat dengan teman-teman bahawa menilai KPS siswa bisa saja melalui virtual lab, namun indikator pencapaiaan tentu tidak semaksimal jika praktikum langsung di laboratorium. Virtual lab hanya di gunakan untuk salah satu alternatif dalam pelaksanaan keterampilan proses sains atau bisa jg dengan melakukan demonstrasi oleh beberapa kelompok
HapusSetuju dengan teman teman. Bahwa KPS tetap terlihat karena KPS tidak harus pembelajaran dgn metode praktikum.
BalasHapusMenurut saya KPS bisa juga dilaksanakan apabila sekolah yang menggunakan lab virtual, lab virtual kan memiliki langkah kerja seolah-olah seperti lab sesungguhnya. Misal memasukkan larutan ke dalam tabung mengatur konsentrasi, dan cara kerja praktikum sebenarnya hanya saja di drag menggunakan kursos. Namun pada dasarnya KPS dapat dilaksanakan dan kemampuan KPS kan banyak tidak hanya berpacu pada eksperimen saja, ada mengumpulkan data, ada memprediksi. Saya rasa prinsip kerja eksperimen menguji data sama saja dengan lab virtual
BalasHapus