Kamis, 29 November 2018

materi 12 : inovasi sintaks model pembelajaran PBL dan dampaknya terhadap kemampuan berfikir kritis


Materi 12: Persentasi Inovasi Sintaks Model Pembelajaran PBL dan Dampaknya terhadap Kemampuan Berpikir Kritis

Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Menurut Djahiri (dalam Kunandar, 2007) dalam proses pembelajaran prinsip utamanya adalah adanya proses keterlibatan seluruh atau sebagian besar potensi diri siswa (fisik dan nonfisik) dan kebermaknaannya bagi diri dan kehidupannya saat ini dan dimasa yang akan datang (life skill).
    Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran, dimana dalam proses pembelajaran, siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran kimia sarat dengan konsep, dari konsep yang sederhana sampai konsep yang lebih kompleks dan abstrak, sehingga diperlukan pemahaman yang benar terhadap konsep dasar dalam kimia. Salah satu tujuan pembelajaran kimia di SMA adalah “siswa dapat memahami konsep-konsep kimia dan keterkaitannya serta penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi” 
Problem Based Learning (PBL) dalam bahasa Indonesia disebut Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Model PBL dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang dicetuskan oleh Jerome Bruner. Konsep tersebut adalah belajar penemuan atau discovery learning. Konsep tersebut memberikan dukungan teoritis terhadap pengembangan model PBL yang berorientasi pada kecakapan memproses informasi.
            Menurut Trianto (2009:93), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah: (1) adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, (2) berfokus pada keterkaitan antar disiplin, (3) penyelidikan autentik, (4) menghasilkan produk atau karya dan mempresentasikannya, dan (5) kerja sama.

Menurut Rusman (2010:232), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:
  1. Permasalahan menjadi starting point dalam belajar.
  2. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur. 
  3. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective). 
  4. Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar. 
  5. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama. 
  6. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial dalam problem based learning. 
  7. Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif. 
  8. Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. 
  9. Sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar. 
  10. Problem based learning melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.
Tahapan Berfikir Kritis
1.      Keterampilan Menganalisis
           Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen-komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut . Dalam keterampilan tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan atau merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci. Pertanyaan analisis, menghendaki agar pembaca mengindentifikasi langkah-langkah logis yang digunakan dalam proses berpikir hingga sampai pada sudut kesimpulan (Harjasujana, 1987).
           Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, diantaranya: menguraikan, membuat diagram, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, memerinci, dan sebagainya.
2.      Keterampilan Mensintesis
           Keterampilan mensintesis merupakan keterampilan yang berlawanan dengan keteramplian menganallsis. Keterampilan mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan yang baru. Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya. Pertanyaan sintesis ini memberi kesempatan untuk berpikir bebas terkontrol (Harjasujana, 1987).
3.      Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah
           Keterampilan ini merupakan keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk memahami bacaan dengan kritis sehinga setelah kegiatan membaca selesai siswa mampu menangkap beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga mampu mempola sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep-konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru (Walker, 2001).
4.      Keterampilan Menyimpulkan
           Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang baru yang lain (Salam, 1988: 68). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula baru yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran manusia itu sendiri, dapat menempuh dua cara, yaitu : deduksi dan induksi. Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.
5.      Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai
           Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan menggunakan standar tertentu (Harjasujana, 1987).
           Berdasarkan taksonomi belajar, menurut Bloom, keterampilan mengevaluasi merupakan tahap berpikir kognitif yang paling tinggi. Pada tahap ini siswa ituntut agar ia mampu mensinergikan aspek-aspek kognitif lainnya dalam menilai sebuah fakta atau konsep.
           Pengukuran indikator-indikator yang dikemukan oleh beberapa ahli di atas dapat dilakukan dengan menggunakan universal intellectual standars. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Paul (2000: 1) dan Scriven (2000: 1) yang menyatakan, bahwa pengukuran keterampilan berpikir kritis dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan: “Sejauh manakah siswa mampu menerapkan standar intelektual dalam kegiatan berpikirnya”. Universal inlellectual standars adalah standardisasi yang harus diaplikasikan dalam berpikir yang digunakan untuk mengecek kualitas pemikiran dalam merumuskan permasalahan, isu-isu, atau situasi-situasi tertentu.

karakteristik Berpikir Kritis 

Menurut Seifert dan Hoffnung (dalam Desmita, 2010:154), terdapat empat komponen berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
  1. Basic operations of reasoning. Untuk berpikir secara kritis, seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan langkah-langkah logis lainnya secara mental. 
  2. Domain-specific knowledge. Dalam menghadapi suatu problem, seseorang harus mengetahui tentang topik atau kontennya. Untuk memecahkan suatu konflik pribadi, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang person dan dengan siapa yang memiliki konflik tersebut. 
  3. Metakognitive knowledge. Pemikiran kritis yang efektif mengharuskan seseorang untuk memonitor ketika ia mencoba untuk benar-benar memahami suatu ide, menyadari kapan ia memerlukan informasi baru dan mereka-reka bagaimana ia dapat dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi tersebut. 
  4. Values, beliefs and dispositions. Berpikir secara kritis berarti melakukan penilaian secara fair dan objektif. Ini berarti ada semacam keyakinan diri bahwa pemikiran benar-benar mengarah pada solusi. Ini juga berarti ada semacam disposisi yang persisten dan reflektif ketika berpikir.
Sedangkan menurut Beyer (dalam Surya, 2011:137), terdapat delapan karakteristik dalam kemampuan berpikir kritis, yaitu:
  1. Watak (dispositions). Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis (tidak mudah percaya), sangat terbuka, menghargai kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik. 
  2. Kriteria (criteria). Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang. 
  3. Argumen (argument). Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Namun, secara umum argumen dapat diartikan sebagai alasan yang dapat dipakai untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen. 
  4. Pertimbangan atau pemikiran (reasoning). Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.
  5. Sudut pandang (point of view). Sudut pandang adalah cara memandang atau landasan yang digunakan untuk menafsirkan sesuatu dan yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang atau menafsirkan sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda. 
  6. Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria). Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan masalah, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengindentifikasikan asumsi atau perkiraan-perkiraan

Indikator Berpikir Kritis 

Menurut Ennis (dalam Maftukhin, 2013:24), terdapat lima kelompok indikator kemampuan berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
  1. Klarifikasi Dasar (Elementary Clarification). Klarifikasi dasar terbagi menjadi tiga indikator yaitu (1) mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan, (2) menganalisis argumen, dan (3) bertanya dan menjawab pertanyaan klarifikasi dan atau pertanyaan yang menantang. 
  2. Memberikan Alasan untuk Suatu Keputusan (The Basis for The Decision). Tahap ini terbagi menjadi dua indikator yaitu (1) mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber dan (2) mengobservasi dan mempertimbangkan hasil observasi. 
  3. Menyimpulkan (Inference). Tahap menyimpulkan terdiri dari tiga indikator (1) membuat deduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi, (2) membuat induksi dan mempertimbangkan hasil induksi, dan (3) membuat dan mempertimbangkan nilai keputusan. 
  4. Klarifikasi Lebih Lanjut (Advanced Clarification). Tahap ini terbagi menjadi dua indikator yaitu (1) mengidentifikasikan istilah dan mempertimbangkan definisi dan (2) mengacu pada asumsi yang tidak dinyatakan.
  5. Dugaan dan Keterpaduan (Supposition and Integration). Tahap ini terbagi menjadi dua indikator (1) mempertimbangkan dan memikirkan secara logis premis, alasan, asumsi, posisi, dan usulan lain yang tidak disetujui oleh mereka atau yang membuat mereka merasa ragu-ragu tanpa membuat ketidaksepakatan atau keraguan itu mengganggu pikiran mereka, dan (2) menggabungkan kemampuan kemampuan lain dan disposisi-disposisi dalam membuat dan mempertahankan sebuah keputusan.
Inovasi sintak pembelajaran

Model konvensional
(model PBL)
Inovasi model PBL
Kemampuan berfikir kritis
Fase 1
Orientasi Masalah

Fase 1
Memberikan orientasi tentang permasalahan dalam kehidupan sehari-hari kepada siswa
Guru menyampaikan informasi kepada peserta didik bahwa darah dalam tubuh kita termasuk larutan penyangga. Mengapa demikian?


Siswa mampu mengidentifikasi permasalahan dari sudut pandang yang berbeda dan memberikan pertanyaan yang kritis terkait permasalahan
Fase 2
Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Fase 2
-    Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok. Peserta didik diberikan materi ajar dan lembar LKPD oleh guru. Peserta didik mengamati materi ajar yang diberikan dan dipersilakan mencari berbagai literatur yang mendukung materi. Peserta didik mengamati video tentang larutan penyangga
-    Setelah mengamati video larutan penyangga akan timbul pertanyaan siswa. Seperti :
Bagaimana terbentuknya larutan penyangga?
Mengapa larutan penyangga pHnya relatif tidak berubah dengan penambahan sedikit asam atau basa?
Apa manfaat larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup?
Siswa mampu melihat berbagai masalah dari sudut pandang berbeda. Setelah melihat video yang ditayangkan diharapkan peserta didik mampu pengenalan, penilaian, dan  menyusun argumen pertanyaan yang muncul.

Fase 3
Membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok

Fase 3
Membantu investigasi dari permasalahan yang ditemukan secara mandiri dan kelompok berdasarkan video yang sudah ditampilkan dan dihubungkan dengan literatur yang mereka dapat.
-masyarakat belajar.
Guru meminta masing-masing kelompok atau individu untuk mempresentasikan kesimpulan dari tayangan video.
Siswa memapu menjelaskan permasalahan yang muncul dari fakta-fakta yang dilihat pada video terkait larutan penyangga dengan observasi dan mempertimbangkan laporan observasi seperti, melibatkan sedikit dugaan, melaporkan hasil observasi, merekan hasil observasi, menggunakan bukti-bukti yang benar, menggunakan teknologi dan mempertanggungjawabkan hasil observasi
Fase 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja

Fase 4
Mengembangkan dan mempresentasikan hasil pengamatan
diifase ini peserta didik diberi kesempatan untuk saling bertanya, menggapi,menyanggah pernyataan dari teman-temannya
Siswa dapat melaporkan hasil pengamatan berdasarkan argumennya sendiri baik secara mandiri maupun kelopok berdasarkan fakta dari hasil penyelidikan
Fase 5
Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah

Fase 5
Menganalisis serta meluruskan miskonsepsi yang muncul pada saat diskusi.
Guru mengevaluasi keseluruhan proses, melurusakn miskonsepsi serta memberikan tes guna mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang materi.
Siswa mampumengevaluasi pernyataan-pernyataan berdasarkan penguatan yang diberikan guruserta menarik kesimpulan-kesimpulanterkait pembelajaran larutan penyangga.
Memberikan tes akhir berupa tes essay
Diharapkan siswa yang tadinya tidak mengerti dan tidak memiliki gagasan kritis terhadap permasalahan dapat terasah.

Dari inovasi sintak diatas, pada bagian mana menurut anda yang paling paling bisa meningkatkan kemampuan berfikir kritis ? berikan saran untuk penambahan dan pengurangan dari inovasi sintak tersebut ? jika dibandingan dengan inovasi sintak pada CTL kemarin, lebih efektif mana jika dibandingkan dengan PBL ini ? 










Kamis, 22 November 2018

materi 11 : Inovasi Sintak Model Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual dan Dampaknya Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif


Inovasi Sintak Model Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual dan Dampaknya Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif

Model pembelajaran kontekstual merupakan model yang mengusahakan untuk membuat siswa aktif dalam menggali kemampuan diri siswa dengan mempelajari konsep-konsep sekaligus menerapkannya dan mengaitkannya dengan dunia nyata di sekitar lingkungan siswa. Sejalan dengan itu, Elaine B. Jhonson (dalam Rusman, 2012:187) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyususn pola-pola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut lagi, Elaine mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa berada.
Hal inilah yang mendasari bahwa model kontekstual (Contextual Teaching And Learning) baik untuk diterapkan oleh guru dalam pembelajaran. seperti yang kita ketahui, sejauh ini pembelajaran yang biasa guru lakukan masih bersifat konvensional, monoton, dan masih terpusat kepada guru saja. sehingga siswa tidak memperoleh pengalaman belajar yang bermakna, dan tidak diikut sertakan terlibat secara langsung dalam pemecahan masalah yang diberikan guru pada proses pembelajaran. dengan demikian, siswa sekolah dasar khususnya cenderung diam, terkadang terlihat mengantuk, kurang semangat dalam mengikuti pelajaran atau jenuh.
Model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching And Learning) pada intinya adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan nyata. artinya siswa dihadapkan pada suatu persoalan yang biasa dihadapi di lingkungan, sehingga pada masanya nanti siswa dapat mampu mengatasi persoalan-persoalan yang nyata yang dihadapi di lingkungannya. Oleh sebab itu, melalui pembelajaran kontekstual, pembelajaran bukan suatu transformasi pengetahuan yang diberikan guru kepada siswa dengan cara menghafal beberapa konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup (life skiil) dari apa yang dipelajarinya. Hal ini sangat erat kaitanya dengan tujuan pendidikan nasional yang ditetapkan pemerintah.

Sintaks Model Pembelajaran Kontekstual
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apapun, bidang studi apapun, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Model pembelajaran CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
Fase 1
Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai siswa serta manfaatnya dari proses pembelajaran serta pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari. Guru menggali pengetahuan awal siswa serta menganalisis miskonsepsi siswa (Konstruktivism).

Fase 2
Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil.Guru menyajikan model atau fenomena dan setiap kelompok diberi tugas untuk melakukan observasi. Melalui observasi yang dilakukan, siswa ditugaskan diminta untuk menyampaikan gagasan yang dimilikinya terkait dengan materi yang dipelajari dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru (Modelling).

Fase 3
Guru melakukan tanya jawab seputar tugas yang harus dilakukan oleh setiap kelompok siswa guna mencapai tujuan pembelajaran (Questioning).


Fase 4
Siswa melakukan observasi dan mencatat hasil observasinya dengan menggunakan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya. Siswa menganalisis hasil observasinya (Inquiry).

Fase 5
Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompok masing-masing. Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusinya dalam pleno kelas. Setiap kelompok menjawab pertanyaan yang diajukan kelompok lainnya (Learning Community).

Fase 6
Dengan bantuan guru, siswa menyimpulkan hasil observasinya. Simpulan tersebut merupakan pengetahuan atau keterampilan baru yang diperoleh dalam proses pembelajaran melalui penemuan.Guru melakukan penilaian autentik dan memberi tugas kepada siswa untuk meningkatkan pemahaman, memperluas dan memperdalam pengetahuan berkaitan dengan topik yang telah dipelajari. Siswa juga melakukan refleksi diri (Authentic assessment).

TUJUH KOMPONEN CTL
Ø  KONSTRUKTIVISME  (CONSTRUCTIVISM)
Dalam proses pembelajaran, siswa membangun (konstruktiv) sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar . Siswa menjadi pusat kegiatan (Students center), bukan guru.

Ø  MENEMUKAN (INQUIRY)
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat tetapi menemukan sendiri.
Siklus Inquiri:
¨      Observasi (Observation)
¨      Bertanya (Questionng)
¨      Mengajukan dugaan (Hiphotesis)
¨      Pengumpulan data (Data Gathering)
¨      Penyimpulan (Conclussion)

Ø  BERTANYA (QUESTIONING)
Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran CTL untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemmpuan berpikir siswa. Questioning dapat diterapkan : antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, anatra siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas

Ø  MASYARAKAT BELAJAR (LEARNING COMMUNITY)
Konsep ini menyarangkan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjsama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Diruang ini, di kelas ini, di sekitarsini, juga orang-orang yang ada di luar ana, semua adalah anggota masyarakat belajar

Ø  PEMODELAN (MODELING)
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Dalam pendekatan CTL, guru bukanlah satu-satunya model. Bisa dari siswa yang berpengalaman atau pernah memenangkan lomba tertentu atau bisa juga orang luar yang didatangkan.

Ø  REFLEKSI (REFLECTION)
Refeksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Diakhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi berupa :
¨      Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya pada hari itu
¨      Catatan atau jurnal di buku siswa
¨      Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu
¨      Diskusi
¨      Hasil karya

Ø  PENILAIAN SEBENARNYA (AUTHENTIC ASSASSMENT)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa :
¨      Proyek/kegiatan dan laporannya
¨      PR
¨      Kuis
¨      Karya siswa
¨      Presentasi atau penampilan siswa
¨      Demonstrasi
¨      Laporan
¨      Jurnal
¨      Hasil tes tulis
¨      Karya tulis

            Berpikir diasumsikan secara umum sebagai proses kognitif yaitu suatu aktivitas mental yang lebih menekankan penalaran untuk memperoleh pengetahuan, Presseinsen (Hartono, 2009). Ia juga mengemukakan bahwa proses berpikir terkait dengan jenis perilaku lain dan memerlukan keterlibatan aktif pemikir. Hal penting dari berpikir di samping pemikiran dapat pula berupa terbangunnya pengetahuan, penalaran, dan proses yang lebih tinggi seperti mempertimbangkan. Sedangkan dalam kaitannyadengan berpikir kreatif didefinisikan dengan cara pandang yang berbeda antara lain Jonhson (dalam Siswono, 2004: 2) mengatakan bahwa berpikir kreatif yang mengisyaratkan ketekunan, disiplin pribadi dan perhatian melibatkan aktifitas-aktifitas mental seperti mengajukan pertanyaan, mempertimbangkan informasi-informasi baru dan ide-ide yang tidak biasanya dengan suatu pikiran terbuka, membuat hubungan-hubungan, khususnya antara sesuatu yang serupa, mengaitkan satu dengan yang lainnya dengan bebas, menerapkan imajinasi pada setiap situasi yang membangkitkan ide baru dan berbeda, dan memperhatikan intuisi.
            Kemampuan kreatif secara umum dipahami sebagai kreativitas. Seringkali, individu yang dianggap kreatif adalah pemikir sintesis yang benar-benar baik yang membangun koneksi antara berbagai hal yang tidak disadari orang–orang lain secara spontan. Suatu sikap kreatif adalah sekurang-kurangnya sama pentingnya dengan keterampilan berpikir kreatif Schank (dalam Sternberg, 2007). Berkenaan dengan hal tersebut Sternberg mengemukakan bahwa dalam hal mengembangkan kemampuan berpikir kreatif ada beberapa strategi yang digunakan antara lain:
1.      Mendefinisikan kembali masalah
2.      Mempertanyakan dan menganalisis asumsi-asumsi
3.      Menjual ide-ide kreatif
4.      Membangkitkan ide-ide
5.      Mengenali dua sisi pengetahuan
6.      Mengidentifikasi dan mengatasi hambatan
7.      Mengambil resiko-resiko dengan bijak
8.      Menoleransi  ambiguitas (kemenduan)
9.      Membangun kecakapan diri
10.  Menemukan minat sejati
11.  Menunda kepuasan
12.  Membuat model kreativitas.

            Ciri-ciri kepribadian kreatif biasanya anak selalu ingin tahu, memilki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil resiko (tetapi dengan perhitungan) daripada anak-anak pada umumnya.  Munandar (1999: 36-37), bahwa peringkat dari 10 orang ciri-ciri pribadi yang kreatif yang diperoleh dari pakar psikologi (30 orang) sebagai berikut: imajinatif, mempunyai prakarsa, mempunyai minat luas, mandiri dalam berpikir, senang berpetualang, penuh energi, percaya diri, bersedia mengambil resiko, berani dalam pendirian dan keyakinan. Bila dibandingkan dengan peringkat ciri-ciri siswa yang paling diinginkan oleh guru sekolah dasar dan sekolah menengah (102 orang)  yakni: (1) penuh energi, (2) mempunyai prakarsa, (3) percaya diri, (4) sopan, (5) rajin, (6) melaksanakn pekerajaan pada waktunya, (7) sehat, (8) berani dalam berpendapat, (9) mempunyai ingatan baik, (10) ulet. Dari ciri-ciri ini tidak tampak banyak kesamaan antara ciri-ciri pribadi yang kreatif menurut pakar psikologi dengan ciri-ciri yang diinginkan oleh guru pada siswa.
            Agar kreativitas anak dapat terwujud dibutuhkan adanya dorongan dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik). Bagaimana meningkatkan kreativitas yang masih terpendam dalam diri siswa? Selanjutnya Munandar (dalam Mulyana & Sabandar, 2005) mengatakan bahwa ciri-ciri kemampuan yang berpikir kreatif yang berhungan dengan kognisi dapat dilihat dari kemampuan berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes, ketrampilam berpikir orisinal, ketrampilan elaborasi, dan ketrampilan menilai. Penjelasan dari ciri-ciri yang berkaitan dengan ketrampilan-ketrampilan tersebut diuraikan sebagai berikut.
1.      Ciri-ciri ketrampilan kelancaran:
a)      Mencetuskan banyak gagasan dalam pemecahan masalah
b)      Memberikan banyak jawaban dalam menjawab suatu pertanyaan
c)      Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal.
d)     Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada anak-anak lain.
2.      Ciri-ciri ketrampilan berpikir luwes (fleksibel):
a)      Menghasilkan gagasan penyelesaian masalah atau jawaban suatuPertanyaan  bervariasi.
b)      Dapat melihat suatu msalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
c)      Menyajikan suatu konsep dengan cara yang berbeda-beda.

3.      Ciri-ciri keterampilan orisinal (keaslian):
a)      Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan
b)      Membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4.      Ciri-ciri ketrampilan Memperinci (elaborasi):
a)      Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
b)      Menambahkan atau memperici suatu gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut.
5.      Ciri-ciri ketrampilan Menilai (mengevaluasi):
a)      Dapat menemukan kebenaran suatu pertanyaan atau kebenaran suatu rencana penyelesaian masalah.
b)      Dapat mencetuskan gagasan penyelesaian suatu masalah dan dapat melaksanakannya dengan benar.
c)      Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.

Torrance (Filsaime, 2007) bahwaada empat karakteristik berpikir kreatif, sebagai sebuah proses yang melibatkan unsur-unsur orisinalitas, kelancaran, fleksibilitas dan elaborasi.  Keempat dari karakteristik berpikir kreatif tersebut didefinisikan sebagai:
1.      Orisinalitas
Kategori orisinalitas mengacu pada keunikan dari respon apapun yang diberikan. Orisinalitas yang ditunjukkan oleh sebuah respon yang tidak biasa, unik dan jarang terjadi. Berpikir tentang masa depan bisa juga memberikan stimulasi ide-ide orisinal. Jenis pertanyaan- pertanyaan yang digunakan untuk menguji kemampuan ini adalah tuntutan penggunaan-penggunaan yang menarik dari objek-objek umum. Misalnya: (1) desainlah sebuah computer impian masa depan. (2) pikirkan berapa banyaknya benda yang anda gunakan kabel untuknya.
2.      Elaborasi
Elaborasi diartikan sebagai kemampuan untuk menguraikan sebuah obyek tertentu. Elaborasi adalah jembatan yang harus dilewati oleh seseorang untuk mengkomunikasikan ide“ kreatif”-nya kepada masyarakat. Faktor inilah yang menentukan nilai dari ide apapun yang diberikan kepada orang lain di luar dirinya. Elaborasi ditunjukkan oleh sejumlah tambahan dan detail yang bisa dibuat untuk stimulus sederhana untuk membuatnya lebih kompleks. Tambahan-tambahan tersebut bisa dalam bentuk dekorasi, warna, bayangan atau desain. Contoh berpikir kreatif elaborasi matematik. Pada suatu hari Pak Dodi pergi ke pasar untuk membeli dua jenis semen di sebuah tokoh dengan harga Rp 440.000,- lengkapilah data tersebut sehingga tersusun suatu masalah sistem persamaan linear dua variabel!. Kemudian selesaikan masalah tadi. Contoh ini memberikan indikator bahwa siswa dapat melengkapi data untuk menyusun suatu masalah dan menyelesaikannya.
3.      Kelancaran
Kelancaran diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan segudang ide (Gilford, dalam Filsaime, 2007)). Ini merupakan salah satu indikator yang paling kuat dari berpikir kreatif, karena semakin banyak ide, maka semakin besar kemungkinan yang ada untuk memperoleh sebuah ide yang signifikan.
4.      Fleksibilitas
Karakteristik ini menggambarkan kemampuan seseorang individu untuk mengubah perangkat mentalnya ketika keadaan memerlukan untuk itu, atau kecenderungan untuk memandang sebuah masalah secara instan dari berbagai perspektif. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan mental, mengubah pendekatan untuk sebuah masalah. Tidak terjebak dengan mengasumsikan aturan-aturan atau kondisi-kondisi yang tidak bisa diterapkan pada sebuah masalah. Dibawah ini disajikan inovasi suatu sintak pembelajaran, dimana materi yang diajarkan berupa larutan penyanggga.

No
Model Konvensional (Model Kontekstual)
No
Inovasi Sintaks Model Kontekstual
Dampak Berpikir Kreatif
1.
Konstruktivisme
1.
Konstruktivisme
Mengkondisikan siswa
Sebelum memulai pembelajaran hari ini, guru mengajak siswa berdoa sesuai keyakinan masing-masing.(Guru menanamkan karakter religius)
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dicapai
Guru menyampaikan pengetahuan prasyarat yang harus dimiliki
siswa dari pembelajaran yang lalu yaitu teori asam basa Arrhenius
dan Bronsted Lowry.

· Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
Mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya
 Guru menanya siswa tentang materi sebelumnya yaitu tentang teori asam basa, pengetahuan apa saja yang diketahuan siswa tentang materi tersebut
· -- Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
Menggali pengetahuan dasar siswa
 Guru menunjukkan 2 macam larutan yaitu larutan asam asetat dan
natrium asetat untuk membangkitkan motivasi rasa ingin tahu dan
menggali pengetahuan siswa(eksplorasi) dengan bertanya: Apa yang
kalian ketahui dari kedua larutan tersebut?
Dapat melihat suatu msalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan (keterampilan orisinal (keaslian))
2.
Pemodelan (Modelling)
2.
Pemodelan (Modelling)
Mengarahkan siswa untuk membentuk kelompok kecil
Membagi kelompok untuk melakukan praktikum
·        
· 
Mempersilahkan untuk bergabung bersama kelompoknya masing-masing




Melaksanakan praktikum
3.
Bertanya (Questioning)
3.
Menemukan (Inquiry)
Membimbing siswa melakukan tanya jawab
Guru memberikan pralab tentang cara menggunakan alat dan bahan
kimia dalam kegiatan praktikum yang akan dilaksanakan.
Siswa memperhatikan dengan seksama dan mendengarkan dengan
baik
penjelasan guru.
·     Memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci)
Mencetuskan banyak gagasan dalam pemecahan masalah
Guru membagikan LKS kepada siswa sebagai bahan panduan
melakukan praktikum kelompok
· 
Guru membimbing membimbing siswa dalam melakukan praktikum
dengan berjalan berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain
secara bergantian Guru memberikan waktu kepada tiap-tiap kelompok untuk
mendiskusikan hasil praktikum, menganalisis, dan menjawab
pertanyaan dalam LKS. Setiap kelompok bertanggung jawab
menyelesaikan tugasnya masing-masing tepat pada
waktunya.(Guru menanamkan disiplin waktu)
· 
·         Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
·         Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan

·        
·  
4.
Menemukan (Inquiry)
4.
Masyarakat Belajar(Learning Community)
Membimbing siswa mencari tahu sendiri materi pelajaran dari berbagai sumber
Guru meminta masing-masing kelompok untuk mempresentasikan
hasil praktikumnya di depan kelas(elaborasi).
Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
· Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
·      Memberikan jawaban yang lain dari pada yang lain.(berpikir orisinil).
·      Memperinci detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
5.
Masyarakat Belajar(Learning Community)
5.
Bertanya (Questioning)
Membantu siswa megatasi permasalahan yang diberikan
Memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain
· Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
Memberikan kesempatan tanya jawab seputar hasil diskusi
Guru meminta siswa dalam melakukan praktikum hendaknya
bekerja sama dengan baik, taat aturan/, teliti, kreatif,
komunikatif, dan
menjaga kebersihan
Menyajikan suatu konsep dengan cara yang berbeda-beda.
Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam(berpikir luwes)
·      Memberikan jawaban yang lain dari pada yang lain.(berpikir orisinil).
·      Memperinci detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukan
Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan





6.
Refleksi (Reflection)
6.
Refleksi (Reflection)
Memberikan penguatan
Guru memberikan konfirmasi tentang hasil praktikum yang benar.
Guru membimbing siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari dengan membuat rangkuman di bukunya masing-masing.
· 
Menambahkan atau memperici suatu gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut
Dapat mencetuskan gagasan penyelesaian suatu masalah dan dapat melaksanakannya dengan benar.
Membimbing siswa untuk membuat ringkasan
7.
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
7.
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
Membantu siswa menyimpulkan
Guru memberi tugas siswa untuk membuat laporan praktikum
tentang larutan penyangga.
· Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (berpikir lancar)
·      Memperinci detail-detail dan memperluas suatu gagasan (berpikir terperinci).
Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.
Memberikan tes akhir
Guru memberikan tes akhir untuk mengetahui sejauh mana
pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari
Menutup pertemuan dengan berdo’a dan mengucapkan salam

Dari uraian diatas, bagaimana inovasi sintak yang dibuat ? tolong berika masukan tentang dampak perubahan sintak model tersebut terhadap kemampuan berfikir kreatif ? dari pembelajaran diatas, pengelompokan siswa dalam praktikum apakah efektif ? dikhawatirkan akan ada siswa yang hanya berdiam diri dalam praktikum.