Materi
12: Persentasi Inovasi Sintaks Model Pembelajaran PBL dan Dampaknya terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis
Pembelajaran
adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga
terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Menurut Djahiri (dalam
Kunandar, 2007) dalam proses pembelajaran prinsip utamanya adalah adanya proses
keterlibatan seluruh atau sebagian besar potensi diri siswa (fisik dan
nonfisik) dan kebermaknaannya bagi diri dan kehidupannya saat ini dan dimasa
yang akan datang (life skill).
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya
proses pembelajaran, dimana dalam proses pembelajaran, siswa kurang didorong
untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran kimia sarat dengan konsep, dari
konsep yang sederhana sampai konsep yang lebih kompleks dan abstrak, sehingga
diperlukan pemahaman yang benar terhadap konsep dasar dalam kimia. Salah satu
tujuan pembelajaran kimia di SMA adalah “siswa dapat memahami konsep-konsep
kimia dan keterkaitannya serta penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam
kehidupan sehari-hari dan teknologi”
Problem Based Learning (PBL)
dalam bahasa Indonesia disebut Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) merupakan
penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan
konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala
sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Model PBL dikembangkan berdasarkan
konsep-konsep yang dicetuskan oleh Jerome Bruner. Konsep tersebut adalah
belajar penemuan atau discovery learning. Konsep tersebut memberikan dukungan
teoritis terhadap pengembangan model PBL yang berorientasi pada kecakapan
memproses informasi.
Menurut
Trianto (2009:93), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) adalah: (1) adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, (2) berfokus pada
keterkaitan antar disiplin, (3) penyelidikan autentik, (4) menghasilkan produk
atau karya dan mempresentasikannya, dan (5) kerja sama.
Menurut Rusman (2010:232), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:
Menurut Rusman (2010:232), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:
- Permasalahan menjadi starting point dalam
belajar.
- Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan
yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur.
- Permasalahan membutuhkan perspektif ganda
(multiple perspective).
- Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki
oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi
kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar.
- Belajar pengarahan diri menjadi hal yang
utama.
- Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam,
penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang
esensial dalam problem based learning.
- Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan
kooperatif.
- Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan
masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari
solusi dari sebuah permasalahan.
- Sintesis dan integrasi dari sebuah proses
belajar.
- Problem based learning melibatkan evaluasi dan
review pengalaman siswa dan proses belajar.
Tahapan Berfikir Kritis
1. Keterampilan
Menganalisis
Keterampilan menganalisis merupakan
suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen-komponen agar
mengetahui pengorganisasian struktur tersebut . Dalam keterampilan tersebut
tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan
atau merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan
terperinci. Pertanyaan analisis, menghendaki agar pembaca mengindentifikasi
langkah-langkah logis yang digunakan dalam proses berpikir hingga sampai pada
sudut kesimpulan (Harjasujana, 1987).
Kata-kata operasional yang
mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, diantaranya: menguraikan,
membuat diagram, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, memerinci, dan
sebagainya.
2. Keterampilan
Mensintesis
Keterampilan mensintesis merupakan
keterampilan yang berlawanan dengan keteramplian menganallsis. Keterampilan
mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah
bentukan atau susunan yang baru. Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk
menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga
dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam
bacaannya. Pertanyaan sintesis ini memberi kesempatan untuk berpikir bebas
terkontrol (Harjasujana, 1987).
3. Keterampilan Mengenal
dan Memecahkan Masalah
Keterampilan ini merupakan
keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini
menuntut pembaca untuk memahami bacaan dengan kritis sehinga setelah kegiatan
membaca selesai siswa mampu menangkap beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga
mampu mempola sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini bertujuan agar pembaca
mampu memahami dan menerapkan konsep-konsep ke dalam permasalahan atau ruang
lingkup baru (Walker, 2001).
4. Keterampilan
Menyimpulkan
Keterampilan menyimpulkan ialah
kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan pengertian/pengetahuan (kebenaran)
yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian/pengetahuan (kebenaran)
yang baru yang lain (Salam, 1988: 68). Berdasarkan pendapat tersebut dapat
dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu menguraikan dan
memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula baru
yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran manusia itu sendiri, dapat menempuh dua
cara, yaitu : deduksi dan induksi. Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses
berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan
sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.
5. Keterampilan
Mengevaluasi atau Menilai
Keterampilan ini menuntut pemikiran
yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada.
Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang
nilai yang diukur dengan menggunakan standar tertentu (Harjasujana, 1987).
Berdasarkan taksonomi
belajar, menurut Bloom, keterampilan mengevaluasi merupakan tahap berpikir
kognitif yang paling tinggi. Pada tahap ini siswa ituntut agar ia mampu
mensinergikan aspek-aspek kognitif lainnya dalam menilai sebuah fakta atau
konsep.
Pengukuran indikator-indikator yang
dikemukan oleh beberapa ahli di atas dapat dilakukan dengan menggunakan
universal intellectual standars. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Paul
(2000: 1) dan Scriven (2000: 1) yang menyatakan, bahwa pengukuran keterampilan
berpikir kritis dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan: “Sejauh manakah
siswa mampu menerapkan standar intelektual dalam kegiatan berpikirnya”.
Universal inlellectual standars adalah standardisasi yang harus diaplikasikan
dalam berpikir yang digunakan untuk mengecek kualitas pemikiran dalam merumuskan
permasalahan, isu-isu, atau situasi-situasi tertentu.
karakteristik Berpikir
Kritis
Menurut Seifert dan Hoffnung
(dalam Desmita, 2010:154), terdapat empat komponen berpikir kritis, yaitu
sebagai berikut:
- Basic operations of
reasoning.
Untuk berpikir secara kritis, seseorang memiliki kemampuan untuk
menjelaskan, menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan langkah-langkah
logis lainnya secara mental.
- Domain-specific knowledge. Dalam menghadapi suatu
problem, seseorang harus mengetahui tentang topik atau kontennya. Untuk
memecahkan suatu konflik pribadi, seseorang harus memiliki pengetahuan
tentang person dan dengan siapa yang memiliki konflik tersebut.
- Metakognitive knowledge. Pemikiran kritis yang
efektif mengharuskan seseorang untuk memonitor ketika ia mencoba untuk
benar-benar memahami suatu ide, menyadari kapan ia memerlukan informasi
baru dan mereka-reka bagaimana ia dapat dengan mudah mengumpulkan dan
mempelajari informasi tersebut.
- Values, beliefs and dispositions. Berpikir secara kritis
berarti melakukan penilaian secara fair dan objektif. Ini berarti ada
semacam keyakinan diri bahwa pemikiran benar-benar mengarah pada solusi.
Ini juga berarti ada semacam disposisi yang persisten dan reflektif ketika
berpikir.
Sedangkan menurut Beyer (dalam
Surya, 2011:137), terdapat delapan karakteristik dalam kemampuan berpikir
kritis, yaitu:
- Watak (dispositions). Seseorang yang mempunyai
keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis (tidak mudah
percaya), sangat terbuka, menghargai kejujuran, respek terhadap berbagai
data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari
pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika
terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik.
- Kriteria (criteria). Dalam berpikir kritis
harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana
maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun
sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan
mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi
maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta,
berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika
yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.
- Argumen (argument). Argumen adalah pernyataan
atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Namun, secara umum argumen
dapat diartikan sebagai alasan yang dapat dipakai untuk memperkuat atau
menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Keterampilan berpikir
kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun
argumen.
- Pertimbangan atau pemikiran (reasoning). Yaitu kemampuan untuk
merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan
meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.
- Sudut pandang (point of view). Sudut pandang adalah cara
memandang atau landasan yang digunakan untuk menafsirkan sesuatu dan yang
akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis
akan memandang atau menafsirkan sebuah fenomena dari berbagai sudut
pandang yang berbeda.
- Prosedur penerapan kriteria
(procedures for applying criteria). Prosedur penerapan berpikir kritis sangat
kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan
masalah, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengindentifikasikan asumsi
atau perkiraan-perkiraan
Indikator Berpikir
Kritis
Menurut
Ennis (dalam Maftukhin, 2013:24), terdapat lima kelompok indikator kemampuan
berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
- Klarifikasi Dasar (Elementary Clarification). Klarifikasi dasar terbagi
menjadi tiga indikator yaitu (1) mengidentifikasi atau merumuskan
pertanyaan, (2) menganalisis argumen, dan (3) bertanya dan menjawab
pertanyaan klarifikasi dan atau pertanyaan yang menantang.
- Memberikan Alasan untuk Suatu Keputusan (The
Basis for The Decision).
Tahap ini terbagi menjadi dua indikator yaitu (1) mempertimbangkan
kredibilitas suatu sumber dan (2) mengobservasi dan mempertimbangkan hasil
observasi.
- Menyimpulkan (Inference). Tahap menyimpulkan terdiri
dari tiga indikator (1) membuat deduksi dan mempertimbangkan hasil
deduksi, (2) membuat induksi dan mempertimbangkan hasil induksi, dan (3)
membuat dan mempertimbangkan nilai keputusan.
- Klarifikasi Lebih Lanjut (Advanced
Clarification).
Tahap ini terbagi menjadi dua indikator yaitu (1) mengidentifikasikan
istilah dan mempertimbangkan definisi dan (2) mengacu pada asumsi yang
tidak dinyatakan.
- Dugaan dan Keterpaduan (Supposition and
Integration).
Tahap ini terbagi menjadi dua indikator (1) mempertimbangkan dan
memikirkan secara logis premis, alasan, asumsi, posisi, dan usulan lain
yang tidak disetujui oleh mereka atau yang membuat mereka merasa ragu-ragu
tanpa membuat ketidaksepakatan atau keraguan itu mengganggu pikiran
mereka, dan (2) menggabungkan kemampuan kemampuan lain dan
disposisi-disposisi dalam membuat dan mempertahankan sebuah keputusan.
Inovasi sintak pembelajaran
Model konvensional
(model PBL)
|
Inovasi model PBL
|
Kemampuan berfikir kritis
|
Fase 1
Orientasi Masalah
|
Fase 1
Memberikan
orientasi tentang
permasalahan dalam kehidupan sehari-hari kepada siswa
Guru menyampaikan informasi kepada peserta didik bahwa darah dalam tubuh
kita termasuk larutan penyangga. Mengapa demikian?
|
Siswa mampu mengidentifikasi permasalahan dari sudut
pandang yang berbeda dan memberikan pertanyaan yang kritis terkait
permasalahan
|
Fase 2
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
|
Fase 2
-
Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok. Peserta didik diberikan materi ajar dan lembar LKPD oleh guru. Peserta
didik mengamati materi ajar yang diberikan dan dipersilakan mencari berbagai
literatur yang mendukung materi. Peserta didik mengamati video tentang
larutan penyangga
-
Setelah mengamati video larutan
penyangga akan timbul pertanyaan siswa. Seperti :
Bagaimana terbentuknya larutan penyangga?
Mengapa larutan penyangga pHnya relatif tidak berubah
dengan penambahan sedikit asam atau basa?
Apa manfaat larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup?
|
Siswa mampu melihat
berbagai masalah dari sudut pandang berbeda. Setelah melihat video yang
ditayangkan diharapkan peserta didik mampu pengenalan,
penilaian, dan menyusun argumen
pertanyaan yang muncul.
|
Fase 3
Membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok
|
Fase 3
Membantu investigasi
dari permasalahan yang ditemukan secara mandiri dan kelompok berdasarkan video
yang sudah ditampilkan dan dihubungkan dengan literatur yang mereka dapat.
-masyarakat belajar.
Guru
meminta masing-masing kelompok atau individu untuk mempresentasikan
kesimpulan dari tayangan video.
|
Siswa memapu menjelaskan permasalahan yang muncul dari
fakta-fakta yang dilihat pada video terkait larutan penyangga dengan
observasi dan mempertimbangkan laporan observasi seperti, melibatkan sedikit
dugaan, melaporkan hasil observasi, merekan hasil observasi, menggunakan
bukti-bukti yang benar, menggunakan teknologi dan mempertanggungjawabkan
hasil observasi
|
Fase 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja
|
Fase 4
Mengembangkan dan mempresentasikan hasil pengamatan
diifase
ini peserta didik diberi kesempatan untuk saling bertanya,
menggapi,menyanggah pernyataan dari teman-temannya
|
Siswa dapat melaporkan hasil pengamatan berdasarkan
argumennya sendiri baik secara mandiri maupun kelopok berdasarkan fakta
dari hasil penyelidikan
|
Fase 5
Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan
masalah
|
Fase 5
Menganalisis serta meluruskan miskonsepsi yang
muncul pada saat diskusi.
Guru mengevaluasi
keseluruhan proses, melurusakn miskonsepsi serta memberikan tes guna
mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang materi.
|
Siswa mampumengevaluasi
pernyataan-pernyataan berdasarkan
penguatan yang diberikan guru, serta menarik kesimpulan-kesimpulanterkait pembelajaran larutan penyangga.
Memberikan tes akhir berupa tes essay
Diharapkan
siswa yang tadinya tidak mengerti dan tidak memiliki gagasan kritis terhadap
permasalahan dapat terasah.
|
Dari inovasi sintak diatas, pada
bagian mana menurut anda yang paling paling bisa meningkatkan kemampuan
berfikir kritis ? berikan saran untuk penambahan dan pengurangan dari inovasi
sintak tersebut ? jika dibandingan dengan inovasi sintak pada CTL kemarin, lebih efektif mana jika dibandingkan dengan PBL ini ?