Desain
bermakna adanya keseluruhan, struktur, kerangka atau outline, dan urutan atau
sistematika kegiatan. Selain itu, kata desain juga dapat diartikan sebagai proses
perencanaan yang sistematika yang dilakukan sebelum tindakan pengembangan atau
pelaksanaan sebuah kegiatan. Sedangkan desain pembelajaran adalah kisi-kisi
dari penerapan teori belajar dan pembalajaran untuk memfasilitasi proses
belajar seseorang. Desain pembelajaran juga diartikan sebagai proses merumuskan
tujuan, strategi, teknik, dan media.
Desain merupakan kerangka, bentuk
atau rancangan langkah pertama dalam fase pengembangan bagi setiap produk atau
sistem yang direkayasa. Desain juga dapat didefinisikan berbagai proses
aplikasi berbagai teknik dan prinsip bagi tujuan pendefinisian suatu perangkat,
suatu proses atau sistem dalam detail yang memadai untuk memungkinkan realisasi
fisiknya. Tujuan desainer adalah untuk menghasilkan suatu model atau
representasi dari entitas yang kemudian akan dibangun. Desain
pembelajaran adalah praktik penyusunan media teknologi komunikasi dan isi
untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara
efektif antara pendidik dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status
awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang
“perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Sebagai
suatu disiplin, desain pembelajaran secara historis dan tradisional berakar
pada kognitif dan perilaku.
Desain pembelajaran lazimnya dimulai
dari kegiatan analisis yang digunakan untuk menggambarkan masalah pembelajaran
sesungguhnya yang perlu dicari solusinya. Setelah dapat menentukan masalah yang
sesungguhnya maka langkah selanjutnya adalah menentukan alternaif solusi yang
akan digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran. Seorang perancang
program pembelajaran perlu menentukan solusi yang tepat dari berbagai
alternatif yang ada. Selanjutnya ia dapat menerapkan solusi tersebut
untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Evaluasi adalah langkah selanjutnya,
sehingga nantinya bias mengetahui rancangan atau desain yang sesuai dengan
pembelajaran dan desain tersebut busa diaplikasikan dalam proses pembelajaran.
Desain
pembelajaran adalah suatu prosedur yang terdiri dari langkah-langkah, dimana
langkah-langkah tersebut di dalamnya terdiri dari analisis, merancang,
mengembangkan, menerapkan dan menilai hasil belajar. Hal tersebut juga
dikemukakan oleh Morisson, Ross & Kemp (2007) yang mendefinisikan desain
pembelajaran sebagai suatu proses desain yang sistematis untuk menciptakan
pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, serta membuat kegiatan
pembelajaran lebih mudah, yang didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai
teori-teori pembelajaran, teknologi informasi, sistematika analisis, penelitian
dalam bidang pendidikan, dan metode-metode manajemen.
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997)
mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum atau desain pembelajaran
yang dibagi ke dalam dua kelompok:
1) Prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas,
kontinuitas, praktis, dan efektivitas;
2) Prinsip-prinsip
khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan
pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar,
prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip
berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Sedangkan
Asep Herry Hernawan dkk (2002) menjabarkan secara lebih lanjut kelima prinsip
umum dalam pengembangan instruksional seperti tersebut di atas sebagai berikut.
1. Prinsip
relevansi: secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara
komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi).
Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi
dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis),
tuntutan dan potensi peserta diklat (relevansi psikologis) serta tuntutan dan
kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2. Prinsip
fleksibilitas: dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan
memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan
terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan
waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta diklat.
3. Prinsip
kontinuitas: yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal,
maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan
kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas,
antarjenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis
pekerjaan.
4. Prinsip
efisiensi: yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat
mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal,
cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5. Prinsip
efektivitas: yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai
tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Prinsip-Prinsip Khusus dalam Desain pembelajaran dapat
dijabarkan sebagai berikut:
1. Prinsip
berkenaan dengan tujuan pendidikan: ketentuan/kebijakan pemerintah; survey
persepsi user; survey pandangan para ahli atau nara sumber; pengalaman
badan pemerintah yang lain atau dari negara lain; penelitian sebelumnya
2. Prinsip
berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan: penjabaran tujuan ke dalam bentuk
pengalaman belajar yang diharapkan; isi meliputi pengetahuan, sikap, dan
keterampilan disusun berdasarkan urutan logis dan sistematis
3. Prinsip
berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar: keselarasan pemilihan
metode; memperhatikan perbedaan individual ; pencapaian aspek kognitif,
afektif, dan skills.
4. Prinsip
berkenaan dengan pemilihan media: ketersediaan alat yang sesuai dengan situasi;
pengorganisasian alat dan bahan; pengintegrasian ke dalam proses
5. Prinsip
berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian: kesesuaian dengan isi dan
tingkat perkembangan peserta diklat; waktu; administrasi penilaian;
Orientasi
Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran lazimnya dimulai
dari kegiatan analisis yang digunakan untuk menggambarkan masalah pembelajaran
sesungguhnya yang perlu dicari solusinya. Setelah dapat menentukan masalah yang
sesungguhnya maka langkah selanjutnya adalah menentukan alternaif solusi yang
akan digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran. Seorang perancang
program pembelajaran perlu menentukan solusi yang tepat dari berbagai
alternatif yang ada. Selanjutnya ia dapat menerapkan solusi tersebut
untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Evaluasi adalah langkah selanjutnya,
sehingga nantinya bias mengetahui rancangan atau desain yang sesuai dengan
pembelajaran dan desain tersebut bisa diaplikasikan dalam proses pembelajaran.
Secara garis
besar desain pembelajaran terdiri dari lima langkah penting, yaitu:
1)
Analisis lingkungan dan kebutuhan belajar siswa.
2) Merancang spesifikasi proses pembelajaran
yang efektif dan efesien serta sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan
belajar siswa.
3)
Mengembangkan bahan-bahan untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
4)
Implementasi desain pembelajaran.
5)
Implementasi evaluasi formaif dan sumatif terhadap program pembelajaran
Tujuan sebuah desain pembelajaran
adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan
memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia. Dengan demikian, suatu desain
muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi.
Menurut Morisson, Ross & Kemp (2007) terdapat empat komponen dasar dalam
perencanaan desain pembelajaran. Keempat hal tersebut mewakili pertanyaan
pertanyaan berikut:
- Untuk siapa program ini dibuat dan dikembangkan? (karakteristik siswa atau peserta ajar)
- Anda ingin siswa atau peserta ajar mempelajari apa? (tujuan)
- Isi pembelajaran seperti apa yang paling baik untuk dipelajari? (strategi pembelajaran)
- Bagaimanakah cara anda mengukur hasil pembelajaran yang telah dicapai? (prosedur evaluasi)
·
Desain
instruksional atau sering sebut perencanaan pengajaran, telah lama mendapat
perhatian dari pakar pengajaran. Banyak pakar yang mengembangkan model-model
desain instruksional dengan pola-pola tertentu.
Secara umum, desain instruksional dirancang sebenarnya untuk menjawab 3
pertanyaan pokok, yaitu: 1. Apa yang dipelajari? (tujuan pembelajaran); 2.
Apa/bagaimana prosedur dan sumber-sumber belajar yang tepat untuk mencapai
hasil pembelajaran yang diinginkan? (kegiatan dan sumber) 3. Bagaimana
mengetahui bahwa hasil belajar yang diharapkan tercapai(evaluasi). Dalam dunia
perencanaan pengajaran harus mengenal model-model perencanaan yang dikembangkan
oleh pakar misalnya: Tyler, Hilda, Taba, Dick and Carey, dan Kempt. Adanya
variasi model desain tersebut disebabkan latar belakang pendekatan, prinsip,
faktor sistem pendidikan yang dianut dan kemudian dikembangkan oleh
masing-masing pakar.
1. Model Dick dan Carey
Dick, Carey, dan Carey (2001) memandang desain pembelajaran sebagai sebuah
system dan menganggap pembelajaran adalah proses yang sistematis. Pada
kenyataannya cara kerja yang sistematis inilah dinyatakan sebagai model pendekatan
system. Dipertegas oleh Dick, Carey, dan Crey (2001) bahwa pendekatan system
selalu mengacu kepada tahapan umum system pengembangan pembelajaran
(Instructional System Development/ISD). Jika berbicara masalah desain maka
masuk ke dalam proses, dan jika mengunakan istilah Instructional Design (ID)
mengacu pada Instructional System Development (ISD) yaitu tahapan
analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Instructional
desain inilah yang menjadi payung bidang (Dick, Carey, dan Crey 2001). Langkah–langkah
Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah:
- Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran.
- Melaksanakan analisi pembelajaran
- Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa
- Merumuskan tujuan performansi
- Mengembangkan butir–butir tes acuan patokan
- Mengembangkan strategi pembelajaran
- Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran
- Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif
- Merevisi bahan pembelajaran
- Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif
2. Model Assure
Model Assure adalah salah
satu petunjuk dan perencanaan yang bisa membantu untuk bagaimana cara
merencanakan, mengidentifikasi, menentukan tujuan, memilih metode dan bahan,
serta evaluasi. Model assure ini merupakan rujukan bagi pendidik dalam
membelajarkan peserta didik dalam pembelajaran yang direncanakan dan disusun
secara sistematis dengan mengintegrasikan teknologi dan media sehingga
pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna bagi peserta didik.
- Analisis Pelajar
Heinich
(2005) menyatakan sukar untuk menganalisis semua ciri pelajar yang ada, namun
ada tiga hal penting dapat dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai berdasarkan
cirri-ciri umum, keterampilan awal khusus dan gaya belajar
- Menyatakan Tujuan
Tujuan pembelajaran akan menginformasikan apakah yang sudah dipelajari anak
dari pengajaran yang dijalankan.
- Pemilihan Metode, media dan bahan
Heinich et al. (2005) menyatakan ada tiga hal penting dalam pemilihan
metode, bahan dan media yaitu menentukan metode yang sesuai dengan tugas
pembelajaran, dilanjutkan dengan memilih media yang sesuai untuk melaksanakan
media yang dipilih, dan langkah terakhir adalah memilih dan atau mendesain media
yang telah ditentukan.
- Penggunaan Media dan bahan
Menurut Heinich et al (2005) terdapat lima langkah bagi penggunaan media
yang baik yaitu, preview bahan, sediakan bahan, sedikan persekitaran, pelajar
dan pengalaman pembelajaran.
- Partisipasi Pelajar di dalam kelas
Sebelum pelajar dinilai secara formal, pelajar perlu dilibatkan dalam
aktivitas pembelajaran seperti memecahkan masalah, simulasi, kuis atau
presentasi.
- Penilaian dan Revisi
Sebuah media pembelajaran yang telah siap perlu dinilai untuk menguji keberkesanan
dan impak pembelajaran. Penilaian yang dimaksud melibatkan beberaoa aspek
diantaranya menilai pencapaian pelajar, pembelajaran yang dihasilkan, memilih
metode dan media, kualitas media, penggunaan guru dan penggunaan pelajar.
3. Model Jerold E. Kemp, dkk
Model desain
system pembelajaran yang dikemukakan oleh Jerold E. Kemp dkk berbentuk
lingkaran menunjukkan adanya proses kontinyu dalam menerapkan desain system
pembelajaran, yang terdiri dari beberapa komponen diantaranya
a. Mengidentifikasi
masalah dan menetapkan tujuan pembelajaran
b. Menentukan
dan menganalisis karakter siswa
c. Mengidentifikasi
materi dan menganalisis komponen tugas belajar yang berkaitan dengan
pencapaian
tujuan pembelajaran
d. Menetapkan tujuan
pembelajaran khusus bagi siswa
e. Membuat
sistematika panyampaian materi pembelajaran secara sistematik dan logis
f. Merancang
strategi pembelajaran
g. Menetapkan
metode untuk menyampaikan materi pelajaran
h. Mengembangkan
instrumen evaluasi
i. Memilih
sumber-sumber yang dapat mendukung aktivitas pembelajaran
4. Model ADDIE
Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu
model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada
tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya
ADIDE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program
pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.
Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :

Langkah 1: Analisis
Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan
dipelajari oleh peserta belajar, yaitu melakukan needs assessment (analisis
kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas
(task analysis).
Langkah 2: Desain
Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan .Pertama merumuskan
tujuan pembelajaran yang SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan
realistic). Selanjutnya menyusun tes, dimana tes tersebut harus didasarkan pada
tujuan pembelajaran yag telah dirumuskan tadi. Kemudian tentukanlah strategi
pembelajaran yang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut.
Dalam hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat kita
pilih dan tentukan yang paling relevan. Disamping itu, pertimbangkan pula
sumber-sumber pendukung lain, semisal sumber belajar yang relevan, lingkungan
belajar yang seperti apa seharusnya, dan lainlain. Semua itu tertuang dalam
sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.
Langkah 3: Pengembangan
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi
kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia
pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Atau diperlukan
modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya dengan
lingkungan belajar lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya harus
disiapkan dalam tahap ini.
Langkah 4: Implementasi
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan system pembelajaran yang
sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan
diinstal atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar
bisa diimplementasikan.
Langkah 5: Evaluasi
Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang
dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak.
5. Model Rothwel & Kazanas
Model Model Rothwel & Kazanas (1994) merupakan model berbasis sistem,
mengembangkan teori sistem atau pendekatan sistem dalam pelaksanaannya.
Memiliki ciri:
• Jumlah komponen relatif banyak
• Seringkali diawali dengan analisis kebutuhan
• Memisahkan penilaian proses belajar dan penilaian terhadap program belajar
• Merupakan prosedur pengembangan, karena adanya alur feedback dan komponen revisi
Memiliki ciri:
• Jumlah komponen relatif banyak
• Seringkali diawali dengan analisis kebutuhan
• Memisahkan penilaian proses belajar dan penilaian terhadap program belajar
• Merupakan prosedur pengembangan, karena adanya alur feedback dan komponen revisi
6. Desain pembelajaran CDT ( Component Display Theory)
Desain pembelajaran CDT ( Component Display Theory merupakan contoh model
materi ajar atau pengetahuan ( content based ), menitikberatkan bagaimana suatu
topik yang menjadi bagian dari suatu materi atau mata ajaran disampaikan kepada
pembelajar. Memiliki ciri:
- Komponen yang ada tidak banyak dan cenderung tidak lengkap
- Strategi penyampaian cenderung memberikan masukan bagaimana cara menjelaskan atau menyajikan materi di kelas
- Kebanyakan mengacu kepada materi bersifat kognitif
- Lingkupnya sempit
- Tidak mencerminkan upaya pebelajar untuk menguasai kompetensi yang harus dicapai
Kelebihan Pendekatan Sistem Dalam
Desain Pembelajaran
Manfaat merencanakan pembelajaran dengan pendekatan sistem di antaranya
sebagai berikut:
1). Dengan pendekatan sistem, arah dan tujuan pembelajaran dapat
direncanakan dengan jelas. Dengan tujuan yang jelas, maka kita dapat menetapkan
arah dan sasaran dengan pasti. Perumusan tujuan merupakan salah satu
karakteristik pendekatan sistem. Penentuan komponen-komponen pembelajaran pada
dasarnya diarahkan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan sistem, setiap
guru dapat lebih memahami tujuan dan arah pembelajaran untuk menentukan
langkah-langkah pembelajaran dan pengembangan komponen yang lain, dan dapat
dijadikan kriteria efektivitas proses pembelajaran.
2). Pendekatan sistem menuntun guru pada kegiatan yang sistematis. Berpikir
secara sistem adalah berpikir runtut, sehingga melalui langkah-langkah yang
jelas dan pasti memungkinkan hasil yang diperoleh akan maksimal.
3). Pendekatan sistem dapat merancang pembelajaran dengan mengoptimalkan
segala potensi dan sumber daya yang tersedia. Jadi berpikir sistematis adalah
berpikir bagaimana agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh siswa.
4). Pendekatan sistem dapat memberikan umpan balik. Melalui umpan balik,
dalam pendekatan sistem, dapat diketahui apakah tujuan telah berhasil dicapai
atau belum.
Dari paparan diatas penulis mengangkat permasalahan sebagai berikut :
dalam mendesain suatu sistem pembelajaran, tujuannya adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan
memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia, dari beberapa model desain diatas model mana yang cocok dikembangkan di Indonesia ? apakah suatu model pengembangan bisa dikombinasikan dengan model pengembangan lain ? bagaimana kaitannya dengan potensi peserta didik dan keterdukungan sumber daya serta saran prasarana ? berikan pandangan anda tentang hal ini dalam pembelajaran kimia khusus nya. terimakasih.

