Kita telah memasuki abad 21 yang
ditandai dengan perkembangan dunia yang semakin cepat dan kompleks.
Berbagai perubahan terjadi dalam bidang pengetahuan, teknologi dan informasi secara mengglobal dan perubahan tersebut pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat modern, seperti manfaatnya dalam bidang kedokteran, komunikasi, dan nanoteknologi. Namun seiring dengan manfaat yang dirasakan masyarakat, dampak negatif juga bermunculan, seperti terjadinya pemanasan global, krisis energi atau kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, tidak dapat dihindari bahwa masyarakat membutuhkan pemahaman tentang fakta-fakta ilmiah dan hubungan antara sains,
teknologi, dan masyarakat. Masyarakat yang
memiliki pengetahuan tersebut dan mampu menerapkan pengetahuannya untuk memecahkan masalah-masalah dalam
kehidupan nyata disebut
dengan masyarakat berliterasi sains (Bond, 1989). Oleh karena itu, tercapainya
masyarakat yang berliterasi sains sudah menjadi tuntutan zaman. Literasi sains
merupakan salah satu keterampilan/kapabilitas yang diperlukan di abad 21
diantara 16 keterampilan yang diidentifikasi oleh World Economic Forum (Wefusa,
2015).
Menurut Shwartz et al. (2006a) literasi kimia mencakup empat domain, yaitu:
1. Pengetahuan materi kimia dan gagasan ilmiah. Seorang yang berliterasi kimia akan memahami:
Gagasan ilmiah umum
· Kimia adalah disiplin ilmu eksperimental. Kimiawan melakukan inkuiri ilmiah, membuat generalisasi, dan mengajukan teori untuk menjelaskan fenomena alam semesta.
· Kimia menyediakan pengetahuan yang digunakan untuk menjelaskan fenomena dalam bidang lain, misalnya ilmu bumi atau ilmu biologi.
Ide-ide pokok kimia
· Kimia mencoba menjelaskan fenomena makroskopis dalam bentuk struktur molekul materi.
· Kimia menyelidiki dinamika proses dan reaksi.
· Kimia menyelidiki perubahan energi yang terjadi dalam reaksi kimia.
· Kimia bertujuan memahami dan menjelaskan kehidupan dikaitkan dengan struktur kimia dan proses dalam sistem kehidupan.
· Kimia menggunakan bahasa khusus. Orang yang berliterasi tidak harus menggunakan bahasa ini, tapi sebaiknya mengapresiasi kontribusi bahasa tersebut pada perkembangan disiplin kimia.
1. Pengetahuan materi kimia dan gagasan ilmiah. Seorang yang berliterasi kimia akan memahami:
Gagasan ilmiah umum
· Kimia adalah disiplin ilmu eksperimental. Kimiawan melakukan inkuiri ilmiah, membuat generalisasi, dan mengajukan teori untuk menjelaskan fenomena alam semesta.
· Kimia menyediakan pengetahuan yang digunakan untuk menjelaskan fenomena dalam bidang lain, misalnya ilmu bumi atau ilmu biologi.
Ide-ide pokok kimia
· Kimia mencoba menjelaskan fenomena makroskopis dalam bentuk struktur molekul materi.
· Kimia menyelidiki dinamika proses dan reaksi.
· Kimia menyelidiki perubahan energi yang terjadi dalam reaksi kimia.
· Kimia bertujuan memahami dan menjelaskan kehidupan dikaitkan dengan struktur kimia dan proses dalam sistem kehidupan.
· Kimia menggunakan bahasa khusus. Orang yang berliterasi tidak harus menggunakan bahasa ini, tapi sebaiknya mengapresiasi kontribusi bahasa tersebut pada perkembangan disiplin kimia.
2. Kimia dalam konteks.
Seseorang yang berliterasi kimia harus dapat:
· Mengakui pentingnya pengetahuan kimia dalam menjelaskan fenomena/situasi dalam kehidupan sehari-hari
· Mengakui pentingnya pengetahuan kimia dalam menjelaskan fenomena/situasi dalam kehidupan sehari-hari
· Memahami hubungan antara inovasi kimia dengan proses sosial.
·
Menggunakan pemahamannya tentang
kimia dalam kehidupannya sehari-hari, sebagai konsumen produk dan teknologi
baru, dalam pengambilan keputusan, dan dalam keikutsertaannya dalam perdebatan sosial
tentang isu-isu terkait kimia.
3. Keterampilan belajar tingkat tinggi, Seseorang yang berliterasi kimia mampu:
·Mengidentifikasi isu-isu ilmiah
·Menjelaskan fenomena ilmiah
·Menggunakan bukti-bukti ilmiah
·Mengevaluasi pro/kontra perdebatan.
4. Aspek afektif. Seseorang yang berliterasi kimia memiliki pandangan yang adil dan rasional terhadap kimia dan aplikasinya, menunjukkannya minat terhadap masalah-masalah terkait kimia, khususnya di lingkungan non formal seperti media massa. Ratcliffe and Millar (2009) mengemukakan bahwa sikap merupakan aspek yang penting dalam literasi sains karena tanggapan siswa terhadap isu-isu ilmiah menunjukkan ketertarikannya terhadap isu-isu tersebut, seberapa besar dukungan mereka terhadap isu-isu tersebut dan rasa tanggung jawab yang mereka miliki terhadap situasi tersebut.
Di
era globalisasi yang penuh dengan tantangan dan persaingan antar individu,
setiap orang dituntut untuk memiliki kualitas dan keterampilan yang mumpuni
dalam menjawab setiap tantangan tersebut. Keterampilan yang dimaksud ini antara
lain terampil menggunakan teknologi, terampil mengelola informasi, terampil
belajar, terampil berinovasi, terampil hidup, terampil berkarir, dan terampil
meningkatkan diri dalam kesadaran global. Untuk itu penguasaan keterampilan ini
wajib dimiliki oleh setiap siswa-siswa Indonesia yang menjadi tulang punggung
perjuangan dan harapan dari bangsa ini. Namun, bagi siswa Indonesia seluruh
keterampilan itu belumlah cukup. Masih ada keterampilan esensial yang mendasari
semua keterampilan yang wajib siswa kuasai yaitu terampil menjalankan
ketakwaannya kepada Tuhan lewat agamanya masing-masing. Keterampilan utama dan
terutama adalah memilih mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.
Mengendalikan diri dalam memilih kekuatan pikirannya sebagai sandaran dari
tindakannya, dan menyerahkan sebagian pengaturan hidupnya kepada Yang Maha
Kuasa.
Para
pakar yang mencoba merumuskan keterampilan yang dibutuhkan siswa pada abad 21
sebagai berikut :
•
Memiliki karakter sebagai pemikir. Karakter sebagai pemikir
ini ditandai dengan terampil berpikir inovatif lewat kecepatan beradaptasi
dengan lingkungan, mampu memecahkan masalah yang kompleks, dan dapat
mengendalikan diri sendiri dalam menghadapi tantangan yang ada, cerdas,
kreatif, dan berani ambil resiko. Selain itu. karakter yang relevan dengan
kerja otak ini meliputi prilaku berpikir yang selalu ingin tahu, berpikir
terbuka, dan bersikap reflektif.
•
Memiliki etos kerja yang tinggi sehingga produktif. Hal
ini ditandai dengan memiliki kemampuan untuk menentukan prioritas,
mengembangkan perencanaan, memetakan hasil pencapaian, terampil menggunakan
perangkat kerja, dan meningkatkan keterampilan yang sejalan dengan perkembangan
teknologi. Di samping itu, terampil mengembangkan kecakapan yang relevan dengan
kebutuhan hidup, dan selalu menghasilkan mutu produk yang tinggi. Karakter yang
relevan dengan hal ini adalah prilaku hidup yang bersih dan sehat, disiplin,
sportif, tidak kenal menyerah, tangguh, handal, berketetapan hati, kerja keras,
dan kompetitif.
• Memiliki
keterampilan berkomunikasi. Hal ini ditandai dengan kemampuan bekerja
dalam tim yang bervariasi, berkolaborasi, dan cakap mengembangkan hubungan
interpersonal sehingga selalu dapat menempatkan diri dalam interaksi yang
harmonis. Memiliki kecakapan komunikasi personal, sosial, dan terampil
mengejawantahkan tanggung jawab. Yang tidak kalah pentingnya adalah terampil
dalam komunikasi interaktif dengan cerdas dan rendah hati. Karakter yang
relevan dengan keterampilan ini adalah menghargai, toleran, peduli, suka
menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit, mengutamakan kepentingan umum
dan bangga terhadap produk bangsa sendiri.
•
Cakap dalam menggunakan teknologi dan informasi. Hal ini
ditandai dengan kecakapan untuk memvisualisasikan informasi dalam mengembangkan
keterampilan multikultural, bekerja sama dan berkomunikasi dalam ruang lintas
bangsa, serta terampil mengembangkan kesadaran global.
• Bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia memandang bahwa kecakapan
intelektual, digital, sosial, dan akademik belum cukup. Anak Indonesia wajib
memiliki kecakapan hidup yang yang lebih bernilai yang ditandai dengan
keterampilan beriman dan bertakwa, terampil hidup jujur, terampil menjalankan
amanah, terampil berbuat adil, terampil menjalankan tanggung jawab, terampil
berempati, dan patuh menjalankan hidup beragama sebagai releksi menjalankan
perintah Tuhan.
Untuk
mengembangkan pembelajaran abad 21, guru harus memulai satu langkah perubahan
yaitu merubah pola pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru menjadi
pola pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pola pembelajaran yang tradisional
bisa dipahami sebagai pola pembelajaran dimana guru banyak memberikan ceramah
sedangkan siswa lebih banyak mendengar, mencatat dan menghafal. Guru sudah
sering mendengar mengenai pola pembelajaran CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif),
namun pendekatan yang dilakukan masih bersifat tradisional. Untuk mengerti pola
pembelajaran yang berpusat pada siswa maka kita bisa kembali kepada slogan
pendidikan kita yang tercantum dalam logo kementerian pendidikan dan kebudayaan
dan merupakan pesan dari Bapak Pendidikan Bangsa, Ki Hajar Dewantara, yaitu Tut
Wuri Handayani. Guru berperan sebagai pendorong dan fasilitator agar siswa bisa
sukses dalam kehidupan. Satu hal lain yang penting yaitu guru akan menjadi
contoh pembelajar (learner model), guru harus mengikuti perkembangan ilmu terakhir
sehingga sebetulnya dalam seluruh proses pembelajaran ini guru dan siswa akan
belajar bersama namun guru mempunyai tugas untuk mengarahkan dan mengelola
kelas. Untuk mampu mengembangkan pembelajaran abad 21 ini ada beberapa hal yang
penting untuk diperhatikan yaitu antara lain :
1. Tugas Utama Guru Sebagai Perencana Pembelajaran. Sebagai fasilitator dan pengelola kelas maka tugas guru yang penting adalah dalam pembuatan RPP. RPP haruslah baik dan detil dan mampu menjelaskan semua proses yang akan terjadi dalam kelas termasuk proses penilaian dan target yang ingin dicapai. Dalam menyusun RPP, guru harus mampu mengkombinasikan antara target yang diminta dalam kurikulum nasional, pengembangan kecakapan abad 21 atau karakter nasional serta pemanfaatan teknologi dalam kelas.
2. Masukkan unsur Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking). Teknologi dalam hal ini khususnya internet akan sangat memudahkan siswa untuk memperoleh informasi dan jawaban dari persoalan yang disampaikan oleh guru. Untuk permasalahan yang bersifat pengetahuan dan pemahaman bisa dicari solusinya dengan sangat mudah dan ada kecenderungan bahwa siswa hanya menjadi pengumpul informasi. Guru harus mampu memberikan tugas di tingkat aplikasi, analisa, evaluasi dan kreasi, hal ini akan mendorong siswa untuk berpikir kritis dan membaca informasi yang mereka kumpulkan sebelum menyelasikan tugas dari guru.
3. Penerapan pola pendekatan dan model pembelajaran yang bervariasi. Beberapa pendekatan pembelajaran seperti pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning), pembelajaran berbasis keingintahuan (Inquiry Based Learning) serta model pembelajaran silang (jigsaw) maupun model kelas terbalik (Flipped Classroom) dapat diterapkan oleh guru untuk memperkaya pengalaman belajar siswa (Learning Experience). Satu hal yang perlu dipahami bahwa siswa harus mengerti dan memahami hubungan antara ilmu yang dipelajari di sekolah dengan kehidupan nyata, siswa harus mampu menerapkan ilmunya untuk mencari solusi permasalahan dalam kehidupan nyata. Hal ini yang membuat Indonesia mendapatkan peringkat rendah (64 dari 65 negara) dari nilai PISA di tahun 2012, siswa Indonesia tidak biasa menghubungkan ilmu dengan permasalahan riil kehidupan.
4. Integrasi Teknologi. Sekolah dimana siswa dan guru mempunyai akses teknologi yang baik harus mampu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran, siswa harus terbiasa bekerja dengan teknologi seperti layaknya orang yang bekerja. Seringkali guru mengeluhkan mengenai fasilitas teknologi yang belum mereka miliki, satu hal saja bahwa pengembangan pembelajaran abad 21 bisa dilakukan tanpa unsur teknologi, yang terpenting adalah guru yang baik yang bisa mengembangkan proses pembelajaran yang aktif dan kolaboratif, namun tentu saja guru harus berusaha untuk menguasai teknologinya terlebih dahulu.Hal yang paling mendasar yang harus diingat bahwasannya teknologi tidak akan menjadi alat bantu yang baik dan kuat apabila pola pembelajarannya masih tradisional. Sementara itu, Jennifer Nichols menyederhanakannya ke dalam 4 prinsip pokok pembelajaran abad ke 21yang dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
1. Instruction should be student-centered
Pengembangan
pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan
minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan
dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya
mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan
tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan
masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
2. Education should be collaborative
Siswa
harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain.
Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan
nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa
perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan
suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan
talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri
secara tepat dengan mereka.
3. Learning should have context
Pembelajaran
tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di
luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan
siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar
dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya
serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian
kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
4. Schools should be integrated with society
Dalam
upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya
dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan
kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan
melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam
berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan,
pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak
pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan
kepedulian sosial.
Dari
paparan diatas, penulis mengemukakan beberapa permasalahan yaitu
Dalam
tuntutan abad 21, Literasi sains merupakan salah satu keterampilan/kapabilitas
yang diperlukan, bagaimana tanggapan anda tentang hal ini ? Apakah kurikulum
kita sudah bisa mengakomodir tuntutan ini ? Dalam mencapai tuntutan abad 21,
sebagai pendidik kira2 langkah apa yang bisa saudara lakukan untuk menjawab
tantangan abad 21 ? agar siswa biasa menghubungkan ilmu dengan permasalahan
riil kehidupan.



