Kurikulum 2013 menuntut siswa untuk berperan aktif dan
keratif dalam proses belajar mengajar di kelas. Kemampuan kreatif merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki siswa. Berpikir, memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu yang baru merupakan kegiatan yang kompleks dan berhubungan erat satu dengan yang lainnya. Suatu masalah tidak dapat dipecahkan tanpa berpikir dan banyak masalah memerlukan pemecahan baru melalui keterampilan kreatif. Kreatif adalah berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau
hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki (Listiyarti, 2012: 6).
Penilaian dalam kurikulum 2013 menggunakan prinsip
penilaian berkelanjutan dan
komprehensif supaya dapat mendukung upaya memandirikan siswa dalam belajar dan bekerja sama. Penilaian merupakan suatu
proses pengumpulan berbagai jenis
data yang dapat memberikan informasi atau gambaran
tentang perkembangan belajar siswa. Dalam proses pembelajaran, tidak semua bentuk penilaian dapat cocok dengan kompetensi yang
akan dicapai. Akan tetapi sebisa
mungkin bentuk penilaian yang digunakan dapat mencakup tiga ranah kompetensi, yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Dengan begitu penilaian yang dilakukan tidak hanya tepat tetapi juga
lebih komprehensif. Penilaian proyek adalah salah satu jenis penilaian yang
komprehensif yang mencakup ketiga ranah tersebut. Teknik penilaian proyek akan
memberikan sebuah gambaran kemampuan menyeluruh secara kontekstual mengenai kemampuan
siswa dalam memahami dan menerapkan konsep pada materi tertentu (Bahri , 2000).
Pendapat lainnya mendefiniskan kreatif adalah memiliki
kemampuan untuk menciptakan dan bersifat daya cipta, pekerjaan yang menghendaki
kecerdasan dan imaginasi (Depdikbud, 1997: 760). Torrance (dalam Busyairi, 2015: 593) menjelaskan bahwa keterampilan kreatif merupakan sebuah keterampilan untuk memikirkan banyak kemungkinan, menggunakan cara yang bervariasi, menggunakan sudut pandang yang berbeda, memikirkan sesuatu yang baru serta untuk membimbing kita dalam menghasilkan dan memilih alternatif. Torrance dalam Leung (1997:82)
menjelaskan karakteristik keterampilan kreatif yang dimiliki seseorang dapat
dilihat dari kefasihan (fluency), fleksibilitas dan keaslian (originality).
Kefasihan, yaitu banyaknya ide-ide yang dibuat dalam merespon sebuah perintah.
Fleksibilitas ditunjukkan pada perubahan-perubahan pendekatan ketika merespon
perintah, dan kebaruan ditunjukkan pada keaslian ide yang dibuat dalam merespon perintah. Pendapat sendada dikemukakan Silver, dkk
(1996: 78) bahwa seseorang dikatakan memiliki keterampilan kreatif filihat dari
1) kefasihan mengacu pada banyaknya masalah yang diajukan,
2) fleksibilitas
mengacu kategori-kategori masalah yang dibuat, dan
3) keaslian melihat
bagaimana perbedaan respon-respon dalam sekumpulan respon.
Harsanto (2005:45) menyatakan bahwa ciri orang yang memiliki keterampilan kreatif meliputi:
1) Membedakan antara fakta, non fakta dan opini;
2) Membedakan antara kesimpulan definitif dan sementara;
3) Menguji tingkat kepercayaan;
4) Membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan
5) Berpikir kritis atas materi yang dibacanya; (6) Membuat keputusan;
6) Mengidentifikasi sebab dan akibat;
7) Mempertimbangkan wawasan lain;
8) Menguji
pertanyaan yang dimilikinya.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan
bahwa keterampilan kreatif dapat mengabaikan hubungan yang sudah ada, dan menciptakan
hubunganhubungan yang baru. Pengertian ini menunjukan bahwa keterampilan
kreatif merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan suatu kombinasi yang belum dikenal sebelumnya. Keterampilan kreatif dapat juga dipandang sebagai
suatu proses yang digunakan ketika seorang individu mendatangkan atau memunculkan suatu ide baru. Ide baru tersebut merupakan gabungan ide- ide sebelumnya yang belum pernah diwujudkan atau masih dalam pemikiran. Keterampilan kreatif ini ditandai adanya ide dan cara baru yang dimunculkan sebagai hasil dari proses berpikir tersebut. Untuk menguatkan keterampilan kreatif diperlukan sebuah ide di dalam bentuk yang memungkinkan pengalamanpengalaman pribadidan reaksi- reaksi tersendiri atau lainya memperkuat keterampilan tersebut.
suatu proses yang digunakan ketika seorang individu mendatangkan atau memunculkan suatu ide baru. Ide baru tersebut merupakan gabungan ide- ide sebelumnya yang belum pernah diwujudkan atau masih dalam pemikiran. Keterampilan kreatif ini ditandai adanya ide dan cara baru yang dimunculkan sebagai hasil dari proses berpikir tersebut. Untuk menguatkan keterampilan kreatif diperlukan sebuah ide di dalam bentuk yang memungkinkan pengalamanpengalaman pribadidan reaksi- reaksi tersendiri atau lainya memperkuat keterampilan tersebut.
Munandar (2004: 90) mengemukakan
alasan mengapa kreativitas pada diri peserta didik perlu dikembangkan. Pertama, dengan berkreasi maka orang
dapat mewujudkan dirinya (Self Actualization).
Kedua, pengembangan kreativitas khususnya dalam pendidikan formal masih belum memadai. Ketiga,
bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat tetapi juga memberikan
kepuasan tersendiri. Keempat, kreativitaslah yang memungkinkan manusia untuk
meningkatkan kualitas hidupnya. Unsur kreatif diperlukan dalam menyelesaikan masalah. Semakin
kreatif seseorang, semakin banyak alternatif penyelesaiannya. Keterampilan
kreatif membantu
siswa dalam menyesuaikan diri dengan perubahan. Para ahli percaya bahwa
perubahan berjalan cepat. Oleh karena itu, membantu siswa mengembangkan
keterampilan kreatif yang dapat menuntun mereka menyesuaikan diri dengan kondisi
hidupnya akan sangat berguna bagi kehidupannya.
Usaha-usaha Orang Tua
dan Guru Mengembangkan Kreativitas
Dalam mengembangkan
kreativitas ini guru sangat diharapkan peran yang aktif untuk memberikan
pemahaman pada remaja yang menjadi peserta didiknya. Usaha-usaha guru adalah:
- Membantu anak/peserta didik untuk memahami latar belakang mereka, pengalaman mereka dan kebiasaan perilaku. Pada cara ini diizinkan masing-masing pribadi untuk mengembangkan potensi dirinya.
- Guru dan orang tua dapat menciptakan suasana untuk mendorong pemikiran kreatif dengan menghilangkan halangan luar dari kreativitas. Sensitifitas pada problem ditingkatkan, metode untuk membahas membebaskan imajinasi dapat dikembangkan dan sarana sistematis untuk mengevaluasi ide-ide dapat diajarkan pula.
- Anak/peserta didik diberi kesempatan untuk mempraktekkan pemikiran kreatif dalam suasana yang terkendali dan terkontrol.
- Cara-cara mengembangkan imajinasi anak/peserta didik dengan memberikan masalah-masalah yang dapat meningkatkan inteligensi remaja untuk membuahkan ide-ide yang baik, kriteria yang berbeda pada keunikan dan kegunaan.
- Guru dan orang tua harus memberikan cara instruksi yang semantik didalam menerapkan imajinasi yang dapat menghasilkan pengembangan potensi yang ada pada diri remaja.
Kemampuan memberikan penilaian atau evaluasi
terhadap suatu obyek atau situasi juga mencerminkan kreativitas, jika dalam penilaiannya seseorang mampu melihat obyek, situasi, atau masalahnya dari sudut pandang yang berbeda-beda.
Ciri-ciri berpikir kreatif (aptitude) (Munandar, 2008) seperti terlihat
pada tabel berikut:
Pengertian
|
Perilaku
|
Berpikir Lancar (Fluency)
1. Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah atau jawaban. 2. Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal. 3. Selalu memikirkan lebih dari satu jawaban. |
a. Mengajukan banyak pertanyaan.
b. Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada. c. Mempunyai banyak gagasan mengenai suatu masalah. d. Lancar mengungkapkan gagasangagasannya. e. Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak dari orang lain. f. Dapat dengan cepat melihat kesalahan dan kelemahan dari suatu objek atau situasi. |
Berpikir Luwes (Flexibility)
1. Menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi. 2. Dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda. 3. Mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda. 4. Mampu mengubah cara pendekatan atau pemikiran. |
a. Memberikan bermacam-macam
penafsiran terhadap suatu gambar, cerita atau masalah. b. Menerapkan suatu konsep atau asas dengan cara yang berbeda-beda. c. Jika diberikan suatu masalah biasanya memikirkan bermacam macam cara untuk menyelesaikan. |
Berpikir Orisinil (Originality)
1. Mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik. 2. Memikirkan cara-cara yang tak lazim untuk mengungkapkan diri. 3. Mampu membuat kombinasi kombinasi yang tak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur. |
a. Memikirkan masalah-masalah atau
hal yang tidak terpikirkan orang lain. b. Mempertanyakan cara-cara yang lama dan berusaha memikirkan cara-cara yang baru. c. Memilih cara berpikir lain daripada yang lain. |
Berpikir Elaboratif (Elaboration)
1. Mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk. 2. Menambah atau merinci detail detail dari suatu objek, gagasan atau situasi sehingga menjadi lebih menarik. |
a. Mencari arti yang lebih mendalam
terhadap jawaban atau pemecahan masalah dengan melakukan langkah-langkah yang terperinci. b. Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain. c. Menambah garis-garis, warna warna, dan detail-detail terhadap gambarnya sendiri atau gambar orang lain. |
Berpikir Evaluatif (Evaluation)
1. Menentukan kebenaran suatu pertanyaan atau kebenaran suatu penyelesaian masalah. 2. Mampu mengambil keputusan terhadap situasi terbuka. 3. Tidak hanya mencetuskan gagasan tetapi juga melaksanakannya. |
a. Memberi pertimbangan atas dasar
sudut pandang sendiri. b. Mencetuskan pandangan sendiri mengenai suatu hal. c. Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. d. Menentukan pendapat dan bertahan terhadapnya. |
Proses
Berpikir Kreatif
Siswono & Kurniawati dalam Iswanti
(2016:633) menyatakan bahwa berpikir merupakan proses yang dinamis yang dapat
dilukiskan menurut proses atau
jalannya. Rusyna (2014:118) menjelaskan
bahwa teori proses kreatif terdiri dari empat tahap yaitu: (1) kejenuhan (saturation), (2) inkubasi (incubation), (3) inspirasi (inspiration), dan (4) verifikasi (verification). Menurut De Porter dan Mike Hernacki
dalam Uno (2014:164) ada lima proses kreatif yang diungkapkannya, yaitu:
1. Persiapan, mendefinisikan masalah, tujuan atau tantangan.
2. Inkubasi, mencerna fakta-fakta dan mengolahnya dalam pikiran.
3. Iluminasi, mendesak ke permukaan, gagasan-gagasan bermunculan.
4. Verifikasi, memastikan bahwa solusi itu benar-benar memecahkan masalah.
5. Aplikasi, mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti solusi
tersebut.
Komponen-komponen berpikir kreatif dapat ditemukan berdasarkan pendapat para ahli. Menurut Santrock (2007) kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir dalam cara-cara yang baru dan tidak biasa serta menghasilkan pemecahan masalah yang unik. Stenberg (2012) dan Runco (2007) juga sepakat bahwa kreativitas adalah proses memproduksi sesuatu yang orisinil dan bernilai. Lebih lanjut Pehkonen & Helsinki (1997) menyatakan bahwa berpikir kreatif adalah suatu kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen yang didasarkan pada intuisi tetapi masih dalam kesadaran. Silver (1997) juga menjelaskan bahwa komponen berpikir kreatif mencakup kefasihan (fluency), fleksibilitas (flexibility) dan kebaruan (novelty). Hubungan komponen
tersebut dengan pengajuan dan pemecahan masalah seperti pada
tabel berikut:
Hubungan pemecahan dan pengajuan
masalah dengan komponen kreativitas (Silver, 1997)
Pemecahan Masalah
|
Komponen
Kreativitas |
Pengajuan Masalah
|
Siswa menyelesaikan masalah dengan bermacam-macam interpretasi, metode penyelesaian
atau jawaban masalah.
|
Kefasihan
|
Siswa membuat banyak masalah yang dapat dipecahkan.
Siswa memberikan masalah yang diajukan. |
Siswa memecahkan masalah dalam satu cara, kemudian dengan menggunakan cara
lain. Siswa mendiskusikan berbagai metode penyelesaian.
|
Fleksibilitas
|
Siswa mengajukan masalah yang cara penyelesaian
berbeda-beda. Siswa menggunakan pendekatan “what-if-not?” untuk mengajukan masalah. |
Siswa memeriksa beberapa metode penyelesaian
atau jawaban, kemudian membuat lainnya yang berbeda.
|
Kebaruan
|
Siswa memeriksa beberapa masalah yang diajukan,
kemudian mengajukan suatu masalah yang berbeda. |
INSTRUMEN LEMBAR OBSERVASI AFEKTIF BERPIKIR KREATIF SISWA
No.
|
Aspek Afektif Berpikir Kreatif
|
Skor
|
Skor
|
Skor
|
Skor
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1.
|
Berani mengambil resiko
|
||||
2.
|
Berani dan antusias dalam mengemukakan
pendapat serta menjawab pertanyaan dengan memberi jawaban yang lebih banyak |
||||
3.
|
Rasa ingin tahu yang besar
|
||||
4.
|
Menyukai tantangan dan pengalaman baru
|
||||
5.
|
Tidak mudah putus asa
|
RUBRIK PENILAIAN AFEKTIF BERPIKIR KREATIF
No
|
Aspek
|
Skor
|
1.
|
Berani mengambil resiko
|
Tingkat ketercapaian :
4 : Sangat berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh orang lain 3 : Cukup berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh orang lain 2:Kurang berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh orang lain 1: Sangat tidak berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh orang lain |
2.
|
Berani dan antusias dalam
mengemukakan pendapat serta menjawab pertanyaan dengan memberi jawaban yang lebih banyak |
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas 3: Cukup berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas 2: Kurang berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas 1: Sangat tidak berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas |
3
|
Rasa ingin tahu yang besar
|
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran 3: Cukup berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran 2: Kurang berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran 1: Sangat tidak berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran |
4.
|
Menyukai tantangan dan
pengalaman baru |
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran 3: Cukup antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran 2: Kurang antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran 1: Sangat tidak antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran |
5.
|
Tidak mudah putus asa
|
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat semangat dan tidak mudah putus asa dalam memecahkan masalah 3: Cukup Semangat dan tidak mudah putus asa dalam memecahkan masalah 2: Kurang semangat dan mudah putus asa dalam memecahkan masalah 1: Tidak semangat dan sangat mudah putus asa dalam memecahkan ma |
Kriteria skoring Kemampuan Berpikir Kreatif
(Ennis dalam Nitko &Brookhart, 2007)
Skor
|
Kriteria
|
1
|
Jawaban tidak menyatakan point utama,jawaban yang diberikan
alasan yang relevan,tidak memberikan alasan yang mendukung pernyataan,jawaban yang diberikan kurang sesuai dengan apa yang dimaksudkan dalam soal |
2
|
Jawaban menyatakan point utama tetapi tidak secara jels,memberikan
alasan yang mendukun tetapi di luar target,serta memberikan fakta yang mendukung tetapi secara umum tidak lengkap dan tidak sesuai dengan sumber yang terpercaya |
3
|
Jawaban menyatakan point utama atau pernyataan secara jelas tetapi
anya sesuai dengan wacana,memberikan alasan yang relevan yang mendukung dengan lebih baik atau alasan beragam.serta memberikan beberapa fakta yang sesuai mendukung dan secara umum fakta-fakta tersebut sesuai dan relevan |
4
|
Jawaban menyatakan point utama atau pernyataan secara
jelas,antusias dan menarik,memberikan alsan relevan yang mendukung dengan lebih baik atau alasan yang beragam,serta memberikan beberapa fakta yang secara umum sesuai mendukung |
Dari uraian diatas bisa dilihat
rubrik penilaian yang berfokus pada aspek afektif. Menurut anda bagaimana kelayakan
rubrik tersebut ? apakah rubrik ini mencakup apa yang diinginkan oleh kurikulum
2013 ? berikan pandangan anda tentang hal ini ? Selanjutnya, jika ada salah satu aspek dari berfikir kreatif tidak terpenuhi,
apakah bisa dikatakan anak sudah berhasi ? berikan argumen dan alasan anda.
