Kamis, 11 Oktober 2018

materi 5 : PRINSIP DESAIN PEMBELAJARAN KIMIA



Desain bermakna adanya keseluruhan, struktur, kerangka atau outline, dan urutan atau sistematika kegiatan. Selain itu, kata desain juga dapat diartikan sebagai proses perencanaan yang sistematika yang dilakukan sebelum tindakan pengembangan atau pelaksanaan sebuah kegiatan. Sedangkan desain pembelajaran adalah kisi-kisi dari penerapan teori belajar dan pembalajaran untuk memfasilitasi proses belajar seseorang. Desain pembelajaran juga diartikan sebagai proses merumuskan tujuan, strategi, teknik, dan media.
            Desain merupakan kerangka, bentuk atau rancangan langkah pertama dalam fase pengembangan bagi setiap produk atau sistem yang direkayasa. Desain juga dapat didefinisikan berbagai proses aplikasi berbagai teknik dan prinsip bagi tujuan pendefinisian suatu perangkat, suatu proses atau sistem dalam detail yang memadai untuk memungkinkan realisasi fisiknya. Tujuan desainer adalah untuk menghasilkan suatu model atau representasi dari entitas yang kemudian akan dibangun. Desain pembelajaran adalah praktik penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan  secara efektif antara pendidik dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Sebagai suatu disiplin, desain pembelajaran secara historis dan tradisional berakar pada kognitif dan perilaku.

            Desain pembelajaran lazimnya dimulai dari kegiatan analisis yang digunakan untuk menggambarkan masalah pembelajaran sesungguhnya yang perlu dicari solusinya. Setelah dapat menentukan masalah yang sesungguhnya maka langkah selanjutnya adalah menentukan alternaif solusi yang akan digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran.  Seorang perancang program pembelajaran perlu menentukan solusi yang tepat dari berbagai alternatif  yang ada. Selanjutnya ia dapat menerapkan solusi tersebut untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Evaluasi adalah langkah selanjutnya, sehingga nantinya bias mengetahui rancangan atau desain yang sesuai dengan pembelajaran dan desain tersebut busa diaplikasikan dalam proses pembelajaran.
            Desain pembelajaran adalah suatu prosedur yang terdiri dari langkah-langkah, dimana langkah-langkah tersebut di dalamnya terdiri dari analisis, merancang, mengembangkan, menerapkan dan menilai hasil belajar. Hal tersebut juga dikemukakan oleh Morisson, Ross & Kemp (2007) yang mendefinisikan desain pembelajaran sebagai suatu proses desain yang sistematis untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, serta membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, yang didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai teori-teori pembelajaran, teknologi informasi, sistematika analisis, penelitian dalam bidang pendidikan, dan metode-metode manajemen.
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum atau desain pembelajaran yang dibagi ke dalam dua kelompok:
1) Prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas;
2) Prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
            Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) menjabarkan secara lebih lanjut kelima prinsip umum dalam pengembangan instruksional seperti tersebut di atas sebagai berikut.
1. Prinsip relevansi: secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta diklat (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2. Prinsip fleksibilitas: dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta diklat.
3. Prinsip kontinuitas: yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antarjenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4. Prinsip efisiensi: yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5. Prinsip efektivitas: yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Prinsip-Prinsip Khusus dalam Desain pembelajaran dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan: ketentuan/kebijakan pemerintah; survey persepsi user; survey pandangan para ahli atau nara sumber; pengalaman badan pemerintah yang lain atau dari negara lain; penelitian sebelumnya
2. Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan: penjabaran tujuan ke dalam bentuk pengalaman belajar yang diharapkan; isi meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan disusun berdasarkan urutan logis dan sistematis
3. Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar: keselarasan pemilihan metode; memperhatikan perbedaan individual ; pencapaian aspek kognitif, afektif, dan skills.
4. Prinsip berkenaan dengan pemilihan media: ketersediaan alat yang sesuai dengan situasi; pengorganisasian alat dan bahan; pengintegrasian ke dalam proses
5. Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian: kesesuaian dengan isi dan tingkat perkembangan peserta diklat; waktu; administrasi penilaian;
 

Orientasi Desain Pembelajaran
            Desain pembelajaran lazimnya dimulai dari kegiatan analisis yang digunakan untuk menggambarkan masalah pembelajaran sesungguhnya yang perlu dicari solusinya. Setelah dapat menentukan masalah yang sesungguhnya maka langkah selanjutnya adalah menentukan alternaif solusi yang akan digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran.  Seorang perancang program pembelajaran perlu menentukan solusi yang tepat dari berbagai alternatif  yang ada. Selanjutnya ia dapat menerapkan solusi tersebut untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Evaluasi adalah langkah selanjutnya, sehingga nantinya bias mengetahui rancangan atau desain yang sesuai dengan pembelajaran dan desain tersebut bisa diaplikasikan dalam proses pembelajaran.
Secara garis besar desain pembelajaran terdiri dari lima langkah penting, yaitu:
1)      Analisis lingkungan dan kebutuhan belajar siswa.
2)      Merancang spesifikasi proses pembelajaran yang efektif dan efesien serta sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan belajar siswa.
3)      Mengembangkan bahan-bahan untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
4)      Implementasi desain pembelajaran.
5)      Implementasi evaluasi formaif dan sumatif terhadap program pembelajaran
            Tujuan sebuah desain pembelajaran adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia. Dengan demikian, suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. Menurut Morisson, Ross & Kemp (2007) terdapat empat komponen dasar dalam perencanaan desain pembelajaran. Keempat hal tersebut mewakili pertanyaan pertanyaan berikut:
  • Untuk siapa program ini dibuat dan dikembangkan? (karakteristik siswa atau peserta ajar)
  • Anda ingin siswa atau peserta ajar mempelajari apa? (tujuan)
  • Isi pembelajaran seperti apa yang paling baik untuk dipelajari? (strategi pembelajaran)
  • Bagaimanakah cara anda mengukur hasil pembelajaran yang telah dicapai? (prosedur evaluasi)
·         Desain instruksional atau sering sebut perencanaan pengajaran, telah lama mendapat perhatian dari pakar pengajaran. Banyak pakar yang mengembangkan model-model desain instruksional dengan pola-pola tertentu.
            Secara umum, desain instruksional dirancang sebenarnya untuk menjawab 3 pertanyaan pokok, yaitu: 1. Apa yang dipelajari? (tujuan pembelajaran); 2. Apa/bagaimana prosedur dan sumber-sumber belajar yang tepat untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan? (kegiatan dan sumber) 3. Bagaimana mengetahui bahwa hasil belajar yang diharapkan tercapai(evaluasi). Dalam dunia perencanaan pengajaran harus mengenal model-model perencanaan yang dikembangkan oleh pakar misalnya: Tyler, Hilda, Taba, Dick and Carey, dan Kempt. Adanya variasi model desain tersebut disebabkan latar belakang pendekatan, prinsip, faktor sistem pendidikan yang dianut dan kemudian dikembangkan oleh masing-masing pakar.

1.      Model Dick dan Carey
            Dick, Carey, dan Carey (2001) memandang desain pembelajaran sebagai sebuah system dan menganggap pembelajaran adalah proses yang sistematis. Pada kenyataannya cara kerja yang sistematis inilah dinyatakan sebagai model pendekatan system. Dipertegas oleh Dick, Carey, dan Crey (2001) bahwa pendekatan system selalu mengacu kepada tahapan umum system pengembangan pembelajaran (Instructional System Development/ISD). Jika berbicara masalah desain maka masuk ke dalam proses, dan jika mengunakan istilah Instructional Design (ID) mengacu pada Instructional System Development  (ISD) yaitu tahapan analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Instructional desain inilah yang menjadi payung bidang (Dick, Carey, dan Crey  2001). Langkah–langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah:
  • Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran.
  • Melaksanakan analisi pembelajaran
  • Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa
  • Merumuskan tujuan performansi
  • Mengembangkan butir–butir tes acuan patokan
  • Mengembangkan strategi pembelajaran
  • Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran
  • Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif
  • Merevisi bahan pembelajaran
  • Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif
2.      Model Assure
            Model Assure adalah salah satu petunjuk dan perencanaan yang bisa membantu untuk bagaimana cara merencanakan, mengidentifikasi, menentukan tujuan, memilih metode dan bahan, serta evaluasi. Model assure ini merupakan rujukan bagi pendidik dalam membelajarkan peserta didik dalam pembelajaran yang direncanakan dan disusun secara sistematis dengan mengintegrasikan teknologi dan media sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan  bermakna bagi peserta didik.

 
  • Analisis Pelajar
Heinich (2005) menyatakan sukar untuk menganalisis semua ciri pelajar yang ada, namun ada tiga hal penting dapat dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai berdasarkan cirri-ciri umum, keterampilan awal khusus dan gaya belajar
  • Menyatakan Tujuan
Tujuan pembelajaran akan menginformasikan apakah yang sudah dipelajari anak dari pengajaran yang dijalankan.
  • Pemilihan Metode, media dan bahan
Heinich et al. (2005) menyatakan ada tiga hal penting dalam pemilihan metode, bahan dan media yaitu menentukan metode yang sesuai dengan tugas pembelajaran, dilanjutkan dengan memilih media yang sesuai untuk melaksanakan media yang dipilih, dan langkah terakhir adalah memilih dan atau mendesain media yang telah ditentukan.
  • Penggunaan Media dan bahan
Menurut Heinich et al (2005) terdapat lima langkah bagi penggunaan media yang baik yaitu, preview bahan, sediakan bahan, sedikan persekitaran, pelajar dan pengalaman pembelajaran.
  • Partisipasi Pelajar di dalam kelas
Sebelum pelajar dinilai secara formal, pelajar perlu dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran seperti memecahkan masalah, simulasi, kuis atau presentasi.
  • Penilaian dan Revisi
Sebuah media pembelajaran yang telah siap perlu dinilai untuk menguji keberkesanan dan impak pembelajaran. Penilaian yang dimaksud melibatkan beberaoa aspek diantaranya menilai pencapaian pelajar, pembelajaran yang dihasilkan, memilih metode dan media, kualitas media, penggunaan guru dan penggunaan pelajar.
3.      Model Jerold E. Kemp, dkk
Model desain system pembelajaran yang dikemukakan oleh Jerold E. Kemp dkk berbentuk lingkaran menunjukkan adanya proses kontinyu dalam menerapkan desain system pembelajaran, yang terdiri dari beberapa komponen diantaranya 
a. Mengidentifikasi masalah dan menetapkan tujuan pembelajaran 
b. Menentukan dan menganalisis karakter siswa
c. Mengidentifikasi materi dan menganalisis komponen tugas belajar yang berkaitan dengan  
    pencapaian tujuan pembelajaran
d. Menetapkan tujuan pembelajaran khusus bagi siswa
e. Membuat sistematika panyampaian materi pembelajaran secara sistematik dan logis
f. Merancang strategi pembelajaran
g. Menetapkan metode untuk menyampaikan materi pelajaran 
h. Mengembangkan instrumen evaluasi 
 i. Memilih sumber-sumber yang dapat mendukung aktivitas pembelajaran
4. Model ADDIE
Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADIDE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.
Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :

Langkah 1: Analisis
Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta belajar, yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis).
Langkah 2: Desain
Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan .Pertama merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan realistic). Selanjutnya menyusun tes, dimana tes tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yag telah dirumuskan tadi. Kemudian tentukanlah strategi pembelajaran yang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat kita pilih dan tentukan yang paling relevan. Disamping itu, pertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan lainlain. Semua itu tertuang dalam sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.
Langkah 3: Pengembangan
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Atau diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya dengan lingkungan belajar lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya harus disiapkan dalam tahap ini.
Langkah 4: Implementasi
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan system pembelajaran yang sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan.
Langkah 5: Evaluasi
Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak.
5. Model Rothwel & Kazanas
Model Model Rothwel & Kazanas (1994) merupakan model berbasis sistem, mengembangkan teori sistem atau pendekatan sistem dalam pelaksanaannya.
Memiliki ciri:
• Jumlah komponen relatif banyak
• Seringkali diawali dengan analisis kebutuhan
• Memisahkan penilaian proses belajar dan penilaian terhadap program belajar
• Merupakan prosedur pengembangan, karena adanya alur feedback dan komponen revisi
6. Desain pembelajaran CDT ( Component Display Theory)
Desain pembelajaran CDT ( Component Display Theory merupakan contoh model materi ajar atau pengetahuan ( content based ), menitikberatkan bagaimana suatu topik yang menjadi bagian dari suatu materi atau mata ajaran disampaikan kepada pembelajar. Memiliki ciri:
  • Komponen yang ada tidak banyak dan cenderung tidak lengkap
  • Strategi penyampaian cenderung memberikan masukan bagaimana cara menjelaskan atau menyajikan materi di kelas
  • Kebanyakan mengacu kepada materi bersifat kognitif
  • Lingkupnya sempit
  • Tidak mencerminkan upaya pebelajar untuk menguasai kompetensi yang harus dicapai
Kelebihan Pendekatan Sistem Dalam Desain Pembelajaran
Manfaat merencanakan pembelajaran dengan pendekatan sistem di antaranya sebagai berikut:
1). Dengan pendekatan sistem, arah dan tujuan pembelajaran dapat direncanakan dengan jelas. Dengan tujuan yang jelas, maka kita dapat menetapkan arah dan sasaran dengan pasti. Perumusan tujuan merupakan salah satu karakteristik pendekatan sistem. Penentuan komponen-komponen pembelajaran pada dasarnya diarahkan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan sistem, setiap guru dapat lebih memahami tujuan dan arah pembelajaran untuk menentukan langkah-langkah pembelajaran dan pengembangan komponen yang lain, dan dapat dijadikan kriteria efektivitas proses pembelajaran.
2). Pendekatan sistem menuntun guru pada kegiatan yang sistematis. Berpikir secara sistem adalah berpikir runtut, sehingga melalui langkah-langkah yang jelas dan pasti memungkinkan hasil yang diperoleh akan maksimal.
3). Pendekatan sistem dapat merancang pembelajaran dengan mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang tersedia. Jadi berpikir sistematis adalah berpikir bagaimana agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh siswa.
4). Pendekatan sistem dapat memberikan umpan balik. Melalui umpan balik, dalam pendekatan sistem, dapat diketahui apakah tujuan telah berhasil dicapai atau belum.

 Dari paparan diatas penulis mengangkat permasalahan sebagai berikut : dalam mendesain suatu sistem pembelajaran, tujuannya adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia, dari beberapa model desain diatas model mana yang cocok dikembangkan di Indonesia ? apakah suatu model pengembangan bisa dikombinasikan dengan model pengembangan lain ? bagaimana kaitannya dengan potensi peserta didik dan keterdukungan sumber daya serta saran prasarana ? berikan pandangan anda tentang hal ini dalam pembelajaran kimia khusus nya. terimakasih.



16 komentar:

  1. Menurut saya tidak bisa menentukan model mana yang cocok di Indonesia karena setiap pembelajaran terkadang membutuhkan suatu proses yang berbeda-beda di setiap mata pelajarannya, disetiap materinya atau disetiap babnya. Sehingga dibutuhkan analisis kebutuhan dulu sebelum mengembangkan. Lalu setiap model tidak bisa di mix. Karena satu model memiliki cara kerjanya masing-masing untuk mencapai tujuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke. terimakasih saudari rifanny..kita tahu kondisi dan iklim pendidikan di indonesia. dengan demikian kita mampu menentuakan modl yang cocock. bagaimana kalau kita memadupadankan suatu model (mengadopsi)kemudian kita sesuaikan dengan kebutuhan kita ?

      Hapus
    2. Saya rasa boleh, demi ketercapaian tujuan yg kita inginkan.

      Hapus
    3. menurut saya boleh selama itu masih dalam koridor yang tidak melenceng, karna dalam mengajar kita dituntut untuk nyaman dalam mengajar bukan hanya sekedar mengajar dan terpaku mengikuti sintak model yang ada, tapi kita boleh menyesuaikannya dengan kebutuhan kita pada saat mengajar namun tidak menghilangkan ciri khas dari model itu sendiri

      Hapus
    4. proses pemaduan ini yang nantinya akan membuat hasilnya lebih baik, karna 1 model menutupi model yang lain.

      Hapus
  2. saya setuju dengan kak fanny bahwa kita tidak bisa menggabungkan setiap model karena satu model memiliki cara kerjanya masing-masing untuk mencapai tujuan dan dalam menggunakan model desain pembelajaran perlu dilakukan dulu analisis kebutuhan dulu sebelum mengembangkannya.
    disini saya ingin menambahkan jawaban dari kak fanny bahwa Dalam memahami model desain sistem pembelajaran perlu mengenal dan memahami pengelompokan model desain system pembelajaran. Menurut Gustafson dan Branch (2002) model desain sistem pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok. Pembagian klasifikasi ini didasarkan pada orientasi penggunaan model, yaitu; 1) Classrooms oriented model, 2) Product oriented model, 3) System oriented model. Model pertama merupakan model desain sistem pembelajaran yang diimplementasikan di dalam kelas. Model desain sistem pembelajaran kedua merupakan model yang dapat diaplikasikan unutk menciptakan produk dan program pembelajran. Model ketiga adalah model desain sistem pembelajaran yang ditujukan untuk merancang program dan desain sistem pembelajaran dengan skala besar. nah untuk menerapkan desain pembelajarn perlu melihat 3 model desain sistem pelajaran tadi. agar sesuai dengan tujuan yang ingin di capai. salah satunya yaitu model desain sistem pembelajaran yang berorientasi di kelas.
    Model ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pendidik dan peserta didik akan aktivitas
    pembelajaran yang efektif, efisien, produktif dan menarik. Model-model desain sistem
    pembelajaran yang termasuk klasifikasi ini dapat diimplementasikan mulai dari jenjang sekolah
    dasar sampai jenjang pendidikan tinggi. Pendidik, widyaiswara, instruktur, dan dosen perlu
    memiliki pemahaman yang baik tentang desain sistem pembelajaran yang efektif, efisien, dan
    menarik.
    Penggunaan model berorientasi kelas ini didasarkan pada asumsi adanya sejumlah
    aktivitas pembelajaran yang diselenggarakan di dalam kelas dengan waktu belajar yang telah
    ditetapkan sebelumnya. Dalam hal ini, tugas pendidik memilih isi/materi pelajaran yang tepat,
    merencanakan strategi pembelajaran, menyampaikan isi/materi pelajaran, dan mengevaluasi
    hasil belajar. Para pendidik biasanya menganggap bahawa model desain sistem pembelajaran
    pada dasarnya berisi langkah-langkah yang harus diikuti.

    BalasHapus
  3. menanggapi permasalahan keterkaitan desain sistem pembelajaran dengan potensi peserta didik dan keterdukungan sumber daya serta saran prasarana. menurut pendapat saya keterkaitan desain pembelajaran dengan peserta didik merupakan hal terpenting dalam mendesain sistem pembelajaran tersebut. dimana yang perlu di perhatikan dari peserta didik diantaranya karakteristik, kemampuan awal dan pra syarat serta psikologinya saat akan melaksanakan proses pembelajaran karena bagaimana kita dapat merancang atau mendesain suatu sistem pembelajaran tanpa kita ketahui karakteristik peserta didik misalnya pada peserta didik seperti apa yang akan kita hadapi. Lalu pada batas kemampuan awal dan pra syarat yang dimiliki peserta didik juga merupakan fokus yg penting sehingga kita tahu akan mengawali dari mana proses pembelajaran nantinya. Selanjutnya psikologi peserta didik apakah sudah siap dalam melaksanakan proses pembelajaran atau tidak juga merupakan hal penentu keberhasilan suatu sisten pembelajaran. lalu keterkaitan dengan sarana dan prasana terletak pada strategi pelaksanaan kita dalam mendesai pembelajaran, dari hal tersebut harus disesuai cara kita dalam melaksankan pembelajaran dengan sarana dan prasana, jika memang disuatu sekolah masih terdapat kekurangan sarana ataupun pransanara tidak mungkin dapat dipaksankaan hal tersebut harus ada sehingga bila tidak ada pembelajaran tidak dapat berjalan, disini guru dituntut untuk dapat kreatif dalam mendesain sistem pembelajaran agar walaupun masih adanya keterbatasan untuk melaksanakzn pemeblajaran, tetapi pembelajran haruslah tetap terlaksanaka dangan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan fira bahwa bahwa psikologis siswa dalam menerima pembelajaran merupakan hal yang sama pentingnya dengan tingkat kebutuhan desain pembelajaran yang digunakan, jika desain pembelajaran yang akan digunakan merupakan telaah mendalam dari kebutuhan disekolah dan kondisi psikologis siswa saat menerima pembelajaran makan kegiatna belajaran an tujuan belajar pun akan tercapai optimal.sedangkan sarana dan prasarana, itu kembali lagi ke gurunya sebelum mendesain pemebelajaran tentulah sarana dan prasarana yang tersedia perlu dipertimbangkan secara matang. dan kita juga tidak bisa memaksakan sarana dan prasarana harus lengkap dlu baru mendesain, maka dari itu guru harus kreatif dan inovatif.

      Hapus
    2. saya setuju dengan pendapat teman-teman bahwa keterkaitan desain pembelajaran dengan peserta didik merupakan hal terpenting dalam mendesain sistem pembelajaran tersebut. dimana yang perlu di perhatikan dari peserta didik diantaranya karakteristik, kemampuan awal dan pra syarat serta psikologinya saat akan melaksanakan proses pembelajaran karena bagaimana kita dapat merancang atau mendesain suatu sistem pembelajaran tanpa kita ketahui karakteristik peserta didik

      Hapus
  4. apakah suatu model pengembangan bisa dikombinasikan dengan model pengembangan lain? menurut saya tergantung si pendesain karena sepengetahuan saya kalau model bisa dimodifikasi tp kurang tau kl modifikasinya dengan tambahan model dari luar. lain halnya model pembelajran bisa dikembangkan dengan menggunakan 1 atau model

    BalasHapus
  5. Saya akan menjawab permasalahan yang kedua apakah suatu model pengembangan bisa dikombinasikan dengan model pengembangan lain?
    Menurut pengelaman yang saya baca untuk model pembelajaran seperti model inquiry atau model problem based learning bisa dikombinasikan dengan model just intime atau model flipped classroom tergantung den hasil akhir yg diharapkan terhadap siswa, apakah kemampuan berpikir kreatif? Apakah berpikir tingkat tinggi kombinasi modelnya disesuaikan dgn kebutuhan hasil akhir tsb. Namun untuk model pengembangan desain sistem pembelajaran ini menurut saya seperti ADDIE ini adalah sebuah tahapan yg menurut saya harus runut urutannya, bisa dikembangkan isi masing2 tahapan seperti analasisi artinya analisi kebutuhannya yg bisa dikembangkan namun kelima tahapan tesebutbtudak bisa, sudah runut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ok.. terimakasih saudari melda. untuk model pembelajaran saya sependapat, dalam konteks ini saya rasa model pengembangan bisa dikombinnasikan atau dirobah, sesuai dengan kebutuhan.

      Hapus
  6. Saya setuju dengan pendapat saudari tri,
    tergantung si pendesain karena model bisa dimodifikasi tp kurang tau kl modifikasinya dengan tambahan model dari luar. lain halnya model pembelajran bisa dikembangkan dengan menggunakan 1 atau model.

    BalasHapus
  7. dari beberapa model desain diatas model mana yang cocok dikembangkan di Indonesia ? dari model diatas sebenarnya cocok-cocok saja untuk diterapkan di Indonesia tergantung dari kemampuan peneliti dalam mengembangkan model tsb. dan menurut saya dalam mengembangkan sebuah model atau produk pengembangan lainnya bisa menggunakan kombinasi antar model-model

    BalasHapus
    Balasan
    1. sependapat dengan rina bahwa dari model diatas sebenarnya cocok-cocok saja untuk diterapkan di Indonesia tergantung dari kemampuan peneliti dalam mengembangkan model tsb. dan menurut saya dalam mengembangkan sebuah model atau produk pengembangan lainnya bisa menggunakan kombinasi antar model-model yang ada

      Hapus
  8. model yang diterapkan di indonesia sebenarnya cocok-cocok saja. Namun untuk guru yang akan menggunakan model itu sendiri sebaiknya terlabih dahulu menganalisis keadaan kelas, keadaan siswa, kemudian aspek-aspek lain yang perlu diperhatikan dari sisi sarada dan prasarana. karena model pembelajaran itu sendiri dapat dikembangkan lagi oleh guru.

    BalasHapus