Kamis, 13 September 2018

materi 2 : Komponen-komponen kurikulum


Komponen-komponen kurikulum

Salah satu fungsi kurikulum ialah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang pada dasarnya kurikulum memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Komponen merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, sebab kalau satu komponen saja tidak ada atau tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dari pembahasan saya di blog minggu kemarin bahwa komponen kurikulum merupakan suatu siklus yang saling berkaitan antara satu dengan yang lai. Jika salah satunya tidak ada maka akan terjadi kesenjangan dan tidak maksimalnya kurikulum tersebut. Komponen-komponen kurikulum tersebut adalah :
1.      Komponen Tujuan
            Komponen tujuan yaitu komponen yang berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat. Dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan misi dan visi sekolah serta tujuan yang sempit, seperti tujuan setiap mata pelajaran dan tujuan proses pembelajaran
            Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
            Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

Tujuan Institusional
Tujuan Institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan, sebagai kualifikasi yang harus dimiliki oleh setiap siswa setelah menempuh atau menyelesaikan program di lembaga pendidikan tertentu. Tujuan institusional juga merupakan cerminan dari standar kompetensi lulusan yang diharapkan dari setiap tingkat satuan pendidikan. Standar kompetensi lulusan terbagi menjadi tiga domain, yakni domain kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan).

Pada kerangka kurikulum 2013, rincian dari tingkat satuan pendidikan, antara lain:

Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran, sebagai kualifikasi yang harus dimiliki siswa setelah menyelesaikan bidang studi tertentu di lembaga pendidikan.

Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran
Kemampuan yang harus dimiliki siswa setelah mempelajari materitertentu dalma bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan.

2.      Komponen materi dan isi
 Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut.Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun jalur pendidikan yang ada.
Kriteria yang dapat membantu pada perancangan kurikulum dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria itu natara lain:
·         Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
·         Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
·         Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji.
·         Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas.
·         Isi kurikulum dapat menunjanga tercapainya tujuan pendidikan.

3.      Komponen metode dan strategi
Komponen metode itu meliputi rencana, metode, dan perangkat yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kurikulum 2013 ini, para tenaga pendidik memiliki ruang untuk mengembangkan meode pembelajaran yang kreaif dan iniatif dalam menyampaikan mata pelajaran yang memungkinkan  siswa untuk dapat melaksanakan proses belajarnya secara aktif, kreatif dan menyenangkan, dengan efektivitas yang tinggi. Pemilihan atau pembuatan metode atau strategi dalam menjalankan kurikulum yang telah dibuat haruslah sesuai dengan materi yang akan diberikan dan tujuan yang ingin dicapai.
Dalam proses belajar mengajar,seorang pendidik perlu memahami suatu Strategi. Strategi menujuk pada sesuatu pendekatan (approach), metode (method), dan peralatan mengajar yang diperlukan. Strategi pengajaran lebih lanjut bisa dipahami sebagai cara seorang pendidik dalam mengajar. Dengan demikian, strategi disini mempunyai arti komprehensif yang mesti dipahami dan diupayakan untuk pengaplikasiannya oleh seorang pendidik sejak dari mempersiapkan pengajara sampai proses evaluasi.
Dengan menggunakan strategi yang tepat dan akurat proses belajar mengajar dapat memuaskan pendidik dan peserta didik khususnya pada proses transfer ilmu yang dapat bditangkap para peserta didik. Akan tetapi penggunaan strategi yang tepat dan akurat sangat ditentukan oleh tingkat kompetensi pendidik.
Tujuan akhir proses mengajar adalah terjadinya perubahn tingkah laku peserta didik menjadi manusia yang lebih baik. Komponen ini erat kaitannya dengaan susasana belajar di dalam ruangan kelas maupun di luar kelas.upaya seorang pendidik untuk menumbuhkan motivasi dan kreatifitas dalm belajar merupakan langkah yang tepat. Komponen proses ini juga berkaitan dengan kemampuan pendidik dalam menciptkan suasana pengajaran yang kondusif agar efektivitas tercipta dalam proses pembelajaran.
Menurut Subandijah guru perlu memusatkan pad kepribadiannya dalam mengajar, menerapkan metode yang tepat, dan memusatkan pada proses dengan produknya, dan memusatkan pada kompetensi yang relevan. Pada intinya guru harus mengoptimalkan perannya sebagai educator, motivator, manager, dan fasilitator.

4.      Komponen Evaluasi
            Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sebagaimana dikemukakan oleh Wright bahwa : “curriculum evaluation may be defined as the estimation of growth and progress of students toward objectives or values of the curriculum
            Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program. Sementara itu, Hilda Taba menjelaskan hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum, yaitu meliputi ; “ objective, it’s scope, the quality of personnel in charger of it, the capacity of students, the relative importance of various subject, the degree to which objectives are implemented, the equipment and materials and so on.”
            Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa.
Agar hasil evaluasi kurikulum tetap bermakna diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Dengan mengutip pemikian Doll, dikemukakan syarat-syarat evaluasi kurikulum yaitu “acknowledge presence of value and valuing, orientation to goals, comprehensiveness, continuity, diagnostics worth and validity and integration.”
            Evaluasi kurikulum juga bervariasi, bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus evaluasi. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi kuantitas dan kualitas. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi diemensi kuantitaif berbeda dengan dimensi kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kuantitatif, seperti tes standar, tes prestasi belajar, tes diagnostik dan lain-lain. Sedangkan, instrumen untuk mengevaluasi dimensi kualitatif dapat digunakan, questionnare, inventori, interview, catatan anekdot dan sebagainya
            Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.
Dari uraian diatas muncul beberapa permasalahan bagi penulis,
Dari tujuan pendidikan dasar, tujuan pendidikan menengah, dan tujuan pendidikan menengah kejuruan. Apakah ketiga tujuan itu saling berintegrasi untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional ?
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, terdapat berbagai tujuan kurikulum. Jika tujuan tersebut tidak tercapai, apakah bisa dikatakan kegagalan dalam penerapan kurikulum tersebut ? bagaimana solusi yang anda tawarkan sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan.
Selanjutnya, keempat komponen kurikulum tadi saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Tentu dalam pelaksanaanya terkadang ada komponen yang tidak terlaksana dengan baik, sebagai pendidik bagaimana tindakan anda dalam menutupi kekurangan komponen itu.

17 komentar:

  1. Iya sudah saling berintegritas. Karen dari ketiga tujuan itu merupakan tujuan dasar dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
    Dalam Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
    Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih saudari dian atas jawabannya. benar kesemuanya saling terintegrasi. sungguh luas penjabaran tentang ketercapaian tujuan pendidikan. namun dengan tidak berimbangnya ketercapaian tujuan dimasing-masing jenjang pendidikan apakah ini tidak berdampak dalam tercapainya tujuan pendidikan nasional ?

      Hapus
    2. Menurut saya tentu saja ada dampaknya, disinilah peran 4 komponen kurikulum ini yang merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, dengan demikian jika terjadi kesenjangan maka dilakukan evaluasi, dilihat kembali dimna kelemahannya, diatur lagi metodenya, strateginya agar kesenjangan ini tidak terjadi lagi begitu terus sehingga dengan demikian tujuan pendidikan nasional dapat tercapai.

      Hapus
    3. terimakasih saudara sugeng atas jawaban anda. jawaban anda sudah cukup baik. namun hanya menjelaskan pada bagian satu komponen kurikulum. bagaimana pula dengan komponen-komponen lain dalam kurikulum tersebut

      Hapus
  2. Menanggapi permasalahan bg dani yaitu sebagai pendidik bagaimana tindakan anda dalam menutupi kekurangan komponen itu.
    Menurut saya upaya yang akan saya lakukan sebagai pendididik yaitu memaksimalkan kinerja, mulai dari menentukan tujuan, menentukan isi materi, mengatur stategi dan metode dan juga teknik, kemudian mengevaluasi kinerja saya apakah sudah dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
    Sebagai pendidik harus sering mengevaluasi karena kekurangan dapat dilihat setelah dilakukan evaluasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayasependapat dengan kak esa, namu selain itu juga untuk menutupi kekurangan keterlaksanaan komponen atau bisa dikatakan meminimalisir kekurangan, alangkah baiknya kita kembali lagi pada persiapan diri guru tersebut,
      Komponen pertama harus ada tujuan, apapun itu yang dibahas atau dilakukan harusnya mneyesuaikan dengan tujuan,langkah selanjutnya adalah bagaimana cara mencapai tujuan itu tentu harus benar-benar dipertimbangkan dan diaiapkan dengan matang materi atau isi agar dapat mencapai tujuan dengqn baik,
      Kemudian materi yang akan disampaikan ada baiknya dipikirkan menggunakan metode apakah yang cocok agar siswa tidak mudah lupa sehingga cepat mencapai tujuan pembelajaran, lalu setelah metode dan materi kita jelas dalam mencapai tyjuan, setelah penerapan evaluasi diri, dimana yang kurang disitu lah diperbaiki.

      Hapus
    2. saya sependapat dengan teman-teman bahwa dengan memaksimalkan kinerja, mulai dari menentukan tujuan, menentukan isi materi, mengatur stategi dan metode dan juga teknik, kemudian mengevaluasi kinerja saya apakah sudah dapat mencapai tujuan yang diinginkan.Sebagai pendidik harus sering mengevaluasi karena kekurangan dapat dilihat setelah dilakukan evaluasi.

      Hapus
  3. terimakasih jawabannya saudari esa. saya sependapat dengan solusi yang anda tawarkan. berarti dalam solusi anda, hal yang paling saudara tekankan adalah pada bagian evaluasi.sedangkan saudara sugeng lebih pada bagian metode dan strategi.

    BalasHapus
  4. saya setuju dengan saudari esa, untuk memaksimalkan hasil yang ingin dicapai guru harus bekerja ekstra mulai dari sebelum kegiatan belajar, saat proses belajar, maupun pada akhir proses pembelajaran lalu melakukan evaluasi dan refleksi

    BalasHapus
  5. tentu berintegritas, karna tujuan dari tingkatan pendidikan tsb merupakan satu kesatuan dalam tujuan pendidikan nasional.
    mungkin bukan gagal, tetapi kurang maksimalnya pelaksanaan dari kurikulum tsb, sehingga tujuan pendidikan nasional pun belum tercapai sekian persen dari yang di targetkan. mungkin solusi dari saya, guru harus lebih aktif dalam penyampaian materi pembelajaran di sekolah dan tentunya orang tua juga sebisa mungkin memantau kemampuan yang sudah ada pada anaknya.

    BalasHapus
  6. Tindakan pendidik dalam menutupi kekurangan komponen yang tidak terlaksana dengan baik yakni dengan komponen evaluasi. Karena setelah tersusunnya tujuan kurikulum tentu perlu bukti untuk pelaksanaannya, yakni harus melihat dulu strategi/pendekatan/metode dalam menyampaikan isi/materi pelajaran. Dari situ lah kita baru bisa melihat apakah komponen tersebut efektif atau kurang efektif maka dilakukan evaluasi untuk kurikulum yang lebih baik

    BalasHapus
  7. tidak mudah untuk mencapai tujuan kurikulum secara maksimal. Dalam setiap proses tentu ada berbagai macam kendala. Namun sedari awal tentu pihak terkait, baik pemerintah secara umum maupun pihak tingkat satuan pendidikan selalu berupaya secara maksimal untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Pada prinsipnya, kurikulum akan melewati proses tumbuh dan berkembang , maka belum bisa dikatakan "gagal" jika upaya dalam perkembangannya belum maksimal. Tugas kita selalu pendidik adalah berupaya semaksimal mungkin dalam setiap proses perkembangan kurikulum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih kak.. dalam upaya pemerintah dalam mencapai tujuan pendidikan itu sendiri, terutama kepada para pendidik tentunya sudah berbagai upaya yang dilakuka. kak nely yang sudah terjun langsung dan merasakan sebagai guru disekolah. sudah maksimalkah usaha pemerintah tersebut kak ? dari komentar teman-teman diatas banyak yg menyampaikan tentang evaluasinya.

      Hapus
  8. Saya setuju dengan pendapat kak nelly dimana kurikulum blm di katakan gagal tp msh berkembang.Tugas kita selalu pendidik adalah berupaya semaksimal mungkin dalam setiap proses perkembangan kurikulum.

    Jika salah satu komponen yang membentuk sistem kurikulum terganggu atau tidak berkaitan dengan komponen lainnya, maka sistem kurikulum pun akan terganggu pula.
    Sebagaimana tiap komponen memiliki peran peran yang sangat menentukan agar tercipta kurikulum yang baik dan benar.
    Dari semua kompnen yang pada dasarnya semuanya berfungsi, berperan atau bertujuan ingin mencapai tujuan pendidikan secara optimal.

    BalasHapus
  9. Saya akan mencoba menjawab permasalahan yang kedua,
    Menurut saya tujuan tidak tercapai bukan berarti gagal namun masih bisa dievaluasi kembali metode atau strategi yang digunakan, materi yang disampaikan dari pelajaran tersebut agar dapat mencapai tujuan. Karena dari setiap mata pelajaran saja sudah memiliki tanggungjawab untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, sehingga jika tujuan dari kompetensi dasarnya masing-masing pembelajaran sudah tidak twrcapai bisa dievaluasi lagi kembali, kembali ke siklus komponen. Menurut johan wahyudi 2014, pergantian kurikulum itu atau penerapan kurikulum dikatakan gagal ketika guru tidak mampu mengimplementasikannya karena sesungguhnya hakikat kurikulum ada di guru.
    Jika guru belum siap atau mampu artinya tidak akan berjalan kurikulum tersebut.

    Untuk permasalahan yang ketiga ,
    Menurut saya untuk menutupi kekurangan keterlaksanaan komponen atau bisa dikatakan meminimalisir kekurangan, alangkah baiknya kita kembali lagi pada persiapan diri guru tersebut,
    Komponen pertama harus ada tujuan, apapun itu yang dibahas atau dilakukan harusnya mneyesuaikan dengan tujuan,langkah selanjutnya adalah bagaimana cara mencapai tujuan itu tentu harus benar-benar dipertimbangkan dan diaiapkan dengan matang materi atau isi agar dapat mencapai tujuan dengqn baik,
    Kemudian materi yang akan disampaikan ada baiknya dipikirkan menggunakan metode apakah yang cocok agar siswa tidak mudah lupa sehingga cepat mencapai tujuan pembelajaran, lalu setelah metode dan materi kita jelas dalam mencapai tyjuan, setelah penerapan evaluasi diri, dimana yang kurang disitu lah diperbaiki.

    BalasHapus
  10. Saya setuju dengan pendapat kak nelly dan kk rahmah dimana kurikulum blm di katakan gagal tp msh berkembang karena kita selalu melakukan evaluasi di sistemnya. kita selalu pendidik adalah berupaya semaksimal mungkin dalam setiap proses perkembangan kurikulum.

    BalasHapus
  11. menanggapi permasalahan yang kedua,saya sependapat dengan kak melda yaitu bila tujuan kurikulum tidak tercapai, apakah bisa dikatakan kegagalan dalam penerapan kurikulum tersebut?
    Menurut saya tidak namun masih bisa dievaluasi kembali metode atau strategi yang digunakan, materi yang disampaikan dari pelajaran tersebut agar dapat mencapai tujuan. Karena dari setiap mata pelajaran saja sudah memiliki tanggungjawab untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, sehingga jika tujuan dari kompetensi dasarnya masing-masing pembelajaran sudah tidak twrcapai bisa dievaluasi lagi kembali, kembali ke siklus komponen. Menurut johan wahyudi 2014, pergantian kurikulum itu atau penerapan kurikulum dikatakan gagal ketika guru tidak mampu mengimplementasikannya karena sesungguhnya hakikat kurikulum ada di guru. dan jika guru belum siap atau mampu artinya tidak akan berjalan kurikulum tersebut. perlu adanya bimbingan dari pemerintah terkait hal ini.

    BalasHapus