Komponen-komponen kurikulum
Salah satu fungsi kurikulum ialah
sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang pada dasarnya kurikulum
memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan dan
berinteraksi satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Komponen
merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak
bisa dipisahkan satu sama lainnya, sebab kalau satu komponen saja tidak ada
atau tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dari pembahasan saya di blog minggu
kemarin bahwa komponen kurikulum merupakan suatu siklus yang saling berkaitan
antara satu dengan yang lai. Jika salah satunya tidak ada maka akan terjadi
kesenjangan dan tidak maksimalnya kurikulum tersebut. Komponen-komponen
kurikulum tersebut adalah :
1. Komponen Tujuan
Komponen
tujuan yaitu komponen yang berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam
skala makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau
sistem nilai yang dianut masyarakat. Dalam skala mikro, tujuan kurikulum
berhubungan dengan misi dan visi sekolah serta tujuan yang sempit, seperti
tujuan setiap mata pelajaran dan tujuan proses pembelajaran
Dalam
perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara
jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Tujuan
pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik,
selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan
yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan
pendidikan tertentu. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa
tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan
mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.Tujuan pendidikan menengah
adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan
pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
Tujuan Institusional
Tujuan Institusional adalah tujuan yang harus dicapai
oleh setiap lembaga pendidikan, sebagai kualifikasi yang harus dimiliki oleh
setiap siswa setelah menempuh atau menyelesaikan program di lembaga pendidikan
tertentu. Tujuan institusional juga merupakan cerminan dari standar kompetensi
lulusan yang diharapkan dari setiap tingkat satuan pendidikan. Standar kompetensi
lulusan terbagi menjadi tiga domain, yakni domain kognitif (pengetahuan),
afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan).
Pada kerangka kurikulum 2013, rincian dari tingkat
satuan pendidikan, antara lain:
Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh
setiap bidang studi atau mata pelajaran, sebagai kualifikasi yang harus
dimiliki siswa setelah menyelesaikan bidang studi tertentu di lembaga
pendidikan.
Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran
Kemampuan yang harus dimiliki siswa setelah
mempelajari materitertentu dalma bidang studi tertentu dalam satu kali
pertemuan.
2.
Komponen materi dan isi
Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang
diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka
mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan
dan isi program masing-masing bidang studi tersebut.Bidang-bidang studi
tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun jalur pendidikan yang ada.
Kriteria yang dapat membantu pada perancangan
kurikulum dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria itu natara lain:
·
Isi
kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
·
Isi
kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
·
Isi
kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji.
·
Isi
kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas.
·
Isi
kurikulum dapat menunjanga tercapainya tujuan pendidikan.
3.
Komponen metode dan strategi
Komponen metode itu meliputi rencana, metode, dan
perangkat yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kurikulum
2013 ini, para tenaga pendidik memiliki ruang untuk mengembangkan meode
pembelajaran yang kreaif dan iniatif dalam menyampaikan mata pelajaran yang
memungkinkan siswa untuk dapat melaksanakan proses belajarnya secara
aktif, kreatif dan menyenangkan, dengan efektivitas yang tinggi. Pemilihan atau
pembuatan metode atau strategi dalam menjalankan kurikulum yang telah dibuat
haruslah sesuai dengan materi yang akan diberikan dan tujuan yang ingin
dicapai.
Dalam proses belajar mengajar,seorang pendidik perlu
memahami suatu Strategi. Strategi menujuk pada sesuatu pendekatan (approach), metode
(method), dan peralatan mengajar yang diperlukan. Strategi pengajaran lebih
lanjut bisa dipahami sebagai cara seorang pendidik dalam mengajar. Dengan
demikian, strategi disini mempunyai arti komprehensif yang mesti dipahami dan
diupayakan untuk pengaplikasiannya oleh seorang pendidik sejak dari
mempersiapkan pengajara sampai proses evaluasi.
Dengan menggunakan strategi yang tepat dan akurat
proses belajar mengajar dapat memuaskan pendidik dan peserta didik khususnya
pada proses transfer ilmu yang dapat bditangkap para peserta didik. Akan tetapi
penggunaan strategi yang tepat dan akurat sangat ditentukan oleh tingkat
kompetensi pendidik.
Tujuan akhir proses mengajar adalah terjadinya
perubahn tingkah laku peserta didik menjadi manusia yang lebih baik. Komponen
ini erat kaitannya dengaan susasana belajar di dalam ruangan kelas maupun di
luar kelas.upaya seorang pendidik untuk menumbuhkan motivasi dan kreatifitas
dalm belajar merupakan langkah yang tepat. Komponen proses ini juga berkaitan
dengan kemampuan pendidik dalam menciptkan suasana pengajaran yang kondusif
agar efektivitas tercipta dalam proses pembelajaran.
Menurut Subandijah guru perlu memusatkan pad
kepribadiannya dalam mengajar, menerapkan metode yang tepat, dan memusatkan
pada proses dengan produknya, dan memusatkan pada kompetensi yang relevan. Pada
intinya guru harus mengoptimalkan perannya sebagai educator, motivator,
manager, dan fasilitator.
4.
Komponen Evaluasi
Evaluasi
merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas, evaluasi
kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan
pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan.
Sebagaimana dikemukakan oleh Wright bahwa : “curriculum evaluation may be
defined as the estimation of growth and progress of students toward objectives
or values of the curriculum”
Sedangkan
dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk
memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria.
Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja,
namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program.
Sementara itu, Hilda Taba menjelaskan hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum,
yaitu meliputi ; “ objective, it’s scope, the quality of personnel in
charger of it, the capacity of students, the relative importance of various
subject, the degree to which objectives are implemented, the equipment and
materials and so on.”
Pada
bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi
kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum.
Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem
kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut.
Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan
dengan proses dan hasil belajar siswa.
Agar hasil evaluasi kurikulum tetap bermakna
diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Dengan mengutip pemikian Doll,
dikemukakan syarat-syarat evaluasi kurikulum yaitu “acknowledge presence of
value and valuing, orientation to goals, comprehensiveness, continuity,
diagnostics worth and validity and integration.”
Evaluasi
kurikulum juga bervariasi, bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus
evaluasi. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi
kuantitas dan kualitas. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi diemensi
kuantitaif berbeda dengan dimensi kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk
mengevaluasi dimensi kuantitatif, seperti tes standar, tes prestasi belajar,
tes diagnostik dan lain-lain. Sedangkan, instrumen untuk mengevaluasi dimensi
kualitatif dapat digunakan, questionnare, inventori, interview, catatan anekdot
dan sebagainya
Evaluasi
kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan
pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri.
Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan
pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan
pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.
Dari uraian diatas muncul beberapa permasalahan bagi
penulis,
Dari tujuan pendidikan dasar, tujuan pendidikan
menengah, dan tujuan pendidikan menengah kejuruan. Apakah ketiga tujuan itu
saling berintegrasi untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional ?
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, terdapat berbagai tujuan kurikulum. Jika tujuan tersebut
tidak tercapai, apakah bisa dikatakan kegagalan dalam penerapan kurikulum
tersebut ? bagaimana solusi yang anda tawarkan sebagai salah satu pihak yang
terlibat dalam dunia pendidikan.
Selanjutnya, keempat komponen kurikulum
tadi saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Tentu dalam pelaksanaanya
terkadang ada komponen yang tidak terlaksana dengan baik, sebagai pendidik
bagaimana tindakan anda dalam menutupi kekurangan komponen itu.
Iya sudah saling berintegritas. Karen dari ketiga tujuan itu merupakan tujuan dasar dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
BalasHapusDalam Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
terimakasih saudari dian atas jawabannya. benar kesemuanya saling terintegrasi. sungguh luas penjabaran tentang ketercapaian tujuan pendidikan. namun dengan tidak berimbangnya ketercapaian tujuan dimasing-masing jenjang pendidikan apakah ini tidak berdampak dalam tercapainya tujuan pendidikan nasional ?
HapusMenurut saya tentu saja ada dampaknya, disinilah peran 4 komponen kurikulum ini yang merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, dengan demikian jika terjadi kesenjangan maka dilakukan evaluasi, dilihat kembali dimna kelemahannya, diatur lagi metodenya, strateginya agar kesenjangan ini tidak terjadi lagi begitu terus sehingga dengan demikian tujuan pendidikan nasional dapat tercapai.
Hapusterimakasih saudara sugeng atas jawaban anda. jawaban anda sudah cukup baik. namun hanya menjelaskan pada bagian satu komponen kurikulum. bagaimana pula dengan komponen-komponen lain dalam kurikulum tersebut
HapusMenanggapi permasalahan bg dani yaitu sebagai pendidik bagaimana tindakan anda dalam menutupi kekurangan komponen itu.
BalasHapusMenurut saya upaya yang akan saya lakukan sebagai pendididik yaitu memaksimalkan kinerja, mulai dari menentukan tujuan, menentukan isi materi, mengatur stategi dan metode dan juga teknik, kemudian mengevaluasi kinerja saya apakah sudah dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Sebagai pendidik harus sering mengevaluasi karena kekurangan dapat dilihat setelah dilakukan evaluasi.
sayasependapat dengan kak esa, namu selain itu juga untuk menutupi kekurangan keterlaksanaan komponen atau bisa dikatakan meminimalisir kekurangan, alangkah baiknya kita kembali lagi pada persiapan diri guru tersebut,
HapusKomponen pertama harus ada tujuan, apapun itu yang dibahas atau dilakukan harusnya mneyesuaikan dengan tujuan,langkah selanjutnya adalah bagaimana cara mencapai tujuan itu tentu harus benar-benar dipertimbangkan dan diaiapkan dengan matang materi atau isi agar dapat mencapai tujuan dengqn baik,
Kemudian materi yang akan disampaikan ada baiknya dipikirkan menggunakan metode apakah yang cocok agar siswa tidak mudah lupa sehingga cepat mencapai tujuan pembelajaran, lalu setelah metode dan materi kita jelas dalam mencapai tyjuan, setelah penerapan evaluasi diri, dimana yang kurang disitu lah diperbaiki.
saya sependapat dengan teman-teman bahwa dengan memaksimalkan kinerja, mulai dari menentukan tujuan, menentukan isi materi, mengatur stategi dan metode dan juga teknik, kemudian mengevaluasi kinerja saya apakah sudah dapat mencapai tujuan yang diinginkan.Sebagai pendidik harus sering mengevaluasi karena kekurangan dapat dilihat setelah dilakukan evaluasi.
Hapusterimakasih jawabannya saudari esa. saya sependapat dengan solusi yang anda tawarkan. berarti dalam solusi anda, hal yang paling saudara tekankan adalah pada bagian evaluasi.sedangkan saudara sugeng lebih pada bagian metode dan strategi.
BalasHapussaya setuju dengan saudari esa, untuk memaksimalkan hasil yang ingin dicapai guru harus bekerja ekstra mulai dari sebelum kegiatan belajar, saat proses belajar, maupun pada akhir proses pembelajaran lalu melakukan evaluasi dan refleksi
BalasHapustentu berintegritas, karna tujuan dari tingkatan pendidikan tsb merupakan satu kesatuan dalam tujuan pendidikan nasional.
BalasHapusmungkin bukan gagal, tetapi kurang maksimalnya pelaksanaan dari kurikulum tsb, sehingga tujuan pendidikan nasional pun belum tercapai sekian persen dari yang di targetkan. mungkin solusi dari saya, guru harus lebih aktif dalam penyampaian materi pembelajaran di sekolah dan tentunya orang tua juga sebisa mungkin memantau kemampuan yang sudah ada pada anaknya.
Tindakan pendidik dalam menutupi kekurangan komponen yang tidak terlaksana dengan baik yakni dengan komponen evaluasi. Karena setelah tersusunnya tujuan kurikulum tentu perlu bukti untuk pelaksanaannya, yakni harus melihat dulu strategi/pendekatan/metode dalam menyampaikan isi/materi pelajaran. Dari situ lah kita baru bisa melihat apakah komponen tersebut efektif atau kurang efektif maka dilakukan evaluasi untuk kurikulum yang lebih baik
BalasHapustidak mudah untuk mencapai tujuan kurikulum secara maksimal. Dalam setiap proses tentu ada berbagai macam kendala. Namun sedari awal tentu pihak terkait, baik pemerintah secara umum maupun pihak tingkat satuan pendidikan selalu berupaya secara maksimal untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Pada prinsipnya, kurikulum akan melewati proses tumbuh dan berkembang , maka belum bisa dikatakan "gagal" jika upaya dalam perkembangannya belum maksimal. Tugas kita selalu pendidik adalah berupaya semaksimal mungkin dalam setiap proses perkembangan kurikulum.
BalasHapusterimakasih kak.. dalam upaya pemerintah dalam mencapai tujuan pendidikan itu sendiri, terutama kepada para pendidik tentunya sudah berbagai upaya yang dilakuka. kak nely yang sudah terjun langsung dan merasakan sebagai guru disekolah. sudah maksimalkah usaha pemerintah tersebut kak ? dari komentar teman-teman diatas banyak yg menyampaikan tentang evaluasinya.
HapusSaya setuju dengan pendapat kak nelly dimana kurikulum blm di katakan gagal tp msh berkembang.Tugas kita selalu pendidik adalah berupaya semaksimal mungkin dalam setiap proses perkembangan kurikulum.
BalasHapusJika salah satu komponen yang membentuk sistem kurikulum terganggu atau tidak berkaitan dengan komponen lainnya, maka sistem kurikulum pun akan terganggu pula.
Sebagaimana tiap komponen memiliki peran peran yang sangat menentukan agar tercipta kurikulum yang baik dan benar.
Dari semua kompnen yang pada dasarnya semuanya berfungsi, berperan atau bertujuan ingin mencapai tujuan pendidikan secara optimal.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan yang kedua,
BalasHapusMenurut saya tujuan tidak tercapai bukan berarti gagal namun masih bisa dievaluasi kembali metode atau strategi yang digunakan, materi yang disampaikan dari pelajaran tersebut agar dapat mencapai tujuan. Karena dari setiap mata pelajaran saja sudah memiliki tanggungjawab untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, sehingga jika tujuan dari kompetensi dasarnya masing-masing pembelajaran sudah tidak twrcapai bisa dievaluasi lagi kembali, kembali ke siklus komponen. Menurut johan wahyudi 2014, pergantian kurikulum itu atau penerapan kurikulum dikatakan gagal ketika guru tidak mampu mengimplementasikannya karena sesungguhnya hakikat kurikulum ada di guru.
Jika guru belum siap atau mampu artinya tidak akan berjalan kurikulum tersebut.
Untuk permasalahan yang ketiga ,
Menurut saya untuk menutupi kekurangan keterlaksanaan komponen atau bisa dikatakan meminimalisir kekurangan, alangkah baiknya kita kembali lagi pada persiapan diri guru tersebut,
Komponen pertama harus ada tujuan, apapun itu yang dibahas atau dilakukan harusnya mneyesuaikan dengan tujuan,langkah selanjutnya adalah bagaimana cara mencapai tujuan itu tentu harus benar-benar dipertimbangkan dan diaiapkan dengan matang materi atau isi agar dapat mencapai tujuan dengqn baik,
Kemudian materi yang akan disampaikan ada baiknya dipikirkan menggunakan metode apakah yang cocok agar siswa tidak mudah lupa sehingga cepat mencapai tujuan pembelajaran, lalu setelah metode dan materi kita jelas dalam mencapai tyjuan, setelah penerapan evaluasi diri, dimana yang kurang disitu lah diperbaiki.
Saya setuju dengan pendapat kak nelly dan kk rahmah dimana kurikulum blm di katakan gagal tp msh berkembang karena kita selalu melakukan evaluasi di sistemnya. kita selalu pendidik adalah berupaya semaksimal mungkin dalam setiap proses perkembangan kurikulum.
BalasHapusmenanggapi permasalahan yang kedua,saya sependapat dengan kak melda yaitu bila tujuan kurikulum tidak tercapai, apakah bisa dikatakan kegagalan dalam penerapan kurikulum tersebut?
BalasHapusMenurut saya tidak namun masih bisa dievaluasi kembali metode atau strategi yang digunakan, materi yang disampaikan dari pelajaran tersebut agar dapat mencapai tujuan. Karena dari setiap mata pelajaran saja sudah memiliki tanggungjawab untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, sehingga jika tujuan dari kompetensi dasarnya masing-masing pembelajaran sudah tidak twrcapai bisa dievaluasi lagi kembali, kembali ke siklus komponen. Menurut johan wahyudi 2014, pergantian kurikulum itu atau penerapan kurikulum dikatakan gagal ketika guru tidak mampu mengimplementasikannya karena sesungguhnya hakikat kurikulum ada di guru. dan jika guru belum siap atau mampu artinya tidak akan berjalan kurikulum tersebut. perlu adanya bimbingan dari pemerintah terkait hal ini.