Kurikulum
adalah segala kegiatan dan pengalaman belajar yang dirancang atau dilaksanakan,
diprogramkan dan diselenggarakan oleh lembaga bagi anak didiknya dengan maksud
untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum dan pendididikan merupakan dua konsep yang harus
dipahami terlebih dahulu. Sebab dengan pemahaman yang jelas atas kedua konsep
itu, diharapkan para pelaksana kurikulum mampu melaksanakan tugas dengan baik dalam dunia pendidikan, kurikulum
menjadi semacam barometer
untuk mengukur tingkat keberhasilan proses pembelajaran, sehingga
salah satu entitas yang dikatakan sangat urgen dalam pendidikan adalah anatomi
kurikulum itu sendiri.
Pengembangan kurikulum adalah perencanaan
kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah
perubahan-perubahan tertentu yang diharapkan. Sedangkan yang dimaksud
dengan kesempatan belajar (learning
opportunity) adalah hubungan yang telah direncanakan dan terkontrol antara
para siswa, guru, bahan, peralatan, dan lingkungan tempat siswa belajar yang
diinginkan diharapkan terjadi. Dalam pengertian di atas,
sesungguhnya pengembangan kurikulum adalah proses siklus, yang tidak pernah berakhir. Proses tersebut terdiri
dari empat unsur yakni (Hamalik,
2007):
- Tujuan: mempelajari dan menggambarkan semua sumber pengetahuan dan pertimbagngan tentang tujuan-tujuan pengajaran, baik yang berkenaan dengan mata pelajaran (subject course) maupun kurikulum secara menyeluruh.
- Metode dan material: menggembangkan dan mencoba menggunakan metode-metode dan material sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan tadi yang serasi menurut pertimbangan guru.
- Penilaian (assesment): menilai keberhasilan pekerjaan yang telah dikembangkan itu dalam hubungannya dengan tujuan, dan bila mengembangkan tujuan-tujuan baru.
- Balikan (feedback): umpan balik dari semua pengalaman yang telah diperoleh yang pada gilirannya menjadi titik tolak bagi studi selanjutnya.
Dengan
demikian, kurikulum 2013 merupakan suatu
konstruksi kurikulum yang mengintegrasikan dua
kerangka besar yaitu kompetensi
dan
karakter dalam diri peserta didik. Artinya, kurikulum ini mencoba
untuk menginternalisasikan satu kesatuan kecerdasan intelektual
(intellectual qoutient),
kecerdasan emosioanl (emotional qoutient), dan
kecerdasan spiritual (spiritual qoutient).
Apalagi fenomena perkembangan
pendidikan abad
mutakhir menghendaki
adanya suatu
sistem pendidikan integral yaitu
suatu keinginan terhadap
pendidikan
yang di dalamnya ada pembinaan peserta didik dan yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengetahuan, kecerdasan, keterampilan,
kemampuan komunikasi, dan kesadaran antara IPTEK
(Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi) dan IMTAQ (Iman dan Taqwa)
yakni
meliputi IQ (Intellectual
Quotient), EQ (Emotional
Quotient), dan SQ (Spritiual
Quotient). ( Ridlwan Nasir,
2005). Kurikulum 2013 menghendaki kita pada pembelajaran di sekolah
menjadi lebih manusiawi, karena peserta didik diharapkan memiliki tiga
kompetensi sekaligus, yaitu kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan
yang jauh lebih baik dalam menunjang setiap perkembangan peserta didik.
Kurikulum 2013
memiliki ciri keunikan
dalam konstruksi
pembelajaran dengan pendekatan saintifik yang di dalamnya memiliki sifat
integratif-tematik. Kurikulum ini memiliki
lima
karakteristik utama, antara lain:
a). Menggunakan keseluruhan sumber belajar; b). Pengalaman lapangan; c). Strategi individual personal; d). Kemudahan belajar; dan e). Belajar
tuntas. Semua
aspek tersebut memfokuskan pada pola
pembentukan peserta didik yang
mempunyai kompetensi dan karakter yang
kuat. Dengan alur demikian, pendidikan Islam perlu untul lebih memfokuskan pada pemberdayakan semua potensi yang dimiliki peserta didik agar mereka dapat memiliki kompetensi yang diharapkan
serta juga mempunyai karakter yang diidealkan.
Hubungan kurikulum dengan pembelajaran
Ada beberapa model untuk melihat
hubungan antara kurikulum dengan pembelajaran. Menurut Peter F.
Olivia ada 4 cara atau model yang dapat menjadi pedoman untuk melihat
kurikulum dengan pembelajaran.
1. Model
dualistis, model pertama ini sifatnya tunggal dimana posisi kurikulum
menjadi pedoman dalam semua kegiatan pembelajaran dalam kelas. Lalu posisi
pembelajaran lebih kepada tolak ukur sukses atau tidaknya kurikulum dan menjadi
tujuan akhir dari kurikulum itu sendiri.
2.
Model berkaitan, model ini memegang prinsip bahwa kurikulum dengan
pembelajaran hubungannya sangat erat dan memiliki singkronisasi yang baik. Ada
bagian tertentu dimana posisi kuirkuum menjadi pembelajaran dan begitu juga
sebaliknya.
3.
Model konsentris, adalah model yang mempunai fungsi yang hampir sama
dengan model berkaitan dimana pembelajaran dan kurikulum memiliki hubungan
dengan kemungkinan bahwa kurikulum adalah bagian dari pembelajaran atau
pembelajaran adalah bagian dari kurikulum.
4.
Model siklus, bila melihat model ini kurikulum dan pembelajaran adalah dua
hal yang terpisah / berbeda tetapi memiliki hubungan timbal balik antar
keduanya, kurikulum lebih mengarah kepada rencana pelaksanaan pembelajaran lalu
peran pembelajaran adalah pada
mempengaruhi dalam perancangan kurikulum selanjutnya. Akhirnya
bisa ditarik kesimpulan bahwa proses dan hasil itu merupakan hubungan yang
sangat erat ini bisa dilihat dari penyusunan kurikulum, kurikulum dijadikan
pedoman dalam proses pembelajaran di berbagai tempat khususnya di sekolah,
kurikulum mengatur segalanya dalam aktivitas akademik baik yang
mengatur guru, siswa dan juga kepala sekolah. Lalu proses pembelajaran
dapat berjalan dengan lancar dan mengarah pada suatu pencapaian yang
maksimal.
Pembelajaran abad 21
Pembelajaran
abad 21 sekarang ini hendaknya disesuaikan dengan kemajuan dan tuntutan zaman.
Begitu halnya dengan kurikulum yang dikembangkan saat ini oleh sekolah dituntut
untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru/pendidik (teacher
centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa/peserta didik (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan
dunia masa depan anak yang harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar
(thinking and learning skils).
Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah
(problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kolaborasi, dan
kecakapan berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh peserta didik
apabila pendidik mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi
kegiatan-kegiatan yang menantang peserta didik untuk berpikir kritis dalam
memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong peserta didik untuk bekerja sama
dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang
dibuatnya.
Pengembangan
kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan,
dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Oleh karena itu,
semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk
mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Setidaknya ada empat yang harus dimiliki oleh generasi abad 21, yaitu: ways of
thingking, ways of working, tools for working and skills for living in the
word. Bagaimana seorang pendidik harus mendesain pembelajaran yang akan
menghantarkan peserta didik memenuhi kebutuhan abad 21. Berikut kemampuan abad
21 yang harus dimiliki peserta didik, yaitu
1.
Way of thinking, cara berfikir yaitu
beberapa kemampuan berfikir yang harus dikuasai peserta didik untuk menghadapi
dunia abad 21. Kemampuan berfikir tersebut diantaranya: kreatif, berfikir
kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan pembelajar.
2.
Ways of working. kemampuan bagaimana
mereka harus bekerja. dengan dunia yang global dan dunia digital. beberapa
kemampuan yang harus dikuasai peserta didik adalah communication and collaboration.
Generasi abad 21 harus mampu berkomunikasi dengan baik, dengan menggunakan
berbagai metode dan strategi komunikasi. Juga harus mampu berkolaborasi dan
bekerja sama dengan individu maupun komunitas dan jaringan. Jaringan komunikasi
dan kerjasama ini memamfaatkan berbagai cara, metode dan strategi berbasis ICT.
Bagaimana seseorang harus mampu bekerja secara bersama dengan kemampuan yang
berbeda-beda.
3.
Tools for working. Seseorang harus
memiliki dan menguasai alat untuk bekerja. Penguasaan terhadap Information and
communications technology (ICT) and information literacy merupakan sebuah
keharusan. Tanpa ICT dan sumber informasi yang berbasis segala sumber akan
sulit seseorang mengembangkan pekerjaannya.
4.
Skills for living in the world.
kemampuan untuk menjalani kehidupan di abad 21, yaitu: Citizenship, life and
career, and personal and social responsibility. Bagaimana peserta didik harus
hidup sebagai warga negara, kehidupan dan karir, dan tanggung jawab pribadi dan
sosial.
Dari bahasan
diatas kita ketahui, pengembangan kurikulum yang
terdiri dari 4 siklus yang tidak berakhir, bagaimana keterkaitan antar siklus
itu ? jikalau salah satunya tidak maksimal dalam penerapannya, bagaimana hasil
dari pengembangan kurikulum tersebut ? Bagimanapula keterkaitan antara proses
pengembangan kurikulum tersebut dengan kebutuhan pembelajaran abad 21 yang
menekankaan siswa harus memiliki banyak keterampilan.
sesungguhnya pengembangan kurikulum adalah proses siklus, yang tidak pernah berakhir. Proses tersebut terdiri dari empat unsur yakni:
BalasHapusTujuan: mempelajari dan menggambarkan semua sumber pengetahuan dan pertimbangan tentang tujuan-tujuan pengajaran, baik yang berkenaan dengan mata pelajaran (subject course) maupun kurikulum secara menyeluruh.
Metode dan material: menggembangkan dan mencoba menggunakan metode-metode dan material sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut yang serasi menurut pertimbangan guru.
Penilaian (assesment): menilai keberhasilan pekerjaan yang telah dikembangkan itu dalam hubungannya dengan tujuan, dan bila mengembangkan tujuan-tujuan baru.
Balikan (feedback): umpan balik dari semua pengalaman yang telah diperoleh yang pada gilirannya menjadi titik tolak bagi studi selanjutnya.
Jika diantara siklus dalam pengembangan kurikulum tidak maksimal maka perlu evaluasi lagi dalam proses pengembangannya.
Dimana proses tersebut merupakan siklus yg artinya pengembangan dilakukan secara terus menerus.
Keterkaitan pengembangan kurikulum dengan pembelajaran abad 21 yaitu merubah pembelajaran dari berpusat kepada guru menjadi pembelajaran dengan berpusat pada siswa. Dimana harus menuntut keterampilan 4C yaitu critical thingking,creative,collaboration,communication.
jika salah satu komponennya tidak ada dalam siklus maka pengembangan kurikulum tidak maksimal karena ketetapan pengembangan kurikulum tersebut sudah ditetapkan. terlebih dengan berkembangnya teknologi saat ini. sehingga pengembangan kurikulum harus sesuai dengan perkembangan jaman.
BalasHapusterimakasih sdri Tri haryati. tidak maksimalnya pengembangan kurikulum tentunta akan berdampak dalam pembelajaran, kira-kira akan berpengaruh pada bagian mananya ?
HapusUntuk mencapai hasil yang maksimal dalam tujuan pendidikan nasional sesuai dengan visi dari pendidikan nasional yaitu "terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berunbah" maka peranan kurikulum pada setiap tingkat satuan pendidikan sangatlah penting.
BalasHapusSetiap komponen memiliki peranan yang "kental" dan saling berkaitan satu sama lain. Sehingga apabila ada salah satu komponen yang tidak maksimal dalam perencanaannya maka dapat mempengaruhi pelaksanaan komponen lainnya.
Sebagaimana yang tertuang pada visi dari pendidikan nasional di atas, proses perkembangan kurikulum dengan sendirinya akan cenderung mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan teknologi pendidikan.
saya sependapat dengan diab,kak tri dan kak nelly yaitu apabila ada salah satu komponen pengembangan kurikulum yang tidak maksimal dalam perencanaannya maka dapat mempengaruhi pelaksanaan komponen lainnya dan pengembangan kurikulum juga tidak akan maksimal.
BalasHapusSaya sependapat dengan teman-teman sebelumnya, tentunya 4 unsur dalam siklus tersebut dirancang saling berkaitan dan apabila salah satu tidak maksimal dapat mempengaruhi keefektifan seluruh proses pembelajaran. Lalu, keterkaitan antara K13 dan keterampilan abad 21, Kurikulum 2013 merupakan suatu konstruksi kurikulum yang mengintegrasikan dua kerangka besar yaitu kompetensi dan karakter dalam diri peserta didik. Sedangkan keterampilan abad 21 terdiri dari Creative dan inovasi, critical thinking dan problem solving, Communication, Colaborative. Tentunya Keterampilan abad 21 ini bersifat mempertegas apa yang harus dilakukan siswa agar dapat menginternalisasikan satu kesatuan kecerdasan intelektual (intellectual qoutient), kecerdasan emosioanl (emotional qoutient), dan kecerdasan spiritual (spiritual qoutient) yang di harapkan terbentuk dalam K13.
BalasHapussaya setuju dengan pendapat temanc diatas dimana dalam satu siklus yang memiliki banyak kegitan sangat berkaitan, karna siklus merupakan kejadian / sesuatu hal yang tidak terputus. jika salah satu dalam siklus tersebut tidak dijalankan maka bisa mengakibatkan terputusnya kegiatan atau menggangu sistem. apabila ini terjadi pada siklus pengajaran akan mengakibatkan ketidakmaksimalan dalam proses dan hasil belajar siswa.
BalasHapusLalu, seperti yang kita tahu bahwa kurikulum selalu mengikuti jaman dan berubah-ubah dalam kurun waktu tertentu. Artinya, dalam proses pengembangan kurikulum pun ada poin yang ditambahkan atau dirubah untuk mencapai tujuan dari pendidikan nasional yang sesuai dengan jamannya.
saya sependapat dengan fira, kak nelly dan dian bahwa semuanya harus direncanakan secara matang sehingga dalam penerapannya pun dapat maksimal, apabila belum maksimal salah satunya maka perlu dilakukan evaluasi sehingga nantinya hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan
BalasHapusPengembangan kurikulum adalah proses siklus, yang tidak pernah berakhir. jika salah satu komponennya tidak ada dalam siklus maka pengembangan kurikulum tidak maksimal dan seharusnya perlu direncanakan secara matang seingga penerapannya dapat berjalan maksimal.
BalasHapussaya sependapat dengan saudari dian, yang mengatakan "sesungguhnya pengembangan kurikulum adalah proses siklus, yang tidak pernah berakhir. Proses tersebut terdiri dari empat unsur yakni:
BalasHapusTujuan: mempelajari dan menggambarkan semua sumber pengetahuan dan pertimbangan tentang tujuan-tujuan pengajaran, baik yang berkenaan dengan mata pelajaran (subject course) maupun kurikulum secara menyeluruh.
Metode dan material: menggembangkan dan mencoba menggunakan metode-metode dan material sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut yang serasi menurut pertimbangan guru.
Penilaian (assesment): menilai keberhasilan pekerjaan yang telah dikembangkan itu dalam hubungannya dengan tujuan, dan bila mengembangkan tujuan-tujuan baru.
Balikan (feedback): umpan balik dari semua pengalaman yang telah diperoleh yang pada gilirannya menjadi titik tolak bagi studi selanjutnya.
Jika diantara siklus dalam pengembangan kurikulum tidak maksimal maka perlu evaluasi lagi dalam proses pengembangannya.Dimana proses tersebut merupakan siklus yg artinya pengembangan dilakukan secara terus menerus".
jikalau salah satunya tidak maksimal dalam penerapannya, bagaimana hasil dari pengembangan kurikulum tersebut ?
tentu saja hasilnya juga tidak maksimal, tetapi pada tahap ketiga itu ada penilaian yaitu menilai keberhasilan pekerjaan yang telah dikembangkan itu dalam hubungannya dengan tujuan, dan bila mengembangkan tujuan-tujuan baru, dilanjutkan dengan balikan (feedback)/umpan balik yang menjadi titik tolak bagi studi selanjutnya sehingga ketidak maksimalnya salah banyak ini dapat diminimalisir sehingga hasil pengembangan kurikulumpum dapat optimal.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusRahmah Widia:
BalasHapusMenanggapi keterkaitan antara proses pengembangan kurikulum tersebut dengan kebutuhan pembelajaran abad 21 yang menekankaan siswa harus memiliki banyak keterampilan.
Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Pergeseran paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di dalam pengembangan kurikulum 2013.
Ketrampilan Abad 21 yang dianggap bisa memperkuat modal social (social capital) dan modal intelektual (intellectual capital) ini, biasa disingkat dengan 4C: communication, collaboration, critical thinking and problem solving, dan creativity and innovation. Secara operasional, 4C ini dijabarkan dalam empat kategori langkah, yakni: Pertama, cara berpikir, termasuk berkreasi, berinovasi, bersikap kritis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan belajar pro-aktif. Kedua, cara bekerja, termasuk berkomunikasi, berkolaborasi, bekerja dalam tim. Ketiga, cara hidup sebagai warga global sekaligus local; dan keempat, alat untuk mengembangkan ketrampilan abad 21, yakni teknologi informasi, jaringan digital, dan literasi.
abad 21 sangat memerlukan keterampilan terutama dalam hal-hal berikut :
1. Creativity and Innovation
Manusia yang akan sukses di abad 21 adalah orang-orang yang kreatif dan memiliki keberagaman ide. Sehingga, dalam dimensi kreatif ini, gurunya pun harus kreatif. Tidak lagi hanya mengharapkan kemampuan siswa pada level mendeskripsikan sesuatu, namun bagaimana siswa mampu mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.
2. Critical Thinking and Problem Solving
Yang dimaksud masalah di sini ada dua macam, masalah yang sifatnya akademis dan otentis. Masalah akademis tentu saja masalah yang terkait pada ranah kognisi yang mereka jalani. Masalah otentis lebih kepada masalah yang sering mereka jumpai sehari-hari di sekitar mereka. Siswa dituntut mampu menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, siswa juga memiliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah.
3. Communication
Di abad 21, siswa yang mampu bertahan adalah yang bisa berkomunikasi dengan berbagai cara, baik tertulis maupun verbal. Siswa dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. Siswa diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah dari gurunya. Siswa tidak boleh lagi anti ICT, mereka harus biasa dengan komunikasi yang bertekhnologi. Demikian juga gurunya.
4. Collaboration
Ternyata juga, hidup di abad 21 tidak tergantung lagi pada persaingan. Justru, orang-orang sukses di abad ini adalah orang-orang yang bisa bekerja sama atau berkolaborasi dengan berbagai kepentingan. Siswa harus mampu kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab; bekerja secara produktif dengan yang lain; menempatkan empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda. Siswa juga menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat; menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain; memaklumi kerancuan.
Saya sependapat dengan teman-teman bahwasannya apabila salah satu komponennya tidak ada dalam siklus maka pengembangan kurikulum tidak akan berjalan secara maksimal dan apabila belum berjalan secara maksimal maka diperlukan evaluasi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
BalasHapussaya akan mencoba menjawab permasalahan saudara dhani yang pertama,
BalasHapus4 siklus tersebut telah ditetapkan saling berkaitan jika apabila salah satu tidak maksimal penerapannya maka pasti akan mempengaruhi, pelaksanaan komponen yang lain dan penerapannya juga tidak maksimal yang namanya siklus akan terus berlangsung jika terputus di satu titik/ komponen maka siklus tersebut tidak berjalan dengan baik. perlu perencanaan yang benar-benar maksimal-untuk hasil yang masksimal di setiap komponen siklus