Jumat, 22 Maret 2019

Materi VII : Penyusunan Rubrik Penilaian Kreatif (Berpikir Kreatif)


            Kurikulum 2013 menuntut siswa untuk berperan aktif dan keratif dalam proses belajar mengajar di kelas. Kemampuan kreatif merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki siswa. Berpikir, memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu yang baru merupakan kegiatan yang kompleks dan berhubungan erat satu dengan yang lainnya. Suatu masalah tidak dapat dipecahkan tanpa berpikir dan banyak masalah memerlukan pemecahan baru melalui keterampilan kreatif. Kreatif adalah berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki (Listiyarti, 2012: 6).
            Penilaian dalam kurikulum 2013 menggunakan prinsip penilaian berkelanjutan dan komprehensif supaya dapat mendukung upaya memandirikan siswa dalam belajar dan bekerja sama. Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan berbagai jenis data yang dapat memberikan informasi atau gambaran tentang perkembangan belajar siswa. Dalam proses pembelajaran, tidak semua bentuk penilaian dapat cocok dengan kompetensi yang akan dicapai. Akan tetapi sebisa mungkin bentuk penilaian yang digunakan dapat mencakup tiga ranah kompetensi, yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dengan begitu penilaian yang dilakukan tidak hanya tepat tetapi juga lebih komprehensif. Penilaian proyek adalah salah satu jenis penilaian yang komprehensif yang mencakup ketiga ranah tersebut. Teknik penilaian proyek akan memberikan sebuah gambaran kemampuan menyeluruh secara kontekstual mengenai kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan konsep pada materi tertentu (Bahri , 2000).
            Pendapat lainnya mendefiniskan kreatif adalah memiliki kemampuan untuk menciptakan dan bersifat daya cipta, pekerjaan yang menghendaki kecerdasan dan imaginasi (Depdikbud, 1997: 760). Torrance (dalam Busyairi, 2015: 593) menjelaskan bahwa keterampilan kreatif merupakan sebuah keterampilan untuk memikirkan banyak kemungkinan, menggunakan cara yang bervariasi, menggunakan sudut pandang yang berbeda, memikirkan sesuatu yang baru serta untuk membimbing kita dalam menghasilkan dan memilih alternatif. Torrance dalam Leung (1997:82) menjelaskan karakteristik keterampilan kreatif yang dimiliki seseorang dapat dilihat dari kefasihan (fluency), fleksibilitas dan keaslian (originality). Kefasihan, yaitu banyaknya ide-ide yang dibuat dalam merespon sebuah perintah. Fleksibilitas ditunjukkan pada perubahan-perubahan pendekatan ketika merespon perintah, dan kebaruan ditunjukkan pada keaslian ide yang dibuat dalam merespon perintah. Pendapat sendada dikemukakan Silver, dkk (1996: 78) bahwa seseorang dikatakan memiliki keterampilan kreatif filihat dari 
1) kefasihan mengacu pada banyaknya masalah yang diajukan, 
2) fleksibilitas mengacu kategori-kategori masalah yang dibuat, dan 
3) keaslian melihat bagaimana perbedaan respon-respon dalam sekumpulan respon. 

Harsanto (2005:45) menyatakan bahwa ciri orang yang memiliki keterampilan kreatif meliputi: 
1) Membedakan antara fakta, non fakta dan opini; 
2) Membedakan antara kesimpulan definitif dan sementara; 
3) Menguji tingkat kepercayaan;
4) Membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan
5) Berpikir kritis atas materi yang dibacanya; (6) Membuat keputusan;
6) Mengidentifikasi sebab dan akibat; 
7) Mempertimbangkan wawasan lain; 
8) Menguji pertanyaan yang dimilikinya.

            Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan kreatif dapat mengabaikan hubungan yang sudah ada, dan menciptakan hubunganhubungan yang baru. Pengertian ini menunjukan bahwa keterampilan kreatif merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan suatu kombinasi yang belum dikenal sebelumnya. Keterampilan kreatif dapat juga dipandang sebagai
suatu proses yang digunakan ketika seorang individu mendatangkan atau memunculkan suatu ide baru. Ide baru tersebut merupakan gabungan ide- ide sebelumnya yang belum pernah diwujudkan atau masih dalam pemikiran. Keterampilan kreatif ini ditandai adanya ide dan cara baru yang dimunculkan sebagai hasil dari proses berpikir tersebut. Untuk menguatkan keterampilan kreatif diperlukan sebuah ide di dalam bentuk yang memungkinkan pengalamanpengalaman pribadidan reaksi- reaksi tersendiri atau lainya memperkuat keterampilan tersebut.

Munandar (2004: 90) mengemukakan alasan mengapa kreativitas pada diri peserta didik perlu dikembangkan. Pertama, dengan berkreasi maka orang dapat mewujudkan dirinya (Self Actualization). Kedua, pengembangan kreativitas khususnya dalam pendidikan formal masih belum memadai. Ketiga, bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat tetapi juga memberikan kepuasan tersendiri. Keempat, kreativitaslah yang memungkinkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Unsur kreatif diperlukan dalam menyelesaikan masalah. Semakin kreatif seseorang, semakin banyak alternatif penyelesaiannya. Keterampilan kreatif membantu siswa dalam menyesuaikan diri dengan perubahan. Para ahli percaya bahwa perubahan berjalan cepat. Oleh karena itu, membantu siswa mengembangkan keterampilan kreatif yang dapat menuntun mereka menyesuaikan diri dengan kondisi hidupnya akan sangat berguna bagi kehidupannya.

Usaha-usaha Orang Tua dan Guru Mengembangkan Kreativitas
Dalam mengembangkan kreativitas ini guru sangat diharapkan peran yang aktif untuk memberikan pemahaman pada remaja yang menjadi peserta didiknya. Usaha-usaha guru adalah:
  • Membantu anak/peserta didik untuk memahami latar belakang mereka, pengalaman mereka dan kebiasaan perilaku. Pada cara ini diizinkan masing-masing pribadi untuk mengembangkan potensi dirinya.
  • Guru dan orang tua dapat menciptakan suasana untuk mendorong pemikiran kreatif dengan menghilangkan halangan luar dari kreativitas. Sensitifitas pada problem ditingkatkan, metode untuk membahas membebaskan imajinasi dapat dikembangkan dan sarana sistematis untuk mengevaluasi ide-ide dapat diajarkan pula.
  • Anak/peserta didik diberi kesempatan untuk mempraktekkan pemikiran kreatif dalam suasana yang terkendali dan terkontrol.
  • Cara-cara mengembangkan imajinasi anak/peserta didik dengan memberikan masalah-masalah yang dapat meningkatkan inteligensi remaja untuk membuahkan ide-ide yang baik, kriteria yang berbeda pada keunikan dan kegunaan.
  • Guru dan orang tua harus memberikan cara instruksi yang semantik didalam menerapkan imajinasi yang dapat menghasilkan pengembangan potensi yang ada pada diri remaja.

Kemampuan memberikan penilaian atau evaluasi terhadap suatu obyek atau situasi juga mencerminkan kreativitas, jika dalam penilaiannya seseorang mampu melihat obyek, situasi, atau masalahnya dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Ciri-ciri berpikir kreatif (aptitude) (Munandar, 2008) seperti terlihat pada tabel berikut:
Pengertian
Perilaku
Berpikir Lancar (Fluency)
1. Mencetuskan banyak gagasan,
jawaban, penyelesaian masalah
atau jawaban.
2. Memberikan banyak cara atau
saran untuk melakukan berbagai
hal.
3. Selalu memikirkan lebih dari satu
jawaban.
a. Mengajukan banyak pertanyaan.
b. Menjawab dengan sejumlah
jawaban jika ada.
c. Mempunyai banyak gagasan
mengenai suatu masalah.
d. Lancar mengungkapkan
gagasangagasannya.
e. Bekerja lebih cepat dan melakukan
lebih banyak dari orang lain.
f. Dapat dengan cepat melihat
kesalahan dan kelemahan dari
suatu objek atau situasi.
Berpikir Luwes (Flexibility)
1. Menghasilkan gagasan, jawaban,
atau pertanyaan yang bervariasi.
2. Dapat melihat suatu masalah dari
sudut pandang yang berbeda.
3. Mencari banyak alternatif atau arah
yang berbeda.
4. Mampu mengubah cara pendekatan
atau pemikiran.
a. Memberikan bermacam-macam
penafsiran terhadap suatu gambar,
cerita atau masalah.
b. Menerapkan suatu konsep atau asas
dengan cara yang berbeda-beda.
c. Jika diberikan suatu masalah
biasanya memikirkan bermacam
macam cara untuk menyelesaikan.
Berpikir Orisinil (Originality)
1. Mampu melahirkan ungkapan yang
baru dan unik.
2. Memikirkan cara-cara yang tak
lazim untuk mengungkapkan diri.
3. Mampu membuat kombinasi
kombinasi yang tak lazim dari
bagian-bagian atau unsur-unsur.
a. Memikirkan masalah-masalah atau
hal yang tidak terpikirkan orang
lain.
b. Mempertanyakan cara-cara yang
lama dan berusaha memikirkan
cara-cara yang baru.
c. Memilih cara berpikir lain daripada
yang lain.
Berpikir Elaboratif (Elaboration)
1. Mampu memperkaya dan
mengembangkan suatu gagasan
atau produk.
2. Menambah atau merinci detail
detail dari suatu objek, gagasan
atau situasi sehingga menjadi lebih
menarik.
a. Mencari arti yang lebih mendalam
terhadap jawaban atau pemecahan
masalah dengan melakukan
langkah-langkah yang terperinci.
b. Mengembangkan atau memperkaya
gagasan orang lain.
c. Menambah garis-garis, warna
warna, dan detail-detail terhadap
gambarnya sendiri atau gambar
orang lain.
Berpikir Evaluatif (Evaluation)
1. Menentukan kebenaran suatu
pertanyaan atau kebenaran suatu
penyelesaian masalah.
2. Mampu mengambil keputusan
terhadap situasi terbuka.
3. Tidak hanya mencetuskan gagasan
tetapi juga melaksanakannya.
a. Memberi pertimbangan atas dasar
sudut pandang sendiri.
b. Mencetuskan pandangan sendiri
mengenai suatu hal.
c. Mempunyai alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
d. Menentukan pendapat dan bertahan
terhadapnya.

Proses Berpikir Kreatif
Siswono & Kurniawati dalam Iswanti (2016:633) menyatakan bahwa berpikir merupakan proses yang dinamis yang dapat dilukiskan menurut proses atau jalannya. Rusyna (2014:118) menjelaskan bahwa teori proses kreatif terdiri dari empat tahap yaitu: (1) kejenuhan (saturation), (2) inkubasi (incubation), (3) inspirasi (inspiration), dan (4) verifikasi (verification). Menurut De Porter dan Mike Hernacki dalam Uno (2014:164) ada lima proses kreatif yang diungkapkannya, yaitu:
1.      Persiapan, mendefinisikan masalah, tujuan atau tantangan.
2.      Inkubasi, mencerna fakta-fakta dan mengolahnya dalam pikiran.
3.      Iluminasi, mendesak ke permukaan, gagasan-gagasan bermunculan.
4.      Verifikasi, memastikan bahwa solusi itu benar-benar memecahkan masalah.
5.      Aplikasi, mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti solusi tersebut.


Komponen-komponen berpikir kreatif dapat ditemukan berdasarkan pendapat para ahli. Menurut Santrock (2007) kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir dalam cara-cara yang baru dan tidak biasa serta menghasilkan pemecahan masalah yang unik. Stenberg (2012) dan Runco (2007) juga sepakat bahwa kreativitas adalah proses memproduksi sesuatu yang orisinil dan bernilai.  Lebih lanjut Pehkonen & Helsinki (1997) menyatakan bahwa berpikir kreatif adalah suatu kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen yang didasarkan pada intuisi tetapi masih dalam kesadaran. Silver (1997) juga menjelaskan bahwa komponen berpikir kreatif mencakup kefasihan (fluency), fleksibilitas (flexibility) dan kebaruan (novelty). Hubungan komponen tersebut dengan pengajuan dan pemecahan  masalah seperti pada tabel berikut:

 Hubungan pemecahan dan pengajuan masalah dengan komponen kreativitas (Silver, 1997)
Pemecahan Masalah
Komponen
Kreativitas
Pengajuan Masalah
Siswa menyelesaikan masalah dengan bermacam-macam interpretasi, metode penyelesaian atau jawaban masalah.
Kefasihan
Siswa membuat banyak masalah yang dapat dipecahkan.
Siswa memberikan masalah yang diajukan.
Siswa memecahkan masalah dalam satu cara, kemudian dengan menggunakan cara lain. Siswa mendiskusikan berbagai metode penyelesaian.
Fleksibilitas
Siswa mengajukan masalah yang cara penyelesaian
berbeda-beda. Siswa menggunakan pendekatan
“what-if-not?” untuk mengajukan masalah.
Siswa memeriksa beberapa   metode penyelesaian atau jawaban, kemudian membuat lainnya yang berbeda.
Kebaruan
Siswa memeriksa beberapa masalah yang diajukan,
kemudian mengajukan suatu masalah yang berbeda.


INSTRUMEN LEMBAR OBSERVASI AFEKTIF BERPIKIR KREATIF SISWA
No.
Aspek Afektif Berpikir Kreatif
Skor
Skor
Skor
Skor
1
2
3
4
1.
Berani mengambil resiko


2.
Berani dan antusias dalam mengemukakan
pendapat serta menjawab pertanyaan dengan
memberi jawaban yang lebih banyak


3.
Rasa ingin tahu yang besar


4.
Menyukai tantangan dan pengalaman baru


5.
Tidak mudah putus asa




RUBRIK PENILAIAN AFEKTIF BERPIKIR KREATIF

No
Aspek
Skor
1.
Berani mengambil resiko
Tingkat ketercapaian :
4 : Sangat berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh
orang lain
3 : Cukup berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh
orang lain
2:Kurang berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh
orang lain
1: Sangat tidak berani dalam mengemukakan masalah dalam pembelajaran yang tidak dikemukakan oleh
orang lain
2.
Berani dan antusias dalam
mengemukakan pendapat serta
menjawab pertanyaan dengan
memberi jawaban yang lebih
banyak
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas
3: Cukup berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas
2: Kurang berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas
1: Sangat tidak berani untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas
3
Rasa ingin tahu yang besar
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran
3: Cukup berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran
2: Kurang berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran
1: Sangat tidak berusaha menemukan pemecahan masalah saat pembelajaran
4.
Menyukai tantangan dan
pengalaman baru
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran
3: Cukup antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran
2: Kurang antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran
1: Sangat tidak antusias dengan hal – hal yang baru dalam pembelajaran
5.
Tidak mudah putus asa
Tingkat Ketercapaian
4: Sangat semangat dan tidak mudah putus asa dalam memecahkan masalah
3: Cukup Semangat dan tidak mudah putus asa dalam memecahkan masalah
2: Kurang semangat dan mudah putus asa dalam memecahkan masalah
1: Tidak semangat dan sangat mudah putus asa dalam memecahkan ma

Kriteria skoring Kemampuan Berpikir Kreatif

(Ennis dalam Nitko &Brookhart, 2007)

Skor
Kriteria
1
Jawaban tidak menyatakan point utama,jawaban yang diberikan
alasan yang relevan,tidak memberikan alasan yang mendukung
pernyataan,jawaban yang diberikan kurang sesuai dengan apa yang
dimaksudkan dalam soal
2
Jawaban menyatakan point utama tetapi tidak secara jels,memberikan
alasan yang mendukun tetapi di luar target,serta memberikan fakta
yang mendukung tetapi secara umum tidak lengkap dan tidak sesuai
dengan sumber yang terpercaya
3
Jawaban menyatakan point utama atau pernyataan secara jelas tetapi
anya sesuai dengan wacana,memberikan alasan yang relevan yang
mendukung dengan lebih baik atau alasan beragam.serta memberikan
beberapa fakta yang sesuai mendukung dan secara umum fakta-fakta
tersebut sesuai dan relevan
4
Jawaban menyatakan point utama atau pernyataan secara
jelas,antusias dan menarik,memberikan alsan relevan yang
mendukung dengan lebih baik atau alasan yang beragam,serta
memberikan beberapa fakta yang secara umum sesuai mendukung

Dari uraian diatas bisa dilihat rubrik penilaian yang berfokus pada aspek afektif. Menurut anda bagaimana kelayakan rubrik tersebut ? apakah rubrik ini mencakup apa yang diinginkan oleh kurikulum 2013 ? berikan pandangan anda tentang hal ini ? Selanjutnya, jika ada salah satu aspek dari berfikir kreatif tidak terpenuhi, apakah bisa dikatakan anak sudah berhasi ? berikan argumen dan alasan anda.



Jumat, 15 Maret 2019

Materi VI : Penyusunan Rubrik Penilaian Argumentasi dalam Kimia



Kemampuan berargumentasi penting dikembangkan dalam proses pembelajaran kimia karena mampu mengubah pemahaman siswa. Proses pembelajaran kimia memfasilitasi siswa untuk belajar menemukan konsep dengan menerapkan metode ilmiah. Kemampuan argumentasi diperlukan dalam memperbaiki dan membangun kembali ide-ide ilmiah berdasarkan bukti untuk lebih memahami realita yang terjadi di alam. Selain itu kemampuan argumentasi juga diperlukan dalam memberikan pernyataan atau kesimpulan yang diperkuat dengan bukti dan data yang diperoleh dilapangan serta terdapat pembenaran terkait bukti yang digunakan untuk mendukung pernyataan (Hendarto, 2016).
Menurut Supeno (2014) dalam Ichsan (2015) kata argumentasi seringkali merujuk kepada proses interaksi. Istilah argumen pada kehidupan sehari-hari di sebut dengan berdebat. Argumen adalah penjelasan tentang penalaran suatu solusi yang terkait dengan substansi dari klaim, data, bukti, dan dukungan yang memberi kontribusi dalam isi argumen, sedangkan argumentasi adalah terkait dengan proses untuk mendapatkan dan menyusun komponen-komponen tersebut.
Toulmin (1958) dalam Dawson et al. (2016) mengklasifikasikan enam aspek penting dalam sebuah argument, yaitu claim pernyataan merupakan pernyataan yang menjawab permasalahan, data merupakan bukti-bukti atau informasi yang dijadikan dasar untuk membuat pernyataan, warrant merupakan pernyataan yang menghubungkan claim dan data, backing merupakan bukti yang mendukung warrant, qualifier merupakan bantahan (rebuttal) terhadap pernyataan dan condition atau dukungan terhadap pernyataan.
Menurut Sampson, (2010) dalam Siswanto et al. (2014) model pembelajaran pembangkit argumentasi dirancang untuk melatih keterampilan siswa yamg meliputi keterampilan dalam mengajukan klaim, data, pembenaran, dukungan dan sanggahan berdasarkan pada permasalahan yang diberikan.
Berdasarkan definisi  tersebut tentang argumentasi, maka dapat disimpulkan bahwa argumentasi merupakan sebuah wacana yang berusaha meyakinkan atau membuktikan kebenaran suatu pernyataan, pendapat, sikap, atau keyakinan, dengan didukung oleh fakta-fakta, sehingga mampu meyakinkan dan membuktikan bahwa pendapat tersebut benar atau tidak. Menurut Ichsan, dkk (2016) argumentasi dipandang sebagai hal penting dalam proses belajar sains karena merupakan aktivitas inti yang sangat mendasar dimana para siswa dalam pembelajaran membutuhkan argumentasi untuk memperkuat pemahamannya.Selanjutnya Mc.Neill dan Krajcik (2006) argumentasi memuat tiga aspek meliputi claim, evidence, dan reasoning. Claim merupakan pernyataan yang menjawab permasalahan. Evidence merupakan data ilmiah yang mendukung suatu pernyataan. Reasoning merupakan suatu alasan atau pembenaran yang menghubungkan pernyataan dengan bukti.Selanjutnya tiga fase kemampuan argumentasi siswa.Pada fase pertama yaitu Claim yang merupakan pernyataan muncul pada fase untuk mengawali pembelajaran.Menurut Tan (2003) dalam Ade Cyntia, dkk (2016) dalam fase claim pernyataan berupa masalah muncul dari pemikiran setiap siswa. Dan pada fase ini siswa membuat daftar berupa pernyataan mengenai identifikasi masalah, rumusan masalah, serta analisis masalah. Pada fase kedua yaitu Evidence merupakan data ilmiah yang mendukung suatu pernyataan menggunaan data sebagai bukti. Dalam fase ini siswa berdiskusi terkait daftar permasalahan dan mencari bukti yang mendukung pernyataan awal terkait masalah. Semua informasi yang masing-ma sing individu peroleh didiskusikan untuk
menentukan informasi yang tepat digunakan sebagai data pendukung. Pada fase ketiga yaitu Reasoning sebagai pembenaran terkait pernyataan dan bukti yang digunakan.. Siswa dalam kelompok melaporkan dan menyajikan solusi hasil diskusi. Selama presentasi siswa memberi penjelasan terkait solusi permasalahan hasil diskusi.Kemampuanmenjelaskan dan memberi pembenaran berdasarkan pernyataan yang didukung oleh data merupakan bagian dari kemampuan menciptakan argumen. Kriteria pertama dari argumen yaitu klaim merupakan sebuah opini atau pendapat yang dikemukakan oleh seseorang atau sebuah kesimpulan yang ingin diterima oleh orang lain. Kriteria kedua dari argumen adalah dukungan yang disediakan untuk klaim baik berupa bukti dan penalaran yang menghubungkan bukti dengan klaim. Bukti merupakan sesuatu yang dapat membuat audien menerima dan dapat digunakan untuk mendukung klaim yang tidak diterima. Kriteria ketiga dari argumen adalah berusaha untuk mempengaruhi seseorang yang berada dalam ketidaksetujuan. “Berusaha untuk mempengaruhi” adalah sangat penting menentukan sukses dan tidaknya pendapat seseorang.

Instrumen Penilaian Kemampuan Argumentasi Ilmiah  Berorientasi Science Writing Heuristic (SWH)
No
Aspek yang dinilai
Skala penilaian
Skor
1
2
3
1
Mampu menyertakan data/bukti hasil penyelidikan
2
Mampu membuat pernyataan (klaim) untuk menjawab pertanyaan penyelidikan
3
Mampu menggunakan data/bukti hasil penyelidikan untuk melandasi pernyataan (klaim) 
4
Mampu menuliskan alasan (pembenaran dan pendukung) terhadap data/bukti untuk mendukung pernyataan (klaim)
5
Mampu mengkaitkan argument dengan hipotesis
Jumlah

Keterangan Skala Nilai Tiap Aspek
No
Aspek penilaian
Skala
Keterangan skala nilai
1
Mampu menyertakan data/bukti hasil penyelidikan
3
Menyertakan ˃ 75% data hasil penyelidikan dalam format data (diagram, grafik, atau tabel).
2
Menyertakan 50% - 75% data hasil penyelidikan dalam format data (diagram, grafik, atau tabel).
1
Hanya menyertakan ˂ 50% data hasil penyelidikan dengan format data (diagram, grafik, atau tabel).
2
Mampu membuat pernyataan (klaim) untuk menjawab pertanyaan penyelidikan
3
Mampu membuat pernyataan (klaim) berdasarkan teori, data/bukti, dan/atau pendukung lainnya sebanyak ˃ 5 klaim dengan benar.
2
Mampu membuat pernyataan (klaim) berdasarkan teori, data/bukti, dan/atau pendukung lainnya sebanyak 3 – 5 klaim dengan benar.
1
Mampu membuat pernyataan (klaim) berdasarkan teori, data/bukti, dan/atau pendukung lainnya sebanyak ˂ 3 klaim dengan benar.
3
Mampu menggunakan data/bukti hasil penyelidikan untuk melandasi pernyataan (klaim) 
3
Mampu menjelaskan data/bukti dari 3 – 4 percobaan untuk melandasi pernyataan (klaim).
2
Mampu menjelaskan data/bukti dari 2 percobaan untuk melandasi pernyataan (klaim).
1
Mampu menjelaskan data/bukti dari 1 percobaan untuk melandasi pernyataan (klaim).
4
Mampu menuliskan alasan (pembenaran
dan pendukung) terhadap data/bukti untuk mendukung pernyataan (klaim)
3
Mampu menuliskan alas an (pembenaran dan pendukung) menggunakan sumber internal dan eksternal terhadap data/bukti untuk mendukung pernyataan
(klaim) pada laporan asam basa dan larutan penyangga (keduanya).
2
Mampu menuliskan alas an (pembenaran dan pendukung) menggunakan sumber internal dan/atau eksternal terhadap data/bukti untuk mendukung pernyataan (klaim) pada laporan asam basa dan/atau larutan penyangga (salah satu).
1
Tidak menuliskan alas an (pembenaran dan pendukung) menggunakan sumber internal dan eksternal (tidak keduanya) untuk mendukung pernyataan (klaim).
5
Mampu mengkaitkan argument dengan hipotesis
3
Mampu mengkaitkan argumen dengan hipotesis pada laporan asam basa dan larutan penyangga.
2
Mampu mengkaitkan argument dengan hipotesis pada laporan asam basa atau pada larutan penyangga.
1
Tidak mengkaitkan argumen  dengan hipotesis.

Berikut diberikan contoh soal


Kompetensi Dasar
Indikator Soal
No
Soal
Jawaban
Level/Skor
3.7 Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan menentukan orde reaksi berdasarkan data hasil percobaan
Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
1
Suatu reaksi berlangsung dua kali lebih cepat setiap suhu dinaikkan 10oC, apabila pada suhu 25oC laju reaksi suatu reaksi adalah 2y M/s. Berapa laju Reaksi pada suhu 75oC?
Suhu (oC)
25
35
45
55
65
75
Laju reaksi
(M/s)
2y





Isilah tabel kosong diatas serta perhitungannnya dan berikan alasannya!
Claim benar, Data relevan, dan alasan (Warrant) menghubungkan Claim dan Data

Claim  :
64y

Data    :
Suhu (oC)
25
35
45
55
65
75
Laju reaksi
(M/s)
2y
4y
8y
16y
32y
64y
rt = (A)  x r0
    = (2)  x 2y
   = 25 x 2y
   = 32 x 2y
   = 64 y
Jadi laju reaksinya adalah 64 y

Warrant :
Pada setiap kenaikan reaksi 2 kali suhu dinaikan 10oC, nah pada saat suhu awal adalah 25oC laju reaksi adalah 2y M/s sehingga jika suhu 35 oC maka 35 oC dikurang 25oC dibagi 10oC lalu dikali 2 (kenaikan reaksi) setalah itu dikali 2 (laju reaksi pada suhu 25oC) sehingga didapat hasilnya 4y M/s dan begitu selanjutnya.
4/100
Claim benar, Data relevan, alasan (Warrant) tidak menghubungkan Claim dan Data
3/75
Claim benar, Data tidak relevan, dan tidak ada alasan (Warrant)
2/50
Claim salah, tidak ada Data, dan tidak ada alasan (Warrant)
1/25
Tidak ada jawaban atau salah
0/0
2
Perhatikan gambar dan data percobaan reaksi pita Mg dengan HCl dibawah ini:
Description: Description: Hasil gambar untuk gambar logam mg dan hcl

Tabuing reaksi
Logam Mg (cm)
10 mL HCl (m)
1
5
1
2
5
2
3
5
3
Berdasarkan gambar dan data percobaan diatas, tabung manakah yang memiliki laju paling cepat, berikanlah data berdasarkan  perbedaan apakah yang dapat diamati? serta berikanlah alasan dari data yang anda berikan!

Claim benar, Data relevan, dan alasan (Warrant) menghubungkan Claim dan

Claim:
Tabung reaksi 3

Data:
HCl 3M memiliki konsentrasi yang lebih pekat dibandingkan HCl 2M dan 1M
Banyaknya gelembung yang dihasilkan berbeda:
1.       Logam Mg dengan HCl 1M= sedikit gelembung (lambat)
2.       Logam Mg dengan HCl 2M = sedang (sedang)
3.       Logam Mg dengan HCl 3M = banyak (cepat)

Alasan:
Banyaknya gelembung yang muncul pada reaksi yang ditunjukkan pada percobaan 3 disebabkan oleh konsentrasi dari HCL yang digunakan yaitu sebesar 3M semakin pekat/tinggi konsentrasi yang digunakan berarti jumlah partikel akan bertambah dalam volume tersebut dan menyebabkan tumbukan antar partikel lebih sering terjadi, banyaknya tumbukan memungkinkan tumbukan yang berhasil akan bertambah sehingga laju reaksi meningkatkan. Karena hal inilah pita Mg yang bereaksi dengan HCl 3M lebih banyak menghasilkan gelembung dibandingkan dengan HCl 2M dan HCl 1M

4/100
Claim benar, Data relevan, alasan (Warrant) tidak menghubungkan Claim dan Data
3/75
Claim benar, Data tidak relevan, dan tidak ada alasan (Warrant)
2/50
Claim salah, tidak ada Data, dan tidak ada alasan (Warrant)
1/25
Tidak ada jawaban atau salah
0/0
3
Simak data reaksi berikut :

Percobaan
Bentuk
seng
Suhu[OC]
1
Butiran
 kasar
45
2
sebuk
45

Dari data diatas percobaan berapakah reaksi laju yang paling lambat? Buatlah tabel/data reaksi diatas, urutkanlah reaksi dari laju yang paling cepat hingga laju yang paling lambat dan berikan alasan dari tabel/data yang anda berikan!

Claim benar, Data relevan, dan alasan (Warrant) menghubungkan Claim dan Data

Claim:
Percobaan 1

Data:
Data reaksi dari yang berjalan paling cepat hingga paling lambat
Percobaan
Bentuk seng
Suhu [OC]
2
serbuk
45
1
Butiran kasar
45

Alasan:
Dari data reaksi yang berjalan paling cepat hingga paling lambat ini dikarenakan faktor luas permukaan dan suhu yang diberikan pada setiap percobaan. Semakin kecil ukuran suatu zat maka luas permukaan akan semakin besar sehingga semakin cepat reaksi berlangsung dan semakin tinggi suhu suatu zat maka reaksi semakin cepat berlangsung.
4/100
Claim benar, Data relevan, alasan (Warrant) tidak menghubungkan Claim dan Data
3/75
Claim benar, Data tidak relevan, dan tidak ada alasan (Warrant)
2/50
Claim salah, tidak ada Data, dan tidak ada alasan (Warrant)
1/25
Tidak ada jawaban atau salah
0/0
4
Bacalah teks berikut ini:
“ketika membantu memasak didapur, ibu menyarankan ana untuk merebus daging beserta daun pepaya secara bersamaan. Hal ini dikarenakan penambahan daun pepaya dalam proses memasak daging membuat daging lebih cepat empuk”
Berdasarkan wacana diatas, menurut anda apakah fungsi daun pepaya dalam proses pengempukan daging? Dan jelaskan alasan bagaimana daun pepaya dapat mempercepat proses pengempukan daging!



















Claim benar, Data relevan, dan alasan (Warrant) menghubungkan Claim dan Data

Claim:
Fungsi daun pepaya sebagai katalis

Data:
Enzim yang terkandung dalam daun pepaya adalah enzim papain yang berfungsi sebagai katalis.

Alasan:
Katalis dapat mempercepat reaksi dengan membentuk senyawa antara atau mengabsorbsi zat yang direaksikan. Yang diamana katalis bekerja menempel pada bagian substrat tertentu dan pada akhirnya dapat menurunkan energi pengaktifan dari reaksi, sehingga reaksi dapat berlangsung lebih cepat. Karena itulah proses pengempukan daging menjadi lebih cepat dengan adanya enzim papain yang terkandung didalam daun pepaya.

4/100
Claim benar, Data relevan, alasan (Warrant) tidak menghubungkan Claim dan Data
3/75
Claim benar, Data tidak relevan, dan tidak ada alasan (Warrant)
2/50
Claim salah, tidak ada Data, dan tidak ada alasan (Warrant)
1/25
Tidak ada jawaban atau salah
0/0

dari uraian diatas saya ingin menanyakan tentang kecocokan penilaian argumentasi dengan berbagai model pembelajaran.   apakah penialain kemampuan argumentasi dalam materi laju reaksi diatas sudah baik ? berikan saran dan komentar anda. kemudian, bagaimana tingkat kecocokan antara berbagai model pembelajaran yang ada dengan kemampuan argumentasi ? apakan semua model cocok untuk dilihat kemampuan argumentasi siswa.