Keterampilan berpikir dapat didefinisikan
sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang
kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir
adalah menarik kesimpulan (inferring),
yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan
pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang
terumuskan. Untuk mengajarkan
keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, pertama-tama proses
kognitif inferring harus
dipecah ke dalam langkah-langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi
pertanyaan atau fokus kesimpulan yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta
yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang telah
diketahui sebelumnya, dan (d) membuat perumusan prediksi hasil akhir.
Terdapat
tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir, yang sebenarnya cukup
berbeda; yaitu berpikir tingkat
tinggi (higher order thinking), berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical thinking). Berpikir tingkat
tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada
proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memory. Berpikir kompleks Berpikir kritis merupakan
salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik. Lawan
dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen,
yang bersifat menyebar dari suatu titik. adalah proses kognitif yang melibatkan
banyak tahapan atau bagian-bagian.
Penilaian
(assessment) adalah istilah umum yang mencakup
semua metode
yang biasa digunakan untuk
menilai unjuk kerja individu atau kelompok peserta didik. Proses penilaian
mencakup pengumpulan bukti yang menunjukkan pencapaian belajar peserta
didik. Penilaian merupakan suatu pernyataan berdasarkan sejumlah fakta
untuk menjelaskan karakteristik seseorang atau sesuatu (G affin & Nix,
1991). Penilaian mencakup semua proses pembelajaran. Oleh karena itu, kegiatan penilaian
tidak terbatas pada karakteristik peserta didik saja, tetapi juga mencakup
karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas, dan administrasi sekolah.
Instrumen penilaian untuk peserta didik dapat berupa metode atau prosedur formal atau informal untuk
menghasilkan informasi tentang peserta didik. Instrumen penilaian dapat berupa tes
tertulis, tes lisan, lembar pengamatan, pedoman wawancara, tugas rumah, dan
sebagainya. Penilaian juga diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil
pengukuran atau kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian kemajuan
belajar peserta didik. Evaluasi (evaluation) adalah penilaian yang
sistematik tentang manfaat atau kegunaan suatu objek (Mehrens & Lehmann,
1991). Melakukan evaluasi terdapat judgement untuk menentukan nilai suatu
program yang sedikit banyak mengandung unsur subjektif. Evaluasi memerlukan data
hasil pengukuran dan informasi hasil penilaian yang memiliki banyak
dimensi, seperti kemampuan, kreativitas, sikap, minat, keterampilan, dan
sebagainya. Oleh karena itu, dalam kegiatan evaluasi, alat ukur yang digunakan juga
bervariasi tergantung pada jenis data yang ingin diperoleh.
Menurut
Taksonomi Bloom yang telah direvisi proses kognitif terbagi menjadi kemampuan berpikir
tingkat rendah (Lower Order Thinking) dan kemampuan berpikir tingkat
tinggi (Higher Order Thinking). Kemampuan yang
termasuk LOT adalah
kemampuan mengingat (remember), memahami (understand), dan menerapkan (apply), sedangkan HOT meliputi
kemampuan menganalisis
(analyze), mengevaluasi (evaluate), dan menciptakan (create) (Anderson & Krathwohl,
2010). Taksonomi Bloom sudah lama diterapkan dalam bidang pendidikan dan sudah
lama digunakan. Taksonomi Bloom masih digunakan dalam banyak kurikulum dan bahan pengajaran
(Brookhart, 2010). Dengan demikian, kemampuan berpikir tingkat tinggi
kimia meliputi kemampuan kimia dalam menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.
Membahas tentang “Berpikir Tingkat Tinggi”, mengingatkan kita kepada
Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian
dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking.
Ketiga aspek itu adalah aspek analisa,
aspek evaluasi dan aspek mencipta. Sedang tiga aspek lain dalam ranah
yang sama, yaitu aspek mengingat, aspek memahami, dan aspek aplikasi, masuk
dalam bagian intilektual berpikir tingkat rendah atau lower-order
thinking. Membahas tentang berpikir tingkat tinggi, kita bahas dulu
tentang Ketrampilan berfikir.
Indikator
keterampilan berpikir kritis dibagi menjadi lima kelompok (Ennis dalam Costa,
1985) yaitu ;
1.
memberikan penjelasan sederhana,
2.
membangun keterampilan dasar,
3.
menyimpulkan,
4.
membuat penjelasan lebih lanjut serta mengatur strategi dan taktik.
Keterampilan
pada kelima kelompok berpikir kritis ini dirinci lagi sebagai
berikut:
1.
Memberikan penjelasan sederhana terdiri dari keterampilan
memfokuskan
pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan
menjawab pertanyaan.
2.
Membangun keteranpilan dasar terdiri dari menyesuaikan dengan
sumber,
mengamati dan melaporkan hasil observasi.
3.
Menyimpulkan terdiri dari keterampilan mempertimbangkan kesimpulan,
melakukan generalisasi dan melakukan evaluasi.
4.
Membuat penjelasan lanjut contohnya mengartikan istilah dan
membuat
definisi.
5.
Mengatur strategi dan taktik contohnya menentukan suatu tindakan
dan
berinteraksi dengan orang lain dan berkomunikasi.
Keterampilan
berpikir siswa dapat dilatihkan melalui kegiatan dimana siswa diberikan suatu
masalah dalam hal ini masalah berbentuk soal tes yang bervariasi.
Ada
berbagai konsep dan contoh keterampilan berpikir yang dikembangkan
oleh para akhli pendidikan.
Di
Indonesia, proses pembelajaran yang melatih siswa berpikir tingkat tinggi
memiliki beberapa kendala. Salah satunya adalah terlalu dominannya peran guru
di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu (teacher center)
belum student center; dan fokus pendidikan di sekolah lebih pada
yang bersifat menghafal/pengetahuan faktual. Siswa hanya dianggap sebagai
sebuah wadah yang akan diisi dengan ilmu oleh guru. Kendala lain yang
sebenarnya sudah cukup klasik namun memang sulit dipecahkan, adalah sistem penilaian
prestasi siswa yang lebih banyak didasarkan melalui tes-tes yang sifatnya
menguji kemampuan kognitif tingkat rendah. Siswa yang dicap sebagai siswa yang
pintar atau sukses adalah siswa yang lulus ujian
Untuk
menjawab Higher Order Questions
(rich questions) diperlukan penalaran tingkat tinggi yaitu cara berpikir
logis yang tinggi, berpikir logis yang tinggi sangat diperlukan siswa dalam
proses pembelajaran di kelas khususnya dalam menjawab pertanyaan, karena siswa
perlu menggunakan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dimilikinya dan
menghubungkannya ke dalam situasi baru.
Salah satu tujuan Mata Pelajaran
Kimia di SMA agar peserta didik memiliki kemampuan mengembangkan kemampuan bernalar
dalam berpikir analisis
induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip kimia
untuk menjelaskan
berbagai peristiwa alam dan menyelesaikan masalah, baik secara kualitatif maupun
kuantitatif (BSNP, 2006). Hal ini diperkuat dengan anjuran pemerintah dalam
kurikulum tingkat satuan pendidikan. Penilaian (asessmen) hendaknya direncanakan untuk
mengukur pengetahuan dan konsep, keterampilan proses sains (KPS), dan penalaran tingkat
tinggi (Pusat Kurikulum, 2007). Maka dari itu, melalui pembelajaran kimia
diharapkan peserta didik dapat mengembangkan diri dalam berpikir. Peserta didik
dituntut tidak hanya memiliki kemampuan berpikir tingkat rendah, tetapi sampai pada
kemampuan berpikir
tingkat tinggi. Berdasarkan teori perkembangan Piaget, tahap operasional formal adalah tahap anak mulai berusia sebelas tahun. Pada tahap ini anak sudah mulai dapat mengembangkan kemampuan untuk memanipulasi konsep abstrak melalui penggunaan proposisi dan hipotesis (Piaget, 2005 dan Reedal, 2010). Usia siswa SMA antara 15 sampai 18 tahun, sehingga kemampuan berpikir tingkat tinggi mereka sudah mapan. Piaget mengatakan bahwa kematangan dan kesiapan seseorang harus
menunggu serta harus cocok antara pengaruh dari luar dan perkembangan di dalam dirinya (match), tetapi tidak demikian menurut Vygotsky. Ada sesuatu di atas tahap perkembangan itu (plus one matching). Ada daerah-daerah yang sangat sensitif untuk diaktualisasikan dalam diri anak yang dinamakan Zone Proximal Development (ZPD) (Albert, & Macadino, 2013). Dengan menerapkan konsep ZPD pada pendidikan, maka pembelajaran akan memajukan perkembangan anak. Salah satu wujud konkret implikasi dari teori Vygotsky adalah dilaksanakannya akselerasi belajar bagi anak berbakat, pendidikan bagi anak-anak yang mempunyai kemampuan intelektual luar biasa, dalam proses pembelajaran harus selalu meningkatkan kadar mental atau berpikir tingkat tinggi. Menurut Taksonomi Bloom yang telah direvisi proses kognitif terbagi menjadi kemampuan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking) dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking). Kemampuan yang termasuk LOT adalah kemampuan mengingat (remember), memahami (understand), dan menerapkan (apply), sedangkan HOT meliputi kemampuan menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan menciptakan (create) (Anderson & Krathwohl, 2010). Taksonomi Bloom sudah lama diterapkan dalam bidang pendidikan dan sudah lama digunakan. Taksonomi Bloom masih digunakan dalam banyak kurikulum dan bahan pengajaran (Brookhart, 2010). Dengan demikian, kemampuan berpikir tingkat tinggi kimia meliputi kemampuan kimia dalam menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Kategori-kategori dalam dimensi proses kognitif menurut revisi Taksonomi Bloom (Anderson, 2010)
tingkat tinggi. Berdasarkan teori perkembangan Piaget, tahap operasional formal adalah tahap anak mulai berusia sebelas tahun. Pada tahap ini anak sudah mulai dapat mengembangkan kemampuan untuk memanipulasi konsep abstrak melalui penggunaan proposisi dan hipotesis (Piaget, 2005 dan Reedal, 2010). Usia siswa SMA antara 15 sampai 18 tahun, sehingga kemampuan berpikir tingkat tinggi mereka sudah mapan. Piaget mengatakan bahwa kematangan dan kesiapan seseorang harus
menunggu serta harus cocok antara pengaruh dari luar dan perkembangan di dalam dirinya (match), tetapi tidak demikian menurut Vygotsky. Ada sesuatu di atas tahap perkembangan itu (plus one matching). Ada daerah-daerah yang sangat sensitif untuk diaktualisasikan dalam diri anak yang dinamakan Zone Proximal Development (ZPD) (Albert, & Macadino, 2013). Dengan menerapkan konsep ZPD pada pendidikan, maka pembelajaran akan memajukan perkembangan anak. Salah satu wujud konkret implikasi dari teori Vygotsky adalah dilaksanakannya akselerasi belajar bagi anak berbakat, pendidikan bagi anak-anak yang mempunyai kemampuan intelektual luar biasa, dalam proses pembelajaran harus selalu meningkatkan kadar mental atau berpikir tingkat tinggi. Menurut Taksonomi Bloom yang telah direvisi proses kognitif terbagi menjadi kemampuan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking) dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking). Kemampuan yang termasuk LOT adalah kemampuan mengingat (remember), memahami (understand), dan menerapkan (apply), sedangkan HOT meliputi kemampuan menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan menciptakan (create) (Anderson & Krathwohl, 2010). Taksonomi Bloom sudah lama diterapkan dalam bidang pendidikan dan sudah lama digunakan. Taksonomi Bloom masih digunakan dalam banyak kurikulum dan bahan pengajaran (Brookhart, 2010). Dengan demikian, kemampuan berpikir tingkat tinggi kimia meliputi kemampuan kimia dalam menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Kategori-kategori dalam dimensi proses kognitif menurut revisi Taksonomi Bloom (Anderson, 2010)
1. Mengingat (C1), Jika tujuan pembelajarannya
adalah menumbuhkan kemampuan untuk meretensi materi pelajaran sama seperti materi yang
diajarkan, kategori proses kognitif yang tepat adalah Mengingat. Proses mengingat
adalah mengambil pengetahuan
yang dibutuhkan dari memori jangka panjang. Pengetahuan yang dibutuhkan ini boleh jadi
Pengetahuan Faktual, Konseptual, Prosedural, atau Metakognitif, atau kombinasi
dari beberapa pengetahuan ini.
2. Memahami (C2) ,Seperti telah disinggung
sebelumnya, jika tujuan utama pembelajarannya adalah menumbuhkan kemampuan
retensi, fokusnya ialah Mengingat. Akan tetapi, bila tujuan pembelajarannya adalah menumbuhkan
kemampuan transfer, fokusnya ialah lima proses kognitif lainnya, Memahami
sampai Mencipta. Dari kelimanya, proses kognitif yang berpijak pada kemampuan
transfer dan ditekankan
di sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi ialah Memahami.
Siswa dikatakan Memahami
bila mereka dapat mengkonstruksi makna dari pesan-pesan , baik yang
bersifat lisan, tulisan ataupun grafis, yang disampaikan melalui
pengajaran, buku, atau layar komputer. Siswa memahami ketika mereka menghubungkan
pengetahuan “baru” dan pengetahuan lama mereka.
3. Mengaplikasikan (C3). Proses kognitif mengaplikasi
melibatkan penggunaan prosedur-prosedur tertentu untuk mengerjakan soal latihan atau
menyelesaikan masalah. Mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan
prosedural. Soal latihan adalah tugas yang prosedur penyelesaiannya telah
diketahui siswa, sehingga siswa menggunakannya secara rutin. Masalah adalah tugas yang
prosedur penyelesaiannya
belum diketahui siswa, sehingga siswa harus mencari prosedur untuk menyelesaiakan masalah
tersebut. Kategori mengaplikasikan terdiri dari dua proses kognitif, yakni
mengeksekusi ketika tugasnya hanya soal latihan (yang familier) dan mengimplementasikan
ketika tugasnya merupakan masalah (yang tidak familier).
4. Menganalisis (C4),Menganalisis melibatkan proses
memecah-memecah materi jadi bagianbagian kecil dan menentukan bagaimana
hubungan antarbagian dan antara setiap bagian dan struktur keseluruhannya. Kategori proses
menganalisis ini meliputi proses-proses kognitif membedakan, mengorganisasi, dan
mengatribusikan. Tujuan-tujuan
pendidikan yang diklasifikasikan dalam menganalisis mencakup belajar untuk menentukan
potongan-potongan informasi yang relevan atau penting (membedakan), menentukan
cara-cara untuk menata potongan-potongan informasi tersebut (mengorganisasikan),
dan menetukan tujuan di balik informasi itu (mengatribusikan). Walaupun
belajar menganalisis dapat dianggap sebagai tujuan itu sendiri, sangat beralasan
untuk secara edukatif memandang analisis sebagai perluasan dari memahami atau
sebagai pembuka untuk mengevaluasi atau mencipta.
5. Mengevaluasi (C5). Mengevaluasi didefinisikan
sebagai membuat keputusan berdasarkan kriteria dan standar. Kriteria-kriteria yang paling
sering digunakan adalah kualitas, efektivitas, efisiensi, dan konsistensi.
Kriteria-kriteria ini ditentukan oleh siswa. Standar-standarnya bisa
bersifat kuantitatif (misalnya, apakah jumlahnya cukup?) atau kualitatif (misalnya,
apakah proses ini cukup efektif ? apakah produk ini cukup berkualitas). Kategori
mengevaluasi mencakup proses-proses kognitif memeriksa (keputasan-keputasan
yang diambil berdasarkan kriteria internal) dan mengkritik (keputusan-keputusan
yang diambil berdasarkan kriteria eksternal).
6. Mencipta (C6). Mencipta melibatkan
proses menyusun elemen-elemen jadi sebuah keseluruhan yang koheren atau fungsional.
Tujuan-tujuan yang diklasifikasikan dalam mencipta meminta siswa membuat produk baru
dengan mereorganisasi sejumlah elemen atau bagian jadi suatu pola atau
struktur yang tidak pernah ada sebelumnya. Proses-proses kognitif yang terlibat dalam
mencipta umumnya sejalan
dengan pengalaman-pengalaman belajar sebelumnya. Meskipun mengharuskan cara pikir
kreatif, mencipta bukanlah ekspresi kreatif yang babas sama sekali dan tak dihambat
oleh tuntutan-tuntutan tugas atau situasi belajar.
Keterampilan
berpikir tingkat tinggi dalam kimia
Berfikir
Kritis dalam kimia adalah berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan
mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah. Termasuk di dalamnya
mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berfikir
kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi
yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang benar
dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan
pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir
kritis.
Berfikir
Kreatif kimia yang sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari keterampilan
berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang dilakukan di antaranya
menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya. Berfikir
kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menelorkan
hasil akhir yang baru.
Pemecahan
masalah dalam kimia adalah berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan
mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah. Termasuk di dalamnya
mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berfikir
kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi
yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang benar
dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan
pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir
kritis.
Menyimpulkan
konsep dalam kimia yang sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari
keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang dilakukan
di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan
efektifitasnya. Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan
yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.
Teknik
Penulisan Butir HOTS dalam Pembelajaran Kimia
- Perhatikan
cakupan materi kimia yang diharuskan untuk tiap jenjang SMP atau SMA
(kurikulum kimia).
- Perhatikan
beberapa kompetensi yang terkait dengan HOTS dan diturunkan menjadi
indicator dan tujuan sesuai dengan karakteristik HOTS kimia.
- Menggunakan
hukum dasar kimia pengetahuan atau kemampuan dasar nya untuk menyesaikan
permasalahan yang ada kaitannya dengan kimia.
- Dianjurkan
untuk menyediakan berbagai macam data kimia (kualitatif, tabel, grafik,
hasil dari percobaan yang dilakukan, laporan, bahan bacaan, hasil
observasi, dll) sebagai stimulus untuk menjawab soal-soal HOTS
- Berbagai
macam data kimia yang disediakan seharusnya memberikan informasi kepada
siswa merujuk kepada hokum dasar kimia sehingga dapat diolah lebih lanjut
- Menulis
contoh soal HOTS tentang kimia
|
Sebanyak 50 mL sampel larutan NH3 yang konsentrasinya tidak diketahui dititrasi dengan larutan HCl 0,1 M, pH larutan yang dihasilkan diukur dengan menggunakan pH-meter. Berikut disajikan Grafik yang menggambarkan fungsi pH terhadap volume titran selama titrasi.
permasalahan nya : - kita tahu bahwa kemampuan anak didalam kelas tidaklah sama, sedangkan kita ingin menerapkan penilaian yang berbasis HOTS. apakah cara penilain akan berjalan lancar, sedangkan tidak semua anak mampu menyelesaikan soal tersebut ? - bagaimanakah bentuk evaluasi yang cocok untuk penilaian berbasis HOTS ini, berikan alternatif yang anda berikan. terimakasih.
