Rabu, 22 Agustus 2018

materi 1 : Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum


Kurikulum adalah segala kegiatan dan pengalaman belajar yang dirancang atau dilaksanakan, diprogramkan dan diselenggarakan oleh lembaga bagi anak didiknya dengan maksud untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum dan pendididikan merupakan dua konsep yang harus dipahami terlebih dahulu. Sebab dengan pemahaman yang jelas atas kedua konsep itu, diharapkan para pelaksana kurikulum mampu melaksanakan tugas dengan baik dalam dunia pendidikan, kurikulum menjadi semacam barometer untuk mengukur tingkat keberhasilan proses pembelajaran, sehingga salah satu entitas yang dikatakan sangat urgen dalam pendidikan adalah anatomi kurikulum itu sendiri.
            Pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah perubahan-perubahan tertentu yang diharapkan. Sedangkan yang dimaksud dengan kesempatan belajar (learning opportunity) adalah hubungan yang telah direncanakan dan terkontrol antara para siswa, guru, bahan, peralatan, dan lingkungan tempat siswa belajar yang diinginkan diharapkan terjadi. Dalam pengertian di atas, sesungguhnya pengembangan kurikulum adalah proses siklus, yang tidak pernah berakhir. Proses tersebut terdiri dari empat unsur yakni (Hamalik, 2007):
  • Tujuan: mempelajari dan menggambarkan semua sumber pengetahuan dan pertimbagngan tentang tujuan-tujuan pengajaran, baik yang berkenaan dengan mata pelajaran (subject course) maupun kurikulum secara menyeluruh.
  • Metode dan material: menggembangkan dan mencoba menggunakan metode-metode dan material sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan tadi yang serasi menurut pertimbangan guru.
  • Penilaian (assesment): menilai keberhasilan pekerjaan yang telah dikembangkan itu dalam hubungannya dengan tujuan, dan bila mengembangkan tujuan-tujuan baru.
  • Balikan (feedback): umpan balik dari semua pengalaman yang telah diperoleh yang pada gilirannya menjadi titik tolak bagi studi selanjutnya.
Dengan demikian, kurikulum 2013 merupakan suatu konstruksi kurikulum yang mengintegrasikan dua kerangka besar yaitu kompetensi dan karakter dalam diri peserta didik. Artinya, kurikulum ini mencoba untuk menginternalisasikan satu kesatuan kecerdasan intelektual (intellectual qoutient), kecerdasan emosioanl (emotional qoutient), dan kecerdasan spiritual (spiritual qoutient). Apalagi fenomena perkembangan  pendidikan  abad  mutakhir  menghendaki  adanya suatu sistem pendidikan integral yaitu suatu keinginan terhadap pendidikan yang di dalamnya ada pembinaan peserta didik dan yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengetahuan, kecerdasan, keterampilan, kemampuan komunikasi, dan kesadaran antara IPTEK (Ilmu  Pengetahuan  dan  Teknologi)  dan  IMTAQ  (Iman  dan  Taqwa) yakni meliputi IQ (Intellectual Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spritiual Quotient). ( Ridlwan Nasir, 2005). Kurikulum 2013 menghendaki kita pada pembelajaran di sekolah menjadi lebih manusiawi, karena peserta didik diharapkan memiliki tiga kompetensi sekaligus, yaitu kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang jauh lebih baik dalam menunjang setiap perkembangan peserta didik.
            Kurikulum 2013 memiliki ciri keunikan dalam konstruksi pembelajaran dengan pendekatan saintifik yang di dalamnya memiliki sifat  integratif-tematik.  Kurikulum  ini  memiliki  lima  karakteristik utama, antara lain: a). Menggunakan keseluruhan sumber belajar; b). Pengalaman lapangan; c). Strategi individual personal; d). Kemudahan belajar; dan e). Belajar tuntas. Semua aspek tersebut memfokuskan pada pola pembentukan peserta didik yang mempunyai kompetensi dan karakter yang kuat. Dengan alur demikian, pendidikan Islam perlu untul lebih memfokuskan pada pemberdayakan semua potensi yang dimiliki peserta didik agar mereka dapat memiliki kompetensi yang diharapkan serta juga mempunyai karakter yang diidealkan.
Hubungan kurikulum dengan pembelajaran
Ada beberapa model untuk melihat hubungan antara kurikulum dengan pembelajaran. Menurut Peter F. Olivia ada 4 cara atau model yang dapat menjadi pedoman untuk melihat kurikulum dengan pembelajaran.
1.    Model dualistis, model pertama ini sifatnya tunggal dimana posisi kurikulum menjadi pedoman dalam semua kegiatan pembelajaran dalam kelas. Lalu posisi pembelajaran lebih kepada tolak ukur sukses atau tidaknya kurikulum dan menjadi tujuan akhir dari kurikulum itu sendiri.
2.      Model berkaitan, model ini memegang prinsip bahwa kurikulum dengan pembelajaran hubungannya sangat erat dan memiliki singkronisasi yang baik. Ada bagian tertentu dimana posisi kuirkuum menjadi pembelajaran dan begitu juga sebaliknya.
3.      Model konsentris, adalah model yang mempunai fungsi yang hampir sama dengan model berkaitan dimana pembelajaran dan kurikulum memiliki hubungan dengan kemungkinan bahwa kurikulum adalah bagian dari pembelajaran atau pembelajaran adalah bagian dari kurikulum.
4.      Model siklus, bila melihat model ini kurikulum dan pembelajaran adalah dua hal yang terpisah / berbeda tetapi memiliki hubungan timbal balik antar keduanya, kurikulum lebih mengarah kepada rencana pelaksanaan pembelajaran lalu peran pembelajaran adalah  pada mempengaruhi dalam perancangan kurikulum selanjutnya. Akhirnya bisa ditarik kesimpulan bahwa proses dan hasil itu merupakan hubungan yang sangat erat ini bisa dilihat dari penyusunan kurikulum, kurikulum dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran di berbagai tempat khususnya di sekolah, kurikulum mengatur segalanya dalam aktivitas akademik baik yang mengatur guru, siswa dan juga kepala sekolah. Lalu proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan mengarah pada suatu pencapaian yang maksimal.

Pembelajaran abad 21
Pembelajaran abad 21 sekarang ini hendaknya disesuaikan dengan kemajuan dan tuntutan zaman. Begitu halnya dengan kurikulum yang dikembangkan saat ini oleh sekolah dituntut untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru/pendidik (teacher centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa/peserta didik (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan anak yang harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar (thinking and learning skils).
          Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh peserta didik apabila pendidik mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi kegiatan-kegiatan yang menantang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong peserta didik untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang dibuatnya.
Pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
          Setidaknya ada empat yang harus dimiliki oleh generasi abad 21, yaitu: ways of thingking, ways of working, tools for working and skills for living in the word. Bagaimana seorang pendidik harus mendesain pembelajaran yang akan menghantarkan peserta didik memenuhi kebutuhan abad 21. Berikut kemampuan abad 21 yang harus dimiliki peserta didik, yaitu
1.      Way of thinking, cara berfikir yaitu beberapa kemampuan berfikir yang harus dikuasai peserta didik untuk menghadapi dunia abad 21. Kemampuan berfikir tersebut diantaranya: kreatif, berfikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan pembelajar.
2.      Ways of working. kemampuan bagaimana mereka harus bekerja. dengan dunia yang global dan dunia digital. beberapa kemampuan yang harus dikuasai peserta didik adalah communication and collaboration.  Generasi abad 21 harus mampu berkomunikasi dengan baik, dengan menggunakan berbagai metode dan strategi komunikasi. Juga harus mampu berkolaborasi dan bekerja sama dengan individu maupun komunitas dan jaringan. Jaringan komunikasi dan kerjasama ini memamfaatkan berbagai cara, metode dan strategi berbasis ICT. Bagaimana seseorang harus mampu bekerja secara bersama dengan kemampuan yang berbeda-beda.
3.      Tools for working. Seseorang harus memiliki dan menguasai alat untuk bekerja. Penguasaan terhadap Information and communications technology (ICT) and information literacy merupakan sebuah keharusan. Tanpa ICT dan sumber informasi yang berbasis segala sumber akan sulit seseorang mengembangkan pekerjaannya.
4.      Skills for living in the world. kemampuan untuk menjalani kehidupan di abad 21, yaitu: Citizenship, life and career, and personal and social responsibility. Bagaimana peserta didik harus hidup sebagai warga negara, kehidupan dan karir, dan tanggung jawab pribadi dan sosial.

Dari bahasan diatas kita ketahui, pengembangan kurikulum yang terdiri dari 4 siklus yang tidak berakhir, bagaimana keterkaitan antar siklus itu ? jikalau salah satunya tidak maksimal dalam penerapannya, bagaimana hasil dari pengembangan kurikulum tersebut ? Bagimanapula keterkaitan antara proses pengembangan kurikulum tersebut dengan kebutuhan pembelajaran abad 21 yang menekankaan siswa harus memiliki banyak keterampilan.